ADSENSE

Senin, 26 September 2016

Afrizal Malna, Politik Sastra dan Puisi Gelap

Wawancara Heyder Affan, Wartawan BBC Indonesia
Afrizal Malna (foto bbc indonesia
Penyair Afrizal Malna mampu menyebarkan semacam virus kepada penulis-penulis seangkatan dan sesudahnya, walaupun puisi-puisinya dianggap sulit dipahami.
Pada dekade 1990-an, publik sastra di Indonesia, dikenalkan istilah "afrizalian" oleh seorang kritikus sastra untuk menunjukkan pengaruh gaya puitiknya yang melahirkan banyak pengikut.

Kamis, 08 September 2016

Chairil Anwar dan Obsesi Besar Dua Bupati Limapuluh Kota

OLEH Nasrul Azwar
Sekretaris Jenderal Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)
Obsesi Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota terhadap penyair Chairil Anwar, tampaknya tak pernah putus dan surut hingga kini. Semasa kepala daerahnya dijabat Alis Marajo (2 periode 2004-2009 dan 2009-2014), pemkabnya terobsesi membangun dan menjadikan rumah orang tua laki-laki Chairil Anwar di Nagari Taeh Baruah sebagai museum dan pustaka penyair hebat nan mati muda ini. Namun keinginan ini tak pernah terealisasi hingga rumah sederhana bergonjong empat itu kian lapuk. Padahal, saat itu, pemkab tinggal melaksanakan saja dan tak perlu bersusah payah karena sudah didukung seniman dan budayawan dengan inisiasi Dewan Kesenian Sumatera Barat. 

Membaca Matrilineal untuk Perlawanan Perupa

CATATAN PAMERAN SENI RUPA
OLEH Nasrul Azwar (Sekretaris Jenderal Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI) Padang

Rantau Cino karya Rafki Ismail dipamerkan dalam Matrilini
RANAH seni rupa Indonesia terguncang ketika lukisan yang menampilkan lebih kurang 400 tokoh penting dalam perjalanan sejarah Indonesia di Terminal Tiga Bandara Sukarno-Hatta,  Tengerang, Banten, diturunkan secara paksa atas desakan dan kemarahan netizen (sebutan masyarakat untuk pengguna internet) di media sosial pada Jumat, 12 Agustus 2016.
Alasan netizen marah karena dalam lukisan berjudul #Indonesia Idea (.ID/Ide) karya perupa otodidak Galam Zulkifli, hadirnya sosok Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) yang ukurannya kecil jika dibandingkan tokoh lainnya.  DN Aidit dinilai tak layak tampil bersama-sama dengan ratusan tokoh lainnya. Kemarahan itu direspons pihak Angkasa Pura II dengan menurunkan lukisan yang di pajang dinding terminal.

Indonesia “Supermarket” Bencana Alam

WAWANCARA DENGAN DANNY HILMAN NATAWIJAYA
Danny Hilman doktor di bidang geologi kegempaan pertama di Indonesa, bahkan sampai saat ini masih satu-satunya.
Bicara soal gempa, sosok Danny Hilman Natawijaya sudah tidak asing. Ilmuan Geologi Gempa Bumi atau earthquake geologist Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mempunyai keahlian khusus yang tidak dimiliki ilmuan lain.

Sabtu, 30 Juli 2016

Sumbar Mati Gaya dalam Ajang FLS2N

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)

Sumatera Barat tak pernah masuk 10 besar dalam ajang FLS2N antarprovinsi. Delapan tahun FLS2N, Sumbar terkesan “mati gaya” di ajang ini.  

Penyelenggaraan kompetisi antarsiswa setiap jenjang pendidikan di bidang seni yang disebut Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional atau FLS2N, sudah dimulai sejak tahun 2008.

Alek nasional yang dilakukan menyeleksian sejak tingkat kabupaten dan kota, provinsi, dan bertem lalu beradu di tingkat nasional ini, sebelumnya bernama Jambore Seni Siswa Nasional yang dimulai pada 2004. Pada 2008 berganti baju menjadi FLS2N hingga kini.

Jumat, 29 Juli 2016

"Cerita Busuk dari Seorang Bandit": Kesaksian Bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)

OLEH HARIS AZHAR (KONTRAS)

Di tengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga di bawah Pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secara komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.

Sabtu, 23 Juli 2016

Menanti Kebangkitan Diaspora Minang dalam Membangun Tanah Air dan Menata Bangsa

OLEH Muhammad Raffik (Ketua Umum IPPMI Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia)

Peran etnis Minangkabau amat vital dalam mewujudkan  pembentukan bangsa indonesia. Sejak sebelum kolonialisme asing masuk, Indonesia  disebut dengan Nusantara yang mana terdiri dari beragam macam etnis dan suku bangsa.
Sejarah mencatat dalam tinta emas, beberapa peristiwa sejarah peranan suku bangsa Minangkabau di Nusantara.

Sabtu, 04 Juni 2016

Membaca Ulang Pemikiran Tan Malaka dalam Gerpolek[1]

OLEH Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si.[2]

Virtuous Setyaka
“BERUNDING ATAS PENGAKUAN KEMERDEKAAN 100 % SERTA MENUNTUT PENSITAAN HAK-MILIK-MUSUH.[3]

Belanda Peminta Tanah!
Setelah dapat tanah sebidang, maka dipagarilah tanah itu. Sepanjang pinggir pagar itu ditanamilah ubi jalar (merambat). Ubi itu menjalar kian kemari keluar pagar menuju ke-empat penjuru alam. Setelah cukup jauh menjalar keluar, maka diangsurnyalah pagar yang semula itu, supaya dapat meliputi ubi yang sudah menjalar kian kemari itu. Memang ubi itu adalah Hak Miliknya…katanya: dan tanah BARU yang diliputi oleh ubinya itupun, adalah Hak Miliknya pula...katanya selanjutnya! Demikianlah Belanda terus menjalankan dan memagari ubinya itu sampai puas hatinya..!!!

Minggu, 08 Mei 2016

Membaca Pementasan Tiga Monolog Sutradara Perempuan Sumbar

OLEH Nasrul  Azwar (Sekjen AKSI)
Pementasan monolog Prodo Imitatio 
“Gelar akan terus diburu sepanjang orang butuh... Banyak kawan-kawan yang terus dengan gigih dan bertahan dalam bisnis jual beli gelar secara sembunyi-sembunyi dan kamuflase tinggi. Bagiku apalagi, kecoa si kepala baja telah membuat aku sadar dan belajar, bahwa sepanjang masih banyak orang memerlukan gelar tanpa harus bersusah payah asalkan punya uang, bisnisku tak akan mati...”

Selasa, 03 Mei 2016

Lakon Hidup Melati Suryodarmo

OLEH Linda Christanty (Sastrawan)
Salah satu seniman Indonesia yang paling mendunia ini mempelajari memori tubuh dengan menelusuri teks-teks sejarah dan menyembuhkan traumanya dengan berkarya.
MUSIM SEMI 1994 di Braunschweig, sebuah kota di Jerman. Melati Suryodarmo duduk di bangku kebun raya, memandangi kolam. Bunga-bunga teratai bermekaran. Ia sering merenung, membaca, ataupun menulis di tempat ini. Seorang perempuan berkacamata Ray-Ban dan bersepatu tumit tinggi duduk di sebelahnya, yang kemudian menyapa ramah, “Kamu dari mana? Apa yang kamu kerjakan di sini?” Mereka bercakap-cakap.
“Dia ternyata Anzu Furukawa, penari butoh dan profesor seni rupa di HBK (Hochschule für Bildende Künste Braunschweig/Braunschweig University of Art),” kenang Melati, yang disebut sebagai ‘salah satu seniman pertunjukan asal Indonesia yang paling mendunia’ oleh suratkabar New York Times.

Senin, 02 Mei 2016

Tubuh-Tari dan Tubuh-Teater Masa Kini (Tubuh dari Antropologi Budaya Lisan)

OLEH Afrizal Malna (sastrawan)
Tubuh manusia telah menjadi tari dan teater sekaligus, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik. Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri.

Jumat, 29 April 2016

Dato’ Mahkota Maharaja Pagaruyung dalam Kerayaan Pagaruyung dan Perannya Proses Islamisasi Nusantara

OLEH Nurmatias (Peneliti Budaya)
Prolog
Meretas eksistensi  Dato’ Mahkota Maharaja Pagaruyung dalam khazanah historiografi Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya merupakan sebuah keharusan. Fondasi ini didasarkan pada intinya yakni “masih sedikitnya”  perihal Mahmud Dato’ Mahkota Maharaja tertuang dalam literatur sejarah. Perihal lainnya dalam sejarah Minangkabau, telah banyak dikaji oleh peneliti baik peneliti Indonesia maupun luar negeri. Tak salah Benda-Beckmann (2000 : xxvi) pernah menuliskan bahwa Minangkabau sudah banyak yang menyigi dari berbagai aspek penyigihannya.

Sabtu, 23 April 2016

Membaca Kurenah “Parewa Sato Sakaki” Rusli Marzuki Saria

OLEH Nasrul Azwar (Sekjen AKSI)
Saya tulis tentang Rusli Marzuki Saria, bukan dari sisi proses kreatif sebagai penyair. Bagian ini sudah jamak ditulis. Saya coba membaca “Papa”—demikian ia akrab disapa siapa saja—dari rubrik “Parewa Sato Sakaki” yang terbit di Harian Haluan. Kolom tetap yang ia rawat setiap Minggu hadir dalam rentang sejak 2000-2005. Lebih kurang lima tahun. Jika rata-rata setahun ada 50 tulisan, maka esai itu paling tidak kini ada sekitar 250-an.

Selasa, 19 April 2016

RPJMD Sumbar 2016-2021: Nyanyian Seniman dalam Jangka Menengah

OLEH Nasrul Azwar (Sekjen AKSI)
Irwan Prayitno-Nasrul Abit
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sedang menyusun dan merumuskan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Sumatera Barat 2016-2021. Untuk menghimpun masukan, Gubernur Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Nasrul Abit telah membuka diskusi publik dengan pelbagai elemen dan tokoh masyarakat, dan dihadiri semua kepala-kepala dinas, badan, dan jajarannya.
Penyusunan RPJMD dikaitkan dengan visi dan misi kedua pasangan ini yang disampaikan saat kampanye pemilihan kepala daerah tahun lalu. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera Barat akan menyusun dokumen perencanaan lima tahunan (RPJMD) yang memuat visi-misi, tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, program prioritas, dan indikasi pendanaannya. 

"Tonggak Tuo" Demokrasi di Minangkabau

OLEH Nurmatias (budayawan)
Prolog
Masyarakat Minangkabau yang dulu sebagai penjunjung sistem yang egaliter dan demokrasi masihkah kelihatan sekarang ini? Masihkah bulek aie dek pambuluh, bulek kato jo mufakek (Bulat air kerena saluran bambu). Bulat kata karena mufakat masih identik dengan kondisi Minangkabau kekinian. Rumah gadang sebagai simbol kebesaran demokrasi Minangkabau masih kelihatan karismanya atau benar kata Von Benda Beckmann tonggak demokrasi di Minangkabau sudah rapuh dan hampir hancur.

Minggu, 13 Maret 2016

Buku Puisi dari Buih Laut

OLEH Ivan Adilla (pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, FIB Unand)

Judul Buku: Ombak Menjilat Runcing Karang, Sebuah Antologi Puisi
Karya: Eddy Pranata PNP
Penerbit: CV. Rumahkayu Pustaka Utama, Padang.
Tahun Terbit: Maret 2016
Halaman: x +148 halaman.

Ivan Adilla saat menyajikan makalahnya
Adakah yang bisa dilakukan lelaki saat sendiri di malam sepi pada sebuah pulau karang di tengah laut? Penyair Eddy Pranata PNP memanfaatkan kesempatan itu untuk berdialog dengan ombak, karang, pelangi dan angin. Sebagai petugas navigasi laut, ia   menjalankan pekerjaan di menara suar yang terletak di pulau karang terpencil selama puluhan tahun. Ia menyaksikan kapal, sampan, gelombang, dan para nelayan yang hilir mudik di lautan. Dari tempat sepi itulah ia merajut puisi tentang cinta, kerinduan, persahabatan dan Tuhan. 

Memaknai Rasa pada Empat Perempuan Penyair

OLEH Eva Krisna (Peneliti di Balai Bahasa Sumbar)
Eva Krisna saat diskusi buku antologi puisi
Mereka Berempat
Sulit untuk mengatakan tidak ketika Rieska Praditya Ernaningtyas meminta untuk membedah karya mereka. Inginnya berjarak dengan keempatnya agar ulasan yang akan diberikan terlepas dari cakrawala wawasan tentang mereka sehingga  pemaknaan terbebas dari horizon pengetahuan tentang masing-masingnya. Namun apa daya, kenangan telah terbentang panjang dan perasaan pun telah terjalin lama dengan keempatnya.

Minggu, 21 Februari 2016

Teka-teki Tokoh Legendaris Filsuf Kiri Tan Malaka

Pengantar redaksi
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Tan Malaka lahir 2 Juni 1897, Pandan Gadang, Limapuluah Kota, dan meninggal pada 21 Februari 1949, di Kabupaten Kediri. Hari ini 67 tahun sudah berlalu tokoh inspiratif ini meninggal dunia. Berikut tulisan Kamardi Rais Datuak P Simulie, yang diambil dari buku “Mesin Ketik Tua”. Selamat membaca.

Selasa, 26 Januari 2016

Kita dan Kebudayaan

OLEH Abdul Hadi W. M. (Budayawan)
Abdul Hadi W.M bersama cucunya
Salah satu masalah yang memprihatinkan sekarang ini di bidang kajian ilmu-ilmu kebudayaan dan humaniora ialah simpang siur dan rancunya pengertian tentang kebudayaan. Ada yang mengaburkan arti kebudayaan dengan peradaban. Ada juga yang mengartikannya terlalu luas sehingga mencakup apa saja dalam kegiatan hidup manusia yang sebenarnya tidak bisa dimasukkan sebagai wilayah kebudayaan. Yang lain lagi mengartikan terlalu sempit sebatas kesenian,kesusastraan, arsitektur dan adat istiadat. Kesimpang siuran dan kekusutan  pengertian itu sudah pasti berpengaruh terhadap upaya pengembangan dan penentuan kegiatan kebudayaan yang akan dilakukan, dan sudah pasti pula menimbulkan kebingungan dalam menyusun kebijakan dan strategi kebudayaan di masa depan.

Sabtu, 16 Januari 2016

Sjafrial Arifin dan Mata Elang

OLEH Eko Yanche Edrie
Sjafrial Arifin
Dalam dua hari ini berita duka kehilangan wartawan senior bertirit-tirit saja. Saya menulis obituari untuk almarhum Uda Zaili Asril, Senin (11/1/2016) sekitar pukul 23.55 WIB. Semalam saya harus tulis satu obituari lagi, kali ini untuk senior saya Uda Sjafrial Arifin atau kami di Surat Kabar Singgalang memanggilnya Da Cap. Da Cap meninggal dalam usia 67 tahun.