Senin, 14 Oktober 2013

Koreografer Perempuan Bicara tentang Perempuan

OLEH Asril Muchtar
Pemerhati Seni Pertunjukan dan Dosen ISI Padang Panjang
“Jalan Andami” karya Evadila(Foto AM)
Minggu, (26/12/2010) ada dua karya tari yang menjadi peristiwa budaya di Padang Panjang, yakni; “Jalan Andami” karya Evadila dan “Aku dan Sekujur Manekin” karya Nike Suryani. Kedua karya ini didedikasikan sebagai tugas akhir penciptaan tari Program Pascasarjana ISI Padang Panjang dan sebagai pertunjukan penutup tahun 2010.
Evadila mementaskan koreografinya di Gedung Jurusan Teater ISI, sedangkan Nike Suryani di Auditorium ISI Padang Panjang.
Keduanya mencoba membaca persoalan yang banyak dialami oleh para perempuan dalam kasus dan suasana batin yang berbeda. Evadila mencoba menoleh ke masa silam dengan menginterpretasi episode Kataluak Koto Tanau dari kaba (cerita) Anggun Nan Tongga versi seni tutur sijobang.

Empat Bagian
Evadila menyusun karyanya dalam bentuk drama tari atas empat bagian. Bagian pertama menggambarkan Andami yang diperankan oleh Mairani Sriyan (Rani) sedang asyik bermain-main dengan boneka kesayangannya. Rani yang nyaris menari sendirian mampu menguasai ruang dengan baik, ekspresif, dan penuh dinamika. Meskipun ia kadang-kadang bergabung dengan lima penari di sebelah sayap kanan pentas dan dengan empat penari di sayap kiri pentas.
Ruang operator lighting yang agak tinggi disulap menjadi kamar tidur Anggun dan Gandoriah. Di ruangan ini gerak-gerak lembut mengalir yang cenderung dilakukan bersamaan, kadang bersifat realis sebagai gambaran adegan mesra dan harmonis antara Anggun dan Gandoriah. Suasana romantika ini diperkuat pula dengan alunan melodi musik bermeter tiga yang cenderung berayun yang digarap oleh Susandra Jaya, makin  menambah romantik suasana.
Gondan yang diperankan oleh Emri Mulia (Emri) keluar dari ruangan menuju pentas. Ia menari “sendirian” dalam pakem gerak-gerak silat yang sangat kental. Emri yang juga musisi ini mampu menguasai ruang pentas dengan baik. Pada bagian tertentu, penari yang berada di sisi kiri dan kanan pentas melakukan gerak secara bersamaan dengan Emri dan kemudian bergabung dengannya di ruangan pentas.
Bagian berikutnya Andami Sutan dan Anggun menari berdua yang menggambarkan adegan Anggun merayu Andami untuk mendapatkan bonekanya.
Tanpa disadari Andami letih dan terlelap. Di saat itulah Anggun mengambil boneka Andami dan membawanya ke hadapan Gandoriah. Andami merasa tertipu. Ia berteriak memanggil “Angguuuun!” sebagai bentuk kekecewaannya. Bentuk kekesalan dan kecewaan itu juga diungkapkan secara visual oleh Evadila melalui penari kelompok dan Rani yang menggunakan galuak (tempurung kelapa) yang diikatkan pada kaki, dan tangan penari. Mereka menari sambil menghentak dan melemparkan galuak serta menyampakkan jerami yang berfungsi sebagai setting.
Karya yang berdurai sekitar 60 menit ini, diakhiri dengan suasana tragedi yang sangat dramatis. Bagian ini diungkapkan Evadila, ketika setting kain putih turun dari plafon pentas, pelan-pelan menutupi lima penari, kemudian mereka meninggalkan Rani sendirian. Bagian akhir ini sangat ekspresif dan kuat sekali.
Catatan positif yang pantas diberikan kepada Evadila adalah ia mampu mendaur ulang cerita lama dalam ruang dan waktu sekarang. Evadila pun masih setia menggunakan idom lokal Minang (silat, dan tari-tari tradisi) untuk materi geraknya.
Begitu juga dengan musiknya dengan vokabuler utama musik tradisi sijobang, yang memiliki melodi melankolik dan meter (sukatan) ganjil, khususnya meter tiga sangat mendominasi dalam karya ini. Tari dan musik berpadu dengan serasi yang diangkat dari akar yang sama dari tradisi sijobang. Selain itu, ruangan pentas pertunjukan Gedung Teater Mursal Esten sengaja dibalikkan posisinya.
Namun catatan penting perlu pula diberikan pada Evadila, “Andai saja ia menghadirkan karya ini di hadapan rumah gadang sebagai pentasnya, karya ini menjadi kuat sekali.” Begitu menurut Sumandiyo Hadi, pakar tari dari ISI Yogyakarta. Jarak penonton yang dekat dengan ruang pertunjukan dan kelompok penari sayap kiri dan kanan yang berjarak juga menjadi titik lemah karya ini, karena terkesan tidak menyatu. Seolah-olah Evadila hanya memfokuskan karya pada ruang central stage saja.
Kurang Maksimal
Berbeda dengan karya Aku dan Sekujur Manekin yang digarap oleh Nike Suryani. Nike Suryani mengusung sekelumit budaya urban yang banyak melanda para perempuan muda, khususnya remaja dan dewasa muda yang ingin tampil indah dan menawan. Bahkan lebih dari itu, ingin menjadi pusat perhatian siapa saja, khususnya bagi lawan jenisnya.
Idol manekin, patung fiber yang dibuat langsing, tinggi dan menjadi media pemajang berbagai busana di toko-toko pakaian, mall, hingga supermall menjadi seolah-olah pembius bagi perempuan. Para perempuan berfantasi ingin memiliki tubuh seindah manekin-manekin itu.
Nike Suryani mengelaborasi fantasi para perempuan itu ke dalam berbagai suasana seolah-olah hadir dalam dunia nyata. Ia membuat pentas pertunjukan menjadi dua bagian. Pentas pertama prosenium yang diisi dengan pajangan dan boks pakaian jadi beraneka model, sedangkan pentas kedua ruang penonton disulap menjadi “catwalk” yang dilapisi dengan karpet abu-abu memanjang sepanjang ruangan gedung auditorium Boestanoel Arifn Adam.
Sementara di sisi kiri dan kanan “catwalk” diletakkan kursi yang dibungkus dengan kain putih tempat duduk penonton, sehingga penonton bisa menyaksikan pertunjukan di depan, tengah, dan belakang. Musik yang ditata oleh Sutaik ini berhulu pada mainstream pop. Sementara di latar panggung melalui LCD video art ditayangkan berbagai gambar animasi makin memperkuat suasana.
Nike Suryani mengawali karyanya  dengan menghadirkan empat orang penari berbusana cerah dan meriah bergerak dari pentas dengan gerak-gerak berbau erotik, kemudian secara pelan-pelan menuju “catwalk” menjelajahi ruang “catwalk” dengan berbagai ragam gerak yang cukup mempesona. Salah seorang di antaranya berperan sebagaimana layaknya “penyanyi” tempat hiburan, meskipun dengan cara lips sing. 
Sarah berperan sebagai seorang perempuan bertubuh “gemuk” dan pendek, ingin memiliki tubuh seperti manekin yang langsing dan tinggi. Sarah mengeksplorasi ruang “catwalk” sembari mengusung manekin yang kadang diletakkan, direbahkan, dan membongkar bagian tubuhnya.
Bagian berikutnya Nike Suryani sengaja menghadirkan peragaan busana oleh tujuh orang “peragawati” yang berlenggang lenggok di atas “catwalk”.
Setelah itu, beberapa penari perempuan berbandan tambun, dengan tinggi bervariasi, tapi masih di bawah standar pragawati, dari arah pentas berlenggang lenggok menuju “catwalk”.  Cara mereka berjalan di “catwalk” belum pas, kadang-kadang terpleset, jatuh, tersandung, dan sempoyongan sebagai counter gerak yang diperagakan oleh “peragawati” sebelumnya. Para penari ini secara silih berganti mengenakan pakai di ruang ganti, sembari berfantasi agar bisa seindah penari manekin. Tapi tiba-tiba penari manekin ini bisa menertawakan para penari tambun itu. Nike Suryani juga menghadirkan suasana nyata seperti discount pakaian di mall hingga mencantumkan label persent discount.
Dari aspek struktur dan dramatik yang disusun pada karya ini sangat jelas. Namun demikian, ada satu sisi potensi penari yang sejatinya bisa dielaborasi lebih luas oleh Nike Suryani, tapi itu tidak dilakukannya. Misalnya, penari-penari yang berperan sebagai manekin yang bertubuh tinggi dan langsing dengan busana yang mewah itu, bila digarap secara khusus pada kedua ruang pentas pertunjukan, mungkin koreografi ini akan menjadi lebih menarik dan kuat. Bukankah ini karya tari? Fesyen memang diperlukan, tapi tentu yang memiliki sentuhan estetika ranah tari. Sumadiyo Hadi memberikan komentar, “andaikan Nike Suryani membuat “catwalk” lebih tinggi atau sama tinggi dengan pentas prosenium, karya ini menjadi bagus, karena kita bisa menikmati detail gerak dalam perspektif sama rata dengan pandangan, bukan menonton seperti menukik”.
Padangpanjang, 28 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar