Jumat, 11 Juli 2014

Mmbangun Jejaring dan Sistem Penelitian di Perguruan Tinggi

OLEH Edison Munaf
Guru Besar Universitas Andalas 

Manusia tidak dirancang untuk gagal dalam meneliti, tapi manusialah yang sering gagal dalam merancang penelitian. -Edison Munaf
Tulisan ini dikompilasi dari beberapa bacaan, pengalaman penulis melakukan penelitian dan penulisan artikel selama hampir 25 tahun, diskusi dan kunjungan ke lembaga riset di perguruan tinggi (PT) dan perusahaan di berbagai belahan dunia dan pengalaman sebagai reviewer artikel yang dipublikasi di Elsevier dan sebagai Editorial board pada Asian Journal of Chemistry. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Salah satu tantangan yang dihadapi dalam membangun jejaring dan sistem penelitian di perguruan tinggi adalah persepsi dosen terhadap kegiatan riset yang cenderung keliru. Riset kadang masih dianggap barang mewah, sulit mendapatkan tema yang popular, tidak bisa mendatangkan income tambahan langsung dan sebagainya.
Padahal riset merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari kegiatan keilmuan yang sudah harus diterima sebagia risiko ketika kita ingin mengabdi sebagai dosen. Karena itu pandangan tentang riset pertama sekali harus diubah dari pandangan konvensional yang harus berurutan seperti abjad menjadi kegiatan ilmiah yang harus menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Lemahnya budaya meneliti di Indonesia tidak terlepas dari lemahnya budaya membaca dan menulis, akibatnya mudah ditebak, jarang ada karya ilmiah bergengsi yang menjadi rujukan banyak saintis dunia dilahirkan dari kegiatan penelitian di Indonesia.
Berbeda dengan perguruan tinggi di negera-negara maju seperti di Amerika, Eropa, Jepang dan Australia, para dosen lebih tertarik menjadi akademisi yang sukses secara intelektual dan menjadi kebahagian tersendiri melebihi kebahagiaan apapun ketika karya tulis hasil penelitian mereka dimuat di jurnal-jurnal bergengsi di dunia dan menjadi rujukan para saintis dunia. Jika pun pada akhirnya mereka menjadi pejabat kampus seperti dekan ataupun rektor lebih dianggap sebagai pengabdian dan tidak mau berlama-lama.
Lazimnya, di negara-negara maju tersebut mereka yang menjadi pejabat di kampus (dekan, wakil rektor dan rektor) adalah mereka yang terlebih dahulu sukses sebagai akademisi dan peneliti, sehingga ketika mereka memimpin tahu mana yang harus diperbaiki agar para dosennya bisa menjadi periset-periset andal. Terbalik dengan kondisi di Indonesia, banyak yang duduk di kursi pejabat di kampusnya sering lupa berdiri karena keenakan, apalagi kalau merekapun kurang atau tidak bersinar sebagai periset atau ilmuan.
Kenapa penelitian menjadi prioritas di dunia perguruan tinggi? Sebagai mana sudah umum diketahui, setiap perguruan tinggi mempunyai tugas untuk menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Sehingga penelitian diperlukan karena ilmu berkembang dengan pesat, sehingga penelitian menjadi urgen dan harus terus menerus dilakukan. Penelitian juga menjadi alat untuk memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan, selanjutnya diharapkan bahan ajar yang diberikan oleh para dosen, sebaiknya bersumber dari hasil peneltian yang dilakukan.
Jejaring Penelitan
Prof Kay-Ming dalam kesempatan diskusi di Kemdiknas mengatakan, ada 4 hal yang harus ada dalam setiap perguruan tinggi, yaitu: reputasi internasional, prestasi penelitian, lulusan yang terkemuka dan partisipasi internasional. Namun jika ditelusuri data di website, tidak sampai 20 persen dari dosen di Indonesia yang melakukan penelitian secara serius dan berkesinambungan. Banyak penyebab kenapa tingkat partisipasi para dosen dalam melakukan penelitian masih rendah. Salah satu kritikal poin yang dapat dilihat adalah belum terbangunnya budaya akademik yang kuat di perguruan tinggi. Institusi pendidikan tinggi masih memberikan beban terlalu berat pada proses pengajaran atau transfer ilmu pengetahuan lebih menonjol daripada riset yang dilakukan.
Budaya akademik yang kuat sebagai atmosfir penelitian, dapat dibentuk dengan berbagai tahapan, antara lain, mengembangkan pertemuan pertemuan ilmiah, sebagai media untuk mensosialisasikan hasil-hasil penelitian, ataupun mereviu penelitian yang telah dilakukan, baik yang dirancang oleh program studi atau jurusan, fakultas, universitas atau organisasi profesi. Dalam pertemuan tersebut tentunya penyelenggara tidak hanya sekadar menjadi pelaksana saja, tapi harus ikut berpartisipasi dalam menyampaikan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, baik oleh mahasiswa, dosen ataupun kelompoknya.
Selanjutnya perlu dibangun jejaring penelitan, melalui kemitraan antara perguruan tinggi, dunia usaha dan pemerintah. Masalah dana merupakan masalah klasik yang sudah ada sejak dahulu. Hal ini disebabkan sistem kita yang tidak menyediakan anggaran sampai ke laboratorium atau studio yang memungkinkan para dosen melakukan penelitian. Dalam hal ini dituntut kejelian peneliti untuk semaksimal mungkin menggunakan peralatan, atau dana yang disediakan untuk memulai langkah membangun nuansa akademik perguruan tinggi.
Faktor lain yang harus dipertimbangkan secara maksimal adalah ketersediaan perpustakaan dan infrastruktur pendukung penelitian yang memadai, serta didukung oleh manajemen penelitian yang berkualitas.
Untuk dapat membangun jejaring kemitraan dengan pemerintah atau institusi lainnya, maka yang perlu juga diperhatikan adalah jumlah staf akademik yang aktif melakukan penelitian, terbentuknya tema-tema penelitian yang akan dilakukan secara berkesinambungan. Dari tema tersebut baru dipecah lagi menjadi judul-judul penelitian yang akan dikerjakan, sedapat mungkin melibatkan tidak hanya dosen, tetapi juga mahasiswa S-1, S-2 dan mahasiswa S-3. Mahasiswa yang berkualitas diharapkan menjadi tenaga riset yang andal dan idealis dan diharapkan suatu masa nanti mereka punya semangat meneliti yang hebat.
Saat ini banyak sekali tersedia dana penelitian dari berbagai sumber. Baik dari industri ataupun stake holder lainnya atas dasar komitmen bersama dalam memanfaatkan hasil penelitian baik untuk kepentingan industri maupun untuk kepentingan pendidikan dan penelitian yang berkesinambungan untuk kepentingan masyarakat luas. Untuk mendapatkan dana penelitian biasanya penyandang dana akan sangat selektif menyeleksi proposal penelitian yang masuk. Seringkali peneliti kita cepat frustasi dan merasa gagal ketika penelitian yang akan mereka tidak disetujui untuk didanai.
Di berbagai laboratorium penelitian di perguruan tinggi luar negeri, peneliti biasanya setiap tahun akan mengirimkan sekitar 10 proposal yang berbeda ke lembaga penyandang dana yang berbeda, dan mereka akan sangat bersyukur jika saja ada dua proposal penelitian yang diajukan disetujui, karena berarti kebutuhan dana oleh mahasiswa untuk penelitian akan bisa terkaver oleh dana penelitian yang didapat.
Sementara diperguruan tinggi kita, setiap dosen umumnya hanya mengirimkan 1 atau 2 proposal penelitian kelembaga penyandang dana. Jika sang dosen hanya mengirimkan 1 proposal, lalu gagal dan frustasi tidak akan mengirimkan lagi proposal penelitian apapun, maka orang tersebut layak belajar ke Abraham Lincoln (mantan Presiden Amerika terkenal) yang mengatakan, sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kehilangan semangat.
Melihat kepada pentingnya penelitian di dunia perguruan tinggi, maka kegiatan penelitian tidak boleh diposisikan sebagai kegiatan sambilan di luar jam mengajar, tetapi harus diprioritaskan. Agar konsistensi dalam penelitian dapat berkelanjutan, maka perlu dilakukan inovasi-inovasi baru dalam merancang penelitian, mengelola dana penelitian maupun inovasi dalam memanfatkan hasil penelitian.
Hasil penelitian bagaimanapun caranya harus dimanfaatkan. Pemanfaatan hasil penelitian bisa dilakukan lewat publikasi pada jurnal, paten ataupun langsung diaplikasikan untuk kepentingan masyarakat banyak. Tidak ada gunanya jika hasil penelitian kemudian menumpuk dalam lemari tanpa mendapatkan sentuhan apapun kecuali debu.
Peran Universitas Andalas
Pada saat sekarang Universitas Andalas sebenarnya mempunyai banyak peneliti-peneliti andal yang tersebat di berbagai fakultas, dengan jumlah publikasi internasional yang mumpuni. Namun sayang mereka terbentuk bukan karena sistem yang bagus, tetapi karena kemampuan individu dan keinginan mereka yang kuat untuk meneruskan tradisi meneliti yang mereka dapatkan ketika studi lanjut. Jika saja potensi ini bisa dikelola secara profesional oleh institusi, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi penggerak terciptanya suasana akademik yang bagus di lingkungan Universitas Andalas.

Jika kondisi ini sudah terbentuk, maka akan banyak kerja sama penelitian bisa dilakukan tidak hanya dengan berbagai peneliti Indonesia tetapi juga dengan peneliti negara lain.n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar