Kamis, 31 Oktober 2013

WAWANCARA DENGAN KHAIRUL FAHMI: Pedagang Akan Terus Melakukan Perlawanan

Surat yang dikeluarkan Walikota Padang No 511.2.72.I/Ps-2011 pada 19 Januari 2011 tentang Pemutusan Pelayanan Pasar di lokasi Inpres II, III, dan IV, ditolak pedagang. Apa rencana selanjutnya?
Ya, jelas surat tersebut ditolak pedagang. Karena pedagang dan kami sebagai kuasa hukum menilai surat tersebut bertentangan dengan hukum dan tidak punya alasan teknis dan yuridis  yang dapat diterima. Surat tersebut bertentangan dengan UU No 24 tahun 2007 Penanggulangan Bencana dan PP No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Tidak punya alasan teknis karena sampai saat ini gedung Inpres II dan III menurut hasil pemeriksaan yang dilakukan GAPEKSINDO berdasarkan surat No 50/GAPEKSINDO/2009 tanggal 28 Oktober 209 bangunan tersebut masih layak huni. Jika Pemko Padang tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan surat tersebut, maka pedagang akan terus melakukan perlawanan melalui saluran-saluran yang ada, baik melalui proses di luar maupun dalam pengadilan. 

'PR' BESAR WALIKOTA TERPILIH: Pedagang Pasar Raya Versus Pemko Padang: Bak Api dalam Sekam


Pasar Raya Padang (Foto: Net)

Persoalan Pasar Raya memang tak pernah kunjung usai. Pemerintah Kota Padang dinilai semena-mena. Kini masalahnya seperti lingkaran setan. Siapa yang diuntungkan?
Matahari sudah agak rebah ke barat. Puluhan pedagang berkelompok-kelompok di Komplek Gubernuran Provinsi Sumatera Barat. Lorong dan langkan bangunan yang serupa ruang pertemuan itu, pedagang tampak mengelongsorkan kakinya seperti rehat. Wajah mereka juga terlihat lelah.

Selasa, 29 Oktober 2013

Televisi, Perempuan dan Wacana Posfeminisme

OLEH Yetti A.KA
Sastrawan
Yetti AKA
Era globalisasi memiliki relevansi dengan kebebasan berekspresi. Pada zaman ini orang-orang merayakan kediriannya dengan bermacam-macam cara. Keadaan ini ditunjang pula oleh akses informasi dan fasilitas yang tersedia, terutama di kota-kota besar. Orang-orang dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Situasi ini dijawab oleh hadirnya berbagai teknologi sebagai pendukung euphoria itu.
Salah satu teknologi yang paling digemari        masyarakat adalah televisi. Televisi jelas memiliki daya tarik luar biasa, di samping menimbulkan pengaruh yang tidak bisa dianggap sepele. Dari televisi orang bisa mengetahui dunia lain tanpa perlu datang ke sana. Televisi juga bisa membuat orang berada pada ketaksadaran yang mengasyikkan, tempat di mana orang melupakan rasa sakit; kemiskinan, pengangguran, harga-harga sembako yang mencekik, dan biaya sekolah yang mahal (dalam iklannya boleh gratis).

Mengintegrasikan Minangkabau di Perantauan



OLEH Wannofri Samry
Pengajar di FIB Unand
  
Karatau madang dahulu, babungo babuah balun,
marantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun.
Wannofri Samry
Itulah ungkapan orang Minangkabau yang turut mendorong mereka pergi merantau. Karena mereka belum bisa memberikan sesuatu untuk kampung halaman secara mendalam, maka mereka pergilah merantau. Alasan dan tujuan mereka pergi merantau memang bermacam-macam. Ada yang bertujuan memenuhi keperluan ekonomi dan ada juga yang bermaksud menambah ilmu pengetahuan. Namun setiap perantau Minangkabau pastilah berhubungan juga kampung halamannya pada suatu masa. Walaupun mereka sudah tua dan beranak cucu, dan sudah berjaya di rantau mereka tetap ingin mengabdikan diri mereka untuk kampung halaman, baik secara moril maupun secara materil.
Begitu pula kesan mendalam yang kami jumpai ketika bertemu dengan seorang tokoh Minangakabau, Dato Haji Kaharudin bin Momin generasi kedua  di Gombak, Selangor Malaysia. Beliau sebelumnya pernah menjawat Wakil Menteri Besar Negeri Selangor. Beliau ini sedang merancang sebuah Rumah Adat Minangkabau di kawasan Gombak, yang akan ditegakkan pada tanah seluas dua hektare. 

[TER]PENJARA DI PADANG: (Menyerap Inti Tesis Master Deddy Arsya pada Program Studi Ilmu Sejarah Unand 2012)



OLEH Zelfeni Wimra
Sastrawan

Deddy melatari penelitiannya dengan beberapa hal. Pertama, persoalan penjara masih menjadi persoalan yang hangat diperbincangkan pada satu dasawarsa awal abad ke-21 ini. Sejak tahun 1995, penjara memang telah berganti nama menjadi Lembaga Pemasyarakatan. Dalam konsep pemasyarakatan, penjara bertujuan menyiapkan para terhukum untuk dapat kembali ke jalan orang ramai. Penjara dalam hal ini diidealkan mampu memulihkan akhlak narapidana untuk dapat diterima kembali di tengah masyarakatnya.
Namun, setelah itu penjara justru masih memunculkan berbagai permasalahan seputar dirinya sendiri. Tidak jarang penjara dipinalti: “gagal menjalankan fungsinya”. Kesangsian itu lahir karena penjara yang diidam-idamkan sebagai penyelamat sosial itu malah mencetak penjahat-penjahat baru. Narapidana kasus copet setelah keluar dari penjara mendapat ilmu merampok. Narapidana kasus teror setelah dipenjara menjadi lebih mahir merakit bom. Narapidana kasus pemakai sabu ketika masuk penjara bertambah kepandaian menjadi pengedar dan bandar. Penjara dengan ini seolah bertransformasis menjadi ‘sekolah tinggi’ bagi para kriminalis.

Dilema Pemerintahan Nagari ‘Hadiah’ Reformasi

OLEH Suryadi
Dosen & peneliti Leiden University Institute for Area Studies, Leiden, Belanda
 
Suryadi
Berkat reformasi kita di Minangkabau telah kembali ke sistem Pemerintahan Nagari. Namun rupanya sistem Pemerintahan Nagari ‘hadiah’ Reformasi itu telah menghadirkan kultur politik deviant yang kurang sehat di lingkungan nagari-nagari dan mengandung banyak virus konflik (kepentingan). Pemerintahan Nagari yang dipraktekkan sekarang tidak merepresentasikan spirit dan karakter budaya Minangkabau, dan tidak memenuhi harapan masyarakat Minangkabau, sebagaimana terefleksi dalam ramai wacana publik di berbagai media, baik di kampung maupun di rantau. Setelah 12 tahun masyarakat Minangkabau kembali ke pemerintahan nagari, ternyata kehidupan ber-nagari tidak lebih baik (Haluan, 22-1-2012).
Mungkin tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa kesempatan untuk menjemput kembali spirit dan filosofi kehidupaan ber-nagari ala Minangkabau melalui pencanangan ‘Baliak ka surau ka nagari’ di Zaman Reformasi ini, yang dulu dibonsai oleh Rezim Orde Baru, tampaknya telah disia-siakan oleh masyarakat Minangkabau dan para pemimpinnya. 

Pertempuran dalam Ruang Tradisi



OLEH Deddy Arsya
Sastrawan
Deddy Arsya
Tujuh gelombang rombongan (semuanya laki-laki) secara bergantian telah naik dan turun dari rumah tempat perhelatan dilangsungkan. Sebentar tadi, masih tinggal dalam pandangan, sebelum rombongan-rombongan undangan dapat menyantap hidangan, mereka harus ‘melayani’ tuan rumah berbalas pantun. Mulanya masing-masing pihak memberi penghormatan dengan kalimat-kalimat berkias yang panjang, menyampaikan maksud kedatangan dan maksud undangan, dan seterusnya. Setelah makan, untuk dapat turun dari rumah itu, rombongan undangan pun mesti minta izin kepada tuan rumah, dengan kalimat-kalimat yang metaforik pula tentu saja. Berbalas pantun yang bisa lama bisa sebentar, tergantung kemahiran kedua belah pihak ber-retorika. Dan kini acara pantun-memantun itu telah usai setelah rombangan ketujuh.

Semenda

CERPEN Joni Syahputra

Sumber: tegarseptyan.wordpress.com
Tamu agung itu sepertinya tersinggung. Baranjak secara tiba-tiba dari tempat duduknya. Berdiri. Tanpa mengatakan sepatah katapun, langsung pergi, tanpa pamit kepada tuan rumah.
Perempuan paruh baya, si tuan rumah, jadi salah tingkah. Belum meyadari apa yang membuat si tamu tersinggung, beranjak menuju pintu. Tetapi sang tamu agung sudah menghilang.
Gelisah, mondar mandir ke sana kemari. Sama sekali dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Bingung. Ingin segera menyusul keluar, tetapi, Johan, si tamu agung itu, sudah menghilang di balik tikungan. Ia pergi bergegas. Beruntung sebuah bus lewat. Tangannya menggigil. Teriakan kondektur bus memanggil penumpang tidak dihiraukannya lagi. Ia mencoba memicingkan mata beberapa saat. Ingin menghilangkan kegundahan di hatinya.

PUISI Deddy Arsya



Cinta Musim Panas

Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik
yang terus-menerus naik ke tenggorokanmu.
Aku akan membajak luas sawahmu, menjadi sapi,
atau kerbau untukmu.
Jika bosan kau boleh membuang aku di simpang jalan
entah di mana. Aku bisa pastikan tak ada yang akan
membawaku kembali ke sisimu.
Kau pernah membuang kucing yang suka berak di kasur,
di meja makan, di lemari pakaian,
tapi kembali lagi ke rumahmu, bukan?
Itu tak akan pernah terjadi—aku janji.
Kita akan bahagia disiram cahaya
matahari jam tujuh pagi,
kita akan bahagia memiliki rumah
yang bukan milik pribadi.
Kita hanya perlu numpang di bumi ini
seperti kata orang-orang, dengan lampu 15 watt
yang sering terlambat kita matikan,
sumur yang airnya berminyak,
atau induk semang yang pemberang.
Aku tidak makan terlalu banyak, percayalah,
ibumu tak akan susah memasak.
Aku mau makan apa saja dari periukmu,
bahkan jika kopi pagi kita adalah air dari hitam
kerak nasimu.
Aku akan bangun pagi dan tak akan tidur lagi
setelah sembahyang subuh.
Dan kau boleh anggap aku
mesin tak berguna yang gampang rusak.
Aku akan menghabiskan banyak uang
membeli kebahagiaan di toko pakaian,
gelanggang bergoyang, medan pacu kuda
hanya untukmu.
Aku surukkan nasib burukku dalam
keranjang belanja dan riuh pasar.
Biar saja orang kata: “Jika para pedagang kaki lima
menggelar isi perut mereka di meja parlemen,
menuntut kantor DPR pindah ke rumah bordir,
maka betapa celakanya sajakmu ini, wahai penyair,
yang berbicara jus dan kesepian!”
Aku tiada peduli, aku akan pindah ke rumah lain,
dan sepetak tanah halaman lain, sehabis tahun ini.
Kita akan menanam markisah, bukan?
dan minum jus terung pirus
seperti makan pokok tiga kali sehari.
Anak-anak kita akan menguap bersama udara,
menjadi langit hitam dan hujan yang jatuh ke perut bumi.
Aku akan menulis undangan di pesbuk:
“Aku akan beristri petani seledri
habis hari raya ini. Kami akan harum
sepanjang tahun,  kami berbunga
di musim apa pun.
Anak-anak kami dari kulit kayu,
cendawan tak beracun, dan rintik hujan.
Rumah kami cangkang kura-kura,
kepak hulu dan diam muara,
sunyi daratan dan riuh ombak.
Istriku bekerja keras, aku suka api nyala
dari dapur biasa saja,
anakku kelak cinta nasi dan lauk seadanya!”

Hah, aku tak mengejarmu, kau tak perlu lari.
Di tanganku tak ada pedang, aku tak suka perang.
Jariku terkelupas, tapi tak akan serupa monster.
Tapi aku kata: mari, sayang, mari!
Genggam tanganku erat sekali.

Aku anjing tak menyalak,
Aku sunyi dalam sajak. 

Pekasih Cirit Anjing

CERPEN Indrian Koto

“Minyak aku situang-tuang, dituang dalam kuali. Bukan aku berminyak seorang, beserta bulan dan matahari. Asam limau purut asam lima sanding, ketiga asam limau lungga. Menurut si Mega seperti anjing, menangis tidak akan kubawa. Berkat lailah hailallah. Huallah…
Aku melafazkan kalimat itu pelan-pelan sambil meniupkan ke minyak rambut merek Lavender biru-pekat di tangan sebelum menggosokan ke rambutku.
Sisir bermerek Tancho hitam dan rapat menggaruk kepalaku yang licin. Kusisir ke samping, ke depan, ke belakang, subhanallah, rebahnya bagus. Aku menatap kaca yang selebar telapak tangan, memperhatikan betul-betul wajahku di sana. Apakah minyak Lavender ini yang telah membuat rambutku begini patuh, atau kekuatan mantera telah menggerakkan semesta tunduk kepadaku?

PUISI Isbedy Stiawan ZS



DI BAWAH BATU YANG BATAL TERBANG KE LANGIT


jika matahari terbangun di pagi ini
sedang kau masih terpejam
apakah burungburung di di pohon
akan tetap menunggumu sambil
berkicau tentang siang nan benderang?

kau akan abai pada pakaianmu
yang masai. harapan sangsai
ataupun senyuman sebagai lambai
: entah pagi mana lagi akan mengantarmu
pada ketinggian cahaya?

di kota yang tak pernah gelap
di bawah batu yang batal terbang ke langit
beri aku waktu untuk melepas pakaianku
untuk menerima segala cahaya


13/04/11

Firasat

CERPEN Ilham Yusardi
(I)
“Niar, kau lihat hape?” Bahar menyonsong istrinya yang berada di dapur. Niar sedang mengaduk gula dan kopi, membuatkan minuman pagi buat suaminya itu. Sejenak Niar menoleh, menangkap wajah suaminya menyembul separuh badan di pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur rumah. Niar agaknya sedikit heran dengan kelabat lakinya.
“Hape Uda? Tidak. Tapi, biasanya sebelum tidur, kan Uda taruh di dekat lemari kaca kamar. Tentu masih di situ.” Niar kian keheranan lihat laku suaminya. Tidak biasanya, pagi-pagi ia menanyakan hape. Lagi pula hape yang dibelikan Lara itu, putri tunggal mereka yang sekarang bekerja di ibu kota, memang jarang berbunyi. Hape itu baru seminggu di tangan Bahar. Ia sangat senang sekali. Ia terisak tangis waktu menerima hape itu dari tangan Lara. Ia bersuka cita sekali bukan karena hapenya, tapi Bahar terharu lagi karena itulah pemberian pertama Lara dari hasil jerih peluhnya bekerja. Ia bangga dengan pemberian itu. Padahal, ia tiada pernah meminta di balas budi sedikit pun dari anaknya itu. Malahan ia sangat khawatir Lara yang tidak mau lagi meminta atau menerima uang darinya selepas ia tamat dari kuliah.

Minggu, 27 Oktober 2013

Pembunuhan



CERPEN Delvi Yandra                        

Di sepanjang trotoar, aku melangkah gontai dengan map yang selalu kubawa ke pintu-pintu perusahaan. Tak satu pintu pun pernah membentuk wajahku jadi lebih baik serupa lengkung senyum orang-orang kebanyakan. Penawaranku selalu ditolak sebab alasan yang tidak jelas. Tidak sesuai dengan perkiraanku padahal aku berjanji akan jadi pekerja yang baik kalau perusahaan berkenan menerimaku. Tapi kenyataannya, tak satu perusahaan pun berbaik hati padaku. Tak satu pun.

PUISI Nurfirman AS

Musim Sunyi

musim ini adalah bagian daritingkah diam yang usang
yang menjelma nasib pada ruang-ruang tunggu
dan potongan jarak antara gerimis yang menemui rapuh

sebuah kepingan episode dalam kamar ilusi
dari kejamnya imajinasi orang-orang lalu
yang menancapkan bekas-bekas luka
dengan air mata yang tertahan di tenggorokan
dan suara isak yang luruh dari paru-paru yang menemui sesak

kesendirian telah merenggut jiwa-jiwa para petapa
dan dalam keramaian, mereka sibuk sendiri
memilah sisi-sisi
yang terbentang antara realita sosial dan ruang imaji

tentang musim, suara-suara dari keheningan
terlihat lebih baik
dan sikap diam
adalah jalan terbaik


rumahteduh, Januari 2012

PUISI Fajry Chaniago Ms


Rumah Sakit 

putih ketika kesucian
putih pada kematian

Padang, Mei 2012



Ranjang

matahari mengeluarkan darah
dan kau berteriak hingga ke perut bumi
memecah sunyi kenikmatan

Padang, Mei 2012

Bingkuang Si Padang


OLEH Alizar Tanjung

Lelah Mengejar Engkau" (Hajriansyah)
Ketika Padang memutuskan tinggal di kotanya, dia telah mempertimbangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan darah, daging, dan tulangnya. Darahnya darah Padang. Dagingnya daging Padang. Tulangnya tulang Padang. Dia telah mempertimbangkan baik dan buruknya tinggal di Kota Bingkuang. Tinggal bersebelahan dengan Emmahaven yang kini telah berganti nama dengan Teluk Bayur. Tempat ‘orang rantai’ yang telah almarhlum mengalirkan keringatnya demi membangun Emmahaven di tahun 1890. Tempat para buruh yang tak berijazah Sekolah Dasar mengadu nasibnya mengangkut barang impor dan ekspor. Telah ia kaji untung dan rugi. Sampai hal sedetil-detilnya, seumpamanya nanti ia benar-benar menjadi petani bingkuang yang miskin. Sebab bingkuang hanya laku 5.000 rupiah satu ikat. Kalau ada yang 10.000 rupiah satu ikat hanyalah karena peruntungan baik saja. Dia telah mempertimbangkan pula kemungkinan terburuk suatu hari entah kapan ia akan menjadi lelaki lapuk bersama musnahnya bingkuang dari kotanya. Sebab mucikari tanah yang berlomba-lomba membangun proyek; gudang penumpukan, bulk cargo, mol, hotel, restoran siap saji di kotanya.

PUISI Zelfeni Wimra

ubun-ubun bau pisang batu masak

tiba-tiba aku serasa mencium bau pisang batu masak
ketika mendekap ubun-ubunmu

“lihat mataku. ada barisan anak cabe rawit; abu jerami beterbangan; lendir biji cokelat; dan tangkai cangkul dari cabang surian…”

senyummu menukik ke dalam tangisku
sesuatu yang menyenangkan telah meremangkan ubun-ubunmu

tubuhku serasa mengerdil
meronta dalam buaian bayi tujuh bulan
kedipan terakhirmu begitu riang
mengajakku mencandai boneka musang

sebelum gelap, kikis lagi pisang batu masak
dengan ujung sendok teh itu
suapi aku
suapi aku

2010

PUISI Riza Jhulia Santhika


Mengerti Lelaki

Memangku lelaki, sejauh percumbuan tak kunjung
memberi  arti. Meneteki lelaki, mulutnya terkelupas
saat lepas membuahi janji;  Pergilah imajinasikan
tubuhku, kiranya  itu yang paling kau ingini.

Seperti lelaki,  apa yang dimengerti dari mimpi?
nafsu gila. Menimang jakun kemana-mana
menjajakan dari bibir menjadi cibir, merata dan
mudah saja diterka.

Menjadi lelaki, apa yang kau lakukan agar berarti?
ya, tentu  ya. Lelaki, menjadi tersebut sudah lebih
cukup bangga berdiri. Kapansaja ingkar, kapansaja
bercinta
dan kapanlagi?
“Membuahi birahi dengan serangkaian prosesi, aku menghibur
  jadi penari telanjangnya. Anggap saja lupa diri”


 Padang 2011

PUISI Irmadani Fitri




Hujan Ini

Barangkali hujan-hujan ini air mata orang-orang yang merindu
rindu-rindu yang dibawa angin lalu dan jadi gabak di hulu
mungkin rinduku, rindumu, rindu kita
ah..mataku jadi kering menatap waktu kepulangan
hingga kini tanyaku menghujan
mengapa akhir-akhir ini sering hujan?
apa terlalu bayak yang merindu?
dan bagaimana bisa makin jauh jarak makin deras rindu?

Barangkali hujan-hujan yang sering jatuh dikeningku adalah rindumu
aku jadi kalut, air di mataku jatuh satu-satu
mungkin juga jadi hujan dan jatuh dikeningmu
jika benar hujan-hujan ini adalah air mata orang yang merindu
menderaslah hujan biar deras rindu.

Jendela di Kamar



CERPEN Amelia Asmi

Di kamar aku melihat jendela itu terbuka. Jendela kayu bercat biru. Ada wanita di balik jendela itu. Perempuan mengenakan baju biru berkerah V. Aku tak tahu bawahan yang dikenakannya. Pasalnya tertutup tembok yang menghalang.
Rambut wanita itu dikepang dua. Di dagunya terdapat tahi lalat. Ia menatap lama ke arahku. Kadang bibirnya melengkungkan senyum. Tapi lebih sering bibirnya terkatup lalu matanya yang bergerak liar.  Jauh menatap ke kamarku. Menjelajahi setiap sudut kamar. Bila ada yang aneh, maka tawanya berderai. Aku sering salah tingkah dibuatnya.
Pagi ini tak ada kegiatan. Hari menunjukkan pukul enam pagi. Harum embun merebak di kamarku. Sebelum membuka jendela kamar aku putuskan untuk membuat secangkir teh. Aku seduh teh hangat, nikmat rasanya. Jendela kamar kubuka. Tak cukup hitungan menit, jendela biru itu pun terkuak. Wanita itu masih mengenakan baju yang kemarin. Baju kaus berkerah V warna biru. Ia melihat ke cangkir yang sedang aku pegang. Sepertinya ia ingin mencicipi teh yang kubuat. Aku tersenyum, ia balas senyumku. Lama kami saling memandang. Hingga embun kering di rumput, mentari hadir. Teh dalam gelas pun telah habis. Ia masih berdiri di balik jendelanya.

Kaba Si Ali Amat

PENGANTAR
KABA SI ALI AMAT ini disalin dari kitab beraksara Arab-Melayu berbahasa Melayu-Minangkabau terbitan P.W.M. Trap. Leiden tahun 1895 yang dicetak dengan tehnik lithografi. Dapat dipastikan, sebelum mencetak kitab tersebut tidak dilakukan pembenahan, terlihat dari banyaknya penulisan kata yang salah dan tidak konsisten.     
Umumnya penulisan kitab beraksara Arab-Melayu jaman silam yang tidak bertitik koma, seolah berbentuk seuntai kalimat yang amat panjang, maka dalam menyalinnya ke huruf Latin, kita jadikan kalimat-kalimat pendek dengan sedikit pembenahan dengan maksud memudahkan para peminat membacanya. Selamat membaca!
      
                                                                                Anas Nafis
                                                           
        
KABA SI ALI AMAT

Dicabiak kain dibali,
Dicabiak sahalai deta,
Mamintak tabiak kami banyanyi,
Nyanyi taliriah jadi kaba.
Banda urang kami bandakan,

Padi barapak di pamatang,
Disaok daun jarami,
Kaba urang kami kabakan,
Antah talabiah jo takurang,
Hanyo parintang-rintang hati.

Kaik bakaik rotan sago,
Takaik di aka baha,
Tabang ka langik tabarito,
Jatuah ka bumi jadi kaba.

POLITIC OF MEMORY: Sjafruddin Prawiranegara dalam Dua Zaman: PDRI dan PRRI


OLEH Mestika Zed
Guru Besar Ilmu Sejarah dan Direktur Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE), Universitas Negeri Padang

Mestika Zed
SEJARAH memerlukan peristiwa. Peristiwa memerlukan tokoh. Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa. Bagi yang tidak tewas dalam peristiwa, nasibnya akan dipertimbangkan lewat sejarah.
Masalahya sejarah yang mana? Sejarah formal? Atau sejarah publik?
Oleh karena politik yang mendefinisikan syarat-syarat menjadi tokoh ”pahlawan” didasarkan pada ideologi, maka ia menjadi urusan ”politik ingatan” (politics of memory) rezim yang berkuasa. Dalam konstruksi ”politik ingatan” semacam itu, ada tokoh yang harus diingat dan diulang-ulang mengingatnya, bahkan dengan berbagai cara (buku, film, bangunan dan arsip), dan pada saat yang sama ada pula yang wajib dilupakan. Ada tokoh yang pada suatu zaman dielu-elukan, kemudian hilang atau dihilangkan dari peredaran memori bangsa. Mengapa bisa demikian?

PEMENTASAN KOMUNITAS SENI HITAM PUTIH: Tangga, Membangun Narasi Kultural Sendiri


OLEH Esha Tegar Putra
 
Pementasan Tangga (Foto Rivo)
Seusai pertunjukan teater berjudul Tangga yang dipentaskan Komunitas Hitam-Putih di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, Minggu (23/9/2011), sebagian permerhati teater berpandangan bahwa kekuatan masing-masing bangunan (aktor, penari, pemusik) dalam pementasan tersebut telah mengaburkan warna ‘Yusril’ selaku sutradara.
Sebagian lagi berpendapat, karena proses pencarian estetik panggung telah membuat peralihan makna dari naskah yang berawal teks naratif puisi Tangga Iyut Fitra tersebut: menghancurkan sebuah sejarah lantas membangun sejarah yang baru… (mengutip pandangan S Metron M).

Sabtu, 26 Oktober 2013

Pembakar



CERPEN Dafriansyah Putra

Judul: Jendela di Prapatan, karya Amrianis
Ruangan penuh dengan berkas berserakan, buku terkembang, buram bertebaran, dokumen bertumpuk-tumpuk. Kalian senantiasa membiarkannya. Tak ada kesempatan buat membereskan. Kalian terlampau sibuk mengurusi suatu misi yang amat penting, misi dikejar waktu.
Kalian mengenakan baju hijau lumut yang membuat penampilan kalian kelihatan gagah, cantik, dan berwibawa. Kemudian kalian duduk berkumpul mengeliling, bersehadap meja kaca oval yang lebar. Tatapan kalian tertuju pada satu arah, kepada orang yang duduk di paling ujung.
Kalian memasang muka yang begitu serius. Seperti rapat tikus saja. Kalian bercericit ganti-ganti. Satu menanya, satu menyanggah. Satu bersuara yang lain menginap-inapkan.  
“Malam besok jalan!”
Pembicaraan kalian selesai seiring kepalan tangan yang kalian tinju-tinjukan ke udara. Kalian bubar. Bunyi kursi derit-berderit dibuatnya.
***