Rabu, 20 September 2017

Sastra dan Kepekaan Budi

OLEH Gus tf Sakai (Sastrawan)
Sering kita lupa, otak terdiri dari dua bagian: kiri dan kanan. Bila batok kepala dibelah, benda berwarna kuning keabuan, bervolume lebih-kurang 1,7 liter dan terdiri dari seratus miliar sampai satu triliun sel saraf yang terbelit dalam lapis pembungkus, itu memang tampak seperti satu kesatuan. Tetapi, sejak paruh akhir abad ke-20, bukan hanya kenyataan bahwa otak terpisah atas kiri dan kanan, kita juga diantarkan pada kesadaran bahwa benda maha mencengangkan itu tak lagi bisa dilihat sebagai jalinan fisik semata.

Lebih dari sekedar jalinan fisik (material) glia dan neuron, ada rahasia akal budi—yang oleh Descartes disebut “jiwa rasional”—bersemayam di dalamnya. Walau dalam uraiannya Descartes lebih menekankan pada proses pancaindera, semua bermula dari aktivitas otak kiri dan kanan. Kiri yang responsiabelnya selalu ditandai dengan analisis, dan kanan dengan kecenderungan untuk bertindak.
Tetapi mungkin wajar kita lupa. Dunia ilmu dan pendidikan, boleh dikata, adalah dunia otak kiri. Seni, sebagai basis otak kanan, berhadapan dan “dikeroyok” oleh sains, ekonomi, sosial, politik, hukum, agama, filsafat, ringkasnya semua bidang atau teks lain berbasis otak kiri yang sejak lama kita terima di sekolah. Lama-kelamaan pula, kita jadi terbiasa untuk hanya menggunakan otak kiri, tak sadar ada mekanisme lain yang hanya bisa dilihat dan dipahami melalui otak kanan yang perannya justru sangat utama dalam proses kesempurnaan budi.
Lebih tinggi, lebih rendah
Adalah ironi bahwa seni, khususnya sastra, pernah menempati posisi sangat penting dalam jagat masa lalu kita. Para sastrawan, dalam sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, adalah orang-orang terhormat, para penasihat, empu-empu, yang merupakan “orang dalam” dan tak jarang jadi penentu kebijakan istana. Sampai jauh kemudian, Sutan Takdir Alisjahbana, misalnya, masih menyebut sastrawan sebagai pujangga (melibatkan kata empu juga), sebuah kata yang terkesan dominan, ekslusif, dan elitis. Bahkan HB Jassin mengatakan bahwa pujangga bisa disamakan dengan pesuruh Dewi Kesenian yang diturunkan ke dunia untuk menjadi penunjuk jalan bagi bangsanya.
Dalam zaman modern sekarang di mana kesamaan, keterbukaan, dan inklusivitas menggantikan segala hal yang dominan, ekslusif, dan feodalistik, pengertian sastrawan seperti di masa lalu itu tentu saja sangat berlebihan dan tak lagi relevan. Seiring dengan perubahan zaman, sebagaimana apa pun di dunia selalu berubah, sastrawan kini menjelma jadi orang biasa, tak lagi istimewa, sama dengan orang-orang lain yang menekuni dan bekerja dalam bidang berbeda.
Hal yang juga tak terhindarkan, jenis sastranya juga berubah. Jenis yang saya maksud tentu bukan berkaitan dengan bentuk seperti puisi, cerpen, novel, dan lain-lain, melainkan kepada teknik dan cara ungkapnya. Kita tahu, karya-karya sastra zaman kerajaan penuh risalah, aturan-aturan, petunjuk, petuah, dan dilanjutkan dengan bertendens pada zaman pergerakan dan perjuangan kemerdekaan, yang menempatkan pengarang berada di posisi “lebih tinggi” daripada pembaca.
Perbedaan posisi ini, pengarang “lebih tinggi” dan pembaca “lebih rendah”, mengharuskan cara ungkap satu arah di mana pengarang bertugas memberi dan si pembaca hanya menerima. Dengan kata lain, pembaca berada dalam kondisi pasif, suatu kondisi yang sangat berlawanan dengan semangat modern yang menghendaki setiap manusia harus aktif, progresif, bahkan tak jarang harus merebut. Maka, pertanyaan yang segera menghadang: karya sastra jenis apa, dan dengan cara ungkap bagaimana, yang sesuai dengan perubahan zaman?
Diskursif, figuratif
Cara ungkap memberi adalah cara ungkap diskursif yang penuh bahasa merumuskan. Dalam konsep perumusan, setiap makna diperketat dan selalu mengarah ke satu atau tunggal. Bila A yang disampaikan pengarang, maka A pula yang diterima atau dimaknai pembaca. Inilah yang menyebabkan pembaca jadi pasif. Kondisi akan berbeda bila berlaku hal sebaliknya: A yang disampaikan pengarang, tetapi pembaca tidak hanya memaknainya sebagai A, melainkan boleh sebagai B, C, D, dan seterusnya sampai tak berhingga.
Apa yang disampaikan pengarang boleh berbeda dengan yang diterima atau dimaknai pembaca, tak lain, inilah kondisi yang mampu menyebabkan pembaca menjelma aktif. Maka cara ungkap yang digunakan pengarang haruslah figuratif, di mana bahasa selalu mengarah dan bergerak ke perluasan makna. Dalam sastra kita mengenal bahasa berkias, kata-kata simbolik, dan berbagai ragam gaya bahasa. Semua itu digunakan pengarang, sesungguhnya, tak lain, memang untuk memperluas makna. Tetapi, aktif yang kita maksud, seperti kita kutip Descartes tentang “jiwa rasional” di depan, tentu adalah penekanan pada terbukanya pancaindera.
Keterbukaan indera, inilah hakikat aktif dalam membaca sastra. Seluruh kata dan bahasa yang digunakan pengarang, tak lain, sasarannya adalah indera. Dengan demikian, tubuh sastra adalah tubuh indera yang pada setiap kata, pada setiap kalimat setiap alinea, di sekujur halaman setiap lembar sampai lembar terakhirnya, pembaca mampu membayangkan, melihat, mendengar, meraba, mencecap merasakan, bahkan seperti ikut hadir, berada, dalam dunia cerita. Inilah sastra kita ke depan. Karena mampu membuka mengaktifkan segenap indera, mari kita sebut saja ia sastra kepekaan.
Dalam sastra kepekaan, pengarang tidak berada dalam posisi memberi, melainkan membangkitkan. Pengarang atau sastrawan tidak berada di tempat lebih tinggi, melainkan di tempat sama; setara dengan pembaca. Tak ada lagi bahasa petunjuk, kalimat-kalimat petuah. Manusia modern bukanlah seorang pasif, yang nyaman dalam posisi menerima, kecuali ikut memberi, menciptakan makna sesuai dengan pengalaman hidup mereka yang beragam dan berbeda.
Penjara
Semua kini jadi mudah: tugas pengarang hanya satu, membuka indera, maka peka akan jadi milik pembaca. Setiap kali pembaca membaca, akan bangkit sesuatu dalam diri pembaca sesuai dengan pengalaman hidup pembaca; manusia modern yang aktif, progresif, dan selalu ingin merebut. Dalam seni, sebenarnyalah, pembaca merebut makna. Pembaca merebut makna dari si pengarang untuk menerjemahkan diri mereka. Karena sesungguhnya, sama seperti si pengarang, pembaca adalah juga makhluk kreatif.
Sebagai sesama makhluk kreatif, esai kecil ini ingin ditutup dengan kembali ke bagian awal: otak kiri dan kanan. Begitulah otak kiri, sejak kanak-kanak, sejak kita pertama belajar bicara, merumuskan sesuatu dengan bahasa (lalu, ironis, diteruskan tak putus-putus bertahun-tahun di sekolah), membuat kita terpenjara dalam rumusan. Kita telah hidup dalam semacam “dunia diskursif” di mana segala sesuatu telah selesai (dirumuskan) dan kita tinggal menerima. Karena otak kiri, dalam sistem kerjanya, pertama-tama memang meletakkan manusia sebagai penerima. Berbeda dari sistem kerja otak kanan (teks seni) yang mengharuskan manusia tegak sebagai pemberi.

Kiranya, apa yang membuat kita merasa sulit dan tak nyaman dengan seni, adalah tuntutan bahwa kita harus kreatif. Karena sebenarnyalah, memang, selama ini kita telah “dijajah” oleh teks-teks otak kiri yang membiasakan kita berada dalam posisi pasif. ***