Selasa, 26 Januari 2016

Kita dan Kebudayaan

OLEH Abdul Hadi W. M. (Budayawan)
Abdul Hadi W.M bersama cucunya
Salah satu masalah yang memprihatinkan sekarang ini di bidang kajian ilmu-ilmu kebudayaan dan humaniora ialah simpang siur dan rancunya pengertian tentang kebudayaan. Ada yang mengaburkan arti kebudayaan dengan peradaban. Ada juga yang mengartikannya terlalu luas sehingga mencakup apa saja dalam kegiatan hidup manusia yang sebenarnya tidak bisa dimasukkan sebagai wilayah kebudayaan. Yang lain lagi mengartikan terlalu sempit sebatas kesenian,kesusastraan, arsitektur dan adat istiadat. Kesimpang siuran dan kekusutan  pengertian itu sudah pasti berpengaruh terhadap upaya pengembangan dan penentuan kegiatan kebudayaan yang akan dilakukan, dan sudah pasti pula menimbulkan kebingungan dalam menyusun kebijakan dan strategi kebudayaan di masa depan.

Sabtu, 16 Januari 2016

Sjafrial Arifin dan Mata Elang

OLEH Eko Yanche Edrie
Sjafrial Arifin
Dalam dua hari ini berita duka kehilangan wartawan senior bertirit-tirit saja. Saya menulis obituari untuk almarhum Uda Zaili Asril, Senin (11/1/2016) sekitar pukul 23.55 WIB. Semalam saya harus tulis satu obituari lagi, kali ini untuk senior saya Uda Sjafrial Arifin atau kami di Surat Kabar Singgalang memanggilnya Da Cap. Da Cap meninggal dalam usia 67 tahun.

Kegelisahan Sutan Zaili Asril

OLEH Nasrul Azwar
Sutan Saili Asril
Tulisan dan pemikiran lebih panjang usianya daripada penulisnya karena ia akan dibaca terus menerus dari generasi ke generasi kendati penulisnya telah tiada. Kegelisahan paling panjang bagi Sutan Zaili Asril adalah Minangkabau, serta langkanya wartawan yang melahirkan buku.
Sutan Ziali Asril (60), wartawan senior yang visioner juga mantan COO Grup Padang Ekspres, telah dikebumikan di pandam pekuburan keluarga di Korong Kiambang, Kenagarian Pakanbaru, Kecamatan 2 x 11 VI Lingkung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (12/1/2016) menjelang salat Ashar. Ia istirahat di sebelah pusara Umi, ibunya, untuk selamanya.

Minggu, 10 Januari 2016

Sastra Digital dan Penyebaran Sastra Indonesia Melalui Industri Kreatif

OLEH Cecep Syamsul Hari
1. Sastra Digital
Sastra digital adalah karya sastra yang ditulis dalam format standar (word/powerpoint) atau pdf/microsoft reader/adobe reader dan sejenisnya yang dipublikasikan melalui blog/website atau jejaring sosial di internet.

Rumah Dongeng sebagai Basis Pendidikan Karakter Bangsa

OLEH Dra. Sri Ningsih, M.S. (Fakultas Sastra Universitas Jember)
Abstraks
Mendongeng salah satu pendidikan karakter bangsa
Popularitas dongeng sudah sejak lama menurun, baik dalam ranah keluarga maupun ranah publik. Di sisi lain karakter bangsa juga menurun dalam skala horisontal maupun vertikal, seperti muncul dalam perilaku tawuran massal, perilaku para elit bangsa, sampai dengan ancaman disintegrasi bangsa. Dongeng sebagai salah satu jenis karya sastra pada zaman dahulu merupakan sarana pendidikan yang efektif. Dongeng dalam kemasan yang berbeda sangat disukai oleh anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Makalah ini mencoba untuk menawarkan satu strategi revitalisasi dan sosialisasi dongeng dalam konteks pendidikan karakter bangsa dan pemerkokoh NKRI.

Selasa, 05 Januari 2016

Jurnalisme Baru: Kembalilah ke Akar

OLEH ARYA GUNAWAN (Jurnalis)
Majalah berita mingguan yang bermarkas di London, The Economist edisi terbaru (24 Agustus 2006) menurunkan laporan utama dengan judul provokatif, Who Killed the Newspaper? Laporan tersebut mengupas kondisi terakhir yang tengah dihadapi oleh surat kabar di seluruh dunia, yang secara umum menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah tiras.

Senin, 04 Januari 2016

Senjakala Surat Kabar dan Kebangkitan Jurnalisme Digital

OLEH Wahyu Dhyatmika (Jurnalis)
Rasanya tidak berlebihan kalau saya mengatakan hampir semua jurnalis di Indonesia beberapa hari terakhir ini pasti mengikuti dengan penuh perhatian perdebatan di media sosial soal media cetak versus media digital. Perdebatan ini dimulai ketika wartawan senior Harian Kompas, Bre Redana menulis catatan berjudul "Inikah Senjakala Kami..." di Kompas edisi 28 Desember 2015.

Jumat, 01 Januari 2016

Politik Kesenian dalam Perspektif Negara

OLEH HILMAR FARID
Hilmar Farid saat mempresentasikan makalahnya di KKI III Bandung
Ada dua kongres kesenian setelah Indonesia merdeka. Kongres pertama masih di masa kejayaan Orde Baru pada 1995 dan kongres kedua di masa awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kesimpulan dan rekomendasi dari kedua kongres sebenarnya sangat jelas dalam kaitannya dengan diskusi mengenai negara dan kesenian atau politik kesenian. Sayangnya institutional memory yang lemah membuat kita sering mengulang lagi apa yang sudah dibicarakan dan diputuskan sebelumnya. Akan baik jika peserta kongres sekarang mendapat salinan dari kesimpulan dan rekomendasi dua kongres sebelumnya sehingga bisa melihat apa yang sudah dicapai, apa yang belum dicapai, beserta alasannya. Dari sini kita bisa melihat peta permasalahan lebih konkret dan akan menemukan jawaban yang lebih jitu pula.

Pelbagai Dunia, di Dalam dan di Luar–Sebuah Pamflet

OLEH NIRWAN DEWANTO

Mendikbud Anies Baswedan saat buka KKI III di Bandung
Forum-Kongres yang kita hadiri untuk tiga hari ke depan ini niscayalah mengandung ironi yang begitu besar. Dalam hubungannya dengan produksi seni, penyebaran hasil-hasil seni, pemeliharaan sumber-sumber kreatif, pembinaan masyarakat pemirsa, dan perhubungan internasional antar-pekerja seni, dan segala hal yang bertali-temali dengan itu, sudah lama kita tak melihat peran Negara.