Jumat, 27 Juni 2014

Corak Penafsiran dalam Buku Al-Fathun Nawa

OLEH Prof Dr Yaswirman, MA

Dalam dunia perkembangan ilmu tafsir, ada beberapa corak yang sudah dikembangkan, mulai dari masa klasik sampai masa kontemporer. Tujuan penafsiran ini tidak lain adalah agar umat Islam mudah memahami pesan-pesan yang terkandung di dalam Alquran’ lagi pula bahasa Alquran tidak bisa hanya dipahami dari kaidah-kaidah bahasa Arab, karena uslub  (bentuk kata) dalam Alquran sangat tinggi. Misalnya kalimat “wa jaadilhum billati hiya ahsan”. Kalau dalam gramatika bahasa Arab, seharusnya diungkapkan dengan kalimat “wa jaadilhum billati hiya husna” karena hiya menunjukkan kata mu’annats dan tentunya kata sesudahnya juga mu’annats, yaitu husna, tetapi Allah mengungkapkan dengan kata ahsan, dalam bentuk isn tafdhil mudzakkar.

Demikian juga dengan kalimat √≠nnamal mu’minuna ikhwatun”(sesungguhnya sesama orang beriman itu bersaudara). Biasanya kata ikhwah dipakaikan dengan makna saudara seketurunan, sedangkan saudara yang tidak seketurunan dipakaikan kata “ikhwan”. Lalu kenapa dalam surat al-Hujurat: 10 ini dipakaikan kata ikhwah (ikhwatun) kepada sesama orang, bukan ikhwan. Agaknya maksud Allah adalah untuk memberikan pemahaman kepada umat agar sesama orang beriman itu seakan-akan saudara seketurunan, jadi jangan ada permusuhan. Kalau bermusuhan, harus cepat berdamai, tidak ada demdam dsbnya. Ibaratnya orang seketurunan yang bersengketa, karena faktor genetika dan keturunan yang sama, mereka cepat berdamai, dan seperti itu pula kalau sesama orang beriman bersengkata, seharusnya cepat berdamai.     
Jadi, begitu indahnya gramatika Alquran yang melebihi gramatika bahasa Arab itu sendiri. Semua ini hanya akan dapat dipahami maksudnya ketika ada usaha untuk menafsirkannya. Namun kreatifitas untuk menafsirkan Alquran sudah sekian banyak dilakukan oleh para mufassir dan kriteria yang harus dimiliki untuk menafsirkan Alquran harus memahami gramatika bahasa Arab, kaidah-kaidah kebahasaan, ilmu musthalah riwayah dan dirayah hadis, ilmu asbabun nuzul, klasifikasi ayat, fushahahatul kalam (ilmu balaghah) dan sebagainya.
Kendati demikian, ketika dewasa ini kriteria-kriteria dimaksud tidak seutuhnya dimiliki oleh kalangan ilmuan muslim pada saat ilmu pengetahuan semakin berkembang dan semakin rinci, apakah penafsiran akan terhenti? Kalaulah kita akan ketat dengan kriteria-kriteria dimaksud, tentunya pesan-pesan Alquran tentang ilmu pengetahuan tidak akan sampai kepada kepada generasi yang mencintai Alquran. Apalagi generasi yang tidak sepenuhnya menguasai bahasa dan gramatika Arab sebagai bahasa Alquran itu sendiri. Oleh karena itu, sebahagian ulama tafsir memberi peluang adanya tafsir bil-ilmi atau tafsir bir-ra’yi yaitu menafsirkan Alquran berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan atau berdasarkan logika yang dibimbing oleh wahyu dalam menemukan kebenaran. Dibimbing oleh wahyu maksudnya menetapkan kebenaran dengan hati nurani, termasuk dalam menangkap makna-makna yang terkandung dalam Alquran melalui gejala-gejala atau isyarat-isyarat perkembangan ilmu pengetahuan. Akankah yang dilakukan oleh DR Halo-N bagian dari upaya ke arah ini? Suatu hal yang menarik untuk dikaji dan diresensi pemikiran yang dikemukakannya dalam kitab kitab al-Fathun Nawa, sebagai hasil pencaharian intelektualnya yang disebut sebagai The First al-Quranic Scientist of The World.
Pencaharian intelektual bidang penafsiran Alquran sudah banyak dilakukan orang, mulai dari masa klasik sampai kontemporer ini. Pencaharian ini melahirkan beberapa pendekatan, di antaranya yang populer adalah metode riwayah atau tafsir bi al-ma’tsur dan metode penalaran atau tafsir bi al-ra’yi.
Tafsir bi al-ma’tsur menekankan kebahasaan, riwayat yang berkembang pada masa turunnya ayat, kesesuaian ayat atau surah yang satu dengan yang lainnya dan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan peran-pesannya. Sayangnya penafsir dengan metode ini sibuk dengan uraian kebahasaan, sehingga melupakan pesan-pesan Alquran. Begitu juga dengan uraian asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) misalnya tetang ayat-ayat hukum yang dipahami dari nasikh mansukh juga sering terabaikan, seakan-akan ayat itu turun pada masyarakat yang tanpa budaya.
Tafsir bi al-ra’yi dengan mengandalkan penalaran, membawa kita memperluas cakrawala, karena kita menelusuri pesan-pesan ayat satu persatu. Tafsir ini terbagi kepada dua metode, yakni metode tahliliy, yaitu sebuah metode, di mana mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dari berbagai segi dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat sebagaimana yang tertulis dalam mushaf Alquran. lalu metode maudhu`iy, di mana mufassirnya berusaha menghimpun ayat-ayat Alquran dari berbagai surah yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan, sehingga bahasannya menjadi satu kesatuan yang utuh. Penafsiran ini dikenalmjuga dengan istilah tafsir tematik. Kendati ada beberapa cara penafsiran Alquran, namun kemampuan bahasa Arab tetap menjadi andalannya.
Bila dilihat kitab al-Fathun Nawa hasil pencaharian intelektual Dr Halo-N yang disebut sebagai The First al-Quranic Scientist of The World ini, agak mirip dengan penafsiran Alquran secara tematik atau berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti menguraikan tema-tema pokok kandungan beberapa ayat ke arah satu konsep pesan atau kesimpulan, seperti konsep pesan pendidikan, sains, ekonomi, dan mengajak generasi penerus menggali sumber ilmu yang terkandung dalam Alquran, tetapi tetap tidak melupakan pesan-pesan tauhid pada masing-masing uraian ayat. Hal ini tercermin uraian ruhul ma’aniy dari ayat tertentu yang diuraikan, umpamanya dalam menguraikan makna furqan sebagai tema sentral penafsiran.
Pada kitab-kitab tafsir sebelumnya, furqan disebut sebagai sebuah nama dari Alquran yang bermakna ‘pembeda antara yang baik dan yang buruk’ sebagai salah satu fungsi Alquran. Dr Halo-N melihatnya dari pemaknaan kontekstual yang juga sudah ditemukan dalam makna bahasa Arab, yaitu ‘bukti’, ‘inovasi’ atau ‘kreasi’ yang harus ditemukan oleh generasi penerus sebagai intelektual muslim tentang kebenaran kandungan Alquran. Satu hal yang sangat menarik dari pesan DR Halo-N ini adalah setiap inovasi atau kreasi yang ditemukan dan mengajak generasi penerus memikirkannya, harus didasarkan atas ke Maha Pemurahan Allah atas nikmat yang diturunkan kepada hamba-Nya, agar tercipta sebuah konsep tentang kesejahteraan dunawi dan ukhrawi.
Sebagaimana lazimnya orang-orang yang mencintai Alquran, yang menjadi wahyu dengan kebenarannya yang mutlak, tampaknya Dr Halo-N dalam penafsirannya berusaha menghindarkan diri dari cara-cara penafsiran Alquran secara hermenetik, yang sering mengundang kontroversi di kalangan umat Islam. DR Halo-N melihatnya dari sudut ruhul ma`any makna ayat, kemudian dihubungkan dengan perkembangan ilmu, bukan sebaliknya. Inilah ciri khas buku ini dan yang membedakannya dengan buku-buku tafsir Alquran yang lainnya dewasa ini. Bagaimanapun juga tentu tidak semua temuan mengandung kebenaran yang utuh, sebagaimana juga yang dikemukakan oleh ulama mujtahid setelah mereka mengeluarkan ijtihadnya.
Menarik untuk disimak apa yang dikemukakan oleh penulis pada bagian pendahuluan, kenapa penulis memberi judul kitabnya dengan Al-Fathun Nawa (halaman 1) sebagai berikut: ”Selama dalam proses penulisan ini, terdapat banyak pihak yang bertanya kepada penulis, mengapa perkataan Al Fathun Nawa dipilih menjadi judul tulisan ini. Sebenarnya keputusan ini dibuat berdasarkan kepada ruhul ma’ani (makna hakikat atau makna substansi) perkataan Al Fathun Nawa yang dapat diselaraskan dengan arti Ledakan Nuklir (Explosion of Nuclear). Pemaknaan ini dipandang sangat relevan dengan Alquran sebagai sumber rahmat bagi sekalian alam. Terutama jika melihat kedudukan Alquran yang bersifat Umm al-Kitab. Alquran juga disepadankan dengan nama al-Furqan jika dilihat dari sisi kemampuan dan kekuatannya dalam membentuk, mengubah dan merencanakan arti manusia dan kemanusiaan di seluruh sektor kehidupan, ketuhanan, kerasulan, kemasyarakatan, ekonomi, sains dan teknologi yang berujung pada kemajuan dan peradaban dunia. Manusia yang mengemban amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertuhan dan maju dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi.”
Argumentasi yang dikemukakan oleh penulis untuk melihat kekuatan dan kemampuan Alquran dalam semua sektor hidup dan kehidupan manusia dalam mengemban amanah Allah itu adalah dengan melihat manka ruhul ma`ani firman Allah swt: Kalau sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir (QS: al-Hasyr, 59: 21)

Maksud ayat ini pada awalnya menerangkan sekiranya gunung-gunung itu diberi oleh Allah akal untuk berfikir, sebagaimana yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia, kemudian diturunkan kepadanya Alquran, tentu gunung-gunung itu akan tunduk kepada Allah. Bahkan bisa hancur lebur karena takut kepada-Nya, namun Alquran tidak diperuntukkan kepada gunung-gunung, tetapi hanya kepada manusia. Oleh karena itu, ayat ini sekaligus memberi peringatan kepada menusia mempergunakan akalnya untuk berfikir tentang kebesaran Allah. Bagi siapa yang tidak mempergunakan akal fikirannya karena memperturutkan hawa nafsunya dan kesenangan duniawi dan takut akan kehilangan pengaruh dan kedudukan, maka dia tidak akan menemukan kebenaran Ilahi. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar