Minggu, 20 April 2014

Muhammad Alwi Dahlan: Orang Minang Peraih Doktor Ilmu Komunikasi Pertama Indonesai

Muhammad Alwi Dahlan
Muhammad Alwi Dahlan atau dikenal dengan Alwi Dahkan tercatat sebagai doktor ilmu komunikasi pertama Indonesia lulusan Amerika Serikat tahun 1967, tepatnya dari Illionis University, Urbana dengan tesis "Anonymous Disclosure of Government Information as a Form of Political Communication". Pergi sekolah ke negeri Paman Sam tahun 1958 saat sedang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) berdasarkan beasiswa foreign sudent leadership project di Minnesota, Alwi Dahlan sebelumnya berhasil meraih gelar B.A dari American University, Washington DC tahun 1961.
Gelar B.A. ini menurut Surat Keputusan Lihat Daftar Menteri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu setara dengan S-1. Di Washington, untuk membiayai kuliah pria kelahiran Padang, Sumatera Barat 15 Mei 1933 ini bekerja sebagai penjaga malam di Kedutaan Besar RI. Sebelum meraih gelar doktor, keponakan sutradara film terkemuka Sutradara Usmar Ismail ini melanjutkan pendidikan ke Stanford University, di California untuk meraih gelar Master of Arts (M.A.) bidang ilmu komunikasi massa tahun 1962.

Selama studi M Alwi Dahlan bukan hanya pernah menjadi penjaga malam di KBRI Washington DC. Sebelum kembali ke tanah air usai meraih doktor masih menyempatkan diri membantu Atase Pendidikan di KBRI Washington, yang waktu itu dirangkap oleh Atase Pertahanan M Kharis Suhud. Dan, sewaktu akan pulang ke tanah air Kharis Suhud berkenan mengajak Alwi agar mau membantu Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) sebagai tenaga ahli, yang lalu dilakoninya sepanjang tahun 1968-1970. Kharis Suhud, mayor jenderal TNI AD terakhir menjabat sebagai Ketua MPR/DPR RI.
Alwi Dahlan adalah orang Indonesia pertama yang menggondol gelar doktor ilmu komunikasi dari Amerika Serikat. Bidang komunikasi kiblat dari Amerika adalah bidang baru yang lebih luas pengertian dan definisinya dari ilmu jurnalistik maupun publisistik yang berkiblat ke Jerman. Tak mengherankan, pada waktu itu komunikasi massa belum begitu dipahami di Indonesia sehingga keahlian ilmu komunikasi Alwi belum serta merta memperoleh ruang kerja yang jelas.
"Saya lalu melakukan berbagai hal, sekaligus ingin memperlihatkan bahwa sebagai ahli dalam bidang (komunikasi) ini, yang bersifat interdisiplin, dapat berkiprah di berbagai bidang ilmu dan berprofesi," cerita Alwi, yang butuh waktu lama membuktikan keahliannya sebelum guru besar ilmu komunikasi massa Universitas Indonesia ini dipercaya oleh Presiden sebagai Menteri Penerangan tahun 1998. Walau hanya beberapa bulan, antara Maret hingga 21 Mei 1998 sesuai "umur jagung" kabinet terakhir Presiden Soeharto sebelum mengundurkan diri, posisi Menteri Penerangan adalah pembuktian akan kualitas kedoktoran pakar ilmu komunikasi Alwi Dahlan.
Merintis
M Alwi Dahlan putra Dahlan Sjarif Datuk Djundjung, seorang bupati pada kantor Gubernur Sumatera Tengah, di almamaternya Fisip-UI sejak tahun 1969 hingga 1992 hanya bisa dipercaya sebagai dosen luar biasa alias dosen tidak tetap. Ia harus merintis atau meneruka beberapa bidang kegiatan yang pada waktu itu dianggap masih baru di Indonesia.
Seperti, antara tahun 1969-1971 ia menerbitkan dan menjadi pemimpin umum mingguan Chas, sebuah mingguan berkala berita yang pertama tampil dalam bentuk tabloid. Ia juga mendirikan Institute for Social, Commercial & Opinion Research (Inscore) Indonesia, sebuah lembaga riset masalah komersial dan pendapat umum swasta yang pertama di Indonesia. Alwi mendirikan pula Inscore Adcom sebuah perusahaan jasa komunikasi total dan public relation (PR) pertama di Indonesia.
Sebagai doktor ilmu komunikasi massa pertama Indonesia lulusan Amerika Serikat banyak hal yang baru yang untuk pertama kalinya dirintisnya, sebelum akhirnya mulai mapan berkiprah di pemerintahan saat Emil Salim tahun 1978 resmi mengajaknya bergabung sebagai asisten menteri.
Emil Salim ketika itu diangkat Presiden Soeharto menjadi Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH), maka, jadilah Alwi Dahlan tercatat sebagai Asisten Menteri KLH sepanjang tahun 1979 hingga 1993, atau antara era Emil Salim hingga Sarwono Kusumaatmaja.
Kepada Alwi Emil Salim membebankan tugas membantu merintis pengembangan bidang yang masih sangat baru di Indonesia pada masa itu, yaitu pengawasan pembangunan dan lingkungan hidup. Terbiasa mempunyai naluri sebagai perintis tantangan itu ia terima. Alwi resmi diangkat menjadi Asisten Menteri Bidang Pengawasan tahun 1978-1983, kemudian menjadi Asisten Menteri Bidang Keserasian Kependudukan dan Lingkungan tahun 1983-1988, serta menjadi Asisten Menteri Bidang Kependudukan tahun 1988-1993 di bawah Emil Salim dan Sarwono Kusumaatmaja.
Hingga tahun 1990 kepada Alwi Dahlan masih diserahi tugas dan tanggung jawab Kampanye Kesadaran Lingkungan Hidup, tugas yang antara lain berhasil menelorkan kebijakan pemberian penghargaan tahunan Kalpataru, Neraca Lingkungan Daerah, dan berbagai kebijakan lingkungan hidup lainnya. Untuk semua pengabdiannya yang tercatat hingga saat itu Presiden Soeharto menganugerahi Alwi Dahlan penghargaan Bintang Jasa Utama, yang disematkan langsung oleh Presiden pada 17 Agustus 1994.
Penulis Skenario
Selain pakar dan guru besar komunikasi massa, pejabat kementerian lingkungan hidup, mantan Wakil Kepala BP-7, dan Menteri Penerangan, banyak sisi menarik lain kehidupan Alwi Dahlan yang belum pernah terangkat ke permukaan. Dalam usia muda 16 tahun, misalnya, pria yang menamatkan pendidikan SR di Padang (1946) sedangkan SMP (1950) dan SMA (1953) keduanya di Bukit Tinggi, ini sudah menunjukkan bakat luar biasa. Ia ketika itu sudah aktif mengarang cerita di majalah Kisah dan Mimbar Indonesia terbitan Jakarta. Di koran lokal sendiri, Padang Nippo dan Detik terbitan Buktitinggi ia malah hanya sesekali menulis. Duduk di bangku SMP di Batusangkar ia sudah menerbitkan sendiri koran lokal sekolah.
"Di Mimbar Indonesia, selain menulis cerita pendek saya juga membuat sketsa atau vignet dengan tinta Cina," aku suami dari Elita Rivai sama-sama berasal dari Kabupaten Tanah Datar.
Di majalah Siasat, sebagai koresponden ia membuat reportase, esei, dan cerita pendek mengisi rubrik kebudayaan Gelanggang. Ketika duduk di bangku SMA Alwi sudah berkesempatan menulis rangkaian reportase perjalanan kaki menjelajahi pedalaman Alas, Gayo, Aceh untuk Siasat. Masih di bawah usia 20 tahun Alwi menulis di Zenith sebuah majalah kebudayaan yang diterbitkan oleh Mimbar Indonesia.
Ketika diterima kuliah di FE-UI, ketika itu belum dibuka jurusan ilmu komunikasi, Alwi menyalurkan bakat dan keahlian tulis-menulisnya di penerbitan kampus Forum dan Mahasiswa. Bersama sahabatnya Emil Salim, Teuku Jacob, dan Nugroho Notosusanto, tahun 1958 ia mendirikan Ikatan Pers Masiswa Indonesia.
Bakat kepengarangan putera Padang Panjang ini boleh dikata menurun dari pamannya Usmar Ismail, sutradara film terkemuka yang juga dikenal sastrawan Angkatan '45. Alwi Dahlan pernah mencatat prestasi gemilang menulis sembilan skenario film sepanjang tahun 1953-1958. Ia bersama pamannya Usmar Ismail menulis skenario untuk film Harimau Campa, yang pada Festival film Indonesia (FFI) tahun 1958 merebut piala Citra sebagai skenario film terbaik.
Demikian pula untuk film Tiga Dara hasil kerja bareng paman-keponakan itu. Sebuah film Usma Ismail lainnya, Jenderal Kancil dibuat justru berdasarkan novel karangan Alwi Dahlan berjudul Pistol Si Kancil terbitan Balai Pustaka.
Alwi Dahlan ketika masih disibukkan tugas-tugas eksekutif di pemerintahan, terakhir menjabat Wakil Kepala BP-7 sebelum diangkat Menteri Penerangan oleh Pak Harto, masih menyempatkan diri mengembangkan diri di bidang ilmu komunikasi massa sebagai akademisi menjabat Guru Besar Fisip UI. Ia banyak diminta berbicara dalam berbagai seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Cina, Singapura, Malaysia, Filipina, India, Pakistan, Rusia, dan lain-lain. Ia akhirnya tergolong sebagai pembicara seminar yang laris, berbeda ketika ia masih harus menjelaskan posisi dan peran ilmu komunikasi massa sebagai ilmu yang baru di Indonesia.
Tentang istrinya, Elita Rivai sama-sama asal Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat ia katakan diketemukan di Jakarta.
"Ceritanya, waktu saya di Amerika, beberapa tahun sebelum pulang saya melihat wajah Elita dalam foto di antara banyak orang. Waktu pulang, saya mencarinya sampai dapat di Jakarta," tutur Alwi Dahlan, yang selalu berpenampilan tenang dan simpatik dengan tutur bahasa santun bersahaja.
Sutradara Politik
Sejak memenangkan Pilpres 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didera isu-isu sensitif. Mulai dari sinyalemen kecurangan DPT, terorisme, hingga skandal Bank Century. Ironisnya, Presiden SBY hampir selalu bersikap reaktif dalam menghadapi isu-isu yang dianggap  menurunkan citra Presiden.
Sikap over reaktif itu tidak lepas dari strategi komunikasi politik SBY yang memang kurang konprehensif. SBY lebih sering mengambil alih peran juru bicara presiden yang seharusnya menjadi “bumper” sebelum Presiden memberikan statement.
Penilaian terhadap strategi komunikasi politik SBY tersebut diungkapkan oleh Muhammad Alwi Dahlan, mantan Menteri Penerangan RI di era pemerintahan Presiden Soeharto. Di mata doktor ilmu komunikasi pertama Indonesia ini, juru bicara Presiden lebih sering tidak menjalankan fungsinya atau tidak dipakai karena selalu diambil-alih langsung oleh SBY.
Menurut guru besar ilmu komunikasi massa Universitas Indonesia ini, komunikasi politik Soeharto jauh lebih baik ketimbang SBY. Soeharto baru berbicara ketika sebuah persoalan memang menjadi porsi seorang Presiden. Alwi mencontohkan reaksi SBY terkait demonstran yang membawa kerbau untuk melecehkan SBY. Dalam hal ini SBY justru terjebak oleh taktik-taktik pihak lawan yang sebenarnya dalam posisi jauh di bawah tataran seseorang Presiden.
Apa yang diungkapkan Alwi Dahlan memang tidak sebatas teori akademik. Pria berdarah Minang ini selain dikenal sebagai akademis juga sempat berkiprah sebagai biokrat yang memiliki posisi sentral.
Sebagai seorang Juru Bicara Presiden menjelang lensernya Soeharto, Alwi Dahlan sempat dituding menghalangi bergulirnya reformasi. Akibat salah interpretasi media massa, sebagai Menpen, Alwi diberikan mengeluarkan statemen bahwa reformasi di Indonesia baru bisa dilakukan pada 2003.
Alwi Dahlan juga sempat mengeluarkan kebijakan “TV Pool”, sejak 16 Mei 1998. Kebijakan itu mewajibkan relai berita TVRI bagi televisi swasta pada berita pagi dan siang. Pertimbangannya, televisi swasta telah melakukan ekspos berlebihan terkait gelombang penjarahan dan kerusuhan 13-14 Mei 1998 sehingga dinilai telah mendorong semakin meluasnya penjarahan dan kerusuhan ke berbagai tempat.
Perjuangan Alwi Dahlan membawa ilmu komunikasi sebagai kohesi atau perekat bangsa di tengah-tengah semua keanekaragaman pada era globalisasi, memang tidak pernah terhenti.
Dalam buku “Seorang Komunikator Berpengetahuaan”, Sabam Siagian menulis, bahwa meskipun masuk di kabinet di era Soeharto, pascalengsernya Soeharto, Alwi Dahlan tidak menjadi sorotan negatif. Alwi dipandang sebagai seorang profesional yang sebatas melakukan tugasnya, dan bukan pendukung fanatik Soeharto, dan bukan pula seorang yang ikut menikmati kekayaan keluarga Soeharto.
Profil
Nama                         : Prof. Muhammad Alwi Dahlan Ph.D.
Tempat/Tgl Lahir    : Padang, 15 Mei 1933
Agama                        : Islam
Pendidikan                 :
SR Adabiah I Padang (1946)
SMP Bukittinggi (1950)
SMA Bukittinggi (1953)
Fakultas Ekonomi UI, Jakarta (1958)
Sarjana Srata 1 (S1), American University, Washington DC (1961)
Master of Arts, Stanford University (1962)
Doktor Ilmu Komunikasi, IIIionis, Urbana (1967)
Guru Besar ilmu komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI (1997)
Karir                           :

Staf Ahli Atase Pendidikan di KBRI Washington
Staf Ahli Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) (1968-1979)
Direktur Inscore Indonesia (1971-1979)
Asisten Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) (1979-1993)
Kepala BP-7 (1993-1998)
Menteri Penerangan (Maret-Mei 1998)

 Organisasi            :

Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) (1983-1998)
Ketua Umum Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (Hipiis), (1984-1995)
Anggota Dewan Kehormatan PWI (1984-1995)



Sumber:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar