Minggu, 13 Desember 2015

OBITUARI: Pencipta ‘Padang Kota Tercinta’ itu‘lah Pulang

OLEH Alwi Karmena
Leon Agusta
“Di hari raya. Di hari rindu beralun alun. Selendangmu ibu, terkibas diterpa angin… Ah. Salamku lah itu…”
Sebaris puisi indah amat tersemat di hati–Kenapa Tak pulang Sayang yang ditulisnya puluhan tahun yang lalu, dengan gemetar namun khidmad, saya kutip dari antalogi puisi Monumen Safari. Buku kumpulan empat penyair: Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta, Chairul Harun, dan Zaidin Bakry. Sebuah buku tua yang telah menguning kertasnya.
Leon Agusta, lahir di Sigiran Maninjau 77 tahun yang lalu, 5 Agustus 1938. Meninggal dunia pada Kamis (10/12/2015) di Padang. Nama kecilnya Ridwan Ilyas.Tak jelas mengapa dia mengubah namanya jadi Leon Agusta. Leon seorang tokoh kontemplatif yang sentimentil. Belakangan ini, entah kenapa, dia jadi acap mengeluh. Bukan karena dia amat menyadari dirinya telah demikian rapuh. Beberapa penyakit kronis ia akui sebagai seperangkat derita yang telah menggerogoti hari tuanya yang rembang. Tapi, dia mengeluh atas respons anak-anak muda, terutama orang birokrasi yang kurang merespons upaya luhurnya membangun Leon Agusta Institut. Ya. Untunglah masih ada Julia anaknya yang gigih, meski terseok, anak permpuannya itu terus…terus memikul gagasan tersebut ke gelanggang.
Bang Leon Agusta, begitu dia saya sapa. Dunia kesenian tahu. Saya adalah orang yang amat dekat dengan beliau. Sejak awal 70-an. Kami membangun Bengkel Teater bersama Wisran Hadi, tokoh teater yang pada pertengahan jalan, Wisran memisahkan diri membangun Bumi Teater.
Saya bertahan di “Bengkel”nya di Hiligoo, rumahnya Bang BHR Tanjung yang juga dedengkot teater. Bahkan, ketika dia hijrah ke Jakarta, sampai hari-hari penghabisan ini, kami masih berkomunikasi lewat “Surat Surat Kebudayaan”. Sering dia mengatakan dirinya amat rindu pulang.
Leon boleh dikatakan penyair yang sentimentalitasnya menghunjam dalam. Nyanyan Hujan di sajak-sajaknya mewakili iklim batinnya yang sering berawan. Sepertinya, dia fasih sekali menafsirkan isi palung dari “nuansa puitik”, rindunya yang tersembunyi dalam getir pergulatannya menepis jarak.
Leon sebenarnya amat cinta kampug halaman. Dia bangga jadi orang Maninjau. Walau telah melanglang ke mancanegara, Padang Kota Tercinta (Puisinya yang dijadikan motto Kota Padang) adalah pelabuhan ciptanya, cintanya yang penghabisan. Pelabuhan tempat dia kini menutup pelayaran di bahtera hidup dunia. Sang Khaliq memanggil aktor ini untuk menghadap menunaikan janji pertemuan abadi.
Petang kemaren. Bang Leon “mengicuh” saya, seperti Wisran mengecoh saya. Padahal, jauh-jauh hari dia ingin bercengkrama, bicara tentang puisi-puisi yang belum sempat dipubliklasi. Dia masuk RSUP M Jamil Padang. Tak ada yag memberi tahu saya, ya Allah. Saya sejak lama menunggu dia dari Jakarta. Tapi, diam-diam dia meyelusup masuk ke Jati (RSUP). Saya tak perduli nama-nama penyakitya. Saya, dia, dia dan dia lainnya lagi, bahkan beratus ratus kawan lain juga punya beratus-ratus penyakit. Saya hanya peduli, kalau dia datang bercakap-cakap tentang puisi dengan saya.
Tapi, petang hari rembang. Leon Agusta, penancap utama pilar teater modern di Sumatera Barat ini, tiba tiba memadamkan lampu pentas “sandiwara rutin” saya. Saya tak bisa main- main lagi. Saya kehilangan tenaga. Ingin berlutut pada kelam. Kenapa rupanya? Tiba-tiba sahabat saya, guru saya, penyair melankolis itu, pulang ke kampung abadi tanpa saya berkesempatan melepas. Pulang. Yang pasti tak akan kembali lagi.
Selamat jalan Bang Leon.

(senja berembang malam di kantorku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar