Minggu, 07 September 2014

Seputar Panggilan Rangkayo di Minangkabau

OLEH Anas Nafis
Rangkayo Rasuna Said
Barangkali ada faedahnya, kalau kita memperbincangkan panggilan Rangkayo, yang biasanya dilekatkan pada kaum perempuan yang sudah bersuami dalam kultur budaya Minangkabau.  
Sebagai contoh, waktu masih gadis ia bernama Jamilah. Setelah bersuami ia dipanggil orang Rangkayo Jamilah. Demikian pula encik Rasuna Said, setelah bersuami disebut Rangkayo Rasuna Said. Namun demikian banyak pula yang menyebutnya Encik Rasuna Said.
Selain kata sebutan “rangkayo” untuk kaum perempuan di atas, banyak pula kaum laki-laki bergelar rangkayo, misalnya (alm) Rangkayo Ganto Suaro yang berasal dari Nagari Pilubang – Pariaman.
Sebagai diketahui panggilan di Luhak Nan Tigo Lareh Nan Duo kepada seorang Penghulu ialah Datuk, sebab Datuk itu adalah gelar bagi seorang Penghulu di Alam Minangkabau.

Adanya gelaran Datuk itu bukan dari masa Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih yang membuat adat atau mengarang undang, akan tetapi jauh sebelum  itu gelaran tersebut sudah ada juga di daerah ini.
Di sebelah ke pesisir barat Minangkabau, di sebelah rantau ke hilir,  panggilan kepada Penghulu atau urang gadang ada pula yang disebut Rangkayo. Misalnya di sebelah Tiku – Pariaman, ada panggilan Rangkayo Bandaro (Datuk Bandaro), Rangkayo Di Malai (Datuk di Malai), Rangkayo Rajo Luangso (Datuk Rajo Luangso).
Di sebelah ke timur, bagian rantau hilir ada tersebut Rangkayo Syahbandar. Sedangkan panggilan kepada Raja Imbang Jayo di Sungai Ngiang adalah Rangkayo Imbang Jayo.
Di sebelah ke Riau semua orang besar kerajaan dipanggilkan “Rangkayo”. Bahkan Bunda Kanduang dalam Tambo Cindua Mato, raja perempuan di Pagarruyung menyapa “Rangkayo” kepada Datuk Badaharo Penitahan Sungai Tarab. (Hikayat Cindua Mato – DT. Gadang, 1904).
Nyatalah kepada kita, bahwa panggilan “Rangkayo” itu takluk kepada Raja-Raja, Orang Besar dan para Penghulu.
A.L. van  Hasselt dalam bukunya “Midden Sumatra” (Volksbeschijving) halaman 201 tahu 1882 menceritakan bahwa, anak putri Pinang Masak yang menjadi raja di Ujung Jabung Jambi semua bergelar “Orang Kaya”. Ada empat orang anaknya, pertama yang sulung bernama Orang Kaya Pingi, kedua Orang Kaya Kadataran, ketiga Orang Kaya Itam dan yang keempat seorang perempuan.  
Dalam buku itu tertulis:
In de ouden tijdbezaten de Djambiers geen vorst. Toen werd eene vrouw, Poetri Pinang Masaq, tot vorstin verheven, omdat ze zeer rechtvaardig en moedig was, evenals een kind van een djihin; en naar men zegt had ze een ongeevenaarden eetlust.
Geruimen tijd kater kwan ere en zoon van den vorst van Turkijemer een vaartuig, dap op het eiland Berhala stranded; de zoon van den Turkeschen vorst zette zich nadir op “t eiland en kwam eenigen tijd daarna in het rijk Djambi, en het gedeelte dat Oedjoeng Djaboeng genaad wordt. “Hij (Paduka Berhala) trouwde met Poetri Pinang Masaq en werd door het volk Padoeka Berhala genoemd. Met zijn gemalin voerde hij het bestuur over ‘t Djambische rijk. Zij schonk hem vier kinderen, waarvan het oudste Oerang Kajo Pingi heette, het tweede
Oerang Kajo Kadataran en het derde Oerang Kajo Itam, het jongste van een meisje.
Orang Kajo Itam nu stichtte kwaad in het rijk va Djambi, om welke redden zijn twee broeders hem wilden dooden; maar hij kon niet gedood worden, omdat hij zeer dapper en onkwetsbaar. Weder eenigen tijd later vroeg de vorst van Madjahit (op Java) om hulptroepen, daar hij oorlog wilde voeren; Orang Kajo Itam kreeg nu bevel om den vorst van Madjapahit met hulptroepen bij te staan, maar tegelijkertijd verzochtenn zijne broeders dien vorst om Orang Kajo te dooden ….
Jadi semua anak laki-laki Putri Pinang Masak dengan Paduka Berhala raja Turki yang menjadi raja di Ujung Jabung – Jambi  itu, semuanya bergelar “Orang Kaya”.        
Tampak kepada kita bahwa panggilan Urang Kayo atau Rangkayo itu takluknya bukan kepada sembarang orang saja, akan tetapi kepada raja-raja.
Dahulu kala ketika adat berkuasa dan berpengaruh di Alam Minangkabau ini, panggilan-panggilan secara adat teratur sekali, terletak pada tempatnya.
Sekarang jika muncul pertanyaan, adakah pada tempatnya kaum perempuan-disapa dengan panggilan rangkayo? Barangkali banyak orang yang mendebat, mempertahankannya. Namun semua itu bukan bersendi kepada adat atau bahasa, akan tetapi debat kusir belaka.
Misalnya lagi, jikalau istri Datuk Itam dipanggilkan “rangkayo”, ia dipanggil atau disapa orang  dengan  Rangkayo Datuk Itam.
“Rangkayo Datuk Itam”, arti sebenarnya bukan istri Datuk Itam. Kalau dalam Bahasa Melayu, “Datuk Itam” itulah yang dipanggilkan “rangkayo”.
Apalagi jika isteri seorang wartawan dipanggilkan “rangkayo”, bukankah  panggilan “rangkayo” tersebut dipersarung-sarungkan saja ?
Siapa yang memulai dan dari mana asalnya maka sebagai cendawan tumbuh timbulnya panggilan kepada kaum perempuan “Rangkayo” di Minangkabau, wa’llahua’lam.
Kita tahu bahwa tulisan ini akan banyak dapat bantahan dari kiri kanan, tetapi biarlah, karena kita berdiri kepada adat dan bahasa.
Kalau salah uraian atau pendapat ini, kita minta ahli adat dan ahli bahasa Melayu Minangkabau membetulkannya dan bukanlah sembarang orang asal pandai mengarang saja.
Disadur dari mingguan
1.        Sinar Sumatra 8 September 1934 halaman 3 – 4.

2.     Midden Sumatra – Volksbeschrijving Door : A.L. van Hasselt, lid der Sumatra Expeditie – 1882.