Sabtu, 12 Oktober 2013

Ekonomi Kreatif Sumatra Barat: Potensi Besar, Pemahaman Kurang

Tidak diragukan lagi, Indonesia memang punya segudang ragam budaya yang mampu membuat mata dunia terpesona, termasuk Provinsi Sumatra Barat. Namun sebagian SKPD terkait dengan sektor ini di Sumatra Barat belum fokus mengembangkan secara maksimal dan terencana menuju industri kreatif.
Budaya tersebut bisa menjadi potensi ekonomi yang besar bila dikembangkan dengan baik. Modal tersebut bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif dunia. Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI mengakui, banyak hal yang harus dibenahi untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia, dan pemerintah proaktif mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.
Sumatra Barat punya potensi budaya, kerajinan rakyat yang digerakkan usaha kecil menengah (UKM), dan juga industri rumah tangga lainnya. Kerajinan merupakan  subsektor yang memiliki nilai kontribusi PDB, penyerapan tenaga kerja, jumlah pelaku dan ekspor terbesar kedua setelah subsektor fesyen dengan nilai kontribusi di tahun 2006 berturut-turut adalah 25,51%; 31,07%; 33,02%, dan 32,44% untuk seluruh Indonesia.
Subsektor kerajinan potensi dikembangkan sebagai komoditas ekspor, karena produk kerajinan Indonesia banyak diminati oleh pasar luar negeri. Walaupun demikian, nilai ekspor kerajinan Indonesia saat ini cenderung mengalami penurunan karena negara Thailand dan China mulai agresif dalam mengembangkan industri kerajinannya yang juga banyak diminati oleh pasar di luar negeri.
Melihat kondisi ini, maka pemerintah bersama-sama dengan institusi pendidikan dan pelaku usaha harus saling bahu membahu untuk mengembangkan subsektor kerajinan ini, misalnya terkait dengan peningkatan kualitas produk, penciptaan desain produk, penciptaan teknologi proses dan bahan yang lebih baik, aturan-aturan dan insentif yang menarik serta dukungan promosi ke pasar di dalam maupun di luar negeri.
Kegiatan pemetaan produk kerajinan Indonesia adalah aktivitas identifikasi karakteristik produk-produk kerajinan di pasar internasional, yang memenuhi preferensi konsumen.
Untuk dapat memetakan preferensi konsumen internasional dengan baik, maka perlu dipetakan informasi-informasi seperti: lokasi tujuan ekspor, informasi mengenai  buyer, negara mana yang merupakan pesaing-pesaing utama, harga, bahan baku yang disukai, pola konsumsi, trend, dan desain yang disukai dan lain-lain yang dianggap penting untuk melengkapi pemahaman terhadap preferensi konsumen kerajinan di pasar internsional.
Salah satu penyebab ketidakmampuan ini adalah, ketidaksadaran akan pentingnya merek, ketidakmampuan kapasitas melakukan manajemen branding yang baik, dan ketidakmampuan biaya melakukan manajemen branding yang baik.
Karena itu, tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan brand bagi UKM-UKM kreatif yang belum mampu melakukan manajemen  branding, namun memiliki potensi memproduksi produk-produk berkualitas, melalui konsep branding regional.
Sumatra Barat secara spesifik pemerintahnya belum begitu menaruh perhatian pada sektor ini, paling tidak indakatornya yaitu belum ada program yang terencana pada tahun ini. Pengembangan UKM dan kerajinan rakyat  belum menyentuh upaya meningkatkan ekonomi rakyat. Data-data yang ada di pemangku juga belum tersedia. Kita pun kesulitan memperoleh upaya pengembangan sektor ekonomi kreatif ini.
Masih Bingung
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumbar, Burhasman, dari 14 kategori ekonomi kreatif itu hanya 5 item yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya selama ini, yaitu seni pertunjukan, radio dan televisi, film, video dan fotografi, fesyen dan pasar seni dan barang antik. Semua jenis ekonomi kreatif ini sudah berkembang sejak lama dan mendapat binaan dari instansi yang dipimpinnya.
Sedangkan untuk selanjutnya sejak berganti nama menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pihaknya belum dapat mengomentari seperti apa pengelolaannya.
“Apakah semuanya akan berada di Dinas Pariwisata dan Budaya yang dipimpinnya atau masih dikelola secara sektoral berdasarkan SKPD terkait dan dikoordinir oleh instansi tertentu. Kita belum mendapatkan petunjuk pelaksanaannya, sehingga sampai saat ini kita masih mengelola kegiatan yang termasuk ekonomi kreatif itu berdasarkan tugas dan kewenangan masing-masing SKPD,” kata Burhasman.
Tak jauh berbeda yang disampaikan Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Sumbar, Afriadi Laudin. Menurutnya, dari 14 jenis kegitan ekonomi kreatif hanya 1 yang berada di instansi yang dipimpinnya, yaitu kerajinan.
“Tim Pemantau dari Menko Kesra pernah datang ke Sumbar mempertanyakan pengembangan ekonomi kreatif di Sumbar. Saat itu dijelaskan, bagaimana untuk melaksanakannya karena sampai saat ini belum ada format yang jelas tentang pelaksanaannya. Karena itu pula hanya kerajinan saja yang terus dibinanya,” terang Afriadi Laudin.
Dikatakan, perkembangan industri kerajinan cukup pesat di Sumbar. Berbagai iven untuk mempromosikan dan mensosialisasikannya diikuti, dan terakhir produk kerajinan Silungkang dan Halaban ambil bagian di Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu.
Hasil tenun selama ini hanya dipakai sebagai bawahan atau sarung dan waktu memakainya juga terbatas pada acara-acara resmi seperti pesta atau kenduri. Tetapi kini kain tenun telah dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, karena dimofikasi menjadi baju, blazer dan jenis pakaian lainnya.
“Perkembangan industri kerajinan yang merupakan spesifik daerah itu sangat pesat, seperti tenun, songket, sulaman, bordir dan unggan. Kita terus melakukan pembinaan kepada pengrajinnya agar produk mereka diminati masyarakat luas dengan memberi pemahaman bahwa produk yang dihasilkan harus mengikuti selera pasar,” terang Afriadi.
Kalangan pengrajin pun menjadi bersemangat. Bila dulu yang menjadi pengrajin itu umumnya kaum perempuan saja dan anak gadisnya, maka kini para laki-laki pun menekuni usaha menjadi pengrajin. Hasil kerajinan mereka dimodifikasi oleh desainer-desainer ternama, seperti Hengky Kawilarang di tingkat nasional dan untuk tingklat lokal dimodifikasi oleh Ade Listiani Fashion.
Potensi Pesisir Selatan: Mencari Bentuk
Produk UKM yang terlanjur tersohor asal Pesisir Selatan adalah sulaman bayangan dan batik tanah liek. Namun kedua produk tersebut masih belum menemukan bentuak ideal pemasarannya. Bahkan khusus batik tanah liek dihadapkan pada produktivitas pengrajin yang sangat rendah.
Kepala Dinas  Koperindag Pessel, Naswir menyebutkan, padahal pihaknya selalu memberikan usaha peningkatan kapasitas kepada pengrajin. Tidak tanggung tanggung, dinas terkait dengan Dekranasda Pessel memandu pemasaran hingga keluar negeri. Khusus batik tanah liek, produksinya sangat minim akibat tenaga pengrajin yang sangat terbatas.
"Namun untuk produk sulaman bayangan, produksinya sudah membaik. Tapi kendala yang dihadapi pengusaha adalah masih rendahnya permodalan dan kreativitas," kata Naswir.
Selain itu, menurutnya, secara kelembagaan, pelaku usaha sulaman bayangan dan batik tanah liek juga mendapat wadah khusus untuk promosi misalnya dengan adanya pusat promosi di Dekranasda Sago.
"Puncak dari keseriusan menjaga dan melestarikan produk kerajinan tersebut, dua hasil kerajinan di daerah ini yakni sulaman bayangan dan batik tanah liek mendapatkan sertifikat hak cipta dan paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) RI beberapa waktu lalu," katanya.
Dua hasil kerajinan tangan ibu rumah tangga Pesisir Selatan itu, sejak dulunya sudah dikenal banyak orang di Indonesia bahkan mancanegara. Kini produk tersebut juga telah menghasilkan kebaya-kebaya cantik. Sering pula tampil di berbagai pagelaran dan pertunjukkan.
“Kini khusus pegawai dan siswa, produk tersebut telah menjadi pakaian resmi," katanya.
Semuanya itu berkat ketekunan pengrajin menghasilkan produk. Motif-motif dilukis menggunakan kertas karbon. Lalu, sulaman itu disebut dengan sulaman bayangan, karena jahitan ada di bagian belakang kain, sehingga, bayangannya tampak dari luar.
Sulaman bayangan hasil kerajinan tradisional asli Pesisir Selatan, memiliki bentuk dan khas tersendiri, maka jarang ditemukan di tempat lain. Dengan khas itulah kerajinan tradisional asli Pesisir Selatan tersebut disukai banyak konsumen di Indonesia bahkan mancanegara.
Peminat kerajinan tangan para ibu rumahtangga Pesisir Selatan ini lebih banyak dari mancanegara daripada lokal. Di mancanegara sulaman bayangan diminati negara Malaysia, Singapura, Turki dan beberapa negara berpenduduk Islam lainnya. Permintaan terbanyak yakni Malaysia, Singapore disusul negara lainnya.
Di Pesisir Selatan, kerajinan sulam bayangan ini berasal dari daerah Barung-Barung Belantai dan beberapa daerah lainnya di kabupaten itu. Karena keunikannya, sulaman ini mendapat gelar juara pertama se-Asean pada tahun 2009.
Sementara, batik tanah liek di kabupaten itu terdapat 11 motif yakni dengan memakai potensi yang dimilikinya, seperti potensi kelautan, maka motif yang dibuat bunga laut.  Selanjutnya, kupu-kupu laut, bunga karang, ubur-ubur dan kuda laut. Sedangkan untuk melambangkan potensi kehutanan yang dimiliki, kerajinan tangan itu melahirkan motif seperti "kaluak paku"
"Tugas kita sekarang adalah, bagaimana karya yang telah dipatenkan itu lestari. Penerus pengrajin harus diciptakan, yah artinya ada kaderisasilah. Jangan sampai, setelah dipatenkan justeru produksi minus bahkan nol," katanya lagi.
Kedepan, di Carocok akan dibangun pula tempat untuk mempromosikan hasil kerajinan.
Potensi Agam: Lagi-lagi Lemah di Sektor Pemasaran
Agam kaya dengan produk usaha kecil mikro dan menengah. Namun sampai saat ini belum begitu menguasai pasar, karena terkendali beberapa faktor. Di antaranya, masih terbatasnya kemampuan modal usaha, dan terbatasnya kemampuan manajemen usaha. Di sisi lain, produk Agam sulit bersaing di pasaran karena masih lemahnya sektor pemasaran. Di sisi lain sumber daya manusia (SDM) berkualitas masih terbatas, sehingga sulit memenangkan persaingan di pasar.
Kendati demikian, ada beberapa produk khas yang nyaris tidak memiliki pesaing. Itulah kini yang dikembangkan, dan dibina serius pihak terkait di daerah itu. Produk khas tersebut laris di pasaran, sehingga perajin kewalahan memenuhi permintaan pasar. Setidaknya kini tercatat 5.442 unit usaha kategori UKM di Agam.
Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perindag Agam, Hadi Suryadi, SH, ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (2/12) mengatakan, unit usaha tersebut telah mampu menyerap 23.258 tenaga kerja, dengan nilai investasi, keadaan 2010, Rp46 miliar lebih, nilai produksi tercatat Rp325 juta lebih.
Unit usaha tersebut terdiri dari industri pangan 2.186 unit, industri sandang (2.425), industri kimia dan bahan bangunan (379), industri logam dan elektronika (172), dan industri kerajinan (280).
Industri pangan utama tersebar di Kecamatan IV Angkek dan Tilatang Kamang. Industri sandang di Kecamatan IN Angkek, IV Koto, dan Sungai Pua. Industri kimia dan bangunan di merata di seluruh kecamatan yang ada di daerah itu.
Industri logam dan elektronika terdapat di Banuhampu dan Sungai Pua. Industri kerajinan ditekuni warga di IN Angkek, Baso, IV Koto, dan Tilatang Kamang.
Produk khas industri kerajinan (sulaman), yang juga sudah dinobatkan sebagai ikon kerajinan daerah adalah suji cair, dan suji kapalo samek. Kedua produk itu memang belum dipatenkan. Namun menurut rencana akan dipatenkan tahun 2012.
Produk khas makanan ringan, yang kini sedang merajai pasaran Agam, dan umumnya Sumbar, adalah keripik yang dibuat dari bahan baku ubi jalar, jamur tiram, dan beras. Keripik dalam bentuk stick (tongkat) dari ubi jalar ungu, produksi usaha Rafifa, kini sedang naik daun. Pemasarannya bukan hanya Agam dan Bukittinggi, tetapi sudah merambah pasar-pasar yang ada di Sumbar.
Keripik ubi jalar ungu tersebut diolah tanpa bahan pengawet. Namun kemasannya belum begitu menarik, walau rasanya legit dan gurih.
Jelas Hadi Suryadi, ke depan, kemasan akan didesain semenarik mungkin, sehingga lebih laris, dan semakin layak dijual di swalayan terkenal di Sumbar, dan kota-kota besar lainnya di Nusantara. Kini produk usaha tersebut baru 300 pak/hari.
“Kami akan membantu mendesain kemasannya, sekalian membantu mencarikan pasar di luar Sumbar,” ujar Hadi Suryadi.
Produk khas lainnya adalah keripik jamur tiram. Produk andalan Kelompok Restu Ibu, Kamang Magek itu dibuat dari jamur tiram. Bahan baku dibudidayakan sendiri oleh kelompok tersebut, sehingga ketersediaan bahan baku tidak tergantung kepada pihak lain. Dengan demikian kontinuitas produk bisa dipertahankan.
Produk makanan ringan lainnya adalah kue panggang beras. Makanan tersebut diproduksi Nancy’s Mom, Kamang Magek, dan laris di pasaran. Semua produk bebas bahan pengawet.
Sungai Pua dikenal sebagai gudangnya pandai besi di Agam, bahkan sudah terkenal sejak dulu. Kini pandai besi Sungai Pua masih bertahan, walau banyak saingan. Namun keberadaan pandai besi semakin melemah, karena generasi muda Sungai Pua banyak yang “enggan” melanjutkan usaha pendahulu mereka. Mereka memilih merantau, karena dinilai lebih menguntungkan.
Di Agam belahan barat juga terdapat usaha kerakyatan, yang terbukti telah mampu menunjang ekonomi keluarga perajin. Di antaranya adalah usaha batu bata, dan atap daun rumbio. Usaha batu bata terdapat di Kecamatan Lubuk Basung, dan Ampek Nagari, dan Palembayan. Di Lubuk Basung, usaha batu bata dikelola secara turun-temurun, seperti di Bukik Bunian, Nagari Lubuk Basung; Gantiang, Nagari Kampuang Pinang, Padang Tongga, anak Aia Dadok, dan Kubu Anau, Nagari Manggopoh. Di Kecamatan Ampek Nagari, usaha batu bata ditemukan di Nagari Bawan. Sedangkan di Kecamatan Palembayan terdapat di Ngari Salareh Aia.
Sementara perajin atap daun rumbio terdapat di Nagari Kampuang Tangah,  Kecamatan Lubuk Basung. Namun sejauh ini kedua jenis usaha rakyat dimaksud belum menampakan perkembangan, alias jalan di tempat.
Menurut Kabid UMKM Dinas Koperindag Agam Syafrizal, UMKM itu berpotensi untuk menggerakkan ekonomi rakyat  dan mendukung usaha sektor agraris.
Namun diakui Dinas Koperindag Agam bahwa  mayoritas produknya baru mampu menembus pasar lokal, memang ada beberapa yang diekspor ke luar negeri seperti hasil sulaman dan konveksi tapi volumenya masih rendah. Usaha ekspor itu dilakukan oleh pedagang pengantara.
Untuk menggenjot perkembangan UMKM pihak Dinas Koperindag telah melakukan berbagai usaha seperti pelatihan menggunakan teknologi untuk peningkatan kualitas produk, packing dan promosi.
Belakangan dilakukan pencatatan produk  ke dalam Rekor MURI, di antaranya  1001 gulai itiak lado mudo koto gadang, 1001 mangkok kolak labu matua, 1908 limpiang kamang dan 1001 gulai kapalo ikan tiku, dan akan dilakukan lagi upaya merekormurikan  produk khas agam lainnya.
Jumlah UMKM di Agam hinga saat ini 11.360 unit. Jika masing-masing unit dirata-rata menggunakan 3 orang tenaga kerja berarti usaha ini menyerap tenaga kerja 30 ribu lebih atau hampir  10% dari warga Agam. Penyerapan tenaga kerja lebih besar di sektor usaha ini masih terbuka lebar,” kata Syafrizal.
Namun demikian perkembangan industri rumah tangga itu, masih terkesan lamban bahkan beberapa di antaranya  terancam gulung tikar akibat kalah saing oleh produk  yang sama dari daerah lain.
Untuk mendapatkan permodalan masyarakat dapat memanfaatkan jasa lembaga perkreditan rakyat mikro Baitulmall Watamwil (BMT) yang telah berdiri di 82 nagari yang ada di Agam, di samping  Bank Nagari, BRI dan lembaga keuangan lain. Cuma yang menjadi keluhan pengusaha mereka masih sulit untuk mendapatkan kridit usaha rakyat (KUR) yang digembar gemborkan bersyarat murah. Menurut data Koperindag UMKM Agam telah memanfaatkan dana pinjaman dari lembaga keuangan Rp8 miliar lebih.
Potensi Payakumbuh: Ekonomi yang Ditopang Kerajinan
Potensi Kota Payakumbuh dalam sektor ekonomi kreatif cukup besar. Ribuan industri rumah tangga yang hadir kota ini, mampu menghidupi sekian ribu orang dan sekaligus menggerakkan ekonomi. Kota Payakumbuh ekonominya ditopang sector informal ini.
Dalam bukunya Global Paradox (Mega Trends 2000), ekonom John Naisbitt mengatakan,
semakin besar ekonomi dunia, maka keberadaan perusahaan kecil akan semakin kuat. Pernyataan tersebut tidaklah keliru ketika melihat badai krisis yang melanda Asia Tenggara termasuk Indonesia pada kurun 1997-1998 silam.
Berbeda dengan ratusan perusahaan besar yang tumbang oleh badai krisis, berbagai usaha kecil justru mampu bertahan dan menggeliat maju. Mereka menjadi penopang utama perekonomian Indonesia sehingga selamat melewati badai krisis tersebut.
Data dari Badan Pusat Statistik dan Kementerian Koperasi/UMKM juga menunjukkan pesatnya pertumbuhan sektor usaha  kecil di Indonesia dimana skalanya mencapai angka 99%. Pertumbuhannya pun cukup bagus dari tahun ke tahun. Pemerintah pun memberikan perhatian yang besar kepada usaha kecil yang terbukti tangguh dan mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Salah satu model usaha kecil yang mendapat perhatian serius pemerintah adalah model home industry. Sebuah model sederhana untuk memulai sebuah usaha dalam skala kecil. Model ini sangat efektif dan efisien dimana pemilik usaha tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa tempat usaha karena usaha dilakukan di rumah sendiri.
Salah satu contoh sukses industri rumah tangga terlihat dari membanjirnya berbagai produk Cina ke dalam pasar Indonesia saat ini dengan harga lebih murah dibandingkan dengan barang sejenis buatan dalam negeri. Salah satu penyebab kenapa harga mereka lebih murah adalah karena produk-produk tersebut merupakan hasil karya industry rumah. Hampir sebagian besar rumah tangga di Cina merupakan pelaku home industry yang mampu memproduksi barang dan jasa berdaya saing tinggi dengan harga yang relatif murah.
Dewasa ini, model industri rumah tangga mulai banyak dilakukan oleh pelaku usaha Tanah Air termasuk di Kota Payakumbuh. Berbagai usaha model industri rumah tangga bertumbuhan.
Menurut data Dinas Koperindag dan UMKM Kota Payakumbuh, setidaknya puluhan produk hasil industri rumah tangga telah ada di Kota Payakumbuh.
“Saat ini puluhan produk usaha industri rumah tangga di Payakumbuh, seperti industri pengolahan dan pengawetan daging, minyak makan dan kelapa, kue, kerupuk, tempe, industri batu bata, industri tepung dari padi, biji-bijian, kacang, umbi dan sejenisnya serta berbagai bentuk industri rumahan lainnya,” ujar Drs. Indra Sofyan, SE, MM Kepala Dinas Koperindag dan UMKM Kota Payakumbuh.
Dikatakan Indra Sofyan, Pemerintah Kota Payakumbuh di bawah kepemimpinan sangat serius mengembangkan sektor industri rumah tangga, terlihat dengan dicantumkannya sektor usaha kecil/industri rumah tangga di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Payakumbuh tahun 2007-2012.
“Pada poin ketiga RPJM 2007-2012 jelas dikatakan bahwa Pemerintah Kota Payakumbuh akan melakukan pembangunan ekonomi kerakyatan melalui pembangunan UMKM yang erat kaitannya dengan pertanian tanaman pangan, peternakan dan perikanan,” jelas suami dari Istresnasi Widiasana ini.
Ditambahkan Indra Sofyan, pihaknya selaku instansi teknis yang bertanggung jawab dalam sektor tersebut juga telah melakukan berbagai program kerja untuk memajukan industri rumah tangga di Kota Payakumbuh. Keseluruhan program kerja tersebut merupakan cerminan dari Renstra Dinas Koperindag dan UMKM, yaitu “Terwujudnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang Tangguh, Mandiri, dan Taat Hukum serta Pasar Sehat”.  
“Setidaknya ada enam program kerja di bidang industri rumah tangga untuk mengejawantahkan Renstra tersebut diantaranya, kita berusaha meningkatkan kapasitas iptek pelaku usaha dalam sistem produksi, meningkatkan semangat kewirausahaan dan iklim kompetitif mereka, meningkatkan kemampuan teknologi industri, termasuk meningkatkan peluang ekspor usaha mereka,” beber ayah dari Aria Wicaksana, Gian Atika dan M. Farabi ini.
Saat ini sektor industri rumah tangga di Kota Payakumbuh mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Menurut data yang tercatat di Dinas Koperindag dan UMKM, sebanyak 4.496 orang tenaga kerja diserap oleh sektor ini. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.504 orang merupakan tenaga kerja laki-laki dan sisanya tenaga kerja perempuan.  
Seiring dengan kerja keras pihaknya dalam memajukan sektor industri rumah tangga, berbagai prestasi pun telah diraih. Di antara prestasi tersebut adalah Juara I Lomba K3 Dinkes Kota Payakumbuh tahun 2008 oleh yang industri rumah tangga YOPI. YOPI juga berhasil meraih penghargaan sebagai IKM berprestasi tingkat nasional tahun 2009.
Prestasi gemilang juga ditorehkan oleh industri rumah tangga Rendang Yet. Pada tahun 2009, industri rumah tangga Rendang Yet keluar sebagai Juara I Produsen Makanan Sehat tingkat nasional.
“Kita akan berupaya mendorong agar sektor usaha industri rumah tangga di Kota Payakumbuh terus berkembang maju dan meraih berbagai penghargaan, sehingga dengan majunya sektor ini dengan sendirinya tingkat kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” pungkas Indra Sofyan yang sehari-hari tinggal di Jl. Lombok No. 62A Kelurahan Tanjung Pauh Kota Payakumbuh.
Di Kota Payakumbuh, terdata jenis usaha industri bordiran sulaman dan konveksi jumlahnya mencapai 158 unit usaha, dengan serapan tenaga kerja mencapai 259 orang. Sedangkan unit usaha kecil lainnya yang berkembang dengan pesat di Kota Payakumbuh adalah, perabot dan barang dari kayu jumlahnya mencapai 141 unit usaha dengan jumlah serapan tenaga kerja mencapai 496 orang.
Jenis usaha kecil menengah lainnya yang memiliki potensi cukup besar untuk menopang ekonomi masyarakat di Kota Payakumbuh adalah bengkel dan alsintan jumlahnya mencapai 196 unit usaha, dengan serapan tenaga kerja mencapai 456 orang.
Menyusul usaha batu bata dari tanah liat mencapai 215 unit usaha dengan serapan tenaga kerja mencapai 327 orang. Sedangkan jenis usaha kecil menengah lainnya yang mendukung ekonomi masyarakat adalah, usaha makanan ternak sebanyak 5 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja 12 orang. Usaha barang-barang dari kulit dan plastik  sebanyak 16 unit usaha dengan serapan tenaga kerja 53 orang.
Usaha industri rumah tangga lainnya yang menjadi perhatian dan selalu mendapat bimbingan Pemko Payakumbuh adalah usaha kerajinan anyaman jumlahnya saat ini mencapai 21 unit usaha dengan serapan tenaga kerja 49 orang. Kemudian  usaha jasa elektronik sebanyak 27 unit, dengan jumlah tenaga kerja 45 orang. 
Usaha barang dari semen sebanyak 25 unit, dengan jumlah tenaga kerja mencapai 78 orang. Usaha barang-barang dari  batu 2 unit, dengan jumlah tenaga kerja 6 orang. Usaha pupuk 7 unit, jumlah tenaga kerja 10 orang. Foto Copy 19 unit, jumlah tenaga kerja 44 orang. Salon 10 unit, tenaga kerja 16 orang. Penjahit 62 unit, jumlah tenaga 116 orang. Foto studio 3 unit, jumlah tenaga kerja 15 orang. Reklame/sablon 5 unit, dengan jumlah tenaga kerja 19 orang serta produk tekstil lainnnya sebnyak 33 unit dengan serpan tenaga kerja 86 orang.
Di samping itu jenis usaha lainnnya yang cukup berkembang di Payakumbuh adalah sektor perdagangan  seperti tembakau  sebanyak 8 unit usaha, manggis 5 unit usaha, gambir 5 unit usaha dan kopi, casiavera dan hasil bumi sebanyak 15 unit usaha.        
Menurut Indra Sofyan, lokasi pembangunan Pondok Promosi sangat strategis berada di kawasan Taman Wisata Ngalau Indah Payakumbuh. Kawasan seluas lebih kurang sekitar 2 hektare itu disulap menjadi komplek Pasar Tradisional Percontohan/Promosi (PTPP) Payakumbuh.
Bisnis yang Berawal dari Pertemanan
Randang Nikmat merupakan usaha yang dirintis Oleh Pasangan Suami-Istri, Ade Taufik dan Fahdia Ilham yang dahulunya mahasiswa D2 IKIP yang tamat pada tahun 1983. Usaha ini mulai dirintis pada tahun 2002. Karena faktor ekonomi yang rendah, usaha ini dimulai dengan modal yang kecil,sampai akhirnya bisa berkembang seperti saat ini.
Awal mula berdirinya Usaha Rendang Nikmat saat Dia, panggilan akrab Fahdia Ilham (48) guru SMP 2 Payakumbuh, mengikuti acara PKK di Kelurahan Balai Nan Duo Kecamatan Payakumbuh Barat, tempat usaha ini sekarang berada. Ia mempraktekkan cara membuat randang telur kepada anggota PKK. Alhasil, banyak yang suka terhadap rendang telur yang dibuatnya, sehingga banyak orang yang memesan rendang telur tersebut dalam partai kecil.
Sebagai seorang guru, Dia juga menawarkan rendang telur hasil produksinya kepada teman-teman sesama guru di sekolah, ternyata di sekolah juga banyak yang menyukai rendang telur ibu Dia. Di sinilah awal mula Dia menjalankan usaha randang ini. Usaha randang ini pertamanya hanya menjual rendang telur yang untuk sekali produksi hanya memakai kocokan 3 telur dan selalu habis setiap membuat randang. Oleh karena itulah, timbul niat untuk meningkatkan produksi menjadi 15 telur sekali produksi.
Dibantu suaminya Adek (51 tahun) yang tidak betah jadi guru banting stir berjualan koran di terminal Angkot Sago Payakumbuh. Usaha randang ini dipromosikan hanya dari mulut ke mulut. Lambat laun makin banyak orang-orang yang mulai memesan randang. Kini mereka  dibantu 6 orang karyawan mulai membuat variasi rendang, tidak hanya rendang telur tetapi juga jenis rendang yang lain, yaitu rendang suir (runtiah), rendang paru, rendang baluik, dan rendang tumbuak.
Tahun 2004, usaha mereka mendapat pinjaman dari BRI PKBL dengan bunga ringan sebesar Rp25 juta yang digunakan untuk membuat kemasan rendang agar lebih bagus. Dengan memakai kemasan tersebut, permintaan terhadap rendang semakin hari semakin meningkat. Sehingga perlu tambahan modal untuk membuat inovasi pada kemasan agar bisa dijual keluar Payakumbuh. Pada 17 Agustus 2006, setelah mendapat pinjaman modal ringan sebesar Rp50 juta yang digunakan membangun toko (konter) Rendang Nikmat yang terletak di Jalan Soekarno Hatta (sebelah Kantor DPD Golkar Paayakumbuh) Kelurahan Balai Nan Duo Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat.
Semakin hari usaha yang dirintis ini semakin berkembang,permintaan tidak hanya datang dari dalam kota tetapi juga dari luar kota bahkan mancanegara. Tamu-tamu dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Payakumbuh maupun Limapuluh Kota pun sering kali singgah ke toko atau langsung datang ke rumah.
Salah satu tabloid wanita yang terbit di Jakarta sering mengunjungi usahanya. Pada tahun 2007 dan 2011, salah satu stasiun tv nasional datang ke rumah untuk mengunjungi dan meliput cara proses pembuatan randang. Permintaan dari mancanegara dimulai saat seorang keluarga yang mantan Dubes berjalan-jalan ke Eropa. Kemudian memberikan rendang kepada setiap Kedubes Indonesia di Eropa.
“Salah satu promosi yang palin mantap,” kata Adek mantap.
Seiring waktu berjalan, kami sering diikut sertakan oleh Bank BRI dan Dinas Koperindag dan Dinas  Pariwisata Kota Payakumbuh untuk mengikuti pameran di dalam daerah, seperti Padang dan Bukittinggi, maupun ke luar daerah, seperti Jakarta, Yogyakarta, Batam, Pekanbaru,” tambah dia.
Tanah Datar: Besar Pasak dari Tiang
Galibnya dunia usaha kecil, kendala utama adalah modal dan sulitnya mendapatkan pinjaman dari bank. Di Tanah Datar, tak sedikit jumlah pengrajin industri rumah tangga yang terkendala modal, padahal potensi untuk berkembang cukup terbuka.
Dalam memproduksi sangkar burung, para pengrajin yang terdiri dari para kaum ibu di Nagari Barulak, hingga saat ini masih terbentur dengan modal untuk pengadaan bahan baku.
Warga Barulak cukup dikenal dengan industri kecil sangkar burung yang dikerjakan sebagai usaha sambilan oleh para ibu-ibu pada waktu senggang pada sore hari usai menggarap lahan pertanian, namun jika dikelola dengan baik, bisa menopang ekonomi rakyat.
Untuk memudahkan  pengembangan usaha, sejak 15 tahun silam telah terbentuk organisasi, yang beranggotakan para petani yang bergerak dalam sektor produksi yang sama, seperti industri sangkar burung, berternak dan lain sebagainya.
Hingga saat ini telah terbentuk sebanyak 10 buah Kelompok Usaha Bersama (KUBE ) mengelola pembuatan sangkar burung, beternak kambing , memelihara sapi pedaging dan itik air.
Proses pengolahan bambu menjadi lidi-lidi kecil, bisa lebih dipacu dengan menggunakan mesin bubut, termasuk proses pembuatan kayu racikan untuk dijadikan tonggak.
Erni, seorang pengrajin sangkar burung di Nagari Barulak kepada Haluan menuturkan, bila dikerjakan secara manual, untuk satu buah sangkar burung, memerlukan waktu pembuatannya mencapai dua sampai tiga hari.
”Tapi jika kita punya mesin bubut, mungkin bisa hemat waktu,” kata Erni. Ia mengaku, untuk memiliki mesin bubut itu, butuh dana yang tak sedikit.
Ia mengatakan, setiap satu buah sangkar hanya dilepas kepada pedagang pengecer berkisar Rp20.000. Harga itu sangat tidak cocok dengan upah minimum seorang pekerja harian lepas yang saat ini sudah mencapai Rp50 ribu dalam satu hari.
Bila dibantu dengan mesin bubut, dalam satu hari setiap satu orang pengrajin bisa memproduksi sebanyak empat sampai lima sangkar burung dalam satu hari.
Begitu juga dalam usaha beternak sapi, para petani peternak mengalami kesulitan dalam pengadaan modal, karena untuk satu ekor jenis sapi potong, memerlukan modal puluhan juta rupiah.
Bila petani ingin mendapatkan jenis sapi unggul seperti simental, modalnya pun lebih besar lagi. KUBE yang telah dibentuk memang cukup membantu anggota, tapi sifatnya sangat terbatas.
(Laporan Nasrul Azwar, Devi Diani, Haridman Kambang, Miazuddin, Kasra Scorpi, Dodi Syah Putra, Emrizal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar