Minggu, 29 September 2013

POLEMIK SASTRA SUMATRA BARAT: Sedikit Gambaran Sastra Indonesia di Sumatra Barat


OLEH Sudarmoko
Universitas Leiden

Sudarmoko
Sepanjang sejarahnya, Sumatra Barat menjadi bagian yang penting dari sedikit daerah di Indonesia yang dalam segi jumlah memberikan pengaruh penting dalam kesusastraan. Hingga tahun 1977, kehidupan sastra Indonesia modern di Sumatra  Barat dicatat dengan baik oleh Nigel Phillips dalam artikelnya di Indonesia and the Malay World (Vol. 5(12): 26-32),”Notes on Modern Literature in West Sumatra”. Dalam catatan yang dibuat di sela-sela penelitiannya tentang sastra lisan, terutama Si Jobang yang sudah diterbitkan, ia mencatat sejumlah pencapaian dan sastrawan Sumatra Barat.

Mereka yang sudah aktif dalam dunia sastra di Sumatra Barat ketika itu adalah AA Navis, Rusli Marzuki Saria, Abrar Yusra, Chairul Harun, Leon Agusta, Hamid Jabbar, Zaidin Bakry, Wisran Hadi, Darman Moenir, Joesfik Helmy, Makmur Hendrik, Upita Agustin. Selain itu juga terdapat nama-nama seperti A. Damhoeri, Nurdin Jacub, Rivai Marlaut, dan juga yang khusus karena menulis cerita dalam bahasa Minangkabau, Nasrul Siddik.
Pilihan untuk menggunakan medium Bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Minangkabau dibicarakan dengan singkat dalam artikel itu. Bahasa Indonesia lebih digemari sebagai pilihan bahasa karena cakupan pembaca yang lebih luas. Di samping itu, ada alasan bahwa Bahasa Minangkabau pada tingkat tuturan untuk pidato informal, dan sejumlah karya sastra yang lahir sebelumnya. Bahasa Minangkabau tulisan sendiri mulai diajarkan di sekolah-sekolah pada tahun 1930an. Tentu saja, Bahasa Minangkabau telah banyak digunakan bagi karya-karya sastra yang lahir sebelum dekade tersebut.
Pada tahun yang sama, 1977, Alberta Joy Freidus menerbitkan tesisnya di Universitas Hawaii berjudul Sumatran Contributions to the Development of Indonesian Literature; 1920-1942. Freidus memberikan konteks sosial tentang kelahiran dan peran yang diberikan oleh para intelektual dan pengarang dari Sumatra, terutama Sumatra Bagian Barat, yang menurut catatannya menjadi bagian penting dari pertumbuhan sastra Indonesia, dengan kira-kira 85-90%, dari jumlah pengarang yang bergiat pada dekade bahasan bukunya.
Dari dua sumber di atas, terlihat bagaimana keberlangsungan sastra yang berkembang di daerah ini. Dalam pendekatan sosiologis yang dilakukan dalam melihat bagaimana sastrawan dan karya sastra muncul, penting untuk memperhatikan bagaimana berbagai unsur mempengaruhinya. Karya sastra memang tidak muncul dengan sendirinya, namun dipengaruhi oleh banyak hal, seperti ekonomi, pendidikan, politik, budaya, dan juga pengaruh yang lebih spesifik dan berlingkup kecil.
Sumbangsih Media Massa
Media massa salah satu bagian yang dibicarakan oleh Nigel Phillips dalam artikelnya itu. Kehadiran media massa sangat berarti bagi penyebarluasan dan penjaga pertumbuhan sastrawan dan karya sastra. Selain ruang-ruang untuk cerpen, puisi, dan artikel dan esai, cerita bersambung menjadi bagian yang banyak mendapat perhatian. Sejumlah media massa yang pernah dan terus menjadi bagian penting dalam pertumbuhan sastra di Sumatra Barat setelah masa kemerdekaan Indonesia adalah Haluan, Singgalang, Semangat, Padang Ekspres. Sejumlah media massa lain juga memberikan sumbangan berarti, meski berumur tidak begitu lama, seperti Mimbar Minang, Target, Padang Pos, Bukittinggi Pos, dan lainnya. Hingga kini pun, media massa ini masih memegang peran penting dalam kesusastraan kita, menjadi media publikasi dan apresiasi yang lebih besar dan luas ketimbang buku. Inilah juga yang harus dipertimbangkan dalam pembicaraan sastra. Tidak ada perbedaan mendasar antara karya sastra yang berbentuk buku atau yang diterbitkan media massa, dilihat dari segi kualitas. Apalagi ditinjau dari segi finansial yang diterima oleh penulis, media massa lebih menjanjikan.
Bagi sastra Indonesia modern yang tumbuh dan berkembang di Sumatra Barat, beberapa informasi di atas memperlihatkan bagian yang penting dalam perjalanannya. Sejumlah perkembangan yang terjadi setelah catatan Nigel Phillips dan Freidus tersebut, tentulah banyak informasi dan data lainnya yang muncul belakangan. Bahkan, dari sejumlah nama yang disebut itu, telah lahir sejumlah karya penting yang diakui oleh kalangan sastra di Indonesia dan di tingkat regional serta internasional. Capaian ini tentu saja patut untuk dipikirkan dan dianalisis, guna mendapatkan sebuah gambaran mengenai keterusberlangsungan sastra di Sumatra Barat.
Bahkan, pada perkembangan terkini, sudah semakin banyak capaian dan hasil karya sastra, baik yang sudah dibicarakan dan dianalisis maupun yang belum sempat dibahas dalam berbagai media pembicaraan karya sastra.      
Untuk kasus yang lebih awal, dari dua tulisan yang disebut di atas, kita bisa membaca sejarah kesusastraan ini dalam buku saya, Roman Pergaoelan, dan juga tulisan Suryadi tentang Roman Indonesia, yang harus dikaji lebih dalam. Menyambung sejarahnya, patut untuk kemudian diletakkan tulisan Nigel Phillip dan Freidus di atas. Data-data yang disajikan dalam tulisan-tulisan itu cukup untuk membantu kita melihat dan membayangkan bagaimana Sumatra Barat tidak henti-henti melahirkan penulis, memberikan ruang eksplorasi penulisan, suasana kepenulisan, dan juga pemikiran dalam sastra Indonesia.
Sastra Indonesia di Sumatra Barat Kini
Betulkah dunia sastra Sumatra Barat sekarang, dan sejak dua atau tiga dekade ini, berhenti pada Gus tf Sakai? Apa ukuran yang dilekatkan untuk mengucapkan klaim seperti itu? Inilah tampaknya yang dibenarkan oleh Darman Moenir dalam tulisannya di Haluan, Minggu (23/1/2011). Dua paragaraf terakhir menunjukkan alasan tulisan itu dibuat, yang merujuk pada ucapan kepala Balai Bahasa Padang yang pernah dilansir media massa besar di Jakarta dan mendapatkan tanggapan beragam dalam media jejaring sosial. Sebenarnya saya berharap Darman Moenir dapat memberikan latar belakang klaim isi tulisannya, dengan memberikan gambaran seperti apa kesusastraan Indonesia di Sumatra Barat belakangan ini, sehingga menuntunnya untuk memberikan penilaian bahwa tidak ada novel yang bermutu, selain dengan penyebutan sedikit karya yang dianggapnya bermutu.
Jika tulisan itu berangkat dari serangkaian pembacaan dan analisis terhadap karya-karya sastra yang lahir, tentu akan memberikan sumbangan yang berarti bagi wacana sastra Indonesia di Sumatra Barat. Tetapi sayangnya kedua klaim yang dimunculkan itu terkesan hanya ungkapan sambil lalu, dan bahkan mengundang pertanyaan akan kredibilitas kesastrawanan penulisnya dan juga posisi peneliti di Balai Bahasa yang dikutipnya. Sepanjang tulisan yang dihadirkan oleh Darman Moenir, hanya enam paragraf terakhir yang ditulisnya. Bagian sebelumnya hanya kopi paste yang tidak disebutkan sumbernya, yang patut untuk disayangkan karena dilakukan oleh seorang penulis yang sudah dikenal dengan novel Bako tersebut.
Selama 30 tahun terakhir ini, tidak sedikit karya sastra yang muncul dari Sumatra Barat. Baik dari tangan penulis yang masih berdomisili di Sumatra Barat maupun penulis-penulis asal Sumatra Barat yang berproses di luar. Jika mutu yang dipertanyakan, diperlukan kajian yang betul-betul mendalam untuk kemudian keluar pernyataan apakah karya-karya itu bermutu atau tidak. Jika hanya komentar dan klaim tanpa kajian yang dikeluarkan, saya khawatir kasusnya akan sama dengan komentar Kepala Balai Bahasa Padang yang disiarkan di media massa besar itu, yang juga disinggung Darman Moenir, bahwa tidak ada karya sastra bermutu di Sumatra Barat.
Selain kajian-kajian yang mendalam, pengakuan-pengakuan atas prestasi para penulis Sumatra Barat juga dapat mendukung kita untuk kemudian dapat dijadikan bahan dalam membuat penilaian. Penilaian ini dapat dilihat bukan hanya dari segi sayembara, hadiah, tetapi juga dalam pembicaraan, diskusi, pemuatan karya, artikel-artikel, dan sebagainya. Keutuhan sudut melihat pertumbuhan karya sastra dan juga penulisnya akan membantu kita untuk menilai dan mendalami kondisi literer.
Tindakan Estetik dan Realistik
Satu hal yang mungkin perlu dilanjutkan adalah terus memperbincangkan dan mendalami isi estetika dan literer karya-karya yang muncul. Selain itu juga menjaga kondisi lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan sastra kita secara umum terus subur. Ini yang mungkin terlupakan dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataan dan penilaian selama ini. Apresiasi yang muncul tidak hanya berpengaruh positif, namun kadang kala bernilai negatif dan mematikan. Kesadaran seperti ini diperlukan untuk setidaknya membuka kemungkinan yang lebih luas dalam mengembangkan potensi sastra kita.
Jaringan kanonik sastra yang ditengarai oleh Devy Kurnia Alamsyah (Haluan, 30/1/2011), misalnya, harus diperlebar dengan tindakan nyata membuka ruang kreatif bagi penulis dan pembaca, siswa dan mahasiswa, penerbit maupun media massa, dan juga lembaga-lembaga, untuk mendukungnya. Di tengah kelesuan penerbitan buku, termasuk karya sastra, apalagi karya sastra penulis Indonesia karena karya terjemahan menjadi lebih disenangi penerbit, mendapatkan novel atau karya sastra penulis Indonesia saja akan sangat membahagiakan. Di tengah-tengah koleksi dan bacaan karya terjemahan, tentu akan sangat menyenangkan bila ada karya-karya penulis Indonesia yang berada di rak buku kita, menjadi bacaan kita.
Dalam sejarah penerbitan Sumatra Barat, misalnya, dikenal penerbit-penerbit Penjiaran Ilmoe, Tsamaratul Ichwan, Nusantara, Limbago dan sebagainya. Selain hadir pada masa sulit ekonomi, mereka memberikan sumbangan yang penting bagi dunia pendidikan dan melek huruf di Sumatra Barat dan Indonesia. Mereka memberikan tindakan nyata dalam membangun kelangsungan kepenulisan dan sumbangan karya, tidak sekadar mengonsumsi karya. Elan vital ini masih terasa, pada sejumlah penulis dan lembaga di Sumatra Barat. Tidak hanya mengeluh dan berkoar, tetapi sedikit berkarya. Jika dibalik, tentu akan lebih menarik.
Harian Haluan, Minggu 6 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar