Jumat, 27 Juni 2014

MEMBACA SEPAK TERJANG CIA DI INDONESIA: Menunggu Surat Balasan Ford

OLEH Devy Kurnia Alamsyah
Pemerhati Sejarah
Surat bernada kecaman itu dikirim dari Paris, Prancis, tertanggal 24 Juli 1975 yang tergeletak di sebuah meja utama di Gedung Putih. Pengirimnya adalah seorang janda kelahiran Tokyo yang bernama asli Naoko Nemoto kemudian setelah menikah berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi Soekarno.
Dalam suratnya, ia menggugat pemerintah Amerika dan menuntut konfirmasi mengenai keterlibatan Amerika (terutama CIA) dalam perang saudara di tahun 1958 dan genosida di tahun 1965 di Indonesia yang kemudian menggulingkan suaminya dari kursi kepresidenan dan meninggal dalam tahanan rumah lima tahun sebelumnya. Tak hanya itu ia juga menuntut pembebasan ribuan tahanan politik, yang dipenjarakan rejim Orde Baru, yang sebagian besarnya adalah pendukung Sukarno. Madame Syuga yang meminta keterbukaan informasi mengenai kejahatan kemanusiaan yang lima kali lipat lebih besar dari kejahatan perang di Vietnam ini mesti menunggu surat balasan dari Presiden Ford—pemimpin Amerika yang berkuasa saat itu.
‘Pemberontakan’ pada tahun 1958 yang terjadi di beberapa daerah NKRI sebenarnya tak begitu populer di Amerika, tetapi jika melihat dari besarnya operasi militer yang dilakukan Amerika semestinya layak untuk ditinjau ulang. Sebagai contoh, invasi militer Amerika di Teluk Babi Kuba hanya melibatkan 1.500 pelarian Kuba yang dilatih di daerah Guatemala dan ini termasuk operasi kecil. Sementara di Indonesia setidaknya melibatkan sekitar 42.000 pasukan bersenjata yang dilatih secara khusus oleh CIA di beberapa negara seperti Filipina, Okinawa, Taiwan dan Singapura. Mereka yang tak menyenangi kebijakan Sukarno yang mulai mendekat ke kubu komunis kemudian direkrut dan dipersenjatai.
Operasi ini dikelola langsung oleh Frank Wisner sebagai seorang petinggi CIA yang menangani segala macam urusan klandestin dan ia melakukan itu di kantor cabang CIA di Singapura yang berafiliasi langsung kepada Komite 5412 yang dikepalai oleh Richard Nixon. Operasi rahasia ini kemudian dikenal dengan nama Operation Haik. Operasi ini merupakan operasi langsung dalam arti melibatkan petinggi-petinggi Amerika, mulai dari Allan Dulles sebagai pimpinan CIA, saudaranya John Foster Dulles sebagai Sekretaris Negara, Richard Nixon sebagai Wakil Presiden dan kemudian bertanggung jawab penuh kepada Presiden Eisenhower. Keempat nama ini kemudian dikenal dengan sebutan “Special Group 5412/12”. Ini berarti tak ada yang terjadi di Indonesia yang tak dilaporkan atau sampai ke meja mereka. Sayangnya, seperti Invasi Kuba, operasi ini juga mengalami kegagalan. Sukarno berhasil mengalahkan para pemberontak.
Sukarno yang merasa dikhianati, luar dalam, tentu menjadi geram mengingat beberapa tahun sebelumnya ia sempat bertemu muka dengan Presiden Eisenhower di Amerika. Sukarno pun memiliki kekesalan mendalam ketika bertemu dengan Eisenhower. Ketika memenuhi undangan, ia tak dijemput oleh Eisenhower di bandara dan setelah itu ia harus menunggu Eisenhower berjam-jam.
Dengan marah, ia meminta protokol membatalkan pertemuan. Walaupun kemudian Eisenhower menemuinya, Sukarno sudah benar-benar merasa dilecehkan saat itu. Situasi ini berubah ketika Sukarno kembali ke Amerika atas undangan Presiden Kennedy. Sukarno yang merasakan persahabatan berbeda bahkan mengundang Kennedy datang ke Indonesia sebagai tamu resmi negara dan membuatkan guest house khusus untuknya di Istana Bogor. Namun Kennedy tak pernah menginjakkan kakinya di sana, ia tewas ditembak dalam sebuah jalinan konspirasi berkenaan dengan kebijakan luar negeri yang ia tempuh, termasuk di dalamnya hubungan antara kapitalis Rockefeller dan Freeport. Hingga kini kematian Kennedy masih menyita tanda tanya.
Dari dalam, Sukarno kecewa terhadap beberapa daerah yang melakukan separasi terhadap negara yang ia proklamasikan kemerdekaannya. Kebijakannya Nasakom-nya tak begitu diterima oleh beberapa kalangan, terutama militer dan agama. Belum lagi ketika ia mengetahui bahwa ada sekitar 100.000 pemberontak yang dikelola oleh CIA untuk menjatuhkannya, namun selalu dibantah oleh Howard P. Jones selaku dutabesar Amerika untuk Indonesia. Bahkan Dulles pun berusaha meyakinkan dunia bahwa CIA tak terlibat dalam hal ini. Sukarno tak mudah untuk percaya.
Sejak awal ia sudah curiga mengenai asal usul senjata berat yang sedemikian banyak, termasuk pesawat penembak B-26 dan kapal selam, bisa dimiliki pemberontak dalam waktu singkat. Situasi ini berbalik ketika Allan Lawrence Pope, pilot B-26 kebangsaan Amerika yang memuntahkan peluru kaliber .50 miliknya, ini tertangkap tangan di perairan Nusantara. Sukarno akhirnya memiliki kartu As-nya dalam membuktikan keterlibatan Amerika. Eisenhower yang menginginkan pilotnya itu bebas akhirnya mesti bertekuk lutut pada Sukarno. Akhir 1958 pesawat tempur B-26 itu kemudian kembali ke Amerika namun tiga tahun kemudian kembali dipakai dalam invasi militer di Kuba melawan Fidel Castro.
Jika Sukarno berhasil memadamkan pemberontakan di tahun 1958 maka di tahun 1965 ia sudah tak lagi memiliki daya upaya untuk mencegah pembunuhan massal. Pembunuhan para petinggi ABRI--yang dulu pernah dikirim Sukarno untuk menumpas pemberontakan 1958—dalam satu malam di awal Oktober 1965 yang diduga dilakukan oleh simpatisan Partai Komunis Indonesia menjadi awal dari peristiwa kelam bangsa ini. Entah siapa yang menghianati siapa, begitu kabur hingga saat ini. Namun setelah peristiwa itu, satu persatu kekuasaan Sukarno kemudian dipelucuti sehingga ia tak lagi memiliki taring. Ia dituduh memiliki keterkaitan dengan peristiwa ini mengingat keterlibatan Cakrabirawa dalam penculikan para jenderal. Sukarno ditahananrumahkan oleh Suharto. Perlakuan buruk diberlakukan kepadanya. Ketika sakit keras ia hanya dikasih dokter hewan dan resepnya tak ditebus. Sukarno, Sang Proklamator, meninggal dengan kondisi mengenaskan. Sebuah ironi bagi orang yang sudah berbuat banyak untuk bangsanya.
Ribuan pendukung Sukarno lalu ditahan atau dituduh PKI yang dapat berakhir dengan penembakan tanpa proses peradilan. Bahkan CIA-lah yang memberikan daftar siapa-siapa saja yang harus dimusnahkan. Amerika membiarkan genosida terbesar yang pernah terjadi sejauh sejarah mampu mencatat di Indonesia. Konon jumlahnya berkisar antara 250.000 hingga 1.000.000 nyawa yang melayang selama kurang lebih empat bulan sebagai aksi pembersihan komunisme. Komunisme hingga kini menjadi hantu yang menakutkan tapi tidak dengan aksi pembalasannya. Skenario penghancuran Sukarno kembali tertuju kepada CIA, namun sepertinya aktor-aktor di belakangnya terlanjur berimprovisasi sehingga dampaknya menjadi sedemikian besarnya.
Sepertinya, balasan ini yang diinginkan oleh Dewi Sukarno untuk dibalas oleh Presiden Ford. Namun hingga kini, surat itu hanya menjadi arsip kenegaraan belaka. Presiden Ford tak pernah membalasnya (atau membacanya?), pun presiden-presiden sesudahnya. Dewi tak pernah diberitahu jawabannya. Namun seperti frasa latin “is fecit cui prodest” yang berarti pelaku kejahatan adalah mereka yang diuntungkan dari kejahatan itu sendiri, maka Amerikalah yang paling banyak mengeruk kepuntungan pasca lengsernya Sukarno. Tak terbilang banyaknya berapa sumber daya alam Nusantara yang terkuras mulai dari Sabang hingga Merauke yang sebagian besar hasilnya dinikmati bangsa Amerika—bukan Indonesia—sesuatu yang tak diinginkan Sukarno sejak lama. Indonesia adalah ladang empuk bagi Amerika dan perusahaan-perusahaan multinasional yang mereka lindungi kepentingannya.
Baru pada tahun 1998, pemerintah Amerika mulai mendeklasifikasikan keterlibatan pemerintahan sebelumnya dalam setiap even politik di Tanah Air. Didapat kemudian bagaimana sejak 1955, Washington telah mengeluarkan kebijakan NSC 5518 untuk menumbangkan Sukarno yang sudah terlalu mendekat ke poros kiri—sesuatu yang tak diinginkan pemerintah Amerika mana pun. Hingga hari ini, Amerika selalu berada di balik setiap proses demokrasi bangsa—demi menjaga kepentingan kapital mereka melalui pemimpin-pemimpin boneka yang mereka ciptakan. Apa yang diimpikan Sukarno telah musnah adanya. 
 Padang, 30 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar