Senin, 17 Maret 2014

Bertaruh Demi Sekadar Emas: Jejak Tambang Emas di Gunung Harun Salido Ketek



OLEH  Gusriyono
Jurnalis
Tak terbayangkan oleh saya, di puncak Gunung Harun ini, berhari-hari ada dua orang yang mencari emas secara tradisional. Mereka membangun bedeng di atas pondasi bangunan bekas penambang zaman Belanda. Siang masuk lubang dan lorong mencari emas, malam melepas lelah sembari membunuh sepi dan membiarkan hati bertalu merindu pada keluarga. Karena hanya berdua, di puncak lengang itu, cerita yang sama bisa diulang berkali-kali dalam obrolan pelepas lelah atau jelang tidur.
Pagi begitu indah di bedeng milik dua penambang emas itu. Gemerisik air sungai di depan bedeng dan bunyi binatang rimba seperti simfoni yang mendendangkan harapan untuk hidup yang lebih baik. Dengan semangat yang baru setelah melepas lelah semalam, aktifitas pun dimulai.
Syahrial, Amir, dan Pak Ayat, telah bangun dari tadi. Sementara saya bersama fotografer, Hijrah, masih terbungkus sarung dan jaket. Hawa pagi yang dingin membuat kami sedikit malas untuk bangun, apalagi penat-penat dari perjalanan sehari kemarin belum begitu pulih. Untuk sementara saya berdiri di mulut pintu bedeng. Pada kejauhan ufuk timur, matahari bersinar.

Tak lama, dengan meringis saya menuruni tangga kayu bedeng itu. Ternyata, penat kaki dan nyeri persendian akibat berjalan lama kemarin, masih terasa. Setiba di bawah, saya melihat ke tonggak bedeng. Ada bekas pondasi yang berwarna kusam. Menurut Syahrial, tanah tempat bedengnya ini berdiri, dulunya adalah perumahan orang Belanda yang terlibat dalam penambangan di sini. Bahkan, di bawah bedeng itu, jauh di dalam tanah, juga dimungkinkan terdapat emas.
Di bawah bedeng ini dimungkinkah terdapat emas? Saya kembali teringat serangga kecil menyerupai api. Semalam, menjelang tidur, di dalam bedeng, saya melihat seperti percikan api kecil, tapi bukan kunang-kunang, berterbangan. Saya ingat cerita rakyat tentang lumbung emas Salido, yang menyiratkan, pertanda di sekitarnya ada emas. Serangga itu, akan menyala, sesuai nukilan legendanya, di tempat yang ada emas dalam tanahnya.
 “Sebaiknya mandi dulu, dik. Biar hilang penat badan tu,” saya dikejutkan Syahrial, yang seperti menangkap saya tengah mengingat tentang sesuatu. Syahrial, melangkah menuju sungai.
“Dingin,” jawab saya sedikit terlambat, karena bibir saya sedikit gemetar. Sementara, Syahrial terus berlalu ke sungai. Tak lama, arahnya saya ikuti dengan tujuan mencuci muka. Sedangkan ia mengeluarkan umpan yang dimasukkan malam tadi dari garondong. Umpan merupakan istilah yang digunakan penambang di sini terhadap batu-batu mengandung emas yang digali dalam lubang-lubang tambang itu. Batu-batu tersebut dihancurkan dengan palu kecil hingga sebesar biji jagung.
Garondong adalah alat untuk menghancurkan batu-batu kecil sebesar biji jagung tadi hingga menjadi tepung untuk memisahkan antara emas dan pasir. Garondong ini terbuat dari pipa baja berukuran 22 inchi dengan panjang 70-90 sentimeter. Kedalam pipa dimasukkan besi bekas as atau sumbu ban mobil untuk melumatkan umpan. Garondong ini diputar menggunakan kincir air, yang juga dibuat dengan teknologi sederhana.
Umpan yang telah lumat bercampur air raksa itu ditampung di sebuah baskom. Kemudian disaring menggunakan kain dan diperas sehingga tinggalah logam mulia itu pada kain. Pagi itu ia hanya mendapat hasil sebesar biji rimbang, dari 2 karung umpan yang diisi semalam. Itu pun masih bercampur emas dan perak. Untuk memisahkan dua jenis logam itu, Syahrial akan membakarnya.
Tidak jauh dari sana, saya mulai memperhatikan Amir yang mengisi kembali garondong yang kosong dengan umpan. Garondong ini akan dibiarkan bekerja seharian melumatkan umpan tersebut. Sementara, mereka menghabiskan siang di dalam lubang mengambil umpan. Lubang kecil itu cukup untuk dimasuki tubuhnya sendiri. Sehingga dinamai lubang tikus.
Dua penambang dari Lumpo ini mengaku baru empat hari di sana, setelah turun minggu lalu. Mereka biasanya menetap di Gunung Harun selama dua minggu, kemudian turun menjual emas yang didapat. Berkumpul sejenak dengan keluarga, lalu naik lagi untuk dua minggu berikutnya.
“Sudah hampir lima tahun belakangan kami menambang lagi di sini, sejak ditutup tahun 1995 lalu. Pekerjaan ini sudah mendarah daging bagi kami dan tidak mungkin ditinggalkan. Kalau pun akan ditinggalkan, kami tidak memiliki lahan pertanian yang bisa digarap. Pekerjaan ini satu-satunya jalan untuk mengisi periuk nasi di rumah,” tutur lelaki beranak empat itu. 
Hal senada juga diungkapkan Amir. Baginya, pekerjaan ini seakan sudah menjadi jalan hidup yang harus dilalui. Ia pun mengaku tidak memiliki lahan pertanian di kampung. “Makanya saya tidak berpikir pekerjaan lain lagi. Tapi sampai kapan saya juga tidak tahu,”  tuturnya sambil meyakini, akan selalu ada rezeki dari Allah.
Puluhan, bahkan ratusan penambang yang dulu ramai ke Gunung Harun, menurut Syahrial, banyak yang berladang di kampung masing-masing. Bahkan ada yang berdagang, atau mencari pekerjaan lain.
“Setelah tambang ditutup, apakah mereka banyak yang kaya? Karena setidaknya punya agak sedikit tabungan dari menjual emas yang katanya dulu itu cenderung lebih banyak,” tanya saya kepada Syahrial dan Amir. Di luar dugaan, jawab mereka menggeleng.
“Uang emas ini panas,” kata Syahrial, diangguki Amir. Ia menjelaskan, ketika itu, mungkin saking mudahnya mendapatkan emas, banyak juga foya-foya. Bahkan, terbelanjakan ke hal tak penting, sehingga ketika tambang ditutup, baru menyadari, tak ada uang atau emas tersisa dari kerja naik-turun Gunung Harun.
Seketika, terlihat raut agak sedih kedua penambang ini. Mereka sesungguhnya, ingin punya pekerjaan lain. Berada di puncak Gunung Harun, berdua, kadang hingga belasan hari, adalah hal yang membosankan sebenarnya. Berhari-hari, hanya berdua, kadang terasa mencekam. Sepi tak terkatakan. Terkenang keluarga, diredam.
“Kadang satu topik cerita, bisa lima kali kami ulang-ulang dalam obrolan,” kata Amir. Syahrial menarik napas berat. Kata mereka, jika ada orang asing datang ke bedeng mereka, untuk suatu keperluan, mungkin saja penelitian, mereka mengaku merasa bahagia. Kebahagiaan itu ternyata sederhana saja. Kedatangan orang baru, atau orang asing ke puncak Gunung Harun, dan singgah ke bedeng mereka adalah pertanda ada cerita baru. Mereka merasa senang dan terhibur. Ketika orang itu pergi, kembali mereka berdua di puncak bukit yang lengang itu mengguguh asa. Kembali, ya kembali, hanya ada Syahrial di pandangan Amir, begitu juga sebaliknya: Hanya Amir di pandangan Syahrial. Kala malam datang, lengang itu terasa oleh mereka. Sampai ke ulu hati. “Taka da pekerjaan lain, selain mencari emas di sini,” tukas Amir, seakan ia memastikan, sebagai penambang terakhir.
Sebelum menambang di Gunung Harun, Amir pernah bekerja menambang emas di Rejang Lebong, sebuah daerah tambang emas di Curup, Bengkulu. Sedangkan Syahrial pernah bekerja di sebuah tambang emas di Bogor. Mereka datang ke Gunung Harun ini pada tahun 1990-an, saat tambang itu masih  ramai. Pada saat itu, ia juga sempat merasakan kejayaan panen emas. Bahkan, mereka pernah berhasil mengumpulkan 2,5 ons emas atau seperempat kilogram emas dalam siklus kerja dua mingguan itu. Hal tersebut sangat tidak sebanding dengan kondisi sekarang.
“Kalau sekarang, rata-rata kami hanya bisa dapat dua emas dari penambangan selama dua minggu itu. Kalau harganya, tergantung kadar emas, semakin tinggi kadar emasnya maka tinggi pula harganya,” kata Syahrial.
Emas-emas yang mereka dapatkan itu biasanya di jual ke toko-toko emas di Painan atau ada juga dijual ke Padang. Jika harga emas di pasaran sekarang berkisar Rp1 juta per mas, maka mereka hanya mendapat hasil Rp2 juta dalam dua minggu. Masing-masingnya akan menerima Rp1 juta. Jumlah tersebut, aku mereka tidak cukup sebenarnya, tapi bagaimana pun itu harus dijalani. Karena tidak ada pilihan lain bagi mereka.
Selain persoalan mengisi pundi-pundi yang semakin susah. Di Gunung Harun, para penambang juga harus mempertaruhkan nyawanya. Sebab, bukan tidak mungkin lubang-lubang yang digali itu menimbun tubuh mereka sendiri karena tiba-tiba longsor. Atau penyakit asma, paru-paru basah, dan TBC yang bisa saja menggerogoti. Karena semakin dalam lubang itu, oksigen semakin menipis. Belum lagi risiko-risiko lain, di luar perkiraan.
Namun, tidak menyurutkan niat para penambang ini untuk terus mengorek lambung bukit-bukit yang ditaksir memiliki kandungan emas itu. Begitu juga dengan Syahrial dan Amir. Mereka pun memiliki pengalaman menyabung nyawa di lubang tambang itu. Bahkan, Syahrial, sebelum bukit tersebut longsor, sedang berada dalam lubang bersama beberapa temannya.
“Untung saja kami cepat lari keluar. Kalau tidak, kita tidak akan bertemu sekarang,” tuturnya.
Diungkapkannya, selain firasat, para penambang juga meyakini tanda-tanda akan terjadi longsor kalau sedang berada dalam lubang. Biasanya, tanda-tanda itu, berupa batu kecil yang jatuh dari langit-langit lubang menimpa bahu atau badan penambang.
“Pertama jatuh ukurannya kecil, sebagai peringatan. Jika tidak diindahkan, maka akan jatuh yang agak besar. Nah, kali ketiga, tidak juga keluar, akan jatuh bongkahan yang lebih besar. Kalau sudah begitu terbang hamburlah keluar lagi. Jika tidak ingin mati tertimbun lubang,” ungkapnya.
Di lain waktu, Syahrial juga pernah mengalami peristiwa naas. Ketika sedang berada di lubang, bedengnya terbakar. Ia dan kawan sebedeng tak sempat menyelamatkan pakaian dan bekalnya. Sehingga, terpaksa mereka turun dengan baju yang lekat di badannya saja. Sedangkan emas yang diharap belum dapat.
“Pekerjaan ini seperti bertaruh atau berjudi. Kalau menang dapat banyak, kalah dapat sedikit atau tidak dapat apa-apa sama sekali,” kata Syahrial berfilosofi.
Saya menatap wajah Syahrial agak lama. Ya. Tentu, setidaknya sekitar ratusan tahun silam, orang-orang dari berbagai bangsa dan Negara, juga bertaruh nasib di sini. Dalam pertaruhan, jelas ada yang untung, ada yang rugi atau menjadi korban permainan, yang kadang tidak fair.
Pertaruhan itu tidak hanya bagi Syahrial dan Amir. Sekitar 400 tahun lalu, orang-orang dari berbagai Negara juga bertaruh di sini. Sejak eksploitasi pertama oleh VOC (kongsi dagang Belanda) di bawah kuasa commandeur Jacob Joriszoon Pit tahun 1669, tambang Salido telah didatangi para penambang yang demam kilau emas. Pemerintah Belanda tidak hanya mengirim para buruh ke sana tapi juga didampingi ahli tambang. Sebut saja, Nicolaas Frederich Fisher dan Johan de Graf yang berasal dari Hongaria. Kemudian, Elias Hesse dan ahli bebatuan gunung Benjamin Olitzsch. Serta, Arthur Clay.
Rekomendasi para ahli tambang inilah yang membuat demam emas Salido semakin menjadi. Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Belanda mengongkosi penambangan ini meski kerap gagal atau ditutup sementara, lalu dibuka lagi. Para buruh pun terus ditambah setiap tambang dibuka kembali. Buruh-buruh ini dikirim dari Madagaskar dan tawanan perang dari daerah sekitarnya, termasuk juga dari Nias.
Suryadi, peneliti dan dosen Universitas Leiden, Belanda, mengungkapkan kehidupan di Gunung Harun ini, di tempat saya berada bersama dua penambang, dulunya sangat jelek. Banyak kematian buruh karena mabuk minuman keras. Awal eksplorasi ada 49 orang Eropa yang bekerja di tambang itu dengan gaji hanya f 12 (12 gulden) sebulan, dan 104 orang budak lelaki serta 28 budak perempuan tanpa gaji. Namun penambangan tetap dilanjutkan.
Bahkan tenaga yang didatangkan itu, baik yang ahli dan mengaku ahli, maupun buruh, banyak yang mati. Berdasarkan catatan Suryadi, tahun 1679  pernah dikirim dari Amsterdam 59 orang ahli tambang. Kemudian ditambah lagi Mei 1680 sebanyak 28 ahli tambang dikirim hanya tinggal 3 orang yang hidup selebihnya mati.
Bahkan dari catatan Daghregister Castael Batavia, Juli 1981 dikirim buruh sebanyak 236 orang dari Batavia, setelah 6 bulan kemudian yang sampai di Padang hanya 140 orang, selebihnya mati di perjalanan. Dilaporkan juga dalam buku Gold-Bewerke in Sumatra (1931) antara 9 November 1680 hingga 16 Juni 1681 sebanyak 32 dari 262 buruh di tambang Salido meninggal.
Catatan kematian tersebut sangat tidak sebanding dengan jumlah emas yang mereka keluarkan. Berdasarkan studi R.J. Verbeek yang menulis beberapa buku tentang Tambang Salido, antara tahun 1669-1735 sudah 800 ton bijih emas yang dihasilkan tambang Salido, dengan nilai f 1.200.000 (1.200.000 gulden) atau rata-rata f 1.500 per ton (1.500 gulden per ton). Hingga benar-benar ditutup tahun 1928, catatan kematian itu terus bertambah. Sementara hasilnya tetap dilaporkan merugi.
Memang, ribuan tahun lalu hingga sekarang, hasrat untuk mendapatkan penghasilan dari menambang emas ini telah mendorong manusia melakukan hal-hal ekstrim, bahkan perang dan penaklukan. Sebenarnya, emas bukan kebutuhan yang penting bagi manusia. Tapi sifatnya sebagai logam mulia, membuat emas menjadi salah satu komoditi yang diidamkan hampir setiap orang di dunia. Kilaunya seakan tak lekang oleh perputaran zaman. Di sanalah harapan penambang emas itu ikut tertumpang.
Menjelang siang, saya menjabat tangan Syahrial dan Amir. Kami hendak turun.  Pak Ayat pun tersenyum. Kemudian kami bergerak, sambil sesekali menoleh dimana Syahrial dan Amir mesti berhari-hari lagi di Gunung Harun, untuk sekadar emas, demi menyambung hidup.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar