Senin, 31 Maret 2014

Prolog tentang Buku Estetika Minangkabau


Yusriwal
Tidak banyak buku tentang estetika terdapat dalam bahasa Indonesia yang dapat digunakan sebagai buku sumber atau buku teori untuk menelaah objek estetika. Beberapa buku dapat disebutkan di sini, antara lain Estetika Filsafat Keindahan (Mudji Sutrisno, 1993), Estetika Sebuah Pengantar (Djelantik, 1999), Filsafat Estetika (Anwar, 1985), Filsafat Seni (Jakob Sumarjo, 2000), dan ada 4 buah buku tentang Estetika dari The Liang Gie.
Namun dalam bahasa Inggris terdapat cukup banyak buku estetika yang dapat dapat digunakan sebagai sumber teori dalam penelaahaan objek estetika. Namun, karena keterbatasan bahasa menjadikan buku-buku tersebut tidak dapat digunakan secara maksimal.

Sabtu, 29 Maret 2014

Angga Djamar: Hidup Adalah Menari

OLEH Gusriyono
Jurnalis
Angga Djamar
Tidak banyak perempuan yang berani mengabdikan diri dan bertahan menjadi penari. Angga Djamar salah seorang dari perempuan yang sedikit itu. Kerja keras dan proses yang terus menerus menjadi kunci utama suksesnya.
”Menari adalah hidupku,” kata Angga tegas. Dia baru saja selesai latihan, bersama penari Nan Jombang lainnya; Rio, Intan, Geby, dan Ririn. Kami bertemu di rumahnya di Belimbing, Padang, tempat latihan sekaligus tempat tinggal keluarga besar Nan Jombang Dance Company yang dinakhodai Ery Mefri, koreografer.
“Sejak gempa September 2009 lalu, kami latihan di sini. Sebelumnya di Taman Budaya Sumbar. Mudahan-mudahan tidak lama lagi, “ladang tari” Nan Jombang di Balaibaru sudah bisa dipakai untuk latihan,” tuturnya, memberi kabar tentang tempat latihan dan pertunjukan seni yang sedang dibangunnya. Barangkali, Angga sedikit dari perempuan yang bersikukuh memilih jalan hidup sebagai penari. Baginya, apapun pilihan hidup, kemauan dan kerja keras adalah prinsip yang harus dipegang kuat, untuk mencapai apa yang dipilih dan dicita-citakan itu.

Kamal Guci: Minangkabau Terintegrasi Empat Unsur


OLEH Gusriyono
Jurnalis
Kamal Guci dan lukisannya
Dalam satu minggu kemarin, jika Tuan dan Nyonya berkunjung ke Galeri Taman Budaya Sumbar, maka Tuan dan Nyonya dapat melihat lukisan-lukisan mengungkap topografi Minangkabau. Lukisan-lukisan itu kebanyakan bercerita tentang Minangkabau yang risau.
Memasuki Galeri Taman Budaya Sumbar, Tuan dan Nyonya akan berhadap-hadapan dengan sebuah lukisan potret. Seorang lelaki gondrong dengan kumis melintang sedang tersenyum. Senyum yang risau penuh kegalauan. Itulah potret si pelukis Kamal Guci. Pelukis asal Lubuk Guci, Pakandangan, Padangpariaman, ini menggelar pameran tunggal lukisannya bertajuk “Dari Ranah Menembus Rantau” tanggal 2-8 Agustus lalu.

Penjabaran dan Pengamalan Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah

OLEH Puti Reno Raudha Thaib
Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat

Puti Reno Raudha Thaib
Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau, sepanjang sejarahnya tidak pernah digugat oleh masyarakat bahkan sangat diperlukan dalam menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat dan kompleks di era globalisasi. Sejauh mana nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah itu telah diamalkan oleh individu dan masyarakat Minangkabau pada hari ini, diperlukan indikator dari pengamalannya. Oleh karena itu perlu penjabaran untuk memperjelas nilai-nilai yang terkandung dalam Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah tersebut.

Senin, 24 Maret 2014

AMRIL MY DT GARANG:Berdakwah dengan Lukisan Kaligrafi Islam

OLEH Gusriyono
Amril MY Dt Garang
Bagi Amril MY Dt Garang, perpindahannya dari perupa/pematung ke pelukis kaligrafi adalah sebuah perjalanan spiritual. Ini adalah jawaban atas kegelisahan dan gejolak batinnya dalam memahami hidup bertuhan dan beragama. Kemudian, dengan kaligrafilah ia mendakwahkan Islam sebagai agama yang diyakininya.
Memasuki Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumbar pada bulan Ramadhan ini, serasa ada yang lain dari biasanya. Selain suasana spiritual Ramadhan, aura ruangan tersebut juga tidak seperti hari-hari lain.
Ada yang berubah dan mengubah suasananya menjadi lebih menyejukkan. Empat puluh delapan lukisan kaligrafi yang dipamerkan di galeri itu membawa makna dan suasana spiritual yang lain. Selama bulan Ramadhan ini, dipamerkan lukisan kaligrafi Islam bertajuk ”Yang Satu” karya dari kaligrafer Sumbar, Amril MY Dt Garang dan Amir Syarif.

AMIR SYARIF: Surau yang Menginspirasi

OLEH Gusriyono
Jusnalis
Surat Yasin den
Amir Syarif
gan media akrilik di atas kanvas terbentang sepanjang 3 meter dan lebar 1,5 meter. Lukisan kaligrafi Islam itu dikerjakan Amir Syarif dalam waktu sekitar 6 bulan. Selama Ramadhan ini lukisan itu menjadi salah satu karya yang dipajang dalam pameran kaligrafi ”Yang Satu” di Taman Budaya Sumbar.
”Yasin adalah ruh dari segala ayat dalam Al Quran. Ia menjadi intisari Al Quran, ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh manusia,” katanya.
Amir Syarif, satu di antara sekian banyak pelukis di Sumbar yang telah malang melintang dalam dunia seni rupa tersebut. Jalan menjadi pelukis ini telah diteranginya sejak kecil. Bermula dari kesukaannya melukis sketsa, kemudian memperdalam ilmu di Akademi Seni Rupa  Indonesia (ASRI) Yogyakarta hingga tamat tahun 1962.

PEMENTASAN TARI "RATAK NYAO" KARYA JONI ANDRA: Subjektivitas-Identitas yang Harus Mengental

OLEH Nasrul Azwar
Warga Padang Penyuka Seni Pertunjukan

Pertunjukan tari kontemporer “Ratak Nyao (Nyanyian Agyan Berhenti di Koma)”, karya koreografer Joni Andra (Impessa Dance Company) Jumat (14/3/2014) di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat. (Foto: Ari)
Galibnya pementasan seni pertunjukan, kerap diawali dengan “gelap”. Lalu berlahan cahaya lampu juga dengan dasar warna buram, lambat menyiram panggung. Nyaris semua pertunjukan kaya begitu. Tak paham saya mengapa demikian.
Pertunjukan seni kemanusiaan yang dibawakan Impessa Dance Company, berjudul “Ratak Nyao (Nyanyian Agyan Berhenti di Koma)” karya koreografer Joni Andra, pada Jumat malam 14 Maret 2014 di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, menegaskan seperti saya tulis di atas itu.

Senin, 17 Maret 2014

Bertaruh Demi Sekadar Emas: Jejak Tambang Emas di Gunung Harun Salido Ketek



OLEH  Gusriyono
Jurnalis
Tak terbayangkan oleh saya, di puncak Gunung Harun ini, berhari-hari ada dua orang yang mencari emas secara tradisional. Mereka membangun bedeng di atas pondasi bangunan bekas penambang zaman Belanda. Siang masuk lubang dan lorong mencari emas, malam melepas lelah sembari membunuh sepi dan membiarkan hati bertalu merindu pada keluarga. Karena hanya berdua, di puncak lengang itu, cerita yang sama bisa diulang berkali-kali dalam obrolan pelepas lelah atau jelang tidur.
Pagi begitu indah di bedeng milik dua penambang emas itu. Gemerisik air sungai di depan bedeng dan bunyi binatang rimba seperti simfoni yang mendendangkan harapan untuk hidup yang lebih baik. Dengan semangat yang baru setelah melepas lelah semalam, aktifitas pun dimulai.
Syahrial, Amir, dan Pak Ayat, telah bangun dari tadi. Sementara saya bersama fotografer, Hijrah, masih terbungkus sarung dan jaket. Hawa pagi yang dingin membuat kami sedikit malas untuk bangun, apalagi penat-penat dari perjalanan sehari kemarin belum begitu pulih. Untuk sementara saya berdiri di mulut pintu bedeng. Pada kejauhan ufuk timur, matahari bersinar.

Menyusuri Tambang Emas Rakyat di Dharmasraya: Memetik Sisa Harap di Kilau Emas


OLEH Gusriyono 
Jurnalis  
Sejak lama, masyarakat di sepanjang Batanghari, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, bekerja mencari emas. Makin lama, ”pendapatan emas” mereka kehilangan kilau.
Air sungai berwarna kekuning-kuningan tersebut terpapar cahaya matahari sore yang condong ke barat. Di tengah aliran Batanghari, di Nagari Sitiung itu, tampak sebuah kapal kayu dengan mesin dumping penyedot emas dari dasar sungai berkedalaman 10 meter.

Selasa, 11 Maret 2014

LSM, Transparansi, dan Akuntabilitas




OLEH Roidah
Aktivis LSM di Padang
 Isu akuntabilitas pernah timbul-tenggelam dalam pemberitaan media cetak di dalam dan di luar negeri. Tapi kepentingan siapakah sebenarnya untuk membicarakan akuntabilitas LSM itu? Yang pasti tak perlu dinafikan kalau LSM sering dijadikan jalan untuk kekuasaan ataupun sebaliknya. Di mana akuntabilitas hanya dikendalikan pihak-pihak tertentu. Sementara akuntabilitas LSM sering ditafsirkan dari sisi finansial dan harus bersedia diikat dengan regulasi. Tujuannya demi mengontrol dan memonitor dari mana uang yang ada pada LSM mengalir dan untuk apa saja digunakan, termasuk untuk mengetahui apa saja kerugian pemerintah karena penggunaan dana tersebut. Memang, finansial merupakan faktor pendukung kelanjutan LSM. Mustahil ada LSM mampu bertahan tanpa dukungan dana dalam waktu yang panjang. Tapi yang pasti uang bukanlah segalanya.

Tiga Pilar Pembangunan Pertanian



OLEH Moehar Daniel
Peneliti Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Pertanian di BPTP Sumatera Barat
Foto Antara
Pertanian merupakan salah satu sektor utama yang menunjang perkembangan perekonomian Indonesia. Sejak dekade 50-an sampai sekarang, sektor ini selalu menempatkan diri dalam lima besar pengisi pendapatan negara. Tetapi ironisnya perkembangan fungsi dan peran sektor ini tidak berdampak nyata terhadap mayoritas masyarakat yang bergantung didalamnya. Kondisi ini berjalan sedemikian rupa, sehingga tanpa terasa telah terjadi ketimpangan yang cukup mencolok yang menimbulkan masalah baru dalam proses pembangunan nasional.

Dampak Negatif Otonomi Daerah: Alih Fungsi Hutan Lindung Berisiko Banjir Bandang

OLEH Isril Berd
Kepala Pusat Kajian Pengembangan Lahan dan Pemukiman Universitas Andalas
Foto www.linggapos.com
Bila dicermati saat ini pengelolaan hutan lindung belum terorganisir dengan baik. Hal ini disebabkan karena belum adanya peraturan daerah (perda) yang mengatur pengelolaan hutan lindung sebagai bentuk tindak lanjut dari otonomi daerah. Tentu saja, kondisi ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 dan PP Nomor 6 tahun 2007.
Tampaknya, di tingkat pemerintahan daerah, konsep kesatuan pengelolaan hutan lindung masih sebatas wacana. Pengelolaan hutan lindung belum menjadi prioritas bagi pemerintah daerah. Akibatnya, tingkat kerusakan hutan lindung sangat tinggi karena dikonversi menjadi peruntukan daya guna lahan lainnya. Konversi hutan dikesankan untuk kepentingan pendapatan asli daerah (PAD) dan pengembangan wilayah.

Minggu, 09 Maret 2014

Kritikus dan Jurnalis Seni Lahir dari Kepekaan



OLEH Gusriyono
Jurnalis

Penulis esai, kritikus, dan jurnalis seni dirasakan sangat langka dalam tahun-tahun belakangan di Sumbar. Kelangkaan ini berpengaruh bagi perkembangan seni, akibat kurangnya apresiasi terhadap pertunjukan-pertunjukan yang ada, terutama di Taman Budaya Sumbar.
Selama tiga hari (12-14/4/2011), 25 penulis muda dan jurnalis beberapa media di Sumbar mengikuti workshop penulisan esai, kritik dan jurnalistik seni di Taman Budaya Sumbar. Para peserta ini kebanyakan mahasiswa yang pernah atau sedang belajar menulis, yang diundang oleh Taman Budaya Sumbar. Terdiri dari, pemenang lomba penulisan cerpen 2011, komunitas seni di Unand, UNP, UBH, ISI Padangpanjang, UPI, IAIN Imam Bonjol, INS Kayutanam, dan jurnalis.
Program pertama Taman Budaya Sumbar tahun 2012 ini menghadirkan 3 pembicara dari kalangan media. Yaitu, pemred Visual Art, Yusuf Susilo Hartono, mantan wartawan Kompas, Yurnaldi, dan redaktur budaya Haluan, Nasrul Azwar.

Menggugat Tradisi Bajapuik Melalui Komposisi Musik

OLEH GUSRIYONO 
Jurnalis
Musik tradisi Minang
Hampir seluruh penonton di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumbar “tumpah” ke depan panggung. Mereka berjoget bersama dalam iringan komposisi musik berjudul Bajoget karya Susandra Jaya. Luapan kegembiraan ini seakan perayaan atas perjalanan empat bagian dari komposisi musik Piaman dalam Ritme yang dimainkan Susandra bersama kelompoknya, Jumat (20/4/2012) malam itu.
Para penonton meminta Susandra Jaya mengulangi komposisi bagian terakhir ini agar bisa ikut berjoget bersama-sama. Seakan ikut memaknai pepatah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, yang menjadi dasar penciptaan bagian keempat tersebut. Karya ini menyiratkan sebuah akhir bahagia dari kekhawatiran beratnya perjuangan hidup berumahtangga. Suasana gembira dan suka cita itu diungkapkan dengan materi musikal riang melalui instrumen pupuik rabunian, gandang katindik, yang bersumber dari musik tradisi Katumbak Pariaman.

Beragam Makna di Balik Isu Gempa dan Tsunami



OLEH Hary Efendi Iskandar
Pemerhati Sosial-Politik
Dampak gempa di Sumbar 30 September 2009
Beberapa hari belakangan ini—Kota Padang khususnya, Sumatra Barat umumnya—pembicaraan orang-orang tidak beranjak seputar isu gempa dan tsunami yang akan terjadi dalam waktu dekat. Akibat isu liar ini, kota-kota yang berada di pesisir pantai Sumatra Barat, lengang. Warganya eksodus mencari tempat sanak saudara yang tinggal di darek.
Pada awal 2005 isu serupa juga terjadi. Seminggu setelah peristiwa gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 di Aceh dan Nias. Saya merasakan betul betapa luar biasanya pengaruh sebuah Isu. Isu yang beredar secara massif lewat SMS membuat banyak orang kehilangan akal sehatnya.

Makin Menyempitnya Lumbung Padi di Sumatera Barat



OLEH Azwar Rasyidin
Guru Besar Fakultas Pertanian Unand dan Ketua Perhimpunan Alumni dari Jepang (Persada) Wilayah Sumatera Barat
Lahan pertanian yang kian menyempit
Sumatera Barat diperkirakan tidak bisa memenuhi target produksi, kecuali Sumatera Barat dapat menerapkan perbaikan bahan organik tanah dan pengelolaan air yang memadai.
Tahun 2010 yang telah dilewati menyisakan beberapa persoalan pada kebutuhan pokok di Sumatera Barat. Di pengujung 2010 harga kebutuhan masyarakat bergerak naik, harga gula, daging sapi, cabai, beras dan santan kelapa mengalami kenaikan yang signifikanb. Kenaikan harga ini biasanya terkait erat dengan terbatasnya jumlah pasokan di pasar. Harga santan kelapa yang biasanya Rp8.000/kg, kini menjadi Rp10.000/kg. Menurut pedagang menjelang akhir tahun 2010, pedagang mulai kesulitan mendapatkan pasokan kelapa.

Sinergi Pertumbuhan dalam Perspektif Mitigasi Kebencanaan



OLEH Erick Ridzky
Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bansos dan Bencana

Mitagasi persiapan kebencanaan
Dalam kesempatan seminar International Conference Focus on Indonesian Economy 2011 di Jakarta beberapa waktu lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menyebut tentang SBYnomic.
SBYnomics, kata Fadel, adalah pencapaian dalam sektor ekonomi yang telah dicapai selama kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di tengah kemelut politik yang merongrong citra SBY, menurut Fadel, sebenarnya sepanjang kepemimpinan SBY tersebut telah ada perkembangan yang cukup signifikan dalam ekonomi. Indeks IHSG telah menembus angka tertingginya 4000. Cadangan devisa pertengahan tahun ini melewati US$100, efeknya tentu saja nilai tukar rupiah per dolar menembus angka Rp8.500. Sejak tahun 2005-2010 inflasi berhasil ditekan dari 17,11 persen menjadi 6,96 persen.

Saatnya Mengembalikan Investasi Politik


OLEH Nasrul Azwar


Untuk menuju kekuasan politik sepasang kandidat presiden, gubernur, bupati, wali kota, calon legislatif malah wali nagari yang ikut bersaing dalam sebuah pemilu, menjadi omong kosong saja jika mereka tak mengeluarkan uang sepeserpun. Kota Padang baru saja menyelesaikan pilkada putaran kedua. Tapi kita tak tahu, berapa  dana yang dihabiskan dua pasang para kandidat calon Wali Kota Padang itu yang bertarung pada 5 Maret lalu.

Jumat, 07 Maret 2014

PARADE TEATER NASKAH WISRAN HADI: “Selamat Datang di Koto Tingga”



OLEH GUSRIYONO
Jurnalis
Pementasan Orang-orang Bawah Tanah
…. Ada kunjungan. Datang sumbangan. Tidak berbunga.
 Kalungkanlah!
Kalungkan bunga-bunga….
…. Ada kunjungan. Turun bantuan. Lunak bunganya. Sajikan!
Sajikanlah adat budaya lama….
Selamat datang di Koto Tingga. Welcome….
Malin meneriakkan kata-kata tersebut beberapa kali melalui toa atau pengeras suara yang dipegangnya. Pemberitahuan tersebut sebagai isyarat agar penduduk Koto Tingga, yang tinggal beberapa orang itu, bersiap-bersiap menyambut tamu yang berkunjung dengan tarian sesuai budaya yang mereka pertahankan—dalam hal ini Minangkabau. Muncullah penduduk Koto Tingga yang berprofesi sebagai pedagang, yang menjual berbagai macam produk Koto Tingga termasuk adat dan budaya.
Kemudian, pemusik dengan gandang tamburnya menyajikan musik riang menyambut pengunjung, diiringi penari, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Mereka menarikan budaya lama itu di depan kuburan yang dianggap kuburan Bundo Kanduang. Kuburan itu didirikan di atas tanah yang disewa secara kredit kepada Panglimo.

WAWANCARA DENGAN HALIM HD: Ruang Publik dalam Desain Politik Kota


Halim HD

Pangantar
Ruang publik, terutama di kota, dimiliki dan dikelola pemerintah dan dijadikan komoditas. Sementara masyarakat tidak menyadari bahwa ruang publik itu milik mereka. Ada proses kanalisasi di kota berdasarkan arus politik yang dibawa partai politik dan elit. Sehingga, menimbulkan segregasi berpikir dan sosial ekonomi di kalangan masyarakat.   
Networker kebudayaan, Halim HD, pada perayaan iven Panggung Publik Sumatera 2012 berkunjung ke Padang dan Padangpanjang. Selain menghadiri Panggung Publik ia juga ikut perayaan Hari Teater Dunia 2012 di Padangpanjang. Sebelum balik ke Solo, tempat ia menetap, kami berdiskusi di rumah budayawan, Yusrizal KW, di Komplek Cemara II Gunungpangilun. Hadir juga ketua Entrepreneur Club (EC) Padang, Tomy Iskandar. 

Kamis, 06 Maret 2014

PANGGUNG PUBLIK SUMATERA 2012: Melawan Lupa Memori Sosial Bersama Teater



OLEH GUSRIYONO
Jurnalis
Pertunjukan teater dalam iven Panggung Publik Sumatera 2012
Sebenarnya, teater itu milik publik yang tercerabut ketika pekerja dan pegiat teater memboyongnya ke gedung pertunjukan sehingga sulit diakses oleh si empunya. Lalu, ketika muncul keinginan untuk mengembalikan teater ke panggung masyarakat, pekerja dan seniman teater harus membangun memori sosial serta menciptakan teater untuk semua orang di ruang publik.
Ratusan orang, meliputi anak-anak, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, berkumpul di gerbang masuk gedung M Syafei Padangpanjang. Seorang lelaki berdasi lengkap dengan stelan jas berteriak-teriak mengaku koruptor dan minta ditangkap oleh polisi. Namun tidak ada polisi yang mau menangkapnya. Berbagai argumen ia lontarkan, seperti wakil rakyat atau pemerintah menghadapi kumpulan massa. Hingga akhirnya yang mengaku koruptor ngacir dengan vespa butut, yang disebut mobil itu, bersama dua pengawalnya.

Belajar Filosofi Gotong Royong pada Karanggo



OLEH GUSRIYONO

Jurnalis

Darvies Rasjidin, pelukis, bersama karyanya
Butuh waktu dua tahun untuk mengerjakan lukisan ini. Setiap selesai 50 semut, saya istirahat, atau mengerjakan lukisan lain. Besoknya mulai lagi 100 semut dan seterusnya, hingga 153.761 semut,” kata pelukisnya, Darvies Rasjidin. Lukisan tersebut dipajang dalam pameran lukisan tiga pelukis asal Sumbar, Darvies Rasjidi, Herisman Is, dan Tamsil Rosha, bertajuk ”Tiga Rupa Bumi” di Taman Budaya Sumbar.   Lukisan Taiji, lambang tradisional untukkekuatan Yin dan Yang, berwarna hitam-merah-putih dalam bingkai persegi berwarna merah dengan tingkat kekentalan yang berbeda. Di atasnya berkerubung semut-semut, atau lebih tepat disebut karanggo, yang berjumlah ribuan. Ada 153.761 semut atau karanggo di sana, sesuai judul lukisan itu 153.761 SM.

Rabu, 05 Maret 2014

“Kaphe Padang” (Respons Terhadap Perantau Minang di Aceh pada 1920-an)



OLEH Deddy Arsya
Pengarang
Kaphe Padang, si kafir dari Padang, istilah yang populer pada paruh kedua abad ke-19 di Aceh. Terminologi yang mengandung stigma, yang dilekatkan kebanyakan orang Aceh kepada perantau asal Minangkabau di sana. Mengapa stigma ini bisa muncul? 
Masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang termasuk paling awal ‘terbaratkan’ di Indonesia. Terbaratkan lewat pendidikan Belanda. Pendidikan Belanda yang telah dengan cepat populer di tengah masyarakatnya bahkan sejak pertengahan abad ke-19.

‘Cerita Perjalanan’ dalam Pariwisata Kita




OLEH Deddy Arsya
Pengarang tinggal di Padang
Cerita-cerita perjalanan menjadi populer kembali dewasa ini. Majalah traveling berlahiran. Rubrik jalan-jalan hadir setiap minggu di suratkabar besar dan kecil. Buku-buku cerita perjalanan dengan gampang ditemui pada rak-rak toko buku, baik yang ditulis belakangan maupun yang telah bernilai langka dalam literatur kesejarahan.
Genre ini punya ikatan erat dengan proses penjajahan. Teks-teks perjalanan menginspirasi penjelajah Eropa awal menemukan dunia baru. Tetapi di sisi yang berbeda, teks-teks ini juga punya hubungan dengan kepentingan pariwisata. Sejarah pariwisata modern konon mengambil bentuk promosi paling awal melalui kisah-kisah perjalanan.

Studi Banding Anggota Dewan Barangkali hanya Tabiat Inferior



OLEH Zulprianto 
Dosen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Andalas
Studi banding atau comparative study merupakan cara yang lazim digunakan untuk membandingkan satu hal yang kita miliki dengan hal lain yang dimiliki pihak lain. Begitu mulianya esensi dari studi banding tersebut, berbagai lembaga negara mulai dari pusat sampai daerah termasuk perguruan tinggi menganggarkan dana khusus setiap tahunnya sehingga studi banding menjadi rutinitas tahunan. Karena sudah dianggarkan, para pihak yang akan berangkat studi banding biasanya berkilah, jika diprotes, bahwa kegiatan tahunan tersebut merupakan haknya, bagian atau fasilitas yang harus diperoleh sebagai konsekuensi dari posisi yang sedang dijabat. Anggaran yang diajukan pun bervariasi menurut level pejabatnya. Pejabat nasional biasanya (meski tidak selalu) melakukan studi banding ke negara lain; pejabat daerah studi banding ke daerah lain. Tidak jarang kita mendengar jika para pejabat yang melakukan kunjungan juga memboyong anggota keluarga lain.

Fenomena Aji Mumpung Orang Parpol



OLEH Dirwan Ahmad Darwis
Penulis pengamat sosial dan Koordinator Ikatan Setia Kawan Wartawan Malaysia Indonesia, tinggal di Kuala Lumpur E-mail: dirwan2005@hotmail.com
Dari beragam informasi yang diperoleh, baik dari obrolan maupun bacaan, terkait topik di atas, tergerak hati saya untuk menulis fenomena perilaku orang-orang partai politik (parpol) di Indonesia. Sekaligus, ketertarikan itu termasuk membincangkan pemimpin parpol yang sekaligus juga pemimpin rakyat: apakah kapasitas sebagai Presiden, Menteri, Gubernur hingga ke Bupati dan Walikota. Selain itu, saya juga ingin menyinggung para pejabat dan pengikutnya yang berasal dari partai termasuk inner circle (orang dalam) di sekelilingnya.  

Selasa, 04 Maret 2014

Menuju Kota Padang yang Ramah Investasi


OLEH Azizul Mendra 
Business and Technology Enthusiast dan Principal Konsultan Tata Kota

Bagi kelompok pertama, maka jalur yang dikira terbaik untuk menolak adalah dengan mengedepankan peraturan daerah kota Padang. Menyimak tulisan dari praktisi hukum Miko Kamal 19 Desember lalu di koran ini, perda tata kota itu memang bisa menjadi sandungan. Tapi, ketika Pemerintah Kota Padang merevisi Peraturan Daerah itu apakah kelompok yang menolak otomatis setuju ? Atau cara yang lebih cepat yaitu bila Lippo memindahkan lokasi super block-nya apakah kelompok yang menolak otomatis Setuju? Bila tetap tidak setuju, maka benarlah sentimen agama yang memicunya.

Senin, 03 Maret 2014

Perspektif Sejarah Nagari Minang Dibentuk dengan Lahan Baru dan Struktur Baru


(Bagian 2 dari 5 tulisan)

OLEH Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo
Ketua V LKAAM Sumatera Barat

Nagari Sungai Landia
Susunan masyarakat nagari pada nagari Minangkabau mulo dibuek (mulai didirikan) berproses dari paruik, jurai, suku, kampung dan nagari,  berhubungan dengan lahan/ wilayah baru tak berpenduduk. Bermula dari taratak, taratak menjadi dusun. Dusun menjadi koto. Koto sebagai wilayah pusat perkampungan. Kampung-kampung bergabung sepakat menjadi nagari baru.
Artinya pembuatan nagari baru bukan membagi wilayah nagari yang telah ada. Tetapi bermula dari mencari lahan baru karena ruang hidup (lebensraum) sudah sempit. Tak ada lagi lahan mendirikan rumah, tak cukup lagi sawah ladang yang ada untuk kaum (paruik – suku). Lalu KK (Tunganai/ saudara lelaki tertua) diikuti beberapa keluarganya dalam satu suku atau banyak suku mencari lahan baru. Mereka berpisah dengan kampung asalnya meninggalkan sanak saudaranya yang lain separuik atau sesuku. Di lahan baru itu mereka berladang, meneroka sawah dan mendirikan rumah. Saat itu dimulai proses pengembangan wilayah (resort) perkampungan baru sebagai berikut: