Minggu, 08 Juni 2014

CATATAN PEMENTASAN DRAMA TARI GARAK NAGARI PEREMPUAN

Perempuan dalam Lima Dimensi Budaya
OLEH Nasrul Azwar

Drama tari Garak Nagari Perempuan karya Susas Rita Loravianti yang dipentaskan pada Jumat (31/05/2014) di Nagari Pasia Talang, Sungai Pagu, Solok Selatan. Foto-Ezu Oktavianus
Dalam catatan saya, inilah pertunjukan seni yang fenomenal di Sumatera Barat sepanjang 10 tahun terakhir, malah mungkin lebih. Pertunjukan drama tari berdurasi hampir dua jam ini melibatkan ratusan orang, disaksikan seribuan lebih penonton, dengan menggunakan lima ruang pementasan. Masyarakat menyatu dalam pertunjukan ini. Berbaur dan memberi respons.
Lima simpul dan ruang pertunjukan itu adalah surau, rumah gadang, pasar, balai adat, dan istana. Tentu saja kelima ruang publik itu, merupakan simpul yang berkaitan erat  dengan masyarakat dan kebudayaan Minangkabau.

Ditelisik lebih dalam, kelima ruang yang merupakan keniscayaan bagi nagari-nagari di Minangkabau itu, tak bisa dilepas dari tatanan masyarakat dengan struktur sosial, nilai-nilai, dan norma adat dan tradisi yang hadir di belakangnya.
Di Nagari Pasia Talang, Sungai Pagu, Solok Selatan, Jumat 31 Mei 2014 lalu, kelima ruang itu seperti diberi napas baru. Nagari Pasia Talang yang memiliki sejarah panjang dalam Kerajaan Sungai Pagu di Minangkabau itu, berlangsung dengan konsepsi dan konstruksi kultural-sosial terhadap lima simpul penting dalam budaya Minang. Rangkaiannya seolah bergerak dalam pemaknaan baru dengan menempatkan posisi perempuan Minang dalam arus perubahan zaman. Selain itu disfungsinya pimpinan tungku tigo sajarangan di tingkat nagari juga dipapar dengan narasi dan gerak.       
Peristiwa konstruksi kultural itu semua digambarkan secara apik dan terukur dalam koreografi Garak Nagari Perempuan karya Susas Rita Loravianti, salah seorang koreografer perempuan yang menonjol di Indonesia dengan latar ilmu seni pertunjukan   penciptaan tari. Susas Rita Loravianti bukan koreografer yang mengandalkan insting tanpa bisa diukur tujuan dan konsepsinya seperti koreografer kebanyakan yang hanya andalkan susunan gerak akrobatik.  
Tatanan ideal tentang Minangkabau bukan saja digugat, tapi diberi makna baru. Garak Nagari Perempuan adalah representasi dan penguatan lima dimensi eksistensi perempuan Minang, yang hingga kini tak bisa dilepas dari ruang-ruang budaya Minangkabau.
Secara semiotis, dalam koreografi itu, Susas Rita Loravianti merepresentasikan dua perempuan yang sangat terkenal dalam tradisi lisan kaba Minang, yakni Bundo Kanduang dan Gondan Gondoriah. Bundo Kanduang menyiratkan kearifan dan kebijaksanaan seorang perempuan. Gondan Gondoriah menggambarkan kesetiaan dan kesabaran seorang perempuan. Kedua perempuan itu merupakan tokoh penting dalam cerita kaba Cindua Mato dan Anggun Nan Tongga.
Garak Nagari Perempuan menurut koreografernya, merupakan drama tari yang berangkat dari refleksi dirinya sebagai perempuan Minangkabau. Dalam realitas kehidupan sehari-hari, perempuan Minangkabau menghadapi dilema antara kebebasan berekspresi dengan keterbatasan peran dalam budaya.
Drama tari ini diawali dengan bebunyian tabuah di halaman depan Masjid Anam Puluh Kurang Aso. Sebuah surau yang dibangun pada abad-17 di Nagari Pasia Talang. Lapat-lapat sekelompok lelaki menabuh rebana. Salah satu alat musik yang dekat dengan Islam. Halaman surau itu jadi ruang pertunjukan yang indah. Napas islami terasa sangat kental. Tujuh perempuan mengenakan mukena (telakung) warna putih keluar dari surau. Mereka bergerak dalam tempo tak begitu cepat, tapi tegas. Koreografi menggambarkan kehidupan di Minangkabau tak bisa dilepaskan dari Islam: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Alquran). Cahaya dari lilin yang dibungkus pelepah pisang, membangun suasana jadi khusuk. Surau itu seperti menghipnotis penonton.
Tak berapa lama, ditingkahi irama rebana dan gerak melingkar dalam tradisi randai, muncul sesosok perempuan, juga dari surau itu, terbungkus kain putih yang memanjang ke belakang, dengan gerak agak cepat, berbaur dengan tujuh perempuan tadi. Sosok perempuan ini menonjol karena dibungkus mukena ukuran besar. Kipasan kain putih itu, menyimbolkan perempuanlah yang kelak membuka jalan ke surga bagi keluarganya dan juga kaumnya. Perempuan yang membuka jalan kebaikan itu dibawakan Susas Rita Loravianti.
Koreografi dengan pilihan mobile ini bergerak ke rumah gadang, yang jaraknya dari Masjid Anam Puluh Kurang Aso, lebih kurang 100 meter. Di rumah gadang, dimana fungsi lelaki cukup penting di atas rumah, terhampar halaman rumah yang cukup luas.
Dalam ploting cerita, menurut saya, di rumah gadang inilah sebenarnya konflik terkait dengan tatanan adat budaya Minangkabau itu berlangsung. Bundo Kanduang yang diperankan koreografernya, dari jendela rumah gadang itu menatap dengan sedih realitas Minangkabau hari ini: Dari sini, ia ingin kembalikan posisi ideal perempuan itu. Dan semua kegisahan dan kecemasan Bundo Kanduang itu, dicurahkannya dalam puisi-puisi yang bercerita tentang dirinya.
Kehadiran anak-anak di halaman rumah gadang, membuka memori dan ingatan masa indah dan keceriaan anak-anak, khusus perempuan. Banyak permainan anak nagari yang dihadirkan di rumah gadang ini. Memang, komposisi dan simbolisasi gerak yang dihadirkan, tampak perpaduan yang ketat antara tarian tradisi rakyat dengan sentuhan kontemporer. Dalam beberapa hal kita bisa nikmati koreografi seni tradisi randai, tari adok, silek harimau, tari piring, tari alang suntiang pangulu, dan tari mancak koto anau. Musik yang digarap Susandra Jaya dengan menggunakan alat musik tradisi Minang, pun bersenyawa setiap napas dan gerak Garak Nagari Perempuan.  
Rumah gadang dalam Garak Nagari Perempuan menjadi ruang bersama dengan koneksivitas persenyawaan bermacam-macam seni tradisi Minang yang tumbuh bukan saja di Nagari Pasia Talang, tapi juga berkembang di nagari-nagari lainnya seperti di tari mancak dari Nagari Koto Anau, Solok.

Perubahan dan ancaman yang dimungkinkan karena globalisasi, serta ketidakmampuan Minangkabau menghadangnya, terlihat ketika pasar tradisi yang tumbuh ratusan tahun di nagari-nagari, dihadapkan pada pertumbuhan pasar-pasar modern. Pasar-pasar atau balai pun layu satu per satu. Balai dalam perspektif Minangkabau adalah ruang sosial bagi anak nagari, termasuk perempuan yang menggerakkan ekonominya.
Gerak koreografi dengan dinamika tinggi, memberi makna, bahwa perubahan dengan segenap sisi baik dan buruk yang dibawanya, berlangsung sangat cepat. Antisipasinya pun harus dilakukan sesegera mungkin. Maka, rapatlah para pemimpin nagari di balai adat, yang terdiri dari alim ulama, ninik mamak, cadiak pandai, dan bundo  kanduang. Ruang balai adat menjadi salah satu simpul membincangkan perubahan yang tak bisa dihindarkan itu. Saat sidang berlangsung, Bundo Kanduang melintas di depan balai adat dengan menaiki bendi kebesarannya menuju Istananya.

Dialog tokoh-tokoh nagari-nagari itu, walau sangat verbal, memang tak memunculkan gerak dan koreografi. Dialog yang terkesan memberi petuah dan nasihat ini, direspons agak sinis oleh Bundo Kanduang dari tangga istananya. Selain itu, dialog-dialog yang sangat mengesankan verbalistisnya, bagi saya, tak memberi banyak arti dalam semua rangkaian drama tari Garak Nagari Perempuan itu. Karena di balai adat ini tidak berlangsung koreografi, tapi teater, yang pemainnya sangat kaku dan terlihat berhati-hati sekali.   

Di ruang istana koreografi tampak menjadi klimaks dari cerita Garak Nagari Perempuan. Capaian artistik juga terlihat di rumah Gadang Tuan Rajo Disambah. Barisan kuburan  di halaman ustano memberi efek artistik yang ambiguitas dan multitafsir. Penari dengan menggunakan payung dengan lampu berkedip dengan busana hitam, memperkaya capaian dari semua keinginan artistik Garak Nagari Perempuan ini. Di sini semua rangkaian koreografi yang mengantarkan Susas Rita Loravianti berhak menyandang gelar doktor penciptaan tari itu, berakhir.
Dalam Arus Globalisasi
Globalisasi tampaknya telah menghadapkan kebudayaan-kebudayaan lokal pada situasi dilematis: antara tradisi dan perubahan, antara identitas dan transformasi. Situasi dilematis ini muncul akibat sosok globalisasi itu sendiri yang menampakkan ‘wajah ganda’. Di satu sisi, globalisasi menciptakan integrasi, homogenisasi, standardisasi, internasionalisasi, di dalam ‘dunia tanpa batas’; sementara di sisi lain, globalisasi justru telah menguatkan semangat desentralisasi, penganekaragaman, pluralitas, tribalisme, sukuisme dan sektarianisme.
Maka dengan demikian, mengutip Yasraf Amir Piliang (2003), situasi dilematis tersebut juga dihadapi oleh gerakan-gerakan ‘budaya lokal’ di Indonesia, khususnya dalam upaya revitalisasi budaya. Di satu pihak, semangat reformasi, otonomi, dan demokratisasi telah memunculkan berbagai sentimen lokal (kesukuan, keagamaan, ras, dan kedaerahan), yang bahkan pada titik yang ekstrim telah menyulut berbagai bentuk konflik dan kekerasan. Di pihak lain, kehidupan sehari-hari masyarakat lokal justru sangat dipengaruhi oleh pola-pola kehidupan masyarakat global dan budaya global. Pengaruh tersebut telah merubah cara hidup, gaya hidup bahkan pandangan hidup mereka,  yang pada titik tertentu justru mengancam eksistensi warisan adat, kebiasaan, simbol, identitas dan nilai-nilai budaya lokal.
Dalam situasi dilematis tersebut, upaya-upaya bagi revitalisasi budaya-budaya lokal dalam konteks perkembangan budaya global, tampaknya harus didukung oleh pemikiran, filosofi, visi dan strategi budaya yang cerdas dan kreatif, sehingga globa-lisasi dapat dijadikan sebagai peluang bagi pengkayaan budaya lokal di dalam kancah budaya global, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kunci budaya lokal itu sendiri.
Hadirnya ruang publik di tengah-tengah kehidupan nagari di Minangkabau, misalnya, galanggang (sasaran), yang merupakan  ranah bagi anak nagari untuk mengekspresikan diri mereka, dapat disebut sebagai sistem nilai budaya. Di dalam galanggang itu akan teraktualisasikan ekspresi individu, masyarakat, dan komunal. 
Garak Nagari Perempuan dengan memanfaatkan simpul ruang publik itu sesungguhnya telah menjelaskan problem Minangkabau menghadapi arus global itu. Susas Rita Loravianti, juga ingin mengatakan: Minangkabau sebenarnya bukan semata yang disebutkan dalam mamangan: Sekali aie gadang, sakali tapian barubah. Tapi, harus kita harus mereposisi tatanan sosial dan kultural Minangkabau secara konkret jika kita ingin tetap melihat Minangkabau.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar