Jumat, 17 Agustus 2018

Sjahruddin, Wartawan Pejuang yang Meninggal di Pecahan Granat


OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)


Setelah Soekarno yang didampingi Muhammad Hatta mengumandangkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, Sjahruddin, seorang wartawan senior di Kantor Berita Domei (kini LKBN Antara), menyelinapkan secarik kertas yang bernilai tinggi itu. Sjahruddin bergegas dan berhati-hati karena tentara Jepang masih berkeliaran. Tertangkap, nyawa melayang.   

Selasa, 01 Mei 2018

Kepemimpinan Masyarakat Minangkabau


OLEH Buya Masoed Abidin (Ulama)
Di bawah ini adalah sebuah penjelasan model kepemimpinan dalam suatu masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat, yang masih dipraktekan sampai hari ini.
Kepemimpinan yang mengutamakan kebajikan dan kebijaksanaan ini bersumber kepada kitabullah dan sunnah, tanpa mempertentangkan adat dan agama tapi menyatukannya dalam bentuk kepimpinan yang telah mengakar pada kondisi masyarakat Nusantara, jadi bukan dipaksakan dari budaya Spanyol ataupun Arab dan juga bukan kepemimpinan model demokrasi yang tidak lain adalah pintu belakang dari kapitalisme global (jaringan lintah darat perbankan), dimana praktek riba dihalalkan atas nama ‘suara rakyat’.

Jumat, 27 April 2018

Rivai Marlaut, Wartawan yang “Dicari” Wakil Presiden Adam Malik


OLEH Nasrul Azwar
Sejak kecil cita-cita Rivai Marlaut menjadi wartawan dan penulis. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Kedua orangtuanya menambatkan harapan agar Rivai Marluat menjadi seorang insinyur, ahli teknik. Untuk mewujudkan cita-cita itu, orang tuanya memasukkan Rivai kecil ke sekolah Ambacht bagian besi tetapi sekolah itu tak membuatnya menjadi seorang teknisi.

Kekerasan hatinya menjadi seorang wartawan dan penulis, dia buktikan dengan merantau meninggalkan kampung halamannya, Koto Baru, Solok. Pada usia 23 tahun, usia yang tageh-tagehnya, Rivai muda berkelana ke Pulau Jawa. Di Jawa, sekira tahun 1935, Rivai Marlaut bergabung dengan surat kabar Pemandangan yang dipimpin Saeroen, sebuah surat kabar umum tapi menaruh perhatian pada budaya Betawi. Pemimpin Redaksi Soeroen menempatkannya Rivai Marlaut pada “Desk Luar Negeri” hingga dia pindah.

Selasa, 27 Februari 2018

Kasoema, Wartawan Tiga Zaman yang Tak Suka Banyak Bicara


OLEH Nasrul Azwar

Dalam sebuah buku antologi artikel Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua) yang ditulis H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie (PPIM: 2005), dikisahkan konsistensi dan komitmen Kasoema terhadap perjuangan pers nasional.
Kasoema menyebut Haluan, surat kabar yang dia dirikan bersama-sama dengan teman seperjuangannya, ialah koran republik di daerah pendudukan Belanda di Bukittinggi. Tekanan dan represif terhadap Haluan, terutama saat pendudukan Belanda, sudah sering dialami jajaran redaksi, juga tentunya saat PRRI.
Suatu kali, kisah Kamardi Rais, Mr. Hins seorang petinggi Belanda mendatangi Kantor Haluan di Bukittinggi. Hins mendesak agar tulisannya dimuat harian ini. Tulisan yang akan diturunkan ity berisi seruan kepada penduduk dan pegawai negeri untuk kembali ke kota.

Minggu, 18 Februari 2018

Landjoemin Datoek Toemanggoeng, Kematian yang Tragis?

OLEH Nasrul Azwar
Landjoemin Datoek Toemanggoeng—namanya ditulis sesuai dengan ejaan saat itu—salah seorang  pegiat pers pribumi yang aktif dan bervisi modern pada awal abad-20. Dia juga sosok yang dekat dengan Belanda.
Media yang dia gawangi majalah Tjahja Hindia dan sebuah surat kabar Harian Neratja. Surat kabar Harian Neratja dinilai saat itu sudah modern karena telah mampu menampilkan foto-foto dalam terbitannya dan tata lelak yang lebih baik dari media lainnya. Selain itu, surat-surat kabar merupakan media pers milik orang Indonesia.  
Selain yang dua disebutkan di atas, dia juga mengelola beberapa surat kabar berkala pribumi antara lain Soeloeh Peladjar dan Pedoman Prijaji. Harian Neratja kemudian berubah nama menjadi Harian Hindia Baroe. Sebelum mendirikan media, Landjoemin pernah sebagai wartawan di Bintang Timoer.

Abdul Rahim Ishak, Wartawan Peraih “Jasawan Agung Minang” di Singapura

OLEH Nasrul Azwar

Abdul Rahim Ishak ialah wartawan yang sukses meniti karier di dunia politik. Capaian jabatan tertinggi di Pemerintahan Singgapura adalah Menteri Senior Negara, Kementerian Luar Negeri, dan Komisioner Tinggi ke Selandia Baru serta pernah menjadi Duta Besar untuk Republik Indonesia. Persatuan Minangkabau Singapura memberinya Anugerah Jasawan Agung Minang.
Abdul Rahim Ishak adalah adik dari Yusof Ishak, Presiden Pertama Singapura (1965- 1970) dan Aziz Ishak, pernah menjabat Menteri Pertanian dan Koperasi di bawah Kabinet Menteri Tunku Abdul Rahman.
Ketiganya merupakan tokoh penting dalam sejarah Negeri Singapura dan Malaysia. Tiga badunsanak urang awak yang menggetarkan Negeri Jiran itu berprofesi wartawan dan politisi. Catatan sejarah keluarga Ishak di Negeri Singapura dan Malaysia memang mengangumkan. 

Selasa, 21 November 2017

Militansi Seorang Gustinar, 25 Tahun Mendorong Gerobak untuk Asapi Dapur

Setiap Hari Berjalan dari Payakumbuh-Bukittinggi 
OLEH Nasrul Azwar
Gustinar
Gustinar, dua pekan lalu, tak bisa beranjak dari dipannya. Ia demam. Panas-dingin badannya. Tulangnya rangkik-rangkik. Ngilu semua sendi. Ia tak bisa berjualan. Dua hari dirinya terkapar.
“Hari ini masih terasa. Badan ini belum sehat benar. Tapi saya pikir, jika tak manjojo (jualan), kami mau makan dengan apa, Dek?” katanya kepada saya di Pasa Ateh, Bukittinggi, Minggu (3/4/2016), siang.
Gustinar mengaku menguat-nguatkan dirinya agar bisa berjualan. Awalnya, ia belum bisa manjojo terlalu jauh. Saat bertemu dengannya, tampak pancaran matanya masih kuyu, bibirnya terlihat pecah-pecah. Tapi semangat berdagangnya masih menyala. Gustinar seperti mewakili militansi masyarakat kecil mencari rupiah yang halal.
“Setelah deman, saya berjualan di sekitar Payakumbuh saja. Ini baru saya ke Bukittinggi. Tapi masih sering berhenti berjalan jika saya merasa panek,”  jelasnya.

Senin, 20 November 2017

Proses Kreatif? Entah, Mungkin Tak Ada ...

OLEH Gus tf Sakai (Sastrawan)
Dalam sejumlah seminar atau pertemuan sastra, dalam setiap workshop atau bengkel penulisan prosa, selalu, pertanyaan inilah yang tak henti dan tak bosan ditanyakan kepada saya: “Bagaimanakah proses kreatif Anda?” Untuk pertanyaan ini, selalu pula saya akan tertegun, sejenak, dan dengan menyesal lalu menjawab: “Entah, mungkin tak ada ....”

Tari-Teater "The Margin of Our Land”, Alpa pada Aspek Transformabilitas

OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)
Pertunjukan tari-teater "The Margin of Our Land” di Anjungan Seni Idrus Tintin, 
Pekanbaru, Sabtu (28/10/2017) (Foto Denny Cidaik)
Panggung ditembak cahaya warna kekuningan membentuk motif petak seluas satu kali dua meter di kiri pentas. Di ujung petak itu, seorang lelaki berdiri tanpa gerak. Sekitar dua menit. Hening.
Lalu, lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke dalam petak cahaya. Dalam sorotan cahaya yang berganti-ganti, sosok tubuh-tari muncul merepresentasikan simbol-simbol kekalutan sosial. Ada 9 tubuh yang tak nyaman dan gelisah di sana, bersamaan muncul 9 buah pancang yang biasa digunakan pembatas tanah. Pancang itu simbol tanah ulayat yang sudah di bagi-bagi. Dan kelak, pancang itu mereka jadikan senjata melawan investor atau penguasa yang merampas tanah ulayat mereka.

Minggu, 05 November 2017

Bahana Puisi di Benteng Portugis Pulau Cingkuak

CATATAN SILATURAHMI MANDE BAPUISI ANTARKOMUNITAS
OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)

Penampilan para pembaca puisi, musikalisasi, pantomim, serta seni tradisi Minang dalam “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi”. (Foto Panitia) 
Bebatuan bata sebagian masih tersusun relatif rapi, kendati tak utuh. Inilah sisa sebuah kawasan pertahanan perang dan sekaligus tempat pengintaian musuh yang digunakan bangsa kolonial Portugis. Posisinya sangat strategis. Saat ini dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata Pesisir Selatan.

Selasa, 31 Oktober 2017

Festival Seni Nan Tumpah 2017, Napas Panjang Mengelola Penonton

OLEH Nasrul Azwar (Presiden Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)
Pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah
Festival Seni Pekan Nan Tumpah 2017 telah diakhiri dengan penampilan konser nyanyian puisi  dari Sanggar Seni Dayung-Dayung Kayutanam dan pengumuman pemenang  Liga Baca Puisi Kreatif (LBPK) yang pemuncaknya diraih Deni Saputra dari ISI Padang Panjang dan Rahmat Hidayat, salah seorang penggerak Sanggar Seni Binuang Sakti di Lubuk Alung, Jumat malam, 29 September 2017.

Pasa Ateh Bukittinggi, Reinkarnasi Pasar Sarikat, dan Konflik PP 84/1999

 OLEH Nasrul Azwar
Kebakaran hebat yang meluluhlantakkan Pasa Ateh Bukittinggi, Senin 30 Oktober 2017, sekitar pukul 05.45 WIB, menyisakan duka mendalam. Seribu pedagang di sana tak bisa berdagang. Lebih kurang 1.043 kedai dan lapak pedagang kreatif lapangan tak bisa digunakan. Setengah dari itu, ludes terbakar. Kebakaran serupa sudah sering terjadi.
Kendati begitu, perlu juga diketahui tentang sejarah dan latar belakang kehadiran Pasa Ateh yang menjadi jantung ekonomi masyarakat “Koto Rang Agam” ini.
Dalam penelusuran dokumentasi perihal hubungan Agam dengan Bukittinggi dalam wilayah pemerintahan ke dua daerah itu, yang mengesankan tidak kondusif, ternyata telah berlangsung lama. Perseteruan yang paling mutakhir adalah soal diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No 84 Tahun 1999 tentang tapal batas kedua daerah itu.
Pada tahun 1968, perseteruan dua daerah ini menyangkut perkara Pasar Sarikat Bukittinggi. Ketika itu solusi sengketa ini, disepakati masing-masing DPRD-GR membentuk Panitia Khusus. Namun kedua DPRD-GR pemerintahan itu tidak berhasil mencapai kata sepakat alias kandas. Maka, penyelesaian Pasar Sarikat diserahkan kepada masing-masing pemerintahan.

Rabu, 20 September 2017

Orientasi Umum tentang Adat Minangkabau

OLEH H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie (Ketua Umum LKAAM Sumbar)
Judul yang diberikan kepada saya dalam ceramah ini adalah Orientasi Umum tentang Adat Minangkabau sebagaimana tertera dalam makalah ini.
Suatu orientasi umum tentulah amat luas cakupannya. Karena luasnya tentulah akan meminta waktu yang panjang. Sementara waktu yang telah dijadwalkan belumlah tersedia untuk itu. Barangkali yang dapat dikemukakan dalam ceramah ini hanya beberapa aspek saja tentang adat tersebut.

Ihwal Ideologi, Ihwal Cerpen

OLEH Gus tf Sakai
Ketika Isbedy—melalui SMS—mengatakan bahwa kongres kali ini bukan hanya membicarakan anatomi cerpen tetapi juga sejumlah topik lain termasuk ideologi, saya segera tertarik pada ideologi. Ketertarikan saya bukan karena ideologi menurut sementara pendapat memberikan sumbangan pada dunia sastra, melainkan karena sejak lama saya berpikir sebaliknya: ideologilah yang mengerdilkan sastra, membuat teks sastra jadi miskin dan bagai berada di bawah (dalam bayang-bayang) teks lain seperti sains, agama, dan filsafat.

Sastra dan Kepekaan Budi

OLEH Gus tf Sakai (Sastrawan)
Sering kita lupa, otak terdiri dari dua bagian: kiri dan kanan. Bila batok kepala dibelah, benda berwarna kuning keabuan, bervolume lebih-kurang 1,7 liter dan terdiri dari seratus miliar sampai satu triliun sel saraf yang terbelit dalam lapis pembungkus, itu memang tampak seperti satu kesatuan. Tetapi, sejak paruh akhir abad ke-20, bukan hanya kenyataan bahwa otak terpisah atas kiri dan kanan, kita juga diantarkan pada kesadaran bahwa benda maha mencengangkan itu tak lagi bisa dilihat sebagai jalinan fisik semata.

Sabtu, 16 September 2017

Orang Minang Berkiblat ke Baitullah, Sumpah Satie Bukik Marapalam II?

(Mengenang Kembali Tiga Seminar Minangkabau (III-Habis)
OLEH H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
Mantagibaru kali menurunkan tiga tulisan wartawan senior almarhum Kamardi Rais. Ia salah seorang yang berprofesi jurnalis sekaligus sosok ninik mamak yang memahami adat istiadat dan budaya Minangkabau, serta menjadi Ketua Umum LKAAM Sumbar. Tiga tulisan Kamardi ini memotret fenomena yang terjadi dalam tiga kali peristiwa budaya, yakni seminar tentang Minangkabau yang digelar berturut-turut (1968, 1969, dan 1970). Setelah ini, tak ada seminar Minangkabau yang sedalam dan selengkap ini digelar. Berikut  tiga tulisan itu diturunkan secara berkala per minggu, tentu setelah dilakukan penyuntingan.

Sabtu, 09 September 2017

PRRI Lahir di Padang, Awalnya Gerakan Koreksian Kemudian “Dihajar” Pusat

OLEH H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie
“Ketika orang menaikkan bendera putih ketundukkan kepada musuh, namun kami tetap berjuang dengan mengorbankan harta dan jiwa untuk menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang tercinta ini di bawah pimpinan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berkantor di bawah pohon-pohon kayu dalam rimba raya Sumatera.” (Ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein)
Kolonel Ahmad Husein, duduk paling kanan, dalam pertemuan rapat yang membahas PRRI
Pada penghujung tahun 1957 situasi Tanah Air kita semakin panas. Seakan-akan bara api yang siap nyala membakar daun-daun kering yang berserakan di persada Tanah Air. Belum setahun gerakan-gerakan daerah seperti pengambilalihan jabatan Gubernur Sumatera Tengah oleh Ketua Dewan Banteng A. Husein dari tangan gubernur sipil Ruslan Muljohardjo, Gubernur Sumatera Utara Komala Pontas oleh Simbolon, Gubernur Sumatera Selatan Winarno oleh Barlian. Kabinaet Ali II memang sudah jatuh digantikan oleh Kabinet Djuanda yang dibentuk oleh formatur tunggal Bung Karno. Keadannya semakin tidak berdaya menyelesaikan kemelut Tanah Air yang chaos di segala bidang: politik, ekonomi, sosial, keamanan, dan pemerintahan.

Hamka: Sebagian Besar Isi Buku “Tuanku Rao” Bohong dan Dusta

(Mengenang Kembali Tiga Seminar Minangkabau (II)
OLEH H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
Mantagibaru kali menurunkan tiga tulisan wartawan senior almarhum Kamardi Rais. Ia salah seorang yang berprofesi jurnalis sekaligus sosok ninik mamak yang memahami adat istiadat dan budaya Minangkabau, serta menjadi Ketua Umum LKAAM Sumbar. 
Tiga tulisan Kamardi ini memotret fenomena yang terjadi dalam tiga kali peristiwa budaya, yakni seminar tentang Minangkabau yang digelar berturut-turut (1968, 1969, dan 1970). Setelah ini, tak ada seminar Minangkabau yang sedalam dan selengkap ini digelar. Berikut  tiga tulisan itu diturunkan secara berkala per minggu, tentu setelah dilakukan penyuntingan. 
Tibalah saatnya saya menguraikan seminar kedua yang juga berlangsung di Padang 23-26 Juli 1969 persis setahun setelah seminar Hukum Waris dan Hukum Tanah bulan Juli 1968.
Seminar kedua ini juga suatu kenangan yang tak bisa saya lupakan terutama karena berlangsung dalam atmosfir kebebasan intelektual.
Topik seminar adalah “Sejarah Masuknya Islam ke Minangkabau” tapi lebih terfokus kepada Perang Padri (1803-1837). Perang Padri merupakan episode sejarah perkembangan Islam di Minangkabau dirangsang oleh sebuah buku yang dikarang oleh putra Batak Ir. Magaraja Onggang Parlindungan Tuanku Rao yang diterbitkan pada tahun 1964 oleh Penerbit Tanjung Pengharapan Jakarta.

Sabtu, 02 September 2017

Pertunjukan "Teater Manekin" dalam Festival Teater Jakarta 2015



Sarta adalah waria yang mengalami kompleks rendah diri namun berhasrat tampil cantik menawan. Tapi keinginan itu hanya berani ia wujudkan dalam angan-angan, bukan dalam kehidupan nyata.
Naskah: Ruang Rias
Karya: Purwadi Junaedi
Sutradara: Ch. Cheme Ardi
Pemain: Pandan [Sarta] | Dani Husein [Bernadette] | Sammy Milano [Bintang Iklan Sabun] | Wanty [Bintang Iklan Shampo] | Uti Herang [Perempuan Khayalan]
Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki
1 Desember 2015 | 20.00 WIB

Pertunjukan "Teater Nonton" pada Festival Teater Jakarta 2015



Surya yang biasa dipanggil Papa Anjing oleh 'anggota keluarga'-nya adalah seorang penulis naskah teater yang terkenal menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Dirinya selalu dianggap tidak biasa karena kebiasaannya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Dirinya merasa memiliki anggota keluarga yang berjumlah tujuh orang, yang selalu menjadi penolongnya ketika dia berada dalam situasi yang sulit, bahkan sering bersamanya dalam keadaan biasa sekalipun.
Naskah: Istahar

Karya & Sutradara: Diky Soemarno
Pemain: Atphal Sophie Paturusi | Miftahul Jannah | Randhy Prasetya | Arsi Ramadhan | Deden Hariri | Ronald Julianto | Ilma Rosmala | Abi Mulyono | Lydia Nathania | Mei Karima | Indah Mustika | Dhini Hidayati
Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki
2 Desember 2015 | 14.00 WIB

Pertunjukan "Teater Alamat" dalam Festival Teater Jakarta 2015

Pertunjukan Teater So'Profesional' dalam Festival Teater Jakarta 2015