Selasa, 24 Februari 2015

Transformasi Pantun Melayu, Sastra Indonesia, Globalisasi, dan Karakter Bangsa

OLEH T. Silvana Sinar
(Universitas Sumatera Utara)

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” (Soekarno, Founding Fathers)

Mantan Presiden SBY berbantun
Pendahuluan
Bangsa Indonesia saat sekarang ini sedang dilanda gelombang “tsunami teknologi informasi dan komunikasi”. Gelombang yang terus menerpa setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga banyak di antara kita yang terbawa arusnya, hanyut ditelan ganasnya gelombang “samudera modernisasi”. Para generasi kita terimbas yang cukup akut. Mereka hidup dalam dunia teknologi informasi modern yang membuat mereka begitu cepat dan lihai dalam menguasai teknologi itu daripada generasi tua.
Sayangnya, penguasaan teknologi itu tidak diikuti dengan mendalami apakah fungsi dan manfaatnya. Para orang tua pun tak berani berbuat banyak, ketika anak-anak mereka menguasai teknologi, misalnya telepon selular. Hal ini dikarenakan para orang tua tidak menguasai teknologi itu.

Anak bangsa ini seakan sudah tercerabut dari yang namanya budi pekerti, hilangnya karakter ketimuran, dan tipisnya rasa kebangsaan. Ada multikrisis terjadi melanda anak bangsa ini, antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
Hal ini banyak pengamat dan pakar mengatakan, salah satunya akibat teknologi informasi yang tidak bisa dibendung lagi. Teknologi informasi lebih menyodorkan pada “menu hidangan” modernisasi. Sementara “menu” tradisi terabaikan ataupun tidak pernah mereka kenal sekali pun. Padahal di dalam khazanah tradisi kita terkandung muatan budi pekerti yang luhur, yang dapat dijadikan pondasi pembentukan karakter yang mulia, dan membangun rasa cinta kebangsaan. Salah satu tradisi itu adalah pantun.
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola ab/ab (tidak boleh aa/aa, aa/bb, atau ab/ba). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Tulisan ini berusaha mengungkap peran pantun dalam menanamkan pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, dan membangun empat pilar kebangsaan.
Pendidikan Budi Pekerti dan Karakter Bangsa
Budi pekerti berasal dari kata “budi” dan “pekerti”. Budi berarti paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Pekerti berarti perangai, tingkah laku, akhlak. Budi pekerti, akhlak, moral dan etika memiliki makna etimologis yang sama, yakni adat kebiasaan, perangai dan watak. Budi pekerti, akhlak, moral dan etika merupakan suatu ilmu yang menerangkan tentang baik dan buruk perbuatan manusia.
Pendidikan budi pekerti adalah pendidikan jiwa. Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti atau akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam.
Para ahli dan praktisi pendidikan sepakat bahwa pendidikan budi pekerti atau moralitas sangat penting dan mesti segera terwujud. Praktik etika atau budi pekerti tidak akan cukup hanya diberikan sebagai pelajaran yang konsekuensinya hafalan atau lulus dalam ujian tertulis.
Sementara itu perkembangan masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Dalam suasana dinamis tersebut, pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Di samping itu pengembangan kebudayaan dimaksudkan untuk menciptakan iklim kondusif dan harmonis sehingga nilai-nilai kearifan lokal akan mampu merespon modernisasi secara positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramah-tamahan sosial, dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, makin pudar bersamaan dengan menguatnya nilai-nilai materialisme. Demikian pula kebanggaan atas jati diri bangsa seperti penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar, semakin terkikis oleh nilai-nilai yang dianggap lebih unggul. Identitas nasional meluntur oleh cepatnya penyerapan budaya global yang negatif, serta tidak mampunya bangsa Indonesia mengadopsi budaya global yang lebih relevan bagi upaya pembangunan bangsa dan karakter bangsa (nation and character building). Lajunya pembangunan ekonomi yang kurang diimbangi oleh pembangunan karakter bangsa telah mengakibatkan krisis budaya yang selanjutnya memperlemah ketahanan budaya.
Tulisan ini berupaya mengungkapkan kaitan teks pantun dengan pendidikan budi pekerti dan karakter bangsa dan tranformasi tema-tema universal melalui dunia maya. Sebagaimana kita ketahui bahwa menurut para ahli setidaknya terdapat delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Berikut ini adalah uraian yang berkaitan dengan butir-butir karakter dengan contoh kutipan teks pantunnya.
Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Sebagaimana bait pantun berikut ini:
Dokter serius menginjeksi,
Agar virus cepat tersingkir.
Karakter religius bertoleransi,
Seiman jangan dituduh kafir.
Menanam kelapa di Pulau Bukum,
Tinggi sedepa sudah berbuah,
Adat bermula dengan hukum,
Hukum bersandar di Kitab Allah.

Pada dua bait pantun di atas tercemin sikap yang religius dan bertoleransi antar-umat beragama baik yang seiman maupun yang tidak seiman dan janganlah mudah terofokasi menuduh seseorang dengan tuduhan kafir dan sebagainya. Pada bait kedua tercemin bahwa adat tradisi itu semuanya bersumber dari hukum yang berlaku di tengah masyarakat. Di mana hukum itu sendiri haruslah bersumber dan berkiblat dari kitab suci agama. Karakter religius inilah yang perlu ditanamkan kepada generasi muda kita yang saat ini sudah tercerabut dari yang namanya sikap saling berhormati antar-umat beragama.
Jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Dalam teks pantun Melayu dapat kita temukan, yaitu:
Menangkap tekukur,
kucing kurus,
Buaya ditangkap,
di dalam parit.

Orang jujur,
telunjuknya lurus,
Orang khianat,
kelingking berkait.

Orang Daik memacu kuda,
Kuda dipacu deras sekali,
Buat baik berpada-pada,
Buat jahat jangan sekali.

Pergi ke hulu mencari rebung,
Gulai bersama ikan tenggiri,
Kalau selalu bercakap bohong,
Lama-lama jadi pencuri.

Isi pantun pada bait pertama masih bersifat sebuah ungkapan, di mana disebutkan bahwa orang yang jujur itu jari telunjuknya lurus. Maksud dari jari telunjuk lurus ini adalah sikap dan prilakunya selalu mencerminkan kejujuran.
Sementara sikap orang yang suka berkhianat, jari kelingkingnya berkait, maksudnya tidak bisa dipercaya. Bait kedua berupa nasihat bahwa dalam berbuat baik itu haruslah selalu diutamakan, sementara berbuat jahat janganlah dilakukan sama sekali. Sikap jujur bersifat jangan suka berbohong, karena dikuatirkan orang yang selalu berbohong lama kelamaan akan menjadi pencuri.
Dalam kehidupan manusia, sebenarnya bersikap jujur inilah yang paling sulit dilakukan, apakah itu jujur terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, ataupun kepada Tuhan. Pada saat sekaarang ini kejujuran sudah menjadi barang yang langka. Oleh sebab itu, sudah seharusnya sikap jujur ini kita tanamkan kepada anak bangsa mulai sejak dini.
Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Dapat dilihat pada teks pantun ini.
Mudik ke hulu,
di sisi batu,
Hanyut buaya,
di dua sisi.

Berbeda suku,
saling membantu,
Berbeda agama,
bertoleransi.

Sagalah buluh anggitnya jarang,
Akan pemagar kijang rusa,
Jika maklum pada seorang,
Tanda tahu bertimbang rasa.

Tuhan menciptakan sesuatu di bumi ini saling berbeda, tidak ada yang sama. Perbedaan itu memang sudah menjadi kodrat dalam kehidupan manusia. Sehingga wajar kalau dalam bait pertama pantun di atas melukiskan bahwa walaupun kita berbeda suku bangsa, janganlah melupakan untuk saling membantu, begitu juga jika ada perbedaan agama dan kepercayaan, kita haruslah bertoleransi terhadap penganutnya. Pada bait kedua sikap toleransi itu juga dapat berupa saling pengertian dan menjaga perasaan orang lain.
Disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Di dalam pantun tertuang pada bait pantun berikut.
Nenas dijual,
di pasar niaga,
Tidak lagi,
tampak berduri,
Emas perak, perhiasan dunia,
Sikap disiplin,
perhiasan diri.

Indung kunyit pemanggang ayam,
Ketupat nasi berisi inti,
Dunia senget alam tenggelam,
Belum dapat jangan berhenti.

Bila duduk, duduk bersifat
bila tegak, tegak beradat
bila bercakap, cakap berkhasiat
bila diam, diam bermakrifat.

Kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Dapat dilihat dalam teks pantun ini.

Ombak di laut meniti buih,
Ombak datang dari seberang;
Bekerja keras, pertanda kasih,
Sepanjang zaman, dikenang orang?

Karakter kreatif adalah berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Sebagaimana terdapat dalam pantun berikut.

Mengintip dara, memasang pita.
Selendang dipakai, nampak jarang;
Kreatif itu punya, dayacipta,
Sumbangan untuk, semua orang.

Mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Dalam pantun Melayu misalnya berbunyi.

Kalau berdiri, dekat periuk,
Tentu saja, terkena arang;
Sikap mandiri, kelakuan elok,
Ke mana pergi, disayang orang.

Demokratis adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

Putus gading karena dikerat
Belum jatuh sudahlah retak
Putus runding karena mufakat
Hukum jatuh benar terletak

Ribut-ribut bawa pukat,
Melihat gelung di Selat Jawa,
Kita hidup tanda muafakat,
Tolong-menolong tanda sejiwa.

Rasa ingin tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. Dapat dilihat pada bait pantun berikut.

Orang di hulu,
menebang jati,
Orang di darat,
membuat titian.

Karakter ingin tahu,
disebut curi hati,
Membuat berbagai,
penelitian.

Apa guna memakai kasut,
Dilangkah akan betis kiri,
Apa guna ilmu dituntut,
Kalau tidak membantu diri.

Semangat kebangsaan adalah cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Berikut contoh pantun yang melukiskan semangat kebangsaan tersebut.

Rebus lokan,
panggang lokan,
Lokan terdapat,
di pulau putri.

Adapun semangat,
kebangsaan,
Mementingkan masyarakat,
dibandingkan diri

Perahu payang layarnya merah,
Belayar menuju arah utama,
Keris dipegang bersentuhkan darah,
Adat pahlawan membela Negara.

Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Berikut contoh pantunnya.

Padi perak dalam ember,
Buahnya merah dekat kuali.
Karakter cinta tanah air,
Selalu setia dan sangat peduli.

Pondok menjadi bangsal,
Bangsal ada di hujung desa,
Usul menunjukkan asal,
Bahasa menunjukkan bangsa.

Sedap sungguh buah nenas,
Buat makan buka puasa,
Jangan dipandang ringgit dan emas,
Tapis dahulu budi bahasa.

Menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Berikut teks pantun yang menggambarkan hal tersebut.

Pagi-pagi menanam selasih,
Selasih ditanam di ujung serambi.
Bagailah mana hati tak kasih,
Karena tuan baik budi.
Yang dikatakan pandai besi,
Membuat parang cepat siap.
Yang dikatakan menghargai prestasi,
Memanfaatkan dengan cara beradab.

Bersahabat dan komuniktif adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Berikut contoh pantunnya.

Pohon mengkudu tumbuh rapat,
Rapat lagi pohon jati,
Kawan beribu mudah dapat,
Sahabat setia susah dicari.

Tanjung Api pasirnya lumat,
Tempat temasya Maharaja Kobat,
Bagaimana nabi kasihkan umat,
Begitulah saya kasihkan sahabat.

Cinta damai adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Berikut teks pantun yang melukiskan hal tersebut.

Orang Dumai memasak mentega,
Orang Duri menuai padi.
Cinta damai tanpa curiga,
Licin dan licik tidak terjadi.

Gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. Berikut pantun yang menggambarkan gemar membaca.

Memar pecah buah kedondong,
Cari yang manis tiada bijinya.
Gemar membaca pasti beruntung,
Segala ilmu itulah kuncinya.

Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Berikut contoh pantunnya.

Kalau hidup hendak selamat
Peliharalah laut dan selat
Peliharalah tanah berhutan lebat
Disitulah terkandung rezki dan rahmat
Disitulah terkandung tamsil ibarat
Disitulah terkandung aneka nikmat

Peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Dalam pantun Melayu ditemukan contohnya, yaitu:

Kalau ke bukit sama mendaki,
Kalau ke laut sama berenang,
Kalau kita bersatu hati,
Kerja yang berat menjadi senang.

Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Contoh pantunnya adalah.

Bunga Cina tananam Cina,
Mari dipakai tuan puteri,
Kerja kita akan sempurna,
Bila tuan tunaikan janji.

Identitas Kebangsaan

Isi pantun mempunyai nilai moral yang tinggi sehingga mudah disampaikan kepada masyarakat dalam situasi apa pun, dan untuk keperluan dan kebutuhan, yang penggunaannya tidak terikat oleh batas usia, status sosial, agama atau suku bangsa dimanfaatkan dengan baik oleh warga masyarakat untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka, demi tegaknya nilai moral dan adat-resam dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ada ungkapan seperti berikut ini:

Di mana orang berkampung di sana pantun bersambung.
Di mana ada nikah kawin di sana pantun dijalin.
Di mana orang berunding di sana pantun bersanding.
Di mana orang bermufakat di sana pantun diangkat.
Di mana ada adat dibilang, di sana pantun diulang.
Di mana adat dibahas di sana pantun dilepas.

Berdasarkan kutipan ungkapan di atas, terlihat bahwa pantun masuk dalam semua sendi kehidupan manusia. Apakah itu di saat membangun suatu daerah yang baru (berkampung), upacara pesta pernikahan, saat berunding, bermufakat, apalagi dalam upacara atau ritual adat istiadat pantun selalu hadir dan menjadi setawar sedingin dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Menuju Dunia Global
Pada era global sekarang ini, dunia terlihat kecil, informasi meluncur dengan cepat dari suatu sudut ke sudut dunia yang lain. Semua saling berkhabar, semua saling mempengaruhi. Bahkan masyarakat dunia sekarang ini dapat berbagi perasaan senang, gembira ataupun berduka cita, misalnya bencana kelaparan di Afrika dapat dirasakan oleh masyarakat di belahan dunia yang lain.
Pantun sebagai karya seni budaya daerah yang sudah mendunia memiliki potensi yang besar menembus ke peradaban dunia saat ini melalui dunia cybersastra. Laman ini adalah tempat bagi sastrawan untuk mengirimkan karya mereka ke dunia maya. Melalui cybersastra tersebut, karya pantun dapat tersebar di dunia maya dengan demikian, karya bangsa mampu bersaing dengan negara-negara di dunia. 10
Istilah cybersastra mulai populer sejak tahun 2001, yakni pada saat budaya internet mulai berkecamuk di negeri kita. Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi, cybersastra semakin berkembang dan telah menyuguhkan realitas tersendiri bagi pemerhati sastra. Gerakan cybersastra menghendaki keterampilan atau skill teknologi komunikasi. Dari sini, telah muncul pula sebuah komunitas baru dalam sastra, yaitu komunitas cybersastra.
Isu-isu penting dalam mentransformasi pantun dalam dunia cyber adalah isu universal seperti karakter bangsa dan gender. Dua isu ini penting untuk negara-negara berkembang karena masalah kaum perempuan yang diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, pendidikan yang tinggi diprioritaskan untuk laki-laki, demikian juga dengan pekerjaan yang berupah tinggi biasanya untuk laki-laki. Masalah-masalah perempuan yang berada di negara maju yang pasti berbeda dengan masalah-masalah yang dihadapi para perempuan di negara yang sedang berkembang sehingga isu-isu penting mereka adalah membicarakan hak-hak perempuan dalam masalah seksual dan juga peran perempuan dalam politik.
Isu dari timur (negara-negara Islam) mengemukakan hak-hak perempuan di ranah publik dan masalah-masalah kewajiban memakai jilbab dan cadar. Dari karya sastra dapat diketahui bahwa ajaran agama pun banyak dimanipulasi untuk mempertahankan status Quo, kekuasaan yang berada ditangan laki-laki.
Penutup
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir. Pantun melatih seseorang berpikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Sehingga dengan demikian, pantun memiliki potensi untuk ditransformasikan ke dunia global. Pencipta pantun dapat menyemarakkan dunia sastra dengan tema universal seperti karakter bangsa dan feminisme.
Daftar Pustaka
Amin, Ahmad. 1995. Etika (Ilmu Akhlak), terj. Farid Ma’ruf, Judul Asli Al-Akhlak. Jakarta: Bulan Bintang.
Sinar, Tuanku Luckman Basyarsyah II, dan Wan Syaifuddin (Ed.). 2002. Kebudayaan Melayu Sumatera Timur. Medan : USU Press.

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar