Minggu, 16 November 2014

Meningkatkan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Sumatera Barat

OLEH  Badrul Mustafa
Ahli Kegempaan Unand
Akibab gempa 2009 di Padang Pariaman 
Bencana demi bencana tidak lepas menimpa daerah Sumatera Barat.  Setelah reda dari gempa dan tsunami yang terakhir menimpa Mentawai 25 Oktober 2010, longsor menghantam beberapa wilayah di Sumatera Barat, terutama Pesisir Selatan, Pasaman Barat dan Agam. Memang agak tepat julukan yang pernah diberikan kepada wilayah ini, yakni: supermarket bencana.

Sebagai daerah yang rawan terhadap bencana, maka berbagai upaya kesiapsiagaan untuk menghadapinya harus dilakukan dan terus ditingkatkan. Upaya yang bertujuan untuk mengurangi risiko bencana disebut sebagai mitigasi.
Di dalam mitigasi ada 3 (tiga) tahap yang dilakukan, yakni pra bencana, saat bencana (disebut juga tahap tanggap darurat) dan pasca bencana (tahap rehabilitasi dan rekonstruksi).   Tahap pra bencana  merupakan tahap yang paling penting.  Biasanya risiko atau bencana yang paling besar terjadi apabila mitigasi pra bencana tidak dilakukan secara baik.
Sumatera Barat memiliki  alam yang elok serta potensi sumberdaya alam yang cukup baik. Namun di samping itu Sumatera Barat juga menyimpan potensi yang besar dalam hal bencana alam, khususnya bencana alam geologis. Jenis bencana alam geologis tersebut antara lain adalah: Gempa, tsunami, erupsi gunungapi, longsor, banjir, erosi dan sedimentasi serta abrasi.  Dari semua jenis bencana tersebut diakui bahwa gempa dan tsunami merupakan bencana alam yang paling menakutkan masyarakat.  Gempa besar dan tsunami Aceh, ditambah dengan berita gempa dan tsunami di Jepang tanggal 11 Maret 2011 yang baru lalu, bisa semakin menakutkan masyarakat. Berikut ini akan diuraikan tentang potensi gempa dan tsunami di Sumatera Barat, serta penyebab dan lokasi sumbernya.
Gempa bumi
Gempa bumi merupakan sebuah guncangan hebat yang menjalar ke permukaan bumi yang disebabkan oleh gangguan di dalam litosfir (kulit bumi). Gangguan ini terjadi karena di dalam kulit bumi terjadi akumulasi energi akibat dari pergeseran kulit bumi itu sendiri.
Sementara itu pergerseran kulit bumi terjadi akibat dari  pergerakan secara konvektif yang bersumber dari lapisan astenosfir, yakni sebuah lapisan bagian atas dari mantel bumi, berupa cairan panas yang sangat kental, yang mengalir secara perlahan. 
Akibat gerakan-gerakan ini, maka kulit bumi terpecah-pecah menjadi bagian-bagian berupa lempengan yang saling bergerak satu sama lain, yang kemudian disebut dengan lempeng tektonik.  
Umumnya gempa bumi berasal dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai suatu keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh lempeng tektonik tersebut. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi.  
Gempa bumi yang disebabkan oleh pergerakan lempeng ini, baik subduksi (tumbukan) maupun pergeseran mendatar, disebut dengan gempa tektonik.   Jenis gempa lain adalah gempa volkanik, yakni disebabkan oleh kegiatan volkanik (gunung api). Magma yang berada pada kantong di bawah gunung tersebut  mendapat tekanan dan  melepaskan energinya secara tiba-tiba sehingga menimbulkan getaran tanah. 
Namun gempa volkanik ini biasanya tidak merusak karena kekuatannya cukup kecil, sehingga hanya dirasakan oleh orang-orang yang berada dalam radius yang kecil saja dari sebuah vulkano. Gempa volkanik dapat menjadi gejala/petunjuk akan terjadinya letusan gunung berapi. Masih ada jenis gempa lain seperti gempa runtuhan dan gempa buatan untuk keperluan eksplorasi/eksploitasi mineral dll, tapi kekuatannya lebih kecil lagi, sehingga tidak berpotensi menimbulkan bencana kepada masyarakat.
Lokasi Potensi Gempa Bumi di Sumatera Barat
Gempa bumi tektonik di wilayah Sumatera Barat berasal dari dua sumber, yakni akibat subduksi (tumbukan lempeng) antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia serta pergerakan Sesar Sumatera (nama lain: Sesar Semangko) yang sangat aktif.   Subduksi kedua lempeng tektonik ini berlokasi di laut dan pergerakan Sesar/Patahan Semangko berlokasi di darat.  
Gempa-gempa besar yang terjadi di daratan Sumatera Barat dan sekitarnya misalnya yang terjadi tahun 1926, 1943, 1977 dan 2004 (Padangpanjang), serta 6 Maret 2007 di dua sumber (Danau Singkarak dan Sianok/Agam). Gempa di Sungaipenuh Kerinci tahun 1995 juga merupakan produk dari pergeseran Sesar Semangko ini.   Gempa di arah laut yang berasal dari subduksi, berlokasi di sekitar Siberut dan Sipora-Pagai.   Gempa besar yang pernah terjadi di lokasi ini antara lain tahun 1797 di Siberut, 1833 di Sipora-Pagai, 2007 dan 25-10-2010 juga di Sipora-Pagai.   Gempa yang bersumber di laut ini dapat memicu timbulnya tsunami.
Upaya yang Dilakukan untuk Mengurangi Risiko
Gempa jarang yang membunuh langsung.   Biasanya yang membunuh adalah bangunan, yakni bangunan yang tidak memenuhi standar atau yang tidak berwawasan bencana.  
Dr. Yozo Goto bersama teamnya dari Jepang telah melakukan penelitian di kota Padang dan  Kabupaten Padang/Pariaman terhadap bangunan yang hancur dan rusak akibat gempa SumBar (7,9 SR) 30 September 2009. Dr. Yozo Goto menyimpulkan bahwa bangunan yang rusak dan hancur akibat gempa tanggal 30/09/2009 adalah bangunan yang tidak memenuhi aturan atau standar yang sudah ditetapkan, yakni SNI 2002.   Kalau bangunan yang hancur atau rusak itu memenuhi SNI 2002, diyakini tidak akan terjadi kerusakan.   Dengan demikian maka salah satu upaya dalam mengurangi resiko akibat gempa adalah membuat bangunan sesuai standar yang sudah ditetapkan.   Saat ini standar SNI-2002 telah direvisi menjadi SNI-2010.
Upaya lainnya adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana menghadapi gempa sebelum terjadi, pada waktu gempa berlangsung (gempa kuat atau merusak dan gempa lemah), terutama melalui sekolah secara langsung maupun melalui kurikulum pelajaran.  Sosialisasi ini yang disertai simulasi harus dilaksanakan secara terus menerus secara rutin.  
Tsunami
Tsunami berasal dari gabungan dua kata bahasa Jepang, yakni tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti gelombang.   Dari kata asalnya ini dibuatlah definisi tsunami, yakni: Gelombang yang menyerang pelabuhan atau daratan.   Penyebab timbulnya tsunami adalah: 1. Gempa bumi yang berepisenter di dasar laut, 2. Meletusnya gunungapi bawah laut, 3. Longsoran massa tanah/batuan di dasar laut dan 4. Jatuhnya meteor.   Dari keempat penyebab tsunami ini, maka lebih dari 90% penyebab tsunami adalah gempa bumi yang berepisenter di dasar laut.   Sedangkan jatuhnya meteor berukuran besar ke laut secara statistik kebolehjadiannya sangat kecil.
Tidak semua gempa menimbulkan tsunami. Ada 4 (empat) syarat sebuah gempa dapat menimbulkan tsunami, yakni:
·         Gempa dengan episentrum di dasar laut
·         Kekuatan gempa minimal 6,5 SR dan biasanya berlangsung lebih dari 30 detik.
·         Gempa sangat dangkal (kedalaman pusat gempa < 30 km)
·         Terjadi dislokasi batuan secara vertikal
Untuk terjadinya sebuah tsunami, maka keempat syarat di atas harus terpenuhi secara bersama-sama sekaligus.   Apabila satu syarat saja tidak terpenuhi, maka tsunami tidak akan terjadi.
Kewaspadaan terhadap tsunami harus dibangun dengan baik.   Kalau tidak, maka korban yang jatuh bisa banyak sekali.  
Untuk mengantisipasi tsunami sebetulnya tidak terlalu sulit bila seseorang sudah berhasil terhindar dari bahaya gempa yang mendahului tsunami.   Tsunami yang datang ke daratan Sumatera Barat dari pemodelan yang dibuat oleh Dr. Hamzah Latif (2005) berjarak waktu sekurang-kurangnya 30 menit setelah gempa besar terjadi.   Di Kepulauan Mentawai sendiri yang dekat dengan lokasi sumber tsunami, tsunami bisa sampai sekitar 10 menit atau paling lama 15 menit setelah gempa.   Karena itu di Mentawai ini tentu saja waktu yang tersedia untuk evakuasi dari tsunami lebih sedikit dibandingkan dengan pesisir barat pulau Sumatera.
Lokasi Potensi Tsunami di Sumatera Barat
Di sebelah barat Pulau Sumatera terdapat banyak pulau kecil dan sedang, mulai dari Simeulue di utara, pulau Nias dan banyak pulau kecil di sekitarnya, Siberut, Sipora, Pagai Utara, Pagai Selatan, Sikakap sampai Enggano di selatan (tenggara).  Pulau-pulau ini merupakan batuan sedimen yang terangkat akibat peristiwa tektonik serta subduksi (tumbukan) lempeng India-Australia dengan Eurasia, yang sudah berlangsung sejak puluhan juta tahun yang lalu. 
Karena pulau-pulau ini dekat dengan bidang pergesekan kedua lempeng, maka ia dekat dengan sumber gempa, sehingga gempa-gempa yang bersumber di dekat pulau ini biasanya kedalamannya sangat dangkal. Tentu saja resiko ancaman kerusakan akibat gempa menjadi lebih besar.  Ditambah dengan adanya patahan-patahan/sesar naik (megathrust) di bawah pulau sampai ke batas lempeng, yakni palung (trench), maka di pulau-pulau terluar ini terdapat potensi tsunami.  
Dari pulau-pulau terluar tersebut, maka wilayah kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan wilayah dimana terdapat lokasi sumber gempa yang dapat menimbulkan tsunami. Dalam sejarahnya, menurut data BMKG dan Geoteknologi LIPI, pernah terjadi tsunami yang melanda wilayah Sumatera Barat. Dari data itu disebutkan bahwa ada dua segmen lokasi potensi tsunami, yakni segmen Siberut dan segmen Sipora-Pagai.   Di segmen Siberut tsunami terakhir terjadi pada 10-02-1797 dan di segmen Sipora-Pagai tsunami terbaru terjadi tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Oktober 2010.   Tsunami 25/10/2010 ini merupakan pengulangan dari tsunami yang terjadi pada 24-11-1833.  
Sumber-sumber gempa yang berpotensi tsunami adalah Kepulauan Mentawai sebelah luar ke arah palung laut dalam (trench) di Samudera Hindia. Apabila di tempat ini terjadi gempa berkekuatan di atas 6,5 SR, maka gempa tersebut berpeluang menimbulkan tsunami. Sebab di tempat ini kedalaman pusat gempa di bawah 30 km dari permukaan laut, episentrumnya di dasar laut dan thrust (patahan tegak/miring) akan menyebabkan dislokasi atau pergerakan batuan secara vertikal, yang akan mengguncang air laut.  
Apabila pusat gempa di sebelah dalam dari Kepulauan Mentawai terhadap Sumatera Barat Daratan (Selat Mentawai), maka peluang terjadinya tsunami kecil sekali, karena bidang subduksi (benioff zone) yang miring menyebabkan pusat gempa ini lebih dalam, yakni di atas 30 km.  
Selain itu di dalam Selat Mentawai tidak terdapat thrust, sehingga tidak terjadi pergerakan batuan secara vertikal. Dengan demikian maka sekurang-kurangnya dua syarat untuk terjadinya tsunami sudah tidak terpenuhi. Contoh kasus ini adalah gempa 30 September 2009. Gempa dua tahun lalu itu menurut sumber BMKG berlokasi di Selat Mentawai, kira-kira 60 km sebelah timur pulau Siberut atau kira-kira 56 km baratdaya Pariaman, dengan kedalaman 71 km. Walaupun kekuatan gempa 7,9 SR, gempa tersebut tidak menimbulkan tsunami.
Mungkinkah tsunami muncul di selat-selat antara pulau di Kepulauan Mentawai tersebut? Misalnya antara pulau Siberut dan Sipora, antara pulau Sipora dan Pagai Utara atau antara Pagai Utara dan Pagai Selatan?  Jawabannya adalah mungkin.  Sebab episenter gempa di selat ini tentulah di dasar laut, pusat gempa tentu masih dangkal dan ada thrust di sini.   Kalau kekuatan gempanya di sini di atas 6,5 SR, maka tentu akan ada tsunami.   Namun tsunami yang terjadi akibat gempa yang berepisentrum di selat-selat kecil ini gelombangnya kemungkinan tidaklah besar.   Sebab, deformasi batuan yang terjadi di dasar selat tersebut tidak begitu besar, sehingga volume air laut yang terlibat juga tidak besar.
Tapi bagaimana dengan kemungkinan longsoran di timur Siberut yang diprediksi sebagian pakar dapat menimbulkan tsunami, bahkan tanpa didahului oleh gempa? Kemungkinannya kecil.  Sebab, dengan sudah terjadinya beberapa kali gempa kuat, baik di segmen Siberut maupun segmen Sipora-Pagai, maka sangat kecil kemungkinan masih ada lereng-lereng dasar laut di timur Siberut, Sipora dan Pagai yang kritis.  Kalau lereng-lereng tersebut kritis, maka kemungkinan ia telah longsor oleh gempa-gempa kuat tersebut.  Kemudian, kalau pun masih ada lereng yang kritis di dasar laut, sangat kecil kemungkinan longsorannya menimbulkan tsunami yang besar.   Sebab,  selain volume tanah/batuannya tidak sebesar deformasi dasar laut yang ditimbulkan oleh gempa besar, kecepatan longsorannya juga tidak cukup besar untuk menimbulkan guncangan air laut.  Analoginya adalah, kalau kita jatuhkan benda di dalam air, maka kecepatannya tidak sebesar kalau ia dijatuhkan di udara bebas. 
Upaya Menghindari Tsunami
Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindar dari tsunami adalah melalui dua cara, yakni evakuasi horizontal dan evakuasi vertikal.   Evakuasi horizontal adalah berjalan kaki menjauhi pantai ke zona aman, yakni daerah yang memiliki ketinggian > 10 meter di atas permukaan laut.   Evakuasi vertikal adalah upaya menghindar dari tsunami dengan naik ke bangunan tinggi di sekitar tempat kita berada, atau memanjat pohon kelapa atau sejenisnya. Ini dilakukan apabila seseorang kehilangan waktu cukup banyak menjelang gelombang tsunami datang, misalnya adanya keraguan bahwa gempa yang terjadi diikuti tsunami atau tidak, sedangkan ia tidak melihat (tidak mendapat informasi) tanda-tanda alam terjadinya tsunami, atau sirene untuk evakuasi tsunami tidak bekerja. Salah satu tanda alam sebagai isyarat akan terjadi tsunami adalah air laut surut sangat cepat jauh ke tengah laut sesaat setelah terjadi gempa besar. Tsunami Early Warning System yang dibangun di pantai barat Sumatera akan membunyikan sirene apabila sebuah gempa diikuti oleh tsunami.
Meskipun  gempa besar di laut yang memiliki periode ulang sekitar 200 tahun, namun pengulangan sebuah gempa di suatu tempat belum tentu menimbulkan pengulangan tsunami.   Pengulangan tsunami tergantung kepada apakah terpenuhi syarat terjadinya tsunami atau tidak. Untuk memenuhi rasa aman masyarakat, terutama karena adanya prediksi pakar LIPI dan ITB bahwa ada potensi terjadi tsunami di segmen Siberut dari gempa 8,9 SR, maka perlu diselenggarakan sosialisasi tentang gempa dan tsunami ke berbagai lapisan masyarakat atau terus melakukannya untuk menjangkau masyarakat yang belum menerima sosialisasi sebelumnya, sehingga masyarakat semakin waspada terhadap gempa dan tsunami tersebut dan dapat semaksimal mungkin mengantisipasinya. Di samping itu perlu terus disiapkan dengan baik infra struktur untuk evakuasi seperti shelter (evakuasi vertikal) dan  jalur jalan yang cukup lebar menjauhi pantai untuk evakuasi horizontal.

Sebagai catatan akhir,  walaupun Jepang baru saja mengalami gempa besar dan tsunami dahsyat 11-03-2011 yang lalu, yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda, namun jumlahnya tergolong kecil untuk ukuran gempa 8,9 SR dengan kedalaman  yang sangat dangkal tersebut.  Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kegempaan ini terbukti korban jiwa yang timbul dapat diminimalisir.  Data statistik menyebutkan bahwa sejak gempa 1923 di Jepang yang menelan korban jiwa 140.000 orang, jumlahnya menurun tajam seiring meningkatnya kemajuan mitigasi.  Jadi kita harus terus meningkatkan upaya persiapan kalau bencana gempa/tsunami datang, sambil mempelajari cara Jepang dalam mitigasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar