Minggu, 24 Agustus 2014

Wartawan Sjahruddin Selundupkan Teks Proklamasi ke Gedung Hiosokyoku

OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie 
Ia melompat pagar Gedung Radio Hosokyoku membawa berita Proklamasi RI agar cepat tersiar. Ia tewas di Singapura sebagai pejuang kemerdekaan. Pantas kepadanya diberikan penghargaan oleh pemerintah dan RRI dan sebagai pejuang kemerdekaan.

Sudah banyak dipaparkan orang tentang riwayat Proklamsi RI, tentang hari-hari bersejarah di awal kemerdekaan, tentang peranan tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, H. Agus Salim, Mr. Achmad Soebardjo, Moh. Yamin, Mononutu, Maramis, dan lain-lain.

Banyak ditulis orang tentang peranan pemuda Soekarni, Chairul Saleh yang dihubungkan dengan Peristiwa Rengasdengklok. Ibu Fatmawati yang menjahit sendiri bendera Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan di Pegangsaan Timur 56, peranan Adam Malik, Latief Hendraningrat yang Chudanco Peta bertindak sebagi penggerek  bendera, dan lain-lain.
Namun amat langka orang mengungkapkan peranan orang-orang kecil lainnya seperti wartawan Pangulu Lubis yang menyelipkan berita Proklamasi itu melalui KB Domei, Frans Mendoer dari Foto IPPOS, wartawan Sjahruddin yang berani meloncat pagar gedung radio Hosokyoku di Jalan Merdeka Barat yang menyelundupkan berita Proklamasi Kemerdekaan RI untuk dapat disiarkan melalui radio. Pada waktu itu, studio radio masih dikuasai Jepang dan wartawannya tidak diundang pada detik-detik yang bersejarah itu. Sudah jelas rekan-rekan yang bekerja di radio Jepang tersebut tidak memperoleh informasi bahwa Bung Karno dan Bung Hatta akan mencanangkan Proklamasi RI pada pagi hari 17 Agustus 1945 tersebut.
Sjahruddin, yang berasal dari Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, berhasil menyelundupkan berita proklamasi tersebut ke Gedung Hosokyoku. Makanya berita proklamasi dapat disiarkan pada jam 7 malam melalui radio Jakarta. Pembaca berita adalah Yusuf Ronodipuro dan terjemahannya dalam bahasa Inggris oleh Suprapto.
Kemudian, Station Call yang bersejarah: ”Di sini Bandung, siaran Radio Republik Indonesia.” Setelah itu bergemalah suara Sakti Alamsyah dari bumi Parahiyangan. Teks proklamasi mengudara. Pada mulanya tampak sebagai peristiwa sederhana di depan Gedung Proklamasi, Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Siaran itu berulang kali dibacakan sampai pukul 10.00 malam oleh Sam Amir.
Pada bulan Januari 1946, ketika semangat kemerdekaan baru beberapa bulan meliputi suasana tanah air, maka wartawan Sjahruddin dari Kantor Berita DOMEI menjadi wartawan Kantor Berita (KB) Antara. Ia diperintahkan oleh Adam Malik berangkat ke Singapura guna merintis jalan untuk membuka KB Antara di luar negeri.
Adam Malik tidak memberi bekal Sjahruddin dengan biaya perjalanan dan biaya untuk tinggal menetap di kota Singapura yang pada zaman pendudukan Jepang berganti nama dengan Shyonanto.
Apa  Akal Sjahruddin?
Dia punya teman namanya Sofyan Muchtar yang lebih muda usianya. Ia berangkat bersama Sofyan meninggalkan Jakarta menuju Palembang untuk bergabung dengan anak buah Dr. A.K Gani, Gubernur Sumatera Selatan. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, orang pergerakan A.K. Gani dikenal sebagai seorang smuggler, penyelundup. Ia menyelundupkan karet ke Singapura dan dari Singapura menyelundupkan senjata untuk para pejuang, para gerilyawan menghadapi Belanda.
Adik Sjahruddin, Nurana Abidin yang kini tinggal di Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatera  Barat, mengatakan, ketika itulah pertama kali Sjahruddin pulang kampung. Ia membonceng bersama Pak Gani yang meninjau keadaan Bukittinggi di Sumatera Tengah. Kemudian Sjahruddin kembali ke Palembang untuk terus ke Singapura bersama Sofyan Muchtar dan kawan-kawannya.
Dari Jakarta, Sjahruddin membawa barang-barang perak buatan Kota Gede Yogya untuk dijual di Singapura. Sejak dari Palembang menumpang kapal yang membawa karet yang baunya amat tengik. Setelah selesai timbang terima karet dengan seorang penadah di Singapura, Sjahruddin berusaha menyiarkan berita proklamasi yang menyatakan Indonesia telah merdeka, lepas dari penjajahan Jepang dan Belanda. Proklamasi kemerdekaan itu telah dibacakan dan dicanangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Orang-orang Melayu di Singapura amatlah gembira mendengar negara tetangganya telah merdeka. Mereka bersimpati dan mendukung tugas-tugas Sjahruddin untuk membuka cabang KB Antara di kota itu. Di samping itu, ia berupaya untuk mencari dukungan politik luar negeri.
Biaya hidup Sjahruddin dari hasil penjualan barang-barang perak Yogya makin menipis. Dr.A.K. Gani tetap mengirimnya uang dari hasil penjualan karet Palembang di Singapura. Jerih payah Sjahruddin berhasil membuka kantor cabang Antara di Singapura bertempat di Raffles Square.
Suatu hari yang naas datang menimpa Sjahruddin. Pada tanggal 16 Agustus 1946, sehari menjelang HUT pertama Proklamasi RI, sebuah granat meledak di tangannya. Ia tewas terkapar di rumah seorang Indonesia yang sudah lama menetap di kota itu. Esoknya tanggal 17 Agustus 1946, dihari kemerdekaan yang keramat, Sjahruddin dimakamkan teman-temannya di kampung Melayu Singapura. Inna Lillahi wa inna illaihi roji’un. Seorang pejuang telah pergi buat selama-lamanya tanpa dapat menikmati hasil perjuangannya.
Menurut keterangan, sejumlah senjata yang sudah terkumpul di tangannya siap untuk dikirimkan kepada Dr. A.K. Gani di Palembang. Mungkin karena Sjahruddin tak tahu caranya, sebuah granat telah meledak ketika sedang diamatinya.
Buku-buku catatan dan bajunya dikirim orang kepada Mr. Soemanang, Ketua PWI Pusat yang pertama pada waktu itu, tapi konon kiriman itu tak sampai ke tangan Mr. Soemanang.
Almarhum wartawan pejuang Sjahruddin lahir di Curup, Sumatera Selatan, putra Yasin gelar Datuk Indo Maradjo, guru kepala Gouvernement di zaman Belanda. Lahir 17 September 1919 dan menamatkan pendidikan pada Taman Dewasa Raya Bukittinggi, setingkat SMA sekarang.
Dalam usia 20 tahun berangkat ke Betawi dan terjun ke dunia wartawan. Mulanya wartawan Bintang Timur, kemudian pindah ke Barita Oemoem, selanjutnya jadi wartawan Kantor Berita Antara yang dipimpin oleh trio wartawan Adam Malik, Soemanang, dan Sipahutar.

Saya mengusulkan sudah selayaknya almarhum Sjahruddin diberi penghargaan oleh pemerintah dan RRI atas jasa-jasanya itu, dan kalau mungkin diangkat sebagai perintis kemerdekaan.*