Senin, 28 April 2014

Doa dari Taeh Baruah untuk Chairil Anwar

OLEH Nasrul Azwar
Rumah bako (orang tua laki-laki Chairil Anwar)
Malam hening. Gemericik hujan gerimis melembabkan tanah nagari kecil itu, yang jaraknya lebih kurang 8 km dari pusat Kota Payakumbuh atau 150 km dari Kota Padang.
Gerimis tak juga reda, namun puluhan majelis taqlim anak nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuah, Kabupaten Limapuluhkota, dengan khusuk melantunkan doa-doa dan ayat Yasin untuk alharmum Chairil Anwar, sastrawan besar Indonesia, yang orangtuanya berasal dari nagari itu, pada Sabtu (28/5/2005).

"Pembacaan doa dan ayat Yasin salah satu bentuk penghormatan anak nagari Taeh Baruah kepada almarhum Chairil Anwar. Charil Anwar telah memberikan kekuatan pemikiran dan mengenalkan Nagari Taeh Baruah kepada dunia luar. Anak nagari Taeh Baruah sangat menghargainya," kata Yasri Dt. Topa, salah seorang ninik mamak di nagari tersebut.
Itulah salah satu rangkaian acara "Alek Puisi Taeh" yang digelar dari tanggal 27-29 Mei 2005 di Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Limopuluah Koto, Sumatra Barat, hasil kerjasama masyakarat nagari dengan Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) dan didukung oleh Kompas.
"Alek Puisi Taeh" merupakan pemaknaan terhadap sosok panyair Chairil Anwar sebagai representasi modernitas di ranah sastra Indonesia dan membuka ingatan kultural-terutama-bagi anak nagari Taeh Baruah bahwa nagari itu adalah tanah asal penyair besar Chairil Anwar, yang dalam sejarah sastra Indonesia menjadi tonggak perpuisian Indonesia modern.
Program ini dirancang bersama masyarakat Taeh Baruah tidak semata bersifat sementara. Beberapa agenda yang telah terealisasi adalah hadirnya Rumah Pengetahuan Chairil Anwar di Nagari Taeh Baruah yang dikelola anak nagari itu sendiri. Kehadiran Rumah Pengetahuan Chairil Anwar ini untuk sementara waktu memanfaatkan bangunan kantor jorong menjelang rumah gadang orangtua Chairil Anwar yang nyaris roboh itu selesai diperbaiki.
Rumah Pengetahuan Chairil Anwar diproyeksikan sebagai salah satu titik persinggahan bagi para pelajar, mahasiswa, sastrawan, peneliti sastra, dan masyarakat umum untuk mengenal lebih jauh sosok Chairil Anwar. Selain itu, juga dijadikan sentral kegiatan perpuisian di Sumatra Barat. Dan Rumah Pengetahuan Chairil Anwar kini menjadi salah satu aset Nagari Taeh Baruah.
***
Rumah gadang yang bagonjong empat itu tak begitu luas dan juga tak terlihat istemewa untuk ukuran rumah gadang yang dibangun semasanya. Rumah itu tak memiliki sembilan ruang seperti kebanyakan rumah gadang di Minangkabau dulunya. Tangga untuk menuju ke atas rumah telah roboh.
Begitu pula lantai untuk menuju pintu masuknya telah hancur. Sisi depan rumah tampak jelas dindingnya telah lama melapuk dan tidak pernah tersentuh cat. Sebelah kanan dan kirinya ditumbuhi lalang dan batang kayu liar. Memang tak terlihat bahwa rumah orang tua laki-laki penyair Chairil Anwar itu pernah dibersihkan.
Maka, untuk masuk ke dalam rumah tersebut kita mesti ekstra hati-hati, bisa saja terjerembab ke kolong rumah karena lantainya sangat lapuk. Rumah itu telah hampir berusia 100 tahun dan tela berpuluh tahun tidak lagi dihuni. Sangat panjang, memang.
Namun demikian, masyarakat Nagari Taeh Baruah mencatat bahwa pada tahun 1942 Chairil Anwar-saat usianya 20 tahun-pernah mendatangi rumah rumah gadang itu dan tinggal selama 6 bulan.
"Pada tahun 1942 Chairil Anwar pulang ke Nagari Taeh guna menelusuri tanah asal dan mengetahui sanak saudara yang sebapak. Selama 6 bulan Chairil berada di sini. Dalam waktu yang singkat itu pula dia mengenal kampung dan budaya Minang," jelas Yasri Dt Topa, tokoh masyarakat yang juga Ketua Pelaksana "Alek Puisi Taeh".
Dia menjelaskan, selama 6 bulan itu Chairil Anwar lebih sering bermain di sawah sambil menunggangi kerbau. Kadang ia pergi memanen tembakau dan acap tertidur di pondok kebun tembakau.
"Di pondok kebun tembakau itu pula salah satu puisi Chairil Anwar yang berjudul 'Nenek' lahir. Puisi itu ditulisnya di atas bungkus rokok 'Cap Tombak' Saya hapal sekali puisi itu," kata Tuhilwi Tulus, adik sebapak Chairil Anwar. Lalu dia membacakan isi puisi itu: Bukan kematianmu menusuk kalbu, hanya kepergianmu yang menerima segala apa.
Akan tetapi, dari pengakuan Tuhilwi Tulus, sampai kini ia tak bisa menemukan kertas bungkus rokok "Cap Tombak". "Telah hilang entah di mana."
Untuk itu pula, ahli waris keluarga Tulus (orang tua laki-laki Chairil Anwar) menyambut baik "Alek Puisi Taeh" sebagai sebuah iven yang berkelanjutan, dan dengan rela menyerahkan rumah gadang beserta tanahnya kepada Nagari Taeh Baruah untuk dijadikan sebagai salah satu situs sejarah sastra Indonesia sekaligus dijadikan lokasi Rumah Pengetahuian Chairil Anwar, yang pada Sabtu (28/5) diresmikan oleh Penjabat Gubernur Sumatra Barat, M Thamrin, yang diwakili Yulizar Baharin, Kepala Dinas Pariwisara, Seni, dan Budaya Sumatra Barat. Dengan koleksi buku yang terbatas, kini Rumah Pengetahuan Chairil Anwar telah dapat dimanfaarkan masyarakat, terutama pelajar di nagari itu.
***
Menurut Tuhilwi Tulus, setelah 6 bulan di Taeh Baruah, Chairil kembali melanjutkan perjalanannya ke Medan, kota tempat kelahirannya, dan selanjutnya ke Jakarta. Tak lama setelah pulang kampung, Chairil Anwar melepas masa lajangnya dan dikarunia seorang anak perempuan bernama Evawani Alisa.
Orang tua laki-laki Chairil Anwar bernama Tulus, mantan bupati Kabupaten Indragiri, Riau. Orang tua perempuan Chairil Anwar bernama Saleha berasal dari Nagari Situjuah, Kabupaten 50 Kota.
"Jadi, jika mengacu pada sistem adat Minangkabau yang matrilineal, kampung halaman Chairil Anwar adalah Nagari Situjuah. Nagari Taeh Baruah adalah bako bagi Chairil Anwar karena orangtua laki-lakinya berasal dari Taeh Baruah," ujar Tuhilwi Tulus.

Pada tahun 1925, saat usia Chairil Anwar 3 tahun, rumah tangga Tulus dan Saleha pecah. Kedua orangtuanya bercerai. Chairil kecil diboyong Saleha ke Jakarta dan dibesarkan di kota itu hingga ajal menjemputnya pada 28 April 1949 dalam usia masih muda, 27 tahun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar