Jumat, 28 November 2014

Pejabat Publik Bak Urang Sumando

OLEH al Malik
Idiom Minangkabau nasib rang sumando sarupo abu di ateh tungku cukup relevan dianalogikan dengan keberadaan para pejabat publik di  dalam era otonomi daerah. Pejabat publik diibaratkan “urang sumando” yang masuk ke dalam kelompok elit dalam pemerintahan. Sebagai “urang sumando” sebelumnya tentu saja mesti mendapatkan legitimasi dan “penguasa rumah”, yang notabene merupakan kepala daerah. Sebagai “urang datang” seorang “sumando” haruslah pintar-pintar menempatkan diri dan pandai membaca situasi yang berkembang.
Rapuhnya eksistensi seorang pejabat publik dalam tatanan birokrasi pemerintahan daerah dewasa ini, merupakan dampak dari lemahnya regulasi bidang kepegawaian daerah. Selain itu, belum jelas pula sistem penjenjangan karier bagi seorang pejabat publik.

Kamis, 27 November 2014

Dialektika Demokrasi dan Budaya Minangkabau

OLEH Israr Iskandar
Dosen Sejarah Politik FIB Universitas Andalas

Sebagaimana di daerah-daerah lain di Indonesia, genderang demokrasi lokal juga mengharu-biru Sumatera Barat tahun ini dalam bentuk pemilihan umum kepala daerah (pemilukada/pilkada).  Pada 30 Juni 2010 lalu berlangsung secara serentak pilkada gubernur dan 13 pilkada kabupaten dan kota se Sumatra Barat.

Minggu, 23 November 2014

La Paloma: Generasi Keroncong Sumatera Barat

OLEH Sahrul N
Pengajar ISI Padang Panjang

Alunan musik keroncong terdengar dari sudut kampus ISI Padangpanjang yang dimainkan oleh sekitar delapan generasi muda yang rata-rata berpenampilan metal. Sambil menghirup kopi mereka asyik berlatih mematangkan beberapa repertoar yang kata mereka dipersiapkan untuk ivent tertentu. Mereka menamakan grup ini dengan nama Orkes Keroncong (OK) La Paloma yang awalnya dipimpin oleh Alm. Desriland (mantan dosen ISI Padangpanjang). Mereka bukan datang dari Jawa namun adalah generasi Sumatera Barat yang peduli terhadap budaya Indonesia. 

Minggu, 16 November 2014

Mambangkik Batang Tarandam Perkeretaapian Sumatera Barat

OLEH Willson Gustiawan
Dosen Politeknik Negeri Universitas Andalas Padang
Kereta api wisata di Sumbar
Suara tut…tut…tut, sinyal nyala, serangkaian kereta siap masuk stasiun. Setelah melewati ampang-ampang perlintasan sebidang. Lokomotif bergerak di rel bergigi, melambat untuk beristirahat sejenak. Lalu siap melanjutkan perjalanan melewati kawasan berpemandangan elok di Sumatera Barat.
Kereta api Sumatera Barat, pada masa jayanya melayani penumpang dan barang di berbagai rute. Kereta api melayani relasi Payakumbuh sampai Padang, Sawahlunto sampai Teluk Bayur Padang. Ujung rel di Sungai Limau dan Limbanang juga pernah dilewati. Bahkan jalur sampai ke Pekanbaru melalui Muaro. Total, jalur kereta api di Sumatera Barat mencapai 240 km.

Salah Urus, Penanganan Tindak Asusila di Kota Padang

OLEH Muhammad Al Asyhari
Sekjen Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumatera Barat (PAHAM Sumbar)
Masih cukup hangat dalam ingatan kita bagaimana berita tentang kejadian terbongkarnya praktik penari telanjang (striptease) di sebuah cafe di Kota Padang (26/9). Hal ini jelas menjadi sesuatu yang sangat merusak nilai susila yang ada di dalam kehidupan masyarakat kita, dan sangat membuat keprihatinan bagi setiap masyarakat yang masih peduli dengan Kota Padang yang selama ini ber-merk filsafat adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Meningkatkan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Sumatera Barat

OLEH  Badrul Mustafa
Ahli Kegempaan Unand
Akibab gempa 2009 di Padang Pariaman 
Bencana demi bencana tidak lepas menimpa daerah Sumatera Barat.  Setelah reda dari gempa dan tsunami yang terakhir menimpa Mentawai 25 Oktober 2010, longsor menghantam beberapa wilayah di Sumatera Barat, terutama Pesisir Selatan, Pasaman Barat dan Agam. Memang agak tepat julukan yang pernah diberikan kepada wilayah ini, yakni: supermarket bencana.

PETANI BERGERAK: Galang Kekuatan untuk Menggapai Kesejahteraan

OLEH Moehar Daniel
Peneliti Sosial Ekonomi/Kebijakan Pembanguan Pertanian BPTP Sumatera Barat

Pertanian Bergerak
Satu langkah maju sudah dimulai. Petani kakao Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh telah berhimpun mendirikan sebuah lembaga untuk memayungi petani lainnya. Kenyataan ini perlu diacungkan jempol dan dibantu secara serius, agar pucuk yang baru tumbuh ini bisa berkembang dan mengembangkan sayap keseluruh Nusantara demi kesejahteraan petani.
Petani selalu berjuang untuk manusia lainnya, tetapi mereka sering tidak menerima imbalan yang setimpal. Mereka tidak mengharapkan penghargaan, tidak mengharapkan sanjungan ataupun pujian yang muluk-muluk. Yang diharapkan petani hanyalah perolehan pendapatan yang memadai dari hasil cucur keringat, untuk menupang kehidupan yang semakin keras dan semakin tidak punya nurani.

Perjuangkan Nagari Bersifat Istimewa

OLEH M Sayuti Datuak Rajo Pangulu
Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumbar

Nagari Pariangan
Menanggapi pendapat yang dikemukakan Hermanto, anggota Komisi II DPR-RI (periode 2009-2014) yang menyatakan Revisi UU No.32/2004 berpotensi rugikan Sumbar. Apa yang dikatakan Hermanto ada benarnya bila pembangunan nagari selalu diukur dengan uang. Kembali ke sistem pemerintahan nagari baik di kabupaten maupun di kota merupakan amanat dari Peraturan Daeran No 2 Tahun 2006 Tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari.

Merayakan Kembali Berdesa

OLEH Undri
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang)
Apa untungnya kalau kita kembali berdesa lagi seperti yang terjadi pada masa Orde Baru? Apa hanya sekadar mengharapkan bantuan yang besar atau hanya sebagai bukti atas sikap kita yang kompromitif atas kebijakan pusat atau lebih jauh lagi karena adanya bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang konsekuensinya harus menerima kebijakan pusat tersebut.
Kerontokan kekuatan tradisional merupakan sebuah bentuk konsekuensi yang diterima oleh masyarakat Minangkabau akibat terjadinya perubahan nagari menjadi desa yang terjadi pada Orde Baru tersebut. Ini merupakan fakta historis yang tidak terbantahkan sampai sekarang ini.

Rabu, 12 November 2014

Keberadaan PLTA Singkarak Diduga Berdampak pada Kualitas Ekosistem Danau Singkarak

PLTA Singkarak


Bila berkunjung ke Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tidak lah lengkap rasanya kalau belum menikmati ikan bilih.
Ikan bilih paling dicari masyarakat ketika mengunjungi Danau Singkarak, karena terasa gurih bila telah dimasak. Ikan bilih juga bisa dapat dikeringkan dan diasinkan sehingga awet untuk waktu yang lama.

Endemik Ikan Bilih Danau Singkarak Terancam Punah

OLEH Dahmuri
KAUR Ekonomi Pemerintahan Nagari Guguk Malalo, Singkarak, Tanah Datar

Alat tangkap ikan bilih (Jala Apung) Foto http://www.mongabay.co.id/
Beberapa hari terakhir, Harian Haluan mengangkat keberadaan, potensi ikan bilih Danau Singkarak, dan ancaman masuknya ikan sejenis hasil budi daya nelayan di Danau Toba ke Sumatera Barat. Selain itu, ikan bilih yang dibudidayakan di Danau Toba dan masuk ke Sumatera Barat ditengarai diawetkan dengan zat kimia formalin.

Derita Permanen Petani Gambir

OLEH Ari Febrianto
Anak Petani Gambir
Petani gambir (kotoalam.wordpress.com)
Keadaan petani gambir menjadi semakin  tidak menentu, hidup di daerah penghasil terbesar gambir, komoditas ekspor, tapi harganya sayur. Petani berharap dengan janji toke yang mengatakan harga gambir akan segera naik, tapi kenyataannya sekarang harga komuditas ekspor itu semakin menurun tajam jauh di bawah rata-rata.
Lagi-lagi orang membayangkan enaknya menjadi petani gambir, padahal jika dilihat dengan situasi dan kemurungan petani ditengah kegalauan harga gambir yang tidak menentu, bisa saja dibilang petani gambir adalah petani termiskin diantara petani komuditas ekspor lain, betapa tidak, dengan harga yang sedemikian rendahnya tidak menutup kemungkinan petani mempunyai hutang yang jauh lebih besar dari penghasilan perbulannya, apakah ini yang disebut petani sejahtera?

Penganugerahan DR HC dan Etika Perguruan Tinggi

OLEH Wannofri Samry
Dosen FIB Unand
Gamawan Fauzi dapat Doktor HC dari UNP (Antara Foto)
Sejarah menunjukkan bahwa perguruan tinggi adalah sumber  perubahan. Ia adalah lembaga akademis yang tertinggi, ia dipandang sebagai  sumber dari pengembangan ilmu, sumber etika dan sumber peradaban. Nilai-nilai peradaban yang baik diharapkan lahir dari perguruan  tinggi.
Bagi masyarakat moderen, pencapaian-pencapaian perguruan tinggi dipandang sebagai acuan kemajuan, ia akan diikuti dan akan diimplemantasikan dalam kehiduapan  mereka. 

Kapur IX Mengusik Nyali Kepemerintahan

OLEH H. Fachrul Rasyid HF
Wartawan Senior
Masyarakat Kapur IX bergotong royong (anakama06.blogspot.com)
Berkunjung ke Nagari Sialang dan Gelugur Kecamatan Kapur IX sungguh menggugah  perasaan kemanusian dan nyali kepemerintahan. Inilah yang dirasakan saat menyertai rombongan safari Ramadan Bupati Limapuluh Kota Dr. Alis Marajo bersama sejumlah pejabat kepala satuan kerja pemerintah daerah setempat ke perbatasan Sumatera Barat dan Riau itu, Sabtu 20 Aguastus 2011 lalu.

Senin, 03 November 2014

Pangulu, Gadangkanlah Kamanakan

OLEH Haswar Muis Datuak Bagindo Sati
Hazwar
Pangulu, gadangkanlah kamanakan, jan manggadangkan anak ula. Begitulah refleksi kami atas refleksi almarhum Wisran Hadi budayawan kita. Galaunya Wisran Hadi menyesakkan dadanya yang ikut mengantarkannya pulang keharibaan Sang Khalik, menyesakkan dada kita juga.
Dan tentu banyak lagi refleksi dan reaksi dari pemuka-pemuka adat, alim ulama, cadiak pandai, bundo kaduang, pemuda sampai kepada parewa sato sakaki dalam alam Minangkabau yang adatnya Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitab Allah (Alquran)
Betapa tidak akan galau hati kita, betapa tidak akan sakit hati ini, dek ulah manisan (nila) satitiak, rusak susu sabalango. Jalan dialiah urang datang, cupak dipapek urang manggaleh.