Minggu, 22 Februari 2015

Rivai Marlaut: The Old Journalist Never Die

OLEH Kamardi Rais Dt P Simulie
Adam Malik menanyakan Rivai Marlaut kepada penulis
Seorang wartawan tua telah pergi. Pergi untuk selamanya. Dia adalah Bapak Rivai Marlaut, mantan Pemimpin Redaksi Harian Haluan Padang.
Keluarga besar pers Sumatera Barat khususnya, dan Indonesia umumnya, berkabung. Berdukacita atas kepergiannya. Pergi untuk tidak kembali lagi. Seperti diibaratkan oleh mamang orang-orang tua kita. Bagi Pak Rivai, “Cupak sudah penuh, gantang sudah melimpah.”

Siapa Rivai sebenarnya?
Ia dilahirkan di Koto Baru, Solok, pada tahun 1912. Ia sempat mengenyam pendidikan HIS, kemudian ke sekolah Ambacht (Sekolah Teknik) dan berlanjut ke MULO.
Pada suatu kali Pak Rivai bercerita kepada penulis, bahwa orangtuanya bercita-cita agar Rivai menjadi seorang insinyur, ahli teknik. Karena itu ia dimasukkan ke sekolah Ambacht bagian besi, tetapi sejak usia mudanya Rivai sudah tertarik dengan dunia jurnalistik.
Dalam usia 16 sampai 20-an Rivai berlangganan dengan Pewarta Deli Medan yang dipimpin oleh Adinegoro dan surat kabar Sinar Soematera Padang yang dipimpin oleh Burhanuddin Ananda.
Karena minatnya yang besar untuk jadi wartawan, maka putra Solok itu meninggalkan kampung halamannya dan segera menyeberang ke Jawa. Dalam usia 23 tahun ia sudah jadi wartawan surat kabar Pemandangan di Betawi. Kala itu Harian Pemandangan dipimpin oleh Saeroen.
Saeroen minta Rivai supaya mencoba menulis berita luar negeri. Pada mulanya ia merasa kalang-kabut juga. Terasa susah dari mana dimulai, apa inti masalahnya, dan yang paling rumit lagi bagaimana menyelesaikannya. Artinya, menyudahinya atau membuat karangan itu supaya pendek. Namun karena tekunnya ia belajar dari kupasan dan analisis yang dibuat oleh Djamaloeddin Adinegoro di Pewarta Deli, akhirnya Rivai Marlaut berhasil juga.
Saeroen jadi yakin kepadanya, sehingga ia ditempatkan pada “Desk Luar Negeri”. Pada suatu kali Mr. Soemanang yang kemudian dikenal sebagai Ketua PWI pertama, dalam suasana Perang Pasifik itu menepuk bahunya.
“Eh, Rivai! Kau dapat dari mana referensi menulis analisis luar negerimu?” tanya Soemanang.
“Dari sini saja,” jawab Rivai sembari memperlihatkan sebuah buku tulis bergaris, isinya 18 lembar yang digabungkan Rivai dari tiga buah buku tulis sehingga menjadi buku harian tebal. Isinya tidak lain dari peristiwa-peristiwa dunia yang dicatat Rivai setiap hari.
Setelah Rivai benar-benar jadi wartawan, ia tidak bergaul sama wartawan saja. Pergaulannya semakin luas. Terutama dengan kaum politisi. Ia berkenalan dengan Bung Sjahrir yang terkenal sebagai The Atomic Prime Minister atau Perdana Menteri Atom. Ia terkenal dengan Moh. Natsir, dengan Ali Sastroamidjojo, dengan Assaat, bahkan dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh legendaris Tan Malaka.
Rivai Marlaut sebenarnya ikut mendirikan Kementerian Penerangan (Deppen RI). Karena itu atas kepergian Rivai Marlaut sebenarnya pihak Deppen se-Indonesia turut berduka cita, bahwa salah seorang investaris pendiri Deppen yang masih tersisa, kini sudah tutup usia dengan umur yang telah lanjut 82 tahun.
Pada waktu Wapres RI Adam Malik berkunjung ke Sumatera Barat tahun 1982, ada suatu peristiwa yang cukup mengharukan saya. Di bawah pengawalan yang ketat oleh aparat keamanan, Wapres Adam Malik serta merta “balik kanan gerak”, hanya dua tiga langkah dari tangga pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta.
What happened? Apa yang terjadi?
Adam Malik berbisik dengan Gubernur Azwar Anas. Dalam posisi membelakang pada pesawat yang akan mengangkutnya, Bung Adam menunjuk ke arah barisan para penjabat yang mengantarnya di Bandara Tabing.
“Tolong Pak Anas! Ketua PWI Padang tadi, mana?”
Sudah jelas sasarannya adalah saya sendiri yang waktu itu jadi Ketua PWI Cabang Sumatera Barat. Saya keluar dari barisan para pengantar yang terdiri dari para Kakanwil/Kepala Dinas dan ketua organisasi setelah dijemput Pak Azwar Anas dan Pak Karseno.
Saya kini menuju Bung Adam yang sedang menunggu dekat tangga pesawat.
Apa katanya?
“Eh, Ketua! Saya lupa. Mana itu Rivai Marlaut? Sombong kali dia. Saya dengar dia Pimpinan Redaksi Harian Haluan, ya?”
Sambil menjabat tangan Wapres itu sekali lagi, lalu saya jawab, “Sebenarnya kemarin Pak Rivai Marlaut bersama saya ikut menyambut Bung di sini. Dia ada berjabat tangan dengan Bung. Mungkin Bung sudah lupa pada dia!”
“Mana pula saya yang lupa. Waktu berjabat tangan itu dia tidak bilang apa-apa. Saya kangen sekali sama dia. Tolong beri tahu dia. Kirim surat pada saya. nanti saya balas. Atau kalau ke Jakarta, suruh dia mampir ke rumah saya,” ujar Adam Malik, yang oleh Pak Rivai Marlaut jika menulis tentang Adam Malik selalu menambahkan embel-embel di depan nama Adam Malik dengan “Si Kancil Adam Malik”.
Setelah Pak Adam Malik naik pesawat dan take off meninggalkan Padang, saya terus ke rumah Pak Rivai Marlaut di Wisma Warta menyampaikan pesan Pak Adam tersebut.
Tapi saya tidak tahu, apakah Pak Rivai sempat menulis surat kepada Adam Malik atau tidak. Atau mungkin Pak Rivai singgah ke rumah orang nomor dua di Indonesia itu? Yang jelas tidak lama setelah itu Pak Adam sakit dan kemudian wafat.
Demikianlah secuil kenangan saya kepada Pak Rivai Marlaut pada tahun lima puluhan jadi Pemimpin Redaksi Harian Haluan Padang dan amat terkenal dengan cerbungnya Raesa, Lena Mariatun, Dokter Haslinda, dan lain-lain.
Setelah berhenti dari Haluan, Rivai berkelana ke Medan, Jakarta dan Bandung. Setelah terakhir di Medan jadi Redaktur Harian Bukit Barisan, Rivai kembali ke Padang dan kembali jadi Pemimpin Redaksi  Harian Haluan pada tahun 70-an.
Pimpinan Pusat PWI telah menganugerahkan kepadanya Piagam Penghargaan 70 Tahun yang diserahkan di Yogyakarta. Sebelumnya PWI Cabang Sumatera Barat juga telah menyerahkan Piagam Penghargaan PWI tepat pada Hari Pers Nasional tahun 1986.
Sekarang Pak Rivai Marlaut sudah tiada. Rabu, 20 April 1994 ia wafat. Namun jasa dan pengabdiannya dalam bidang pers dan perjuangan kemerdekaan akan tetap dikenang selamanya.
Jika orang berkata, The old soldier never die, prajurit tua tak pernah mati, maka bagi kita, “wartawan tua tak pernah mati…The old journalist never die!

Andaipun ia telah tutup usia, namun jasa dan teladannya akan hidup selamanya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.*

Diambil dari buku Mesin Ketik Tua