Minggu, 29 Juni 2014

Curito Malin Kundang dalam Perspektif Ekonomi dan Pariwisata[1]

OLEH Sastri Bakry[2]
Sastri Bakry
Batu Malin Kundang terletak di sebelah selatan Kota Padang, di Aie Manih Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Sumatera Barat. Ia menjadi satu dari sekian banyak objek wisata di Kota Padang Tercinta. Mungkin bagi penduduk kota Padang, terutama menengah ke atas batu Maling Kundang tidak lagi menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Dan hal ini lazim terjadi dalam suatu daerah. Misalnya ketika saya mengajak seorang teman yang sudah lama tinggal di Jakarta untuk melihat objek wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dia menjawab belum pernah masuk TMII.
Atau ketika seorang pejabat tinggi Malaysia datang ke Padang untuk pertama kalinya ingin melihat Teluk Bayur, ketika itu saya berpikir apa yang ingin dilihat di Teluk Bayur? Jawabannya sederhana, tempat ini famous gara-gara lagu Ernie Djohan[3]. Jadi ia ingin melihat sendiri cerita lagu itu secara langsung. Begitulah, kita seringkali baru memberi perhatian ketika orang luar daerah kita memperhatikannya.
Kali ini saya juga terpancing menulis Malin Kundang, karena panitia Dialog Teluk Brunei ke VIII (sekaligus merayakan hari ulang tahun Asterawani -Angkatan Sasterawan dan Sasterawani Brunei yang ke 50) meminta saya menulis tentang Malin Kundang “si pendurhaka” itu dalam perspektif ekonomi, budaya  dan kelautan. Saya terpaksa membuka referensi tentang Malin Kundang, setumpuk saya dapatkan segala hal yang berhubungan objek kajian saya. Saya beruntung mendapatkannya dari Eva Krisna, Peneliti Balai Bahasa Padang yang memumpun perhatiannya pada pengkajian sastra Minangkabau .
* * *
Minangkabau adalah nama suku bangsa dan kawasan budaya yang berada di bagian tengah Pulau Sumatera. Masyarakat Minangkabau menyebut diri mereka Urang Minang (Orang Minang), kebudayaannya Adat Minang, dan tempat tinggalnya Ranah Minang. Minangkabau sering pula disebut Sumarak Alam Minangkabau (Kesatuan Wilayah Minangkabau) yang terdiri atas daerah darek[4] dan daerah rantau[5].
Darek atau darat adalah sebutan untuk kawasan yang berada di sekitar tiga gunung utama, yaitu: Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Sago. Tiga daerah darek dikenal pula dengan nama Luhak Nan Tigo, yaitu: Luhak Tanah Data, Luhak Agam, dan Luak Limo Puluah Koto. Darek dianggap daerah asal atau daerah inti Minangkabau, sedangkan rantau adalah wilayah perluasan dari daerah darek.
Jika darek merupakan kesatuan tiga wilayah inti, rantau memiliki dua wilayah perluasan yang terdiri atas rantau barat dan rantau timur. Rantau barat adalah kawasan di sepanjang pantai barat Samudra Indonesia, sedangkan rantau timur adalah kawasan di sepanjang aliran sungai-sungai besar, seperti: Sungai Rokan, Siak, Indragiri, dan Batanghari. Dengan demikian, Sumarak Alam Minangkabau meliputi seluruh wilayah administrasi Provinsi Sumatra Barat sekarang; di selatan sampai ke sebagian wilayah Provinsi Bengkulu, di utara sampai ke sebagian wilayah Provinsi Sumatra Utara, serta di timur sampai ke sebagian wilayah Provinsi Riau dan sebagian wilayah Provinsi Jambi.
Bentuk-bentuk kebudayaan di darek dan rantau memperlihatkan kekhasan  masing-masing. Kebudayaan di darek cenderung lebih tertutup dibandingkan dengan kebudayaan di rantau. Hal itu disebabkan antara lain oleh letak geografis darek yang berada di daerah pegunungan sehingga relatif kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sebaliknya, kebudayaan di rantau bersifat lebih terbuka dan dinamis karena berada di jalur transportasi laut dan sungai.
Salah satu perbedaan bentuk budaya pada kedua wilayah “Sumarak Alam Minangkabau” dapat dicermati melalui karya sastra tradisionalnya. Bila sastra tradisional darek berkisah tentang keindahan alam dan adat-istiadat yang tertata rapi; sastra tradisional rantau bercerita tentang beragam pengalaman dan masalah sosial budaya di daerah pelabuhan, baik pelabuhan sungai atau pun pelabuhan laut.
Di Minangkabau, cerita rakyat dibagi menjadi dua, yaitu curito dan kaba. Menurut Djamaris (2002:68 & 77-78), curito (cerita) merupakan kisah pendek, sederhana, bahasanya merupakan bahasa prosa biasa, dan biasanya dituturkan oleh nenek, ibu, atau perempuan-perempuan yang dituakan yang memiliki kemampuan bacurito (bercerita); sedangkan kaba adalah kisah panjang, isinya hampir sama dengan hikayat/novel, disampaikan dalam bentuk prosa berirama, dan dipertunjukkan oleh penutur profesional. Dari perbedaan antara kaba dan curito, Malin Kundang termasuk ke dalam jenis curito sehingga idealnya ia disebut Curito Malin Kundang (Krisna, 2011).
Beranjak dari ulasan Eva tadi menggambarkan bahwa Curito Malin Kundang adalah karya sastra tradisional Minangkabau yang sangat jelas memperlihatkan kekhasan budaya rantau. Karya sastra tersebut merupakan genre prosa yang bercerita tentang budaya bahari, seperti: pelayaran, hubungan dengan masyarakat luar, dan upaya memperkokoh jati diri (Krisna, 2009: 1-2). Sesungguhnya cerita Malin Kundang adalah curito yang disampaikan secara pendek dari mulut ke mulut yang tidak pernah diketahui asal usulnya. Siapakah si petutur awal? Sampai saat ini belum ada hasil kajian yang membuktikannya.
Saya teringat ketika masih kanak-kanak, One (nenek) saya selalu memarahai kami cucu-cucunya sebagai anak yang durhaka apabila kami tidak patuh pada orang tua. Sambil menceritakan kisah si Malin Kundang, ia bertutur sambil memberi pengajaran bagaimana seorang anak mesti bersikap hormat dan santun pada orang tua. Tidak boleh berkata kasar kepada kedua orang tua.
Sekarang, setelah 40 tahun kemudian saya mulai mengulang atau mengarang cerita Malin Kundang dengan versi apa yang ada di kepala saya. Semua orang pun saya kira bercerita dengan versi dan pengalaman masa kanak-kanaknya.
Alkisah, di pantai Aie Manih, di Kecamatan Padang Selatan hiduplah seorang ibu yang sangat miskin bersama anak lelakinya. Suaminya telah lama tidak lagi hidup bersamanya. Dikabarkan suaminya pergi merantau dan tidak pernah kembali. Sebagai orang tua tunggal, ibu Malin sungguh berjuang sendiri. Ia hidup dari mengumpulkan serakan-serakan ikan yang didapat nelayan yang melaut. Kadang-kadang Malin kecil juga ikut mengumpulkan ikan. Pada suatu ketika tangan Malin tersangkut di biduk nelayan yang sedang bersandar di pantai. Ia tak menyadari ada kayu tajam di situ. Lukanya cukup dalam sehingga membekas di tangan kanannya. Namun Malin tetap tabah meski Ibunya sangat sedih melihatnya.
Kesulitan hidup yang hanya bisa memenuhi kebutuhan makan saja membuat Malin kecil mulai mempertanyakan dirinya. Ia kasihan melihat Ibunya yang bekerja keras. Ia bercita-cita menjadi orang besar. Karena itu dalam usia yang masih sangat muda Malin pergi merantau. Dalam adat Minang, merantau adalah sebuah hal yang biasa bagi anak lelaki. Bahkan sudah menjadi budaya yang tak terbantahkan.
Ketika mendengar anaknya akan merantau, ibu Malin menangis, ia gamang ditinggalkan anaknya sendirian. Namun Malin meyakinkan bahwa kepergiannya adalah untuk masa depan mereka berdua. Bahwa dengan merantaulah nasib mereka akan berubah.
Akhirnya dengan hati duka, Malin dilepas ibunya dengan doa dan penuh air mata. Ia tetap berharap bisa berjumpa kembali dengan anak tercinta suatu hari nanti. Malin berangkat merantau dengan percaya diri meski hanya dengan bekal seadanya.
Nasib sungguh berpihak kepada Malin, ia bekerja pada seorang saudagar kaya. Sejak kecil Malin memang terkenal ulet, gigih dan cerdas bekerja. Jadi tidak salah kalau ia cepat mendapat kepercayaan. Sampai akhirnya bertahun bekerja dengan seorang saudagar kaya raya itu, Malin dijodohkan dengan anaknya. Ia lalu menyerahkan semua usaha dagangnya kepada Malin karena sudah merasa tua. Malin mulai mengelola bisnis dari pulau ke pulau, mengarungi lautan dan singgah di dermaga-dermaga untuk menurunkan dan menaikkan barang dagangannya.
Beberapa tahun kemudian Malin teringat dengan kampung halamannya. Dengan penuh kerinduan ia membawa isterinya ke kampungnya. Isi kapalnya dipenuhinya dengan semua barang dagangan termasuk perhiasan. Anak buah kapal dan pengawalnya sudah mempersiapkan seluruhnya. Berita Malin menyandarkan kapalnya di dermaga Aie Manih terdengar oleh Ibu Malin. Penuh harap ia menunggu di dermaga. Ia tak peduli dengan baju lusuhnya yang nyaris compang-camping. Wajahnya yang sudah penuh keriput dan tubuh yang sudah ringkih sungguh membuat Ibu Malin seperti pengemis busuk.
Malin dengan gagah membimbing istrinya menuruni kapal diiringi para pengawal. Ibu Malin langsung dengan penuh haru mengejar Malin. Malin  terkejut melihat perempuan tua itu. Ia tak siap dan tak menyangka ibunya sudah seringkih itu. Istrinya pun tak kalah terkejut. Malin tiba-tiba merasa malu melihat reaksi istrinya. Ia menarik tangan istrinya dan memerintahkan pengawalnya untuk mengusir perempuan tua itu.
“Malin aku Ibumu, mengapa kau tak mau melihat padaku?” Malin tetap semakin menjauh. Ketika melintasi perempuan tua itu, tanpa sengaja tangan kanannya terlihat oleh sang ibu. Bekas luka memanjang masih tampak jelas di tangan kanannya. Tanpa pikir panjang sang ibu melompat dan memeluk anaknya.
“Malin… Malin… anakku, kau anakku…!”
“Enyah kau, wahai perempuan kotor!” hardik Malin dengan marah dan rasa malu di hadapan istri dan anak buahnya. Lalu bergegas mereka naik kembali ke atas kapal.
Ibu Malin Kundang sangat terkejut dengan reaksi Malin anaknya. Air matanya jatuh menitik, dadanya terasa sesak menahan amarah. Akhirnya dengan hati yang sangat luka melepas kapal yang bergerak menjauh, ibu Malin bergumam:
“Ya Allah, jika benar dia anakku, sungguh dia anak durhaka yang melupakan ibu yang telah melahirkannya, ya Allah atas izinMu kukutuk anakku menjadi batu!” .
Tak berapa lama kemudian hujan besar turun diiringi suara guntur, petir dan badai yang sangat keras. Kapal Malin Kundang terombang ambing. Isi kapal terlempar keluar. Kapalnya berantakan, beberapa potongannya pun terdampar di pantai Aie Manih termasuk Malin Kundang yang sedikit demi sedikit tubuhnya mulai kaku. Malin tersadar dan bersujud meminta ampun, namun tubuhnya semakin kaku, dan akhirnya Malin Kundang berubah menjadi batu.
Demikianlah. Kisah, legenda atau curito Malin Kundang memang sungguh menjadi sangat terkenal di Asia Tenggara. Bahkan di beberapa Negara dan daerah di Indonesia kisah Malin Kundang sering diceritakan dengan berbagai versi dalam rangka mengajarkan anak untuk tidak durhaka kepada orang tua. Bahwa melawan orang tua itu akan kualat, hidup tak akan selamat. Bahkan dalam agama Islam dikatakan, “Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS. Al-Isra, Surah ke 17 ayat 23).
Dari kisah di atas tampak ada beberapa pesan moral yang menjadi nilai acuan bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa, bahwa cerita Malin Kundang adalah memang cerita tentang anak yang durhaka kepada ibunya. Karena malu pada istrinya yang orang kaya, malu pada anak buah kapal, malu pada pengawalnya yang sudah terlanjur tahu bahwa Malin Kundang adalah orang kaya, maka ketika ia berjumpa dengan ibunya yang sudah sangat renta dengan baju compang-camping ada rasa malu pada dirinya. Ia lalu tak mengakui ibu kandungnya sendiri. Atas sebuah perbuatan selalu ada karma, dan karma sudah diperoleh Malin dalam waktu yang tidak begitu lama. Jika Allah berkehendak, Allah langsung memperlihatkannya di dunia. Cerita Malin tetap akan diceritakan para orang tua dengan versi tradisional dan standart secara turun temurun kepada anak-anaknya.
Selain cerita pendurhaka, nilai moral yang disampaikan oleh si petutur tradisi pada dasarnya ingin menggambarkan seorang ibu yang bertanggung jawab kepada anaknya. Tetap bekerja menafkahi anaknya walau dengan suasana kemiskinan. Ia setia menetap di pantai Aie Manih berjuang dengan menjual ikan. Hal ini menunjukkan juga bahwa sebagai perempuan yang berjuang sendiri (single parent) ibu Malin tetap menunjukkan  ketegarannya, bekerja dan berjuang sendiri sepanjang hidupnya demi menunggu anaknya yang pergi merantau.
Gambaran sosial budaya masyarakat Minang yang  membiasakan pemuda bahkan masih remaja untuk pergi merantau terlihat dalam pepatah/pantun adat Minang:

Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah paguno balun.[6]
Karena pemahaman yang tinggi terhadap adat Minangkabau akhirnya Ibunda Malin melepas Malin pergi merantau. Berlayar menyeberangi lautan yang  bergelombang. Padang yang terletak di hadapan Samudera Hindia pun sudah terbiasa menanamkan nilai menelusuri laut dan gelombang untuk mendapatkan hasil sebagaimana pantun dibawah ini:
Barakik-rakik ka hulu
Baranang  ranang kamudian
Basakik-sakik dahulu
Basanang-sanang kamudian.[7]
Meski berat mengarungi lautan yang ganas tapi itu diyakini sebagai sebuah usaha, sebuah perjuangan berat yang kelak akan mendapatkan hasil yang menyenangkan. Hanya saja kemudian Malin menyia-nyiakan kenikmatan yang diperolehnya kemudian. Nilai-nilai moral yang diajarkan ibu dan agamanya sudah mulai dilupakannya.
Cerita Malin Kundang yang sarat nilai-nilai moral terus berkembang dalam berbagai versi di beberapa daerah lain seperti Payakumbuh, bahkan sampai ke Thailand Selatan, tentu saja dengan versi yang berbeda.
Beberapa waktu lalu Rumah Budaya Fadli Zon[8] mencoba berkolaborasi dengan pewayang terkenal Tinur Purbaya, mengemas Malin Kundang ke dalam wayang Golek Minang[9]. Dalam wayang golek Minang semua cerita, pakaian, pelakon, musik dan wayang yang ditampilkan bernuansa Minang. Ada talempong dan saluang menggantikan gamelan. Untuk pertama kalinya, wayang golek Minang menampilkan cerita Malin Kundang yang sudah sangat dikenal luas. Hal ini membuktikan bahwa Malin Kundang tetap menjadi cerita yang diminati dan menjadi acuan dalam menanamkan nilai tradisi yang sarat nilai-nilai hidup universal. Seorang anak harus berbakti pada ibu yang telah melahirkan dan merawat, jangan sombong, jangan takabur, dan durhaka. Lebih jauh nilai yang ingin disampaikan agar orang Minang yang merantau tetap mengingat kampung halamannya termasuk intelektual yang merantau tidak menjadi intelektual Malin Kundang yang lupa diri dan identitas lokalnya.
Beragam versi kemudian yang muncul dari para pengarang berikutnya tetap memberi makna tersendiri. Misalnya Sapardi, dalam Umar Yunus: Malin Kundang memilih dikutuk menjadi batu adalah bentuk suatu ketenteraman, untuk kenyamananya atas rasa sesal yang ada. Tetapi, ia menyesal mengapa orang lain masih memahat batunya sebagai monumen namanya dan tetap mengutuknya, paling tidak dalam cerita itu. Mengapa dia tidak dibiarkan diam membatu. Sapardi memindahkan fokus dari Malin Kundang kepada batu Malin Kundang. Ini dinyatakannya tradisi merantau menyebabkan Malin Kundang menjadi beban budaya kepada mereka. Mereka atau kita semua adalah calon Malin Kundang. Oleh karena itu, selain mengakui adanya Malin Kundang yang menjadi batu, mereka juga tidak lupa menyatakan mereka bukan Malin Kundang. Mereka lain dari Malin Kundang. Semua persepsi ini ditemui juga dalam puisi Syahril Latif (1978) dan drama Wisran Hadi (1978).
Dekonstruksi dan lari dari pakem cerita tradisi ini menurut Umar Yunus pada dasarnya hanya untuk mencari perhatian dalam pertunjukan seperti yang dibuat Wisran Hadi maupun A.A Navis. Walaupun Malin Kundang tetap durhaka, tetapi dia menjadi batu bukanlah karena dikutuk ibunya. Ibunya mengasihi Malin Kundang. Namun, mitos Malin Kundang tetap utuh.
Biar bagaimana pun, cerita tentang Malin Kundang dengan berbagai versi tetap saja nilai-nilai tradisional dan universal yang menjadi intisari cerita akan menjadi acuan. Baik dalam pementasan drama, teater, pembacaan sajak, maupun sastra lisan yang berulang disampaikan.
Visualisasi Batu Malin Kundang dan Dampak Pariwisata 

Pantai  Aie Manih tempat bersujudnya Malin Kundang yang membatu terletak 15 km dari pusat kota Padang, berada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Batu Malin Kundang menjadikan pantai ini sebagai salah satu objek wisata  andalan kota Padang. Sekitar 500 meter dari lokasi batu Malin Kundang, pengunjung dapat menikmati perjalanan ke Pulau Pisang Kecil di seberang pantai yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki jika air laut dalam keadaan surut. Jika air pasang, sejumlah masyarakat di daerah itu menyewakan perahu kecilnya untuk menyeberang. Di Pulau Pisang Kecil, pengunjung bisa duduk-duduk di pondok-pondok yang terdapat di sana sambil menikmati pemandangan laut dan pantai.
Setiap pengunjung yang datang ke Padang kawasan batu Malin Kundang menjadi tempat favorit yang tak boleh ditinggalkan. Mereka berakting dan mengambil gambar dengan latar belakang batu Malin Kundang. Keindahan ombak yang membawa buih putih pantai serta pemandangan laut yang indah membuat Pantai Air Manis menjadi sempurna bagi masyarakat Sumatra Barat maupun wisatawan yang datang ke objek wisata itu.
 Batu Malin Kundang bisa jadi menjadi inspirasi oleh sastrawan lisan zaman dulu untuk mengarang cerita tentang malin Kundang. Karena adanya batu yang seolah terdampar menyerupai kapal yang menginspirasi curito Malin Kundang. Sebahagian meyakini seperti itu, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Batu Malin Kundang muncul setelah curito Malin Kundang menjadi legenda. Yang jelas pemerintah kota Padang, puluhan tahun lalu membuat atau memperjelas Batu Malin Kundang dan kapalnya terdampar berdasar curito rakyat tersebut. Malin Kundang sudah terpahat di pantai Aie Manih sebagai batu dan dikenal sebagai anak yang durhaka. Meski Wisran Hadi mencoba membalikkan Malin Kundang bukanlah si pendurhaka namun mitos Malin Kundang dalam cerita tradisinya tetap sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan dari awal oleh nenek, ayah, ibu maupun orang tuo-tuo dulu. Semangat dan nilai-nilai yang diajarkan dan diwariskan pada generasi selanjutnya tetap up to date.
Batu Malin Kundang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Mereka jauh-jauh mendatangi batu Malin Kundang hanya ingin membuktikan keberadaan batu yang sangat popular itu. Bahkan ada wisatawan yang datang dengan penuh kebencian menginjak-injak batu Malin Kundang sambil menyumpah menyetujui Malin menjadi batu. Keramaian wisatawan yang datang ke Batu Aie Manih telah memberikan efek multiplier terhadap pertumbuhan ekonomi kota Padang. Kesejahteraan masyarakat sekitar tanpa kita sadari sudah memberikan keuntungan tersendiri. Misalnya dari parkir kendaraan, penjualan souvenir khas setempat, pembuatan foto-foto lokasi termasuk tempat makan minum yang terdapat disepanjang pantai Aie Manih. Hasil olahan laut pun menjadi karya seni penduduk setempat mulai dari kerang hingga bunga karang pun dirangkai menjadi accesories hingga hiasan meja dengan harga yang cukup murah.
Menurut data Pariwisata kota Padang setiap tahun angka kunjungan wisatawan selalu meningkat dari bulan ke bulan. Angka pertumbuhan ekonomi yang memberikan efek multiplier pun sudah membangun citra sebagai objek wisata yang layak dikunjungi. Bakan ada pemeo bila ke Padang tak mengunjungi Aie Manih tidak memberikan keyakinan bahwa kita sudah ke Padang. Sekalipun datang hanya untuk berfoto-foto sekejap saja. Atau hanya melihat dan duduk di pinggir pantai saja memandang ke laut lepas.
Jika cerita Malin Kundang berkembang dari mulut ke mulut sebagai cerita legenda maka objek wisata Batu Malin Kundang ini justru dipromosikan dalam berbagai media cetak, media elektronik, website, leaflet dan bahkan lewat pementasan-pementasan termasuk juga tetap menggunakan promosi efektif dari mulut ke mulut bagi mereka yang sudah kembali dari Aie Manih. Lalu Malin Kundang si pendurhaka pun bisa memberi manfaat bagi kita semua? Ini juga memperlihatkan idiom Minang bahwa sesungguhnya tak ada yang tak bermanfaat di dunia ini:
Nan  buto pahambuih lasuang
Nan pakak panembak badia
Nan lumpuah pahalau ayam.[10]
Seburuk apa pun peristiwa yang terjadi, tentu selalu ada hikmah dibaliknya. Demikianlah Tuhan menciptakan alam ini dengan segala isinya; untuk dipetik pelajaran bagi umat manusia yang menghuninya. Intinya tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini. Begitu pun legenda Malin Kundang yang menjadi cerita yang tak lekang oleh waktu, akan terus menjadi pelajaran bagi generasi muda agar mereka tidak durhaka kepada kedua orang tua dan tetap mengingat asal muasal dirinya (kampung halaman). Bak kata pepatah, sejauh-jauh terbang bangau jatuhnya ke kubangan jua. Wallahu a’lam. []
Kepustakaan:
  1. Krisna, Eva. 2009. Kaba Gombang Patuanan: Sastra Lisan Minangkabau di Pesisir Selatan Sumatra Barat. Disertasi S-3. Denpasar: Program Doktor Universitas Udayana.
  2. Krisna, Eva. 2011. Peran Sastra Rakyat dalam Pembentukan Karakter Anak. Makalah pada Seminar Nasional HIMA Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumbar di Padang.
  3. Hamdanputera, Nenni. Tt. Si Malin Kundang: Cerita Rakyat dari Sumatra Barat. Seri Cerita Rakyat Nusantara. Bandung: Citra Budaya.
  4. Udin, Syamsuddin. 1993. Rebab Pesisir Selatan: Malin Kundang. Seri Tradisi Lisan Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  5. Junus, Umar. 2001. Malin Kundang dan Dunia Kini dalam Jurnal Sari, vol. 13, hal. 69-83. Kuala Lumpur: University Kebangsaan Malaysia Press.


[1] Disampaikan pada Dialog Teluk Brunei ke VIII Tahun 1433/2012 bersamaan dengan 50 Tahun Asterawani Brunei, tanggal 9-11 Juli di Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam.

[2] Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, Akt., M.Si., Aktivis, Novelis.

[3] Ernie Djohan, lahir 6 April 1951 adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia anak dari keluarga diplomat M. Djohan Bakhaharudin yang pernah bermukim di Den Haag, Belanda dan Singapura. Pada usia 11 tahun ia sudah bernyanyi untuk Radio Talentime 1962 di Singapura. Pada tahun itu juga Ernie Djohan menjadi juara pertama All Singapore's School Talentime. Rekaman pertama di Singapura pada tahun 1962 dilakukan di Phillips Recording Company. Salah satu lagu yang sangat di kenang sepanjang masa di era tahun 1970-an adalah Teluk Bayur.
[4] Darek apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi darat, tetapi artinya tidak sama lagi, karena darek hanya khusus untuk menyebutkan daerah inti Minangkabau saja, dan tidak semua daratan yang menjadi daerah Minangkabau. Darat mempunyai arti yang lebih luas dari darek.

[5] Menurut kamus umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W. J. S. Poerwadarminta, arti dari pada rantau banyak sekali. Rantau mempunyai pengertian pantai sepanjang teluk (sungai), pesisir, daerah diluar negerinya sendiri, negeri asing tangah (negeri) tempat mencari penghidupan. Pengertian yang diambil terhadap rantau ini adalah tanah (negeri) tempat mencari penghidupan. Di tempat ini muncul nagari-nagari yang didiami oleh orang-orang yang datang dari Luhak Nan Tigo.
[6] Karatau adalah nama sejenis kayu (meranti) di hutan yang biasa dipotong untuk kayu bangunan. Kayu merantih itu dalam bahasa Minang dinamakan kayu madang. Dalam pantun ini dikatakan bahwa kayu karatau tersebut belum lagi berbunga, belum pula berbuah, dan tumbuhnya dibahagian hulu, atau disebelah udik (hulu) sungai. Orang Minang memang terkenal sebagai orang yang perantau, terutama kaum prianya. Anak laki-laki Minang sudah dilatih berpisah dengan orang tuanya semenjak kecil. Dari umur 7-10 tahun anak laki-laki disuruh mengaji (belajar membaca Al-Qur’an) di surau atau masjid setelah makan malam, selanjutnya tidur di surau itu. Setelah anak itu mulai meningkat dewasa, sudah masanya untuk membangun rumah tangga, namun belum akan dicarikan isteri, selagi dia masih belum punya mata pencaharian tetap. Dalam status belum boleh kawin itu, dalam pantun ini disebut dengan istilah: belum berguna. Karena di kampung dia belum berguna (paguno balun), maka dia pergi merantau dulu. Jadi pergi merantau itu pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan statusnya dari orang yang belum berguna menjadi orang yang berguna dan sudah bisa berumah tangga.

[7] Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
[8] Rumah Budaya dibangun oleh politisi dan pengusaha muda asal Minang Fadli Zon di Nagari Aie Angek, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Rumah Budaya ini berhadapan dengan Rumah Puisi yang dibangun Penyair Indonesia Taufiq Ismail. Rumah Budaya ditujukan sebagai museum mini yang menyimpan sejumlah koleksi budaya Ranah Minang masa lalu.

[9] Wayang golek Minang digagas oleh politisi, pengusaha muda yang juga budayawan, Fadli Zon.
[10] Artinya; Yang buta penumbuk lesung, yang tuli melepas tembakan, yang lumpuh mengusir ayam. Filosofi ini menunjukkan bahwa apapun yang ada di dunia ini memiliki manfaat walau sekecil apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar