Minggu, 28 Juli 2013

IDENTITAS KULTURAL TERANCAM:Robohnya Rumah Gadang Kami



Rumah Gadang yanh lapuk ditelan zaman. Butuh tindakan konkret untuk penyelamatannya.  (Icol)
Saat rumah gadang itu lapuk, sebagian kayunya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Minimnya perhatian kaum dan ninik mamak terhadap rumah gadang, mempercepat hancurnya simbol adat dan budaya Minang ini.
Bukan saja surau yang telah roboh. Rumah gadang juga berangsur-angsur lenyap dari muka bumi. Rumah gadang adalah simbol pertahanan terakhir adat dan budaya Minang.

RUMAH GADANG DI AMBANG KEPUNAHAN: Terbitkan Aturan Penyelamatan Rumah Gadang


Rumah Gadang di Nagari Pariangan, Tanah Datar (gogel-sonay.blogspot.com )
Nyaris semua rumah gadang di Ranah Minang, lapuk dan kumal, dan tak lagi asli karena telah banyak bergani bentuk dan material. Dan ada juga rumah gadang menunggu roboh. Mendesak, dikeluarkan regulasi untuk penyelamatan rumah gadang yang berada di ambang kepunahan.

Kamis, 25 Juli 2013

Membangun “Tembok Minang”



OLEH Nasrul Azwar
Tulisan sederhana ini sesungguhnya tidak mengesankan bahwa dalam waktu dekat ini akan terjadi bencana di Sumatra Barat, tapi lebih ditekankan pada strategi, bentuk antisipasi, dan kesiapsiagaan masyarakat bersama pemeritah–tentu saja dengan koordinasi yang tegas semua stakeholder–untuk menghadapi ancaman bencana alam berupa gempa bumi yang selanjutnya menimbulkan gelombang tsunami yang dasyat.   
Selain memberikan pengetahuan yang cukup bagi masyarakat, dan juga menguatkan posisi institusi yang bertanggung jawab terhadap antisipasi bencana alam tsunami, dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang tsunami, membangun tembok di sepanjang pantai Kota Padang (jika perlu seluruh pantai Sumatra Barat), merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan.
Membangun tembok di sepanjang pantai dengan tinggi dan lebar 20 meter, bukan lagi barang baru. Di salah satu kota di Jepang, pemerintahnya sudah mewujudkannya. Masyarakat Jepang yang akrap dengan gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami, “memagar” kotanya dengan tembok raksasa. Saya pernah menonton film dokumenternya, dan masyarakat kota itu menjadi tidak merasa cemas lagi dengan adanya tsunami pascagempa bumi.
Hebatnya lagi, di atas tembok itu, dengan jalur kendaraan yang cukup luas (20 meter), munculnya tsunami menjadi tontonan wisatawan.

Bajulo-julo Membangun Dinding Laut


OLEH Nasrul Azwar
Setelah artikel saya tentang perlunya dinding laut dibangun sebagai salah satu bentuk upaya antisipasi gelombang Tsunami yang didirikan sepanjang pantai Sumatra Barat dimuat di surat kabar ini (Singgalang, 22/10/2007), dan keesokan harinya muncul tulisan Emeraldy Chatra (Padang Ekspres, 23/10/2007), dalam nada yang sama, saya mengirim pesan singkat ke telepon genggam Wali Kota Padang Fauzi Bahar.
Isinya: “Bagaimana pendapat Bapak tentang gagasan membangun dinding laut di sepanjang pantai Sumatra Barat itu, terutama Pantai Padang, yang yang turun di dua surat kabar itu?” Wali Kota menjawab: “Sebagai sebuah wacana atau gagasan, cukup bagus. Dan ini perlu diwacanakan secara luas. Jepang telah membuktikan, dan tembok itu sangat bermanfaat besar bagi masyarakatnya.” Lalu saya balas: “Bagaimana dengan Kota Padang, apakah bisa dirancang pembagunannya? Dan ini saya kira tidak menggaduh benar dengan perencanaan pembangunan kota ini ke depan.” Dijawab: Ya, semua itu akan berpulang pada anggaran. Anggaran sangat terbatas.” Sampai di situ kami “berdiskusi”.

IMAM MAULANA ABDUL MANAF: Manusia Langka dari Minangkabau


OLEH Yusriwal
Peneliti dan pengajar di Fakultas Sastra Unand
Imam Maulana Abdul Manaf
Sekali tempo, penulis buku yang berjudul Menyoal Wahdatul Wu­jud: Kasus Tanbih Almasyi Ka­rangan Syekh Abdurrauf Singkel, Oman Fathurahman, berkunjung ke Padang. Ia terkejut tatkala mengun­jungi seorang buya yang tinggal di ping­giran Kota Padang, tepatnya di Batang Kabung, Koto Tangah. Keterkejut­annya beralasan karena dalam tesis­nya yang dijadikan buku tersebut me­nyebutkan bahwa di dunia hanya ter­dapat empat kitab Tanbih Almasyi ka­rangan Syekh Abdurrauf Singkel, tetapi ternyata buya tersebut juga me­miliki kitab itu, malahan buya itu sendiri yang menyalinnya.
Buya yang dimaksud bernama Imam Maulana Abdul Manaf. Dia tinggal di sebuah surau yang terletak bersebelahan dengan Pesantren Mad­rasah Tarbiyah Islamiah (PMTI). Dia merupakan sosok yang dermawan. Tanah seluas lebih kurang lima hektare kepunyaannya disumbangkan untuk pendirian PMTI.

Selasa, 23 Juli 2013

WAWANCARA Patra Rina Dewi, Direktur Eksekutif Komunitas Siaga Tsunami Padang


Masyarakat Lebih Siap Daripada Pemerintah 

Pengantar
Patra Rina Dewi
Penguatan pengetahuan warga terhadap kebencanaan menjadi sangat penting dan krusial. Posisi Sumatra Barat yang berada dalam “jalur” yang rawan bencana alam, baik itu bencana gempa bumi dan diikuti tsunami, longsor, galodo, banjir, dan letusan gunung berapi, tentu harus menjadi perhatian yang sangat serius berbagai pihak.
Untuk itu, sangat mendesak memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat tentang kebencanaan itu agar kesiagaan dan rasionalitas bisa berjalan dengan baik. Peran dan posisi pemerintah menjadi sangat penting.
Masyarakat tak bisa disalahkan jika mereka begitu mudah termakan isu-isu gempa dan tsunami. Karena pemerintah sendiri, tak punya “badan” khusus yang mampu memberikan, mengeluarkan, serta menyebarkannya informasi kepada masyarakat sekaitan dengan gempa dan tsunami. Pemerintah terkesan bertindak setelah bencana terjadi.

KESIAPSIAGAAN BENCANA: Pemerintah Kehilangan Sensitivitas


Laporan: Nasrul Azwar  
Pemerintah dinilai kehilangan sensitivitas dalam mengelola isu-isu gempa dan tsunami yang membuat warganya panik. Bahwa Sumatra Barat berada di jalur rawan bencana alam, tak bisa dibantah. Pengetahuan kebencanaan bagi masyarakat menjadi hal yang krusial.
Isu gempa besar bakal terjadi dan memunculkan tsunami, yang berseliweran bebas di “ruang publik” bernama telepon genggam bak “hantu” yang menyeramkan. Warga yang berada di jalur “merah” buncah dibuatnya. Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai barat Sumatra Barat yang panjangnya lebih kurang 540 km, yang diperkirakan dihuni 2,5 juta jiwa, panik karena sebuah isu yang beredar yang tak jelas sumbernya. Tapi, pemerintah tak pernah secara resmi meminimalisir dampak isu itu, sekaligus “melawan” isu yang sangat cepat berkembang. 

Tradisi yang Kehilangan Fungsi


Oleh Halim HD
Networker kebudayaan tinggal di Solo
Peramainan rakyat di Sunda yang kini kian langka (Foto Net)
Apa yang bisa kita harapkan dari posisi kehidupan tradisi yang tampaknya kini kian rapuh, betapapun begitu banyak usaha, terutama dalam bentuk pernyataan dari rasa keprihatinan dan uji coba dalam berbagai kegiatan, dan yang paling banyak lagi adalah pidato?
Pertanyaan ini kita hadapkan kepada diri kita sendiri sehubungan dengan kian derasnya laju globalisasi dalam wujudnya produksi massal dari sistem industri global kapitalisme yang secara kasat mata nampak menelikung kita dalam berbagai bentuk konsumtivisme yang sudah demikian berurat akar di dalam kehidupan masyarakat kita?

Merawat Spirit Seni Tradisi Minang


Oleh: Asril Muchtar
Pemerhati seni dan dosen ISI Padangpanjang
Jenis seni tontonan berbasis tradisi yang lebih awal dikenal di Sumatra Barat adalah musik dan tari kreasi baru. Jenis seni tontonan ini muncul di era tahun 1970-an. Musik kreasi baru adalah musik-musik yang bersumber dari musik tradisi yang ditata atau diaransemen dalam format baru. Misalnya, dendang atau lagu “Tak Tontong”, “Talago Biru” dimainkan dengan talempong yang ditala dengan tangga nada diatonis sebanyak 10-12 buah sebagai pembawa melodi utama, dan dibuatkan iringannya dari talempong dan canang masing-masing delapan buah yang berfungsi sebagai akord. Musik ini dipelopori oleh, Yusaf Rahman, Akhyar Adam, Irsyad Adam, dan Murad Sutan Saidi.

METAMORFOSIS SENI PERTUNJUKAN: Dari Komunal ke Tontonan



Oleh: Asril Muchtar
Pemerhati seni dan dosen ISI Padangpanjang
Tari Balanse Madam di Kota Padang (Foto Indra Yudha)
Masyarakat Minangkabau, terutama yang bermukim di pedesaan, seni-seni yang lahir dan akrab dengan mereka adalah seni yang bertema lingkungan, alam, dan yang sangat dekat dengan dunia agraris. Misalnya, berbagai versi tari piring, tari panen, tari kasawah, tari rantak kudo, tari benten, dan lain sebagainya. Dari aspek musik juga demikian, seperti: berbagai versi dan lagu talempong pacik, talempong duduak (melodi) saluang dendang, saluang pauah, saluang panjang, sampelong, rabab pasisie, alu katentong, gandang lasuang, gandang tasa, seni berpantun sambil menyiang padi di sawah, dan tak terkecuali juga randai. Seni-seni seperti di atas sangat kuat sebagai ciri produk masyarakat agraris. Seni-seni jenis ini lebih cenderung dikategorikan sebagai seni komunal.
Masyarakat Minangkabau perkotaan, juga memiliki kekhasan seni yang mereka geluti. Misalnya, gamat, katumbak, musik melayu, musik populer, dan musik yang mendapat pengaruh dari budaya luar. Seni-seni hiburan mereka dapat dikategorikan sebagai seni tontonan.

Sabtu, 20 Juli 2013

TEMU SASTRA DI PADANG: Sastra Tak Butuh Negara, Negara Juga Tak Butuh Sastra


Oleh: Nasrul Azwar
Pada masa kampanye pemilihan umum 2009 lalu, saya menerima SMS berantai dari seorang teman. Bunyinya: Bangsa-bangsa lahir di hati para penyair, lalu mati di tangan para politisi.
Setelah tiga tahun, baru saya mengetahui asal muasal yang menulis SMS itu adalah sastrawan Acep Zamzam Noor. Saya mengetahui itu, ketika membaca tulisannya berjudul Sastra dan Negara: Pengalaman Tasikmalaya. Tulisan itu dapat dibaca di blognya http://politikacepzamzamnoor.blogspot.com.


TIGA LEGENDA KOREOGRAFER PEREMPUAN: Wilayah Alternatif dan Tari Minang



Oleh: Indra Utama
Dosen Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang

Cover Tari Rantak Gusmiati Suid (darevan.wordpress.com)
Tari Minangkabau wujud berdasarkan usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak (pencaksilat Minangkabau) dengan unsur-unsur tari di luar pancak berdasarkan penggunaan teknik penciptaan tari baru untuk pementasan merangkumi teknik pengembangan gerak dan penggunaan elemen-elemen komposisi tari.

Selasa, 16 Juli 2013

REVITALISASI SONGKET MINANGKABAU: Menenun Harapan di Helai-helai Benang

OLEH Nasrul Azwar 
Bernhart Bart dan Erika Dubler
Pada tahun 1977-1978, selama 6 bulan, Bernhard Bart bersama isterinya, Erika Dubler, berkeliling Indonesia. Berdua menjelajahi daerah Bohorok di Sumatra Utara sampai Amboina di Mateng. Beberapa hari di Sumatra Barat, mereka menyinggahi Kota Bukittinggi dan Ngarai Sianok dan Koto Gadang di Kabupaten Agam. Perjalanan diteruskan melewati Danau Singgarak dan Solok terus ke Padang. Tentu, perjalanan selama setengah tahun itu, terasa sangat menyenangkan.


TERANCAM LENYAP: Seni Tradisi Minang di Pusaran Arus Global


OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia
Seni-seni tradisi yang melekat dalam kehidupan sosial-kultur masyarakat—tentu saja termasuk di Minangkabau (Sumatera Barat)—dapat dimaknai sebagai sistem nilai yang fungsinya mendorong dan membimbing masyarakatnya menjawab tantangan yang mereka hadapi sepanjang masa.
Seni tradisi Tupai Janjang dari Kab Agam (Foto inioke.com)
Sistem nilai dan tradisi tersebut merupakan ciri identitas sebuah kelompok masyarakat budaya. Pada masyarakat Minangkabau dicirikan dengan paham egalitarian dan sistem matrilineal yang hidup di dalam nagari-nagari. Seni-seni tradisi pun tumbuh di dalamnya seiring berkembangnya nagari.
Dalam kultur Minangkabau, seni tradisi itu biasanya disebut pamenan anak nagari yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi budaya yang ditopang dengan apa yang dinamakan peristiwa budaya alek nagari.


MENYOAL FENOMENA “HARI-HARI”: Sastra Tak Butuh Legitimasi Negara


OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia
Tanggal 3 Juli dijadikan Hari Sastra Indonesia (Foto http://www.dbkomik.com/site/news.php?detail=580)
Enam bulan terakhir, dunia sastra Indonesia, diriuhkan dengan hiruk-pikuk yang berada “di luar” teks sastra itu sendiri. Sasrawan Indonesia kini sedang gandrung mencari dan menetapkan “hari-hari” bagi kehidupan sastra Indonesia, yang memang tak ada sama sekali relevansinya dengan kreativitas dan karya.

CATATAN PEMENTASAN TEATER: Tiga Menguak Kebuntuan Teater

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)

Pementasan "Segera" Teater Payung Hitam Bandung (Foto Ganda)
Sepanjang Juni 2013, saya menikmati tiga peristiwa teater dengan lokasi pertunjukan yang berbeda: Pada 15 Juni, Teater Payung Hitam Bandung mementaskan “Segera” di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, naskah dan sutradara Rachman Sabur;  20 Juni, Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah Padang memanggungkan “Tanah Ibu” di Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu, naskah dan sutradara Syuhendri, dan pada 30 Juni, Teater Ranah Padang menggelar “Dua Senja” di Ruang Terbuka Komunitas Intro Payakumbuh, naskah dan sutradara S Metron M.

Sabtu, 13 Juli 2013

Teater dan Raibnya Festival

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia


Festival Teater Remaja di Padang, 2011 (foto: inioke.com)
Dua tahun terakhir, “darah” perteateran di Sumatera Barat agak berdenyut. Urat nadinya mulai terisi. Kendati masih perlu dibenahi di sana-sani, iven festival teater yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat, pada 2011 dan 2012, tak bisa dipungkiri, memberi kontribusi kegairahan pada seni yang telah tua ini.

Selain dua festival itu—masing-masing iven yang diikuti minimal 9 grup teater dari Sumatera Barat—Taman Budaya juga menghadirkan alek teater remaja, yang  juga sudah dua kali digelar: pada 2011-2012. Alek teater yang mengutamakan usia remaja dan komunitas teater di sekolah serta kampus ini, terus berlanjut pada 2013 ini. Pesertanya cukup signifikan.

Jumat, 12 Juli 2013

Teater Sumatera Barat yang “Murtad”

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Teater Indonesia

Foto Iggoy el Fitra
Sejarah seni teater di Sumatera Barat, di sini, tak dikesankan dalam pembicaraan dikotomik: teater tradisi (cerita) randai dan modern. Tradisi dinilai usang, monoton, dan membosankan. Modern dianggap hidup, dinamis, dan menyenangkan.

Pembicaraan di sini lebih mementingkan tentang saling keterkaitan yang integral antara seni tradisi (bercerita) randai Minangkabau dengan teater modern, yang mulai berkembang di Sumatera  Barat pada awal tahun 60-an. Dan keberpalingan kelompok-kelompok teater terhadap spirit dan nilai-nilai tradisi itu.    


MENJAWAB KEBUNTUAN: Konsorsium Komunitas Seni Sebuah Kebutuhan

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen  Aliansi Komunitas Seni Indonesi (AKSI)

Pertunjukan Hari Teater se-Dunia di :Padang (foto:inioke.com)
Pada peringatan Hari Teater Sedunia (World Theatre Day) 27 Maret 2013 lalu, Dario Fo, salah seorang seniman Italia, dipilih untuk menuliskan pesan-pesannya  tentang teater ke seluruh jagad raya ini. Saya menangkap, pesan itu menyiratkan diperlukan pernguatan komunitas-komunitas seni untuk menghadapi penguasa.
Dario Fo, yang lahir  pada 24 Maret 1926, merupakan seniman multitalenta: sutradara, penulis naskah drama, satirist, aktor, dan komposer. Pada 1997, Dario Fo memperoleh penghargaan Nobel Sastra yang bergengsi itu.