Sabtu, 16 September 2017

Orang Minang Berkiblat ke Baitullah, Sumpah Satie Bukik Marapalam II?

(Mengenang Kembali Tiga Seminar Minangkabau (III-Habis)
OLEH H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
Mantagibaru kali menurunkan tiga tulisan wartawan senior almarhum Kamardi Rais. Ia salah seorang yang berprofesi jurnalis sekaligus sosok ninik mamak yang memahami adat istiadat dan budaya Minangkabau, serta menjadi Ketua Umum LKAAM Sumbar. Tiga tulisan Kamardi ini memotret fenomena yang terjadi dalam tiga kali peristiwa budaya, yakni seminar tentang Minangkabau yang digelar berturut-turut (1968, 1969, dan 1970). Setelah ini, tak ada seminar Minangkabau yang sedalam dan selengkap ini digelar. Berikut  tiga tulisan itu diturunkan secara berkala per minggu, tentu setelah dilakukan penyuntingan.
Seminar ketiga (III) di Luhak Nan Tuo, Batusangkar, digelar 1-7 Agustus 1970. Seminar ini berlevel nasional yang Ketua Panitia Pusatnya adalah almarhum Prof. Dr. Bahder Djohan, mantan Menteri PPK dan mantan Rektor Universitas Indonesia. Penasihatnya Bung Hatta, Buya Hamka, dan lain-lain.
Di Sumatera Barat, Panitianya Pemerintah Daerah Sumatera Barat, Centre for Minangkabau Studies (Mochtar Naim), LKAAM Sumbar, IKIP Padang, Unand dan Wali Kota Padang Drs. Achirul Yahya. Panitia Pelaksana di Batusangkar adalah Bupati Mahyuddin Algamar.
Seminar ini tidak seperti seminar biasa. Biasanya dihadiri peserta sekitar 70-90 orang. Tapi seminar di Batusangkar ini dihadiri lebih 200 orang, ditambah peninjau. Diperkirakan peserta seminar  sampai 300-400 orang. Setiap nagari di Minangkabau mengutus 1-2 orang sebagai peserta dan peninjau.
Nagari Pagaruyung menyembelih kerbau untuk menjamu tamu-tamu yang datang. Makan bajamba di bawah pohon beringin tiga sesaing. Konon beringin tiga sesaing itu ditanam oleh Rajo Tigo Selo: Rajo Alam di Pagaruyung, Rajo Adat di Buo dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus.
Di bawah pohon beringin yang tumbuh agak ke pinggir jalan raya Pagaruyung tersebut, ada batu kasur. Konon batu kasur itu tempat ujian bagi anak-anak raja yang akan diutus ke rantau. Dulu anak raja yang bergelar Rajo Mahmud lolos ujian setelah tidur semalaman di batu kasur tersebut, di alas dengan jelatang nyiru. Kalau masih menggarut (gatal dan perih) tidak akan lolos. Nyatanya Rajo Mahmud lolos. Dia dijemput oleh Datok Undang yang berempat: Undang Luak Rembau, Undang Luak Jelebu, Undang Luak Johol dan Panglima Tampin.
Raja Mahmud menyeberang selat Malaka dan dirajakan di Negeri Sembilan Tanah Melayu. Bertolak dari Pagaruyung tahun 1770 dan dinobatkan di Penajis 1773.
Kembali ke seminar yang ketiga ini bertopik : “Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau”. Acara pembukaan bertempat di rumah adat Kota Batusangkar dengan pidato Ketua Panitia Pusat Prof. Dr. Bahder Djohan. Sambutan Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumatera Barat, Baharuddin Dt. Rangkayo Basa, sambutan Gubernur Sumbar Harun Zain dan sambutan Menteri Penerangan RI Budiardjo disampaikan oleh Staf Menteri Ismail Hasan, S.H.
Sambutan dari Tan Seri Samad Idris, Menteri Belia dan Sukan Malaysia yang berasal dari Negeri Sembilan dan nenek moyangnya dari Sumanik (Batusangkar) dibacakan oleh Drs. Saafruddin Bahar (Sekum LKAAM Sumbar).
Besok harinya dilakukan studi excursi ke nagari tertua Minangkabau Pariangan Padang Panjang dengan kuburan panjang Datuk Tan Tejo Gurhano, ke Balairung panjang di Tabek dan ke negeri-negeri Basa Ampek Balai, dan lain-lain.
Lebih dari 30 makalah dan makalah bahasan dibentangkan oleh para pakar dan tokoh-tokoh ternama seperti Buya Hamka, Bung Hatta, Prof. Dr. Bahder Djohan, Drs. M. D. Mansur, Dt. Perpatih Sabatang (Batusangkar), Fachrudin HS Dt. Majo Indo (Payakumbuh), Dra. Asmaniar Idris, A.A. Navis, dan lain-lain.
Kertas kerja dari LKAAM Sumbar ditulis oleh M. Rasjid Manggis Dt. Rajo Panghulu dan Kamardi Rais Dt. P. Simulie yang ditunjuk oleh Mubeslub LKAAM di gedung Dodik Simpang Haru, Padang, Mei 1970.
Yang menarik waktu itu adalah komisi seminar yang dipimpin oleh Drs. M. D. Mansur. Pukul 08.00 WIB dalam jadwal acara tertera bahwa Dr. H. Moh. Hatta akan tampil membahas makalah Buya Hamka ”Islam dan Minangkabau”. Ternyata sampai pukul 08.20 WIB, Bung Hatta belum juga tampil di sidang seminar.
Pimpinan sidang Drs. M. D. Mansur mengetuk palu tiga kali, diiringi dengan kata-kata bahwa yang kita cintai dan amat kita hormati Doktor H. Moh. Hatta sampai saat ini belum muncul di ruang seminar.
“Telah terjadi yang belum pernah terjadi selama ini. Sampai pukul 08.30 Wib Bung Hatta belum datang,” kata moderator itu. Sidang kita skor sampai Bung Hatta datang,” sambungnya.
Tang-tang-tang palu moderator berdentang tiga kali pula.
Peserta yang penuh sesak di Gedung Nasional itu melangkah gontai ke luar gedung lalu berkerumun mengelilingi atraksi talempong Unggan yang terkenal, Sikantuntang, dan lain-lain.
Ternyata kurang 15 menit sidang seminar diskor, mobil Bupati Tanah Datar Mahyuddin Algamar berhenti di depan Gedung Nasional, membawa Bung Hatta bersama sesprinya, Pak Wangsawijaya, Prof. Dr. Bahder Djohan, Dokter Rasidin (bekas Wali Kota Padang) dan lain-lain.
Bung Hatta dibimbing masuk ruangan dan para peserta ”bagaduru” masuk sidang seminar kembali.
Setelah sidang dibuka Drs. M. D. Mansur sidang menjelaskan bahwa Bung Hatta yang kita cintai sebenarnya kesehatannya terganggu. Walau pun demikian ia masih bersemangat untuk hadir dalam seminar. Keterlambatannya selama 30 menit karena Beliau memeriksa matanya yang sakit.
Aksara Minangkabau
Pada hari keempat seminar, Drs. Ibrahim Buchari dari Jakarta mengatakan bahwa budaya Minang yang sudah tua itu kok tak punya aksara? Kita mengenal ada tulisan Rencong, Lontara, Rejang Lebong, dan lain-lain. Tapi Minang kok tidak ada.
Dalam diskusi itu, tiba-tiba munculah seorang bekas camat Pariangan. Dia membentangkan semacam spanduk kecil dari kertas. Jangan bilang orang Minang tak punya aksara katanya. Inilah aksara Minang tersebut, kata bekas camat tersebut di depan forum seminar.
Bung Hatta tampak senyum-senyum melihat aksara tersebut dan Buya Hamka menganggukkan kepalanya.
Karena foto kopi belum ada, maka banyak orang menyalin aksara Minang yang ditemukan di sebuah rumah di Pariangan. Saya pun ikut menyalinnya. Kenapa tulisan itu tidak dipakai atau berkembang?
H Fachruddin HS Dt. Majo Indo, pengarang Tafsir Alquran dan mantan Kepala Penerangan Agama Provinsi Sumatera Tengah (Kapenapste) menduga, mungkin karena Islam sudah masuk Minangkabau, orang Minang tertarik untuk mengembangkan huruf Arab-Melayu, maka aksara Minang tidak dipakai lagi.
”Mungkin juga”! Komentar Buya Hamka.
Kiblat ke Baitullah
Kesimpulan seminar yang tujuh hari itu dibacakan oleh Buya Hamka pada penutupan seminar di lapangan PSBS Batusangkar. Bahwa sejarah Minangkabau hendaklah segera ditulis setelah seminar ini oleh para sarjana kita bersumber kepada: 1) Peninggalan purbakala; 2) Tulisan yang terdapat di Nusantara; 3) Penulisan asing; 4) Kitab-kitab Tambo yang terdapat pada berbagai nagari; dan 5) Sumber-sumber lainnya.
Tentang orang Minang jati dirinya adalah moyangnya turun dari Gunung Marapi, sekarang menjadi bangsa Indonesia dan berkiblat ke Baitullah. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Orang menyebutkan, inilah ”Sumpah Satie Bukik Marapalam II.