Kamis, 14 Maret 2019

Waspada Tebing Bawah Laut


Wawancara dengan Ade Edward
Tsunami akibat longsor tebing bawah laut karena Sesar Anjak yang berada di pesisir timur Pulau Siberut sampai ke pesisir barat Sumatera Barat sekitar 15 menit dan ke pesisir timur Pulau Siberut sekitar 5 menit setelah gempa dan longsor tebing bawah laut tersebut. Hal ini lebih cepat dari pada perkiraan waktu datangnya tsunami akibat gempa megathrust yang sampai ke pesisir pantai Sumbar sekitar 35 menit setelah gempa.
Terkait dengan antusiasme masyarakat Padang terhadap sosialisasi dan simulasi ancaman gempa tsunami, relatif tinggi. Kesiapan Sumbar menghadapi gempa lebih baik. Berikut wawancara dengan Ade Edward, salah seorang ahli geologi yang dimilili Sumatera Barat, berikut wawancara mendalam saya dengan Ade Edward.

Selasa, 26 Februari 2019

Tsunami Tendenko, Selamatkan Diri Anda


Wawancara dengan Abdul Muhari
Masyarakat harus mulai membiasakan diri untuk evakuasi mandiri tanpa tergantung pada peringatan dini resmi karena tsunami bisa datang lebih cepat. Di Jepang ada istilah tsunami tendenko. Artinya pada saat tsunami, maka selamatkanlah diri Anda. Berikut wawancara saya dengan Abdul Muhari, Kepala Seksi Mitigasi Bencana, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selamat membaca.
Ahli gempa Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI memprediksi soal ancaman zona patahan raksasa di segmen Kepulauan Mentawai yang bisa melepas energinya dengan kekuatan mencapai magnitudo gempa (M) 8,8 dan diikuti tsunami besar. Bagaimana Anda menilai dan menjelaskan ini, terus apa yang harus dilakukan pihak pemerintahan di Sumatera Barat?

Senin, 25 Februari 2019

Keluarga Harus Siap Tas Siaga

Wawancara dengan Badrul Mustafa
Senyampang terjadi gempa bumi dengan durasi (rentang waktu) lebih 30 detik, pilihan terbaik bagi masyarakat yang berada di zona merah pesisir pantai ialah menyiapkan diri untuk evakuasi, baik vertikal maupun horizontal, dengan membawa ransel yang telah disiapkan. Manfaatkan semaksimal mungkin “waktu emas” (golden time) yang terbatas itu unrtuk mengevakuasi diri. 

Berikut wawancara mendalam saya dengan Badrul Mustafa, salah seorang ahli gempa dan pengajar Fakultas Teknik Unand dan alumnus Jurusan Tectonics-Geodynamics di Université Pierre-et-Marie Curie (PARIS-VI, Jussieu).  Selamat membaca.
Para ahli gempa memprediksi soal ancaman zona patahan raksasa di segmen Kepulauan Mentawai yang bisa melepas energinya dengan kekuatan mencapai magnitudo gempa (M) 8,8 dan diikuti tsunami besar. Bagaimana Anda menilai dan menjelaskan ini, terus apa yang harus dilakukan pihak pemerintahan di Sumatera Barat?

Jumat, 25 Januari 2019

Sahar BS, Wartawan Sederhana yang Merawat Harga Diri


OLEH Nasrul Azwar
Sahar Bagindo Sutan atau Sahar BS 
Sepanjang kariernya di dunia kewartawanan, Sahar Bagindo Sutan atau lebih dikenal dengan nama Sahar BS banyak menerima penghargaan dari pelbagai lembaga berkaitan dengan capaian dan prestasi sebagai wartawan.
Penghargaan yang dia terima antara lain, “Medali 15 Tahun Kesetiaan Menjalani Profesi Wartawan dari LKBN Antara, Penghargaan 30 Tahun Kesetiaan Profesi dari PWI Pusat (2006), dan Penghargaan Purna Bakti PWI Pusat dari PWI Sumbar (2008).
“Masih banyak piagam perhargaan lainnya yang diterima Papa tapi karena banjir bencana gempa bumi, berkas arsip dan piagam itu rusak dan hancur. Hanya ada 3 piagam itu yang masih tersimpan pada putra-putri Papa,” kata Fifi Suryani, anak keempat dari delapan bersaudara pasangan suami-istri Sahar BS dan Yuniar ini kepada penulis, akhir November 2017 lalu.

Masyarakat Sumbar Sepakat Chatib Sulaiman Dijadikan Pahlawan Nasional


70 TAHUN GUGURNYA CHATIB SULAIMAN


OLEH  Nasrul Azwar
MASYARAKAT Sumbar didukung pakar dan peminat sejarah sepakat bahwa Chatib Sulaiman pantas dan sudah patut dijadikan pahlawan nasional. Panitia pengusulan harus segera bekerja menyusun dokumen dan melengkapi adminsitrasinya agar keinginan bersama ini terealisasi.
Itulah benang merah yang mencuat dalam seminar nasional dan bedah buku tentang pejuang kemerdekaan Chatib Sulaiman yang dilaksanakan pada Sabtu, 19 Januari 2019 di Gedung Dilo Telkom Padang. 

Sabtu, 08 Desember 2018

Lima Teater Merespons Silek dalam Tanda yang Bocor


CATATAN PEMENTASAN TEATER SAF-INDONESIANA 2018
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis dan Presiden AKSI)
Membaca “respons teatrikal terhadap silek”, tema yang diangkat dalam rangkaian Silek Arts Festival (SAF)-Platform Indonesiana yang dilaksanakan pada 19-22 November 2018 di ISI Padang Panjang, menghadirkan 7 kelompok seni pertunjukan teater dari pelbagai kota di Indonesia, bagi saya sangat menarik.
Ketertarikan itu tak lepas—tentu bagi saya—tema yang ditetapkan memiliki konsekuensi langsung terhadap bentuk garapan karya seni (teater) yang dipanggungkan. Bagaimana bentuk respons sutradara terhadap silek (silat)—yang merupakan kekayaan kultural masyarakat di Nusantara ini—pada karya yang dihadirkannya di atas pentas?

Senin, 03 Desember 2018

Ekspresi Anak Nagari Merayakan Budaya


ALEK NAGARI SIJUNJUANG

OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis dan Presiden AKSI)
Foto Edy Utama
JALAN kampung sepanjang 1,5 kilometer di Nagari Sijunjung sore itu dipenuhi warga. Mereka berjejer-jejer di tepi jalan dan tak sedikit pula menyembulkan kepalanya dari jendela rumahnya. Anak nagari dan warga sekitar sedang menikmati peristiwa budaya alek nagari dengan wajah dan gestur riang gembira. Sebuah peristiwa budaya yang mereka rasakan dengan tulus dan ikhas. Semuanya mengekspresikan dirinya.

Jumat, 02 November 2018

Teatrikal yang Gugat Sistem Pendidikan “Ini Budi”


PEMENTASAN ”BANGKU KAYU DAN KAMU YANG TUMBUH DI SITU”
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis dan Presiden AKSI)
Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ (Foto Adek)
Memigrasikan teks-teks—apalagi itu teks berupa kode-kode dan tanda-tanda yang sangat referensial dengan ingatan kolektif publik yang telah mengkristal—ke atas panggung sebagai teks pertunjukan, mengemban dua opsi: komunikatif dan tidak komunikatif, baik secara pesan makna simbolisme maupun nonsimbolisme.
Teks pertunjukan ”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” dalam durasi 55 menit yang saya saksikan di Teater Arena Taman Budaya Jambi, pada Jumat, 31 Agustus 2018, secara resepsif menempatkan karya yang disutradarai Yusril Katil itu pada posisi teks yang komunikatif dengan artistik-estetika pemanggungan dan pesan makna simbolisme maupun nonsimbolisme, memenuhi capaian yang pas walau dengan beberapa catatan menyertainya.

Sabtu, 27 Oktober 2018

“The Margin of Our Land” #2Reklamasi” Kolaboratif Setengah Hati"


POSTFEST IKJ 2018

OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)
Penampilan kolaboratif “The Margin of Our Land #2Reklamasi dalam rangkain PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana, Jumat, 3 Agustus 2018, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Foto Denny Cidaik
Relevansi teks (tertulis) dengan wujud koreoteaterik yang divisualisasikan dalam panggung pertunjukan bukan serta merta hubungan yang bersifat setangkup (simetris). Keduanya (teks dan visual-audio koreoteaterik) bisa saja saling kontraprestasi dan juga terbuka kemungkinan duplikasi teks tertulisnya. Keindahan sebuah pertunjukan seni memang terletak pada kekayaan tafsir dan interpretasinya tapi mungkin saja sebaliknya. 

Rusli Marzuki Saria, Wartawan Mantan Pejuang PRRI


OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)
Rusli Marzuki Saria (Foto Faiz)
Saat artikel ini rampung ditulis pada medio Desember 2017, Rusli Marzuki Saria belum mendapat undangan berangkat ke Thailand untuk menerima “SEA Write Award 2017” dari Kerajaan Thailand. Penghargaan ini rencananya akan diserahkan pada Oktober 2017 tapi karena alasan yang belum diketahui dari pihak panitia, sosok yang akrab dipanggil “Papa” hingga kini masih bersifat menunggu informasi lebih lanjut.
Buku kumpulan puisi Rusli Marzuki Saria One by One Line by Line yang bilingual ini diterbitkan Kabarita Padang (2014), meraih hadiah sastra bergengsi, yang juga disebut “Nobel Sastra”nya Asia Tenggara, pada tahun 2017.
“Inilah puncak capaian Papa Rusli Marzuki Saria, salah seorang sastrawan dan budayawan Sumatera Barat yang membanggakan kita,” kata Yusrizal KW, pendiri penerbit Kabarita, yang juga seorang sastrawan itu.

Jumat, 17 Agustus 2018

Sjahruddin, Wartawan Pejuang yang Meninggal di Pecahan Granat


OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)


Setelah Soekarno yang didampingi Muhammad Hatta mengumandangkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, Sjahruddin, seorang wartawan senior di Kantor Berita Domei (kini LKBN Antara), menyelinapkan secarik kertas yang bernilai tinggi itu. Sjahruddin bergegas dan berhati-hati karena tentara Jepang masih berkeliaran. Tertangkap, nyawa melayang.   

Selasa, 01 Mei 2018

Kepemimpinan Masyarakat Minangkabau


OLEH Buya Masoed Abidin (Ulama)
Di bawah ini adalah sebuah penjelasan model kepemimpinan dalam suatu masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat, yang masih dipraktekan sampai hari ini.
Kepemimpinan yang mengutamakan kebajikan dan kebijaksanaan ini bersumber kepada kitabullah dan sunnah, tanpa mempertentangkan adat dan agama tapi menyatukannya dalam bentuk kepimpinan yang telah mengakar pada kondisi masyarakat Nusantara, jadi bukan dipaksakan dari budaya Spanyol ataupun Arab dan juga bukan kepemimpinan model demokrasi yang tidak lain adalah pintu belakang dari kapitalisme global (jaringan lintah darat perbankan), dimana praktek riba dihalalkan atas nama ‘suara rakyat’.

Jumat, 27 April 2018

Rivai Marlaut, Wartawan yang “Dicari” Wakil Presiden Adam Malik


OLEH Nasrul Azwar
Sejak kecil cita-cita Rivai Marlaut menjadi wartawan dan penulis. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Kedua orangtuanya menambatkan harapan agar Rivai Marluat menjadi seorang insinyur, ahli teknik. Untuk mewujudkan cita-cita itu, orang tuanya memasukkan Rivai kecil ke sekolah Ambacht bagian besi tetapi sekolah itu tak membuatnya menjadi seorang teknisi.

Kekerasan hatinya menjadi seorang wartawan dan penulis, dia buktikan dengan merantau meninggalkan kampung halamannya, Koto Baru, Solok. Pada usia 23 tahun, usia yang tageh-tagehnya, Rivai muda berkelana ke Pulau Jawa. Di Jawa, sekira tahun 1935, Rivai Marlaut bergabung dengan surat kabar Pemandangan yang dipimpin Saeroen, sebuah surat kabar umum tapi menaruh perhatian pada budaya Betawi. Pemimpin Redaksi Soeroen menempatkannya Rivai Marlaut pada “Desk Luar Negeri” hingga dia pindah.

Selasa, 27 Februari 2018

Kasoema, Wartawan Tiga Zaman yang Tak Suka Banyak Bicara


OLEH Nasrul Azwar

Dalam sebuah buku antologi artikel Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua) yang ditulis H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie (PPIM: 2005), dikisahkan konsistensi dan komitmen Kasoema terhadap perjuangan pers nasional.
Kasoema menyebut Haluan, surat kabar yang dia dirikan bersama-sama dengan teman seperjuangannya, ialah koran republik di daerah pendudukan Belanda di Bukittinggi. Tekanan dan represif terhadap Haluan, terutama saat pendudukan Belanda, sudah sering dialami jajaran redaksi, juga tentunya saat PRRI.
Suatu kali, kisah Kamardi Rais, Mr. Hins seorang petinggi Belanda mendatangi Kantor Haluan di Bukittinggi. Hins mendesak agar tulisannya dimuat harian ini. Tulisan yang akan diturunkan ity berisi seruan kepada penduduk dan pegawai negeri untuk kembali ke kota.

Minggu, 18 Februari 2018

Landjoemin Datoek Toemanggoeng, Kematian yang Tragis?

OLEH Nasrul Azwar
Landjoemin Datoek Toemanggoeng—namanya ditulis sesuai dengan ejaan saat itu—salah seorang  pegiat pers pribumi yang aktif dan bervisi modern pada awal abad-20. Dia juga sosok yang dekat dengan Belanda.
Media yang dia gawangi majalah Tjahja Hindia dan sebuah surat kabar Harian Neratja. Surat kabar Harian Neratja dinilai saat itu sudah modern karena telah mampu menampilkan foto-foto dalam terbitannya dan tata lelak yang lebih baik dari media lainnya. Selain itu, surat-surat kabar merupakan media pers milik orang Indonesia.  
Selain yang dua disebutkan di atas, dia juga mengelola beberapa surat kabar berkala pribumi antara lain Soeloeh Peladjar dan Pedoman Prijaji. Harian Neratja kemudian berubah nama menjadi Harian Hindia Baroe. Sebelum mendirikan media, Landjoemin pernah sebagai wartawan di Bintang Timoer.

Abdul Rahim Ishak, Wartawan Peraih “Jasawan Agung Minang” di Singapura

OLEH Nasrul Azwar

Abdul Rahim Ishak ialah wartawan yang sukses meniti karier di dunia politik. Capaian jabatan tertinggi di Pemerintahan Singgapura adalah Menteri Senior Negara, Kementerian Luar Negeri, dan Komisioner Tinggi ke Selandia Baru serta pernah menjadi Duta Besar untuk Republik Indonesia. Persatuan Minangkabau Singapura memberinya Anugerah Jasawan Agung Minang.
Abdul Rahim Ishak adalah adik dari Yusof Ishak, Presiden Pertama Singapura (1965- 1970) dan Aziz Ishak, pernah menjabat Menteri Pertanian dan Koperasi di bawah Kabinet Menteri Tunku Abdul Rahman.
Ketiganya merupakan tokoh penting dalam sejarah Negeri Singapura dan Malaysia. Tiga badunsanak urang awak yang menggetarkan Negeri Jiran itu berprofesi wartawan dan politisi. Catatan sejarah keluarga Ishak di Negeri Singapura dan Malaysia memang mengangumkan. 

Selasa, 21 November 2017

Militansi Seorang Gustinar, 25 Tahun Mendorong Gerobak untuk Asapi Dapur

Setiap Hari Berjalan dari Payakumbuh-Bukittinggi 
OLEH Nasrul Azwar
Gustinar
Gustinar, dua pekan lalu, tak bisa beranjak dari dipannya. Ia demam. Panas-dingin badannya. Tulangnya rangkik-rangkik. Ngilu semua sendi. Ia tak bisa berjualan. Dua hari dirinya terkapar.
“Hari ini masih terasa. Badan ini belum sehat benar. Tapi saya pikir, jika tak manjojo (jualan), kami mau makan dengan apa, Dek?” katanya kepada saya di Pasa Ateh, Bukittinggi, Minggu (3/4/2016), siang.
Gustinar mengaku menguat-nguatkan dirinya agar bisa berjualan. Awalnya, ia belum bisa manjojo terlalu jauh. Saat bertemu dengannya, tampak pancaran matanya masih kuyu, bibirnya terlihat pecah-pecah. Tapi semangat berdagangnya masih menyala. Gustinar seperti mewakili militansi masyarakat kecil mencari rupiah yang halal.
“Setelah deman, saya berjualan di sekitar Payakumbuh saja. Ini baru saya ke Bukittinggi. Tapi masih sering berhenti berjalan jika saya merasa panek,”  jelasnya.

Senin, 20 November 2017

Proses Kreatif? Entah, Mungkin Tak Ada ...

OLEH Gus tf Sakai (Sastrawan)
Dalam sejumlah seminar atau pertemuan sastra, dalam setiap workshop atau bengkel penulisan prosa, selalu, pertanyaan inilah yang tak henti dan tak bosan ditanyakan kepada saya: “Bagaimanakah proses kreatif Anda?” Untuk pertanyaan ini, selalu pula saya akan tertegun, sejenak, dan dengan menyesal lalu menjawab: “Entah, mungkin tak ada ....”

Tari-Teater "The Margin of Our Land”, Alpa pada Aspek Transformabilitas

OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)
Pertunjukan tari-teater "The Margin of Our Land” di Anjungan Seni Idrus Tintin, 
Pekanbaru, Sabtu (28/10/2017) (Foto Denny Cidaik)
Panggung ditembak cahaya warna kekuningan membentuk motif petak seluas satu kali dua meter di kiri pentas. Di ujung petak itu, seorang lelaki berdiri tanpa gerak. Sekitar dua menit. Hening.
Lalu, lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke dalam petak cahaya. Dalam sorotan cahaya yang berganti-ganti, sosok tubuh-tari muncul merepresentasikan simbol-simbol kekalutan sosial. Ada 9 tubuh yang tak nyaman dan gelisah di sana, bersamaan muncul 9 buah pancang yang biasa digunakan pembatas tanah. Pancang itu simbol tanah ulayat yang sudah di bagi-bagi. Dan kelak, pancang itu mereka jadikan senjata melawan investor atau penguasa yang merampas tanah ulayat mereka.

Minggu, 05 November 2017

Bahana Puisi di Benteng Portugis Pulau Cingkuak

CATATAN SILATURAHMI MANDE BAPUISI ANTARKOMUNITAS
OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)

Penampilan para pembaca puisi, musikalisasi, pantomim, serta seni tradisi Minang dalam “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi”. (Foto Panitia) 
Bebatuan bata sebagian masih tersusun relatif rapi, kendati tak utuh. Inilah sisa sebuah kawasan pertahanan perang dan sekaligus tempat pengintaian musuh yang digunakan bangsa kolonial Portugis. Posisinya sangat strategis. Saat ini dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata Pesisir Selatan.

Selasa, 31 Oktober 2017

Festival Seni Nan Tumpah 2017, Napas Panjang Mengelola Penonton

OLEH Nasrul Azwar (Presiden Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)
Pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah
Festival Seni Pekan Nan Tumpah 2017 telah diakhiri dengan penampilan konser nyanyian puisi  dari Sanggar Seni Dayung-Dayung Kayutanam dan pengumuman pemenang  Liga Baca Puisi Kreatif (LBPK) yang pemuncaknya diraih Deni Saputra dari ISI Padang Panjang dan Rahmat Hidayat, salah seorang penggerak Sanggar Seni Binuang Sakti di Lubuk Alung, Jumat malam, 29 September 2017.

Pasa Ateh Bukittinggi, Reinkarnasi Pasar Sarikat, dan Konflik PP 84/1999

 OLEH Nasrul Azwar
Kebakaran hebat yang meluluhlantakkan Pasa Ateh Bukittinggi, Senin 30 Oktober 2017, sekitar pukul 05.45 WIB, menyisakan duka mendalam. Seribu pedagang di sana tak bisa berdagang. Lebih kurang 1.043 kedai dan lapak pedagang kreatif lapangan tak bisa digunakan. Setengah dari itu, ludes terbakar. Kebakaran serupa sudah sering terjadi.
Kendati begitu, perlu juga diketahui tentang sejarah dan latar belakang kehadiran Pasa Ateh yang menjadi jantung ekonomi masyarakat “Koto Rang Agam” ini.
Dalam penelusuran dokumentasi perihal hubungan Agam dengan Bukittinggi dalam wilayah pemerintahan ke dua daerah itu, yang mengesankan tidak kondusif, ternyata telah berlangsung lama. Perseteruan yang paling mutakhir adalah soal diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No 84 Tahun 1999 tentang tapal batas kedua daerah itu.
Pada tahun 1968, perseteruan dua daerah ini menyangkut perkara Pasar Sarikat Bukittinggi. Ketika itu solusi sengketa ini, disepakati masing-masing DPRD-GR membentuk Panitia Khusus. Namun kedua DPRD-GR pemerintahan itu tidak berhasil mencapai kata sepakat alias kandas. Maka, penyelesaian Pasar Sarikat diserahkan kepada masing-masing pemerintahan.

Rabu, 20 September 2017

Orientasi Umum tentang Adat Minangkabau

OLEH H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie (Ketua Umum LKAAM Sumbar)
Judul yang diberikan kepada saya dalam ceramah ini adalah Orientasi Umum tentang Adat Minangkabau sebagaimana tertera dalam makalah ini.
Suatu orientasi umum tentulah amat luas cakupannya. Karena luasnya tentulah akan meminta waktu yang panjang. Sementara waktu yang telah dijadwalkan belumlah tersedia untuk itu. Barangkali yang dapat dikemukakan dalam ceramah ini hanya beberapa aspek saja tentang adat tersebut.