Rabu, 15 Oktober 2014

Menggugat Kemunafikan Pakaian Manusia

CATATAN PEMENTASAN TEATER SIGN OUT

OLEH Nasrul Azwar

Pementasan Sign Out 
Sekelompok perempuan bak peragawati di atas catwalk melenggok bersama dentuman musik tekno yang melatarinya. Semua perempuan di atas panggung dengan kilatan cahaya merepresentasikan tubuhnya dengan pakaian adat Minangkabau yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Baju-baju berkelebat seperti menyindir habis-habisan kepalsuan manusia di balik busana yang ia kenakan. Maka, cerita teater selanjutnya berangkat dari sini.

Begitulah pembuka pertunjukan teater berjudul Sign Out karya dan sutradara Kurniasih Zaitun (Tintun) yang dihadirkan pada Selasa, 23 September 2014 di Teater Hoerijah Adam ISI Padang Panjang.
Pertunjukan Sign Out yang merupakan program Hibah Cipta Perempuan (HCP) dari Yayasan Kelola, yang tujuannya meningkatkan kualitas karya perempuan seniman di Indonesia, membuka banyak kemungkinan keberbagaian tafsir terhadap pakaian adat, uniform, simbol, dan sekaligus gugatan pada politisisasi pakaian itu sendiri.
Pakaian jadi pusat konflik dalam pertunjukan Sign Out. Selain itu, pakaian adat yang kerap dikenakan bundo kanduang dalam tradisi adat Minangkabau, juga dipertanyakan fungsi sosialnya.
Saat tokoh bundo kanduang menyusur pentas selepas peragawati di atas panggung menghilang, memberi ruang luas bagi penonton untuk membacanya dalam perspektif kultural Minangkabau. Yang ingin dikatakan, sesungguhnya bundo kanduang (representasi perempuan) berada pada posisi sosial dan kultur yang oleng dan gamang.
Kontradiktif sosial dan kultural dalam Sign Out pun dipertajam dengan hadirnya seorang perempuan yang dikesankan sebagai sosialita dengan penandaan demikian banyaknya memegang gadget dan kesibukannya menjawab telepon masuk serta menghubungi relasi sosialnya. Tapi semua itu berujung pada kepanikan psikologis yang dialami perempuan itu.     
Menurut Tintun, pakaian identik dengan pencitraan dan prestise bukan pada fungsinya yang selama ini dimaknai memberi identitas harkat, martabat dan status sosial. 
“Pakaian di Minangkabau menjadi sebuah identitas yang sangat erat kaitannya dengan harkat, martabat dan status sosial. Bahkan ketika pakaian adat digunakan, memberikan prestise tersendiri di lingkungan sosialnya. Namun tidak sedikit “pakaian” adat di Minangkabau hanya dijadikan simbol untuk memberikan ruang kekuasaan bagi orang-orang tertentu,” kata Tintun. “Sign Out bicara hal demikian.”
Pertunjukan Sign Out memang dikesankan seperti kita membaca ilustrasi, menyaksikan klip video, dan melihat frame lukisan. Salah satu yang menarik bagi saya ketika adegan penembakan yang dilakukan seorang yang mengenakan baju dengan motif kotak-kotak terhadap seorang yang memakai busana yang selalu dikenakan salah satu capres dan Presiden Soekarno. Penembakan ini menggambarkan kekejaman politik identitas.
Klip-klip pada Sign Out tak memberi pesan yang utuh dan verbalistis. Pesan tak disampaikan dengan dialog verbal. Tak satu patah katapun muncul sepanjang pertunjukan Sign Out yang berdurasi 75 menit itu.
Kebocoran Kolaborasi
Masing-masing klip memang membangun ceritanya masing-masing. Jika tak salah hitung, saya mencatat ada 9 klip yang muncul dalam Sign Out. Pakaian sebagai isu utama, mengikat ketat setiap ilustrasi tentu saja tak menutup kebocoran yang terjadi di atas panggung.
Kobocoran yang ingin saya katakan adalah terjadi beberapa kali kesamaan gerak, adegan, dan permainan simbol di atas pentas, tak terkecuali beberapa peristiwa yang dibangun tak memiliki urgensi dengan rangkaian peristiwa lainnya.
Begitu juga dengan musik yang melatar Sign Out yang seolah melepaskan dirinya dengan semua pertunjukan. Ilustrasi musik sangat mudah pula ditafsirkan, membangun ceritanya sendiri sehingga tak salah dikatakan, ada pertunjukan musik dalam teater Sign Out.
Bagi saya, ini jadi sangat penting untuk jadi bahan diskusi ketika tren yang disebut dengan kolaborasi seni lainnya dalam pertunjukan teater, telah menafikan batasan teater itu sendiri. Pengertian pertunjukan teater melebur dalam istilah yang kita kenal dengan seni pertunjukan semata.

Dalam Sign Out, bukan saja musik yang terdengar “nyinyir”, seni tari (koreografi) juga menyita perhatian kendati tak begitu dominan perannya. Kehadiran Ali Sukri, sosok koreografer muda yang baru saja mengikuti American Dance Festival, memperkaya simbol-simbol dan pesan yang disampaikan Sign Out. 

Dengan bahasa tubuh yang lentur dan kaya gerak, Ali Sukri berhasil menerjemahkan pakaian yang malafungsi di tengah kehidupan sosial masyarakat. Pakaian tak semata memberi kekuasaan, misalnya, malah mempertegas diri pemakainya sebagai orang yang memelihara kemunafikan. Di sini Sign Out menjadi sangat tajam.

Sebagian besar pertunjukan teater yang disutradarai Kurniasih Zaitun, saya mengikutinya. Terakhir pementasan Sebatas Kita (Off The Record) karya Wisran Hadi yang dipentaskan dalam Festival Wisran Hadi di Taman Budaya Sumatra Barat pada tahun 2011. Walaupun sebagain besar lagi, saya tak menontonnya.
Dalam catatan saya, semenjak 1995 hingga kini, lebih kurang sekitar 22 seni pertunjukan ia sutradarai dan sudah dipentaskan di pelbagai kota di Indonesia. Perjalanan panjang ini sangat memungkinkan Tintun tercatat sebagai salah seorang perempuan sutradara teater di Tanah Air yang hingga kini masih eksis. 
Teater dan Antikata
Kecenderungan sebagai arus utama dalam setiap penggarapan teater yang dilakukan Tintun selama ini—saya menyebutnya—adalah nirkata. Dan ini juga terjadi pada Komunitas Seni Hitam Putih di mana ia juga berproses di sini. Semua pertunjukannya, nyaris dihadirkan dengan menafikan komunikasi verbal berupa dialog (kata-kata). Jika pun ada kata-kata yang muncul, itu pun seperti seseorang mengucapkan potongan-potongan kata-kata yang yatim- piatu. Tak berurat-berakar dalam konteks dialog.
Sign Out sudah mempertegas hal itu. Tak satu pun ucapan yang keluar dari mulut para aktor. Peran mulut telah digantikan dengan tubuh-tubuh aktor untuk berkomunikasi sesamanya dan juga kepada penonton.  Selain tubuh, properti di atas panggung juga membuka luas kemungkinan-kemungkinan baru sebagai media komunikasi dan penandaan.
Panggung dalam Sign Out sebagai ruang besar yang bisa menggerakkan semua unsur pementasan teater. Posisi ruang, gerak dan otot tubuh aktor, multifungsi tiga kamar ganti di atas pentas, dan sederet jemuran pakaian, bukan penanda yang kosong. Semua properti panggung tampak hidup.
Jika dirunut ke belakang, konsistensi garapan antikata ini memang identik dengan Komunitas Seni Hitam Putih. Selain Tintun, dalam kelompok ini ada juga Yusril Katil yang tampak tak beranjak dari konsep ini. Pilihan ini bukan serta merta diartikan mereka ini antinaskah. Bagi mereka, naskah bukan lagi semata teks yang tertera di atas kertas dengan arbitrernya. Tetapi, tubuh aktor dan properti di atas panggung adalah teks-teks yang membahasakan dirinya.
Afrizal Malna dalam bukunya Perjalanan Teater  Kedua Antologi Tubuh dan Kata (2010) mengatakan, tubuh aktor seperti sebuah ikatan atau rajutan yang terkait antara dirinya, teks dan ruang sebagai seluruh dramaturgi dari sebuah pertunjukan. Teater menjadi sebuah laboratorium hidup untuk permainan politik identitas.
Sign Out tak bisa lepas dari politik identitas itu. Politik identitas tersebut dideskripsikan dengan pakaian adat yang acap dikenakan para datuk dan ninik mamak dalam upacara adat di Minangkabau. Dalam realitas politik identitas, pakaian kebesaran itu, sebagai memberi status sosial bagi yang mengenakannya. Di atas panggung teater, pakaian itu seperti bahan lelucon yang sarkastis.
Pilihan antikata yang dilakukan Tintun dalam Sign Out  tentu memiliki konsekuensi terhadap artistik panggung. Pencahayaan seperti bersetubuh dengan setiap gerak dan ekspresi tubuh-tubuh aktor dan benda-benda.  
Para aktor yang sulit dilacak predikat dan identitas sosialnya, membuka penekanan makna pada pakaian yang dikenakan. Pakaian menjadi kata kunci dari rangkaian pementasan. Pakaian di atas panggung merajut perpidahan “cerita”. Capaian artistiknya berada pada posisi yang matang dan penuh perhitungan.
Kebanyakan garapan teater di Sumatera Barat, khusus kelompok yang bukan berasal dari kampus seni, elemen pencahayaan terasa bukan sesuatu yang penting bagi mereka. Para sutradaranya meremehkan artistik panggung. Memang, tentu saja, ini yang membedakan antara sutradara yang bersekolah dengan otodidak yang mengandalkan “filing”.
Sign Out yang didukung 43 orang ini, dibuka oleh barisan peragawati dengan busana adat yang beragam, dan ditutup dengan adegan yang sama diikuti musik yang sama pula.
Sign Out tak menawarkan jawaban yang konkret, tapi memberi pilihan-pilihan dan prediksi terhadap kemungkinan bahwa pakaian bukan semata identitas sosial, tapi juga sebagai alat kekuasaan. Dan tatanan sosial akan kacau jika pakaian pertukar fungsi. Teater (seni) mampu menangkap hal demikian, politik tentu saja tidak. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar