Minggu, 05 November 2017

Bahana Puisi di Benteng Portugis Pulau Cingkuak

CATATAN SILATURAHMI MANDE BAPUISI ANTARKOMUNITAS
OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)

Penampilan para pembaca puisi, musikalisasi, pantomim, serta seni tradisi Minang dalam “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi”. (Foto Panitia) 
Bebatuan bata sebagian masih tersusun relatif rapi, kendati tak utuh. Inilah sisa sebuah kawasan pertahanan perang dan sekaligus tempat pengintaian musuh yang digunakan bangsa kolonial Portugis. Posisinya sangat strategis. Saat ini dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata Pesisir Selatan.
Kawasan yang berada persis di tengah jantung Pulau Cingkuak itu, disebut Benteng Pulau Cingkuak. Benteng yang dibangun Portugis sekitar tahun 1500-an ini berada di Jorong Pulau Cingkuk, Nagari Painan, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan.  Menuju pulau yang luasnya 4,5 hektare itu, menaiki perahu bermesin tempel dari dermaga kecil di Pantai Carorok, tak sampai 15 menit, karcisnya pulang-pergi Rp21 ribu per orang. Katanya, Rp1.000 untuk asuransi penumpang perahu.
Benteng Pulau Cingkuk ini merupakan basis pertahanan kolonial Portugis di Pantai Barat Sumatera. Selain untuk benteng, Portugis juga memungsikan pulau ini untuk mengumpulkan hasil tambang emas salido yang dibawa ke negaranya. Makanya, di sini ada dermaga kecil.
Kini, kawasan bersejarah ini, sudah masuk dalam situs cagar budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, namun tak terlihat adanya perawatan khusus terhadap situs sejarah ini. Rerumputan liar tumbuh membungkus dinding benteng. Bebatuan dibiarkan berlumut, dan ada beberapa yang berserakan.
Di tengah bangunan Benteng Pulau Cingkuak inilah para pencinta dan komunitas seni, penyair, pambaca puisi dan aktivis budaya literasi, serta masyarakat sekitar pada Minggu 15 Oktober 2017,  berkumpul dalam satu tujuan yang mengebatnya, yakni Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi antarkomunitas dan pencinta seni dari berbagai kota dan kabupaten di Sumbar.
Sebelum memasuki kawasan Benteng Pulau Cingkuak itu, persis di depan pintu gerbang yang melengkung dengan jalan agak mendaki, rombongan pegiat seni sekitar seratusan, disambut dengan tarian tradisi Minang sebagai bentuk penghormatan pada tetamu. Tarian dengan mengedepankan gerakan silat ini dibawakan Kelompok Bayang Palito Remasdafa, Talaok, Pessel, sebuah sanggar yang sedang berkembang baik. Dalam rombongan terlihat Riri Satria, putra Pesisir Selatan yang juga salah seorang inisiator kegiatan, penyair Sosialwan Leak dari Solo, dan lain sebagainya. Tak ada pejabat dari pihak Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan yang hadir.
Kata Sulthan Indra Muhidin Muda, Ketua Pelaksana Acara ini, pihak pejabat terkait di Pesisir Selatan, kendati tak hadir di kegiatan yang cukup penting ini, mereka membantu secara moral dan doa dari jauh. “Mereka dukung secara moral dan dan doa dari jauh saja,” tegasnya.
Hal senada juga dikatakan  Arbi Tanjung, inisiator kegiatan ini, kegiatan ini tetap akan jalan walau tak ada bantuan dari pemerintah. “Bulan depan mungkin di Bonjol kita laksanakan,” kata Arbi lagi.
Galibnya kegiatan antarkomunitas seni ini, yang memang dikesankan jauh dari hinggar-bingar kemegahan dengan lelampu dan perangkat bunyi yang digital, tentu dengan ruang berhawa dingin dan harum, mereka melantunkan syair, menyanyikan puisi, berpantomim, menampilkan tari tradisi Minang dan randai, di atas panggung seadanya dan sederhana.
Di Pulau Cingkuak ini, panggung dibuat di atas tanah yang agak tinggi dengan tiang batang kekayuan beratap dedaunan. Ada tali plastik warna merah yang disusun seperti sarang laba-laba di sisi kiri yang tak layak disebut panggung itu, yang luasnya 2 kali 2 meter saja. Di sana perangkat pengeras suara ditaruh. Ada pula 4 kursi dan 2 gitar, yang membuat “panggung” terlihat sempit. Tapi bagi yang tampil, itu bukan masalah.
Dari atas panggung yang memang sangat sederhana itulah penyair Sosiawan Leak dari Kota Solo Jawa Tengah, Syarifuddin Arifin, Riri Satria dari Jakarta, Sulthan Indra Muhidin Muda, Maulida Rahman Siregar, Soetan Radjo Pamoentjak dan Refdinal dari Komunitas Sarunai Bukittinggi, Romi Sastra, M. Jemmi Visgun Batusangkar, pantomim Zam Mime, Okta Piliang, Yeyen Kiram, Endut Ahadiat, Hermawan, Osmulyadi dan John Wahid (perupa), musikalisasi puisi dari Teater IB Padang, Sanggar Bayang Palito dari Nagari Bayang dan seterusnya, membekaskan eksistensinya dalam kreativitas di benteng ciptaan kolonial Portugis itu.
Menurut Sulthan Indra Muhidin Muda, kegiatan silaturahmi pegiat seni antarkomunitas seni di Sumatera Barat ini, selain membuka lebih luas ruang ekspresi, juga dikesankan untuk memperkenalkan lebih luas destinasi wisata andalan Pesisir Selatan ini.
“Kita memilih Pulau Cingkuak agar destinasi wisata di Pesisir Selatan dikenal secara masif dan luas. Kita dorong dengan kapasitas kita lewat seni. Kita kenalkan lewat karya-karya kreatif pembacaan puisi, musikalisasi dan penampilan seni tradisi lainnya. Ini pertama kali kegiatan seni digelar di Pulau Cingkuak. Kita telah lakukan pembicaraan dengan pihak Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, tapi mereka kurang  respek. Tapi tak masalah. Kegiatan tetap jalan sesuai dengan yang direncanakan. Kehadiran kawan-kawan komunitas dan para senior, sangat membantu kesuksesan acara ini,” ujar Sulthan Indra Muhidin Muda, yang juga ‘rang pasisia’ ini.
Dia mengaku kecewa karena minimnya respons Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan ini.
“Bupati yang sebelumnya menyatakan bersedia hadir, tapi karena ada peluncuran Tour de Singkarak 2017 di Jakarta, beliau berhalangan. Semestinya bisa saja diwakilkan,” tambahnya. 
Selain pemanggungan puisi, anak-anak usia sekolah dasar yang hadir, juga diajak menggambar dan mewarnai. Perupa Sumbar Jhon Wahid memfasilitasinya.
“Anak-anak antusias dan penuh minat mengikutinya. Mereka dikenalkan cara mewarnai objek gambar-gambar yang dekat dengan lingkungannya,” kata Jhon Wahid.
Konsep dasar kegiatan, menurut Yeyen Kiram, salah seorang motivator dan pendorong kegiatan anak-anak muda ini, memang berangkat dari keikutsertaan dan partisipasi aktif masyarakat di mana kegiatan dilaksanakan.
“Ini cara mendekatkan karya sastra dan seni kepada masyarakat. Iven lintas komunitas ini sudah sekian kalinya dilaksanakan sejak di Harau, Kubu Gadang, Parabek, Bukittinggi, hingga di Pulau Cingkuak ini, partisipasi dan keterlibatan masyarakat menjadi hal penting dan keniscayaan. Jika tak bisa melibatkan masyarakat, acara dinilai gagal. Beda jika aparat pemerintah tak hadir, kegiatan tetap dianggap sukses,” ujar Yeyen Kiram, pegiat di Komunitas Tigo Sandiang ini.
Sementara Endut Ahadiat, doktor peneliti sastra dari Universitas Bung Hatta, menilai, pemerintah harus membuka diri lebih luas cakrawala terhadap perkembangan kesenian di Sumatera Barat.
“Pendekatan aparat pemerintah yang selama ini harus ditokok dulu baru bergerak, seharusnya sudah ditinggalkan. Inisiatif dan cepat tanggap dengan perkembangan dan gerakan seni yang diinisiasi anak-anak muda, harus jadi perhatian dan penting bagi aparat pemerintah. Keberhasilan program, harus didukung bersama dan pemerintah harus fasilitasi dan akomodir apa yang sedang berlangsung di tengah masyarakat. Intinya, aparat pemerintah jangan lagi bekerja dengan cara-cara birokratif,” jelas Endut.
Memimpikan Festival Sastra
Masyarakat sastra dan literasi di Sumatera Barat hingga kini belum memiliki sebuah iven atau festival sastra yang cakupannya cukup luas, minimal se-Sumatera, yang dikesankan hadir secara berkala dan berkesinambungan.
Sebelumnya, ada dua kali festival sastra Padang Literary Biennale yang digagas anak muda yang terhimpun dalam Komunitas Kandangpadati, sukses digelar di Padang, dengan militansi pendanaan swadaya, yakni pada 2012 dan 2014, tapi sudah terhenti untuk yang ketiga kalinya. Saat itu, banyak harapan ditumpukan masyarakat sastra Sumbar pada Padang Literary Biennale (PLB) ini sebagai representasi sebuah festival sastra yang  berwibawa dan indipenden. Tapi napas kegiatan yang penting begini tak begitu panjang. Tapi, saya yakin PLB ini akan terus dilajutkan. Sayang sekali jika terhenti.
PLB ini, tentu jauh berbeda dengan iven yang dikelola dan milik dinas-dinas pemerintah yang bisa dilakukan setiap tahun dengan dana yang melimpah tapi jauh dari kualitas dan mengesankan sebuah proyek.
Di luar sastra, Sumatera Barat memang punya festival yang cukup memberi arti bagi perkembangan kesenian, terutama seni pertunjukan, dengan cakupan program cukup luas, yakni Kaba Festival dan Pekan Seni Nan Tumpah.
Sementara itu, sastra dan literasi itu sendiri, yang memiliki sejarah panjang dan penting dalam percaturan sastra di Indonesia, tampaknya masih konsisten mengandalkan kegiatan-kegiatan sastra di luar Sumatera Barat untuk mengukuhkan eksistensi pegiatnya. Tak bisa dipungkiri, nyaris perjalanan kreatif para pelaku sastra dan pegiat sastra, menguat keberadaannya karena mengikuti iven-iven sastra di pelbagai kota di Indonesia, bukan iven di kampungnya sendiri, Sumbar.
Pemikiran demikian mencuat dalam rangkaian iven “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi” yang sehari sebelumnya, Sabtu malam (14/10/2017) digelar bincang sastra di Ruang Chairil Anwar Taman Budaya Sumatera Barat.
Ada tiga narasumber pemancing diskusi, yakni Sosiawan Leak, Riri Satria, dan Nasrul Azwar. Bincang sastra dengan sajian kopi panas dan goreng pisang ini, dihadiri Agus Sri Danardana (Kepala Balai Bahasa Sumatra Barat), Emral Djamal (penyair dan budayawan), Alizar Tanjung, Yetti AKA, Kabati, dan pegiat sastra lainnya.
Menurut Riri Satria, aktivis di Komunitas Dapur Sastra Jakarta dan salah seorang penasihat dalam iven Minangkabau Culture and Art Festival, yang sukses digelar di TIM Jakarta beberapa waktu lalu, sebuah festival, terlepas dari skalanya, tak akan bisa dipisahkan dengan manajemen dan tata kelolanya.  
“Festival bukan semata melibatkan personal seniman atau sastrawan semata. Festival itu bersifat publik dan untuk mencapai hasil yang maksimal dan luas, serta jadi pembicaraan masyarakat, dituntut tata kelola dan manajemen yang ketat dan disiplin. Kerjanya harus direncanakan. Tak ada sporadis. Saya yang berlatar belakang ilmu manajemen sudah menerapkannya di pelbagai kegiatan, terutama di Komunitas Dapur Sastra Jakarta dan beberapa kegiatan festival lainnya,” kata lulusan program Master of Information Technology Swiss-German University (MIT-SGU).
Selain itu, tambah pengajar manajemen di Universitas Indonesia ini, keterlibatannya secara tak langsung dalam “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi” ini, tak lebih memberikan semacam motivasi dan mendorong para pegiat sastra dan literasi di Sumbar cara menata dan mengelola sebuah kegiatan atau festival seni.
“Dengan keterbatasan di sana-sini, kita tetap bisa laksanakan kegiatan ini sesuai yang kita rencanakan kendati belum maksimal dan perlu dibenahi banyak hal. Tapi modal militansi dan semangat itu, jadi pijakan kita menata manajemen festival untuk masa yang akan datang,” kata pemilik buku antologi buku puisi “Jendela” dan “Winter in Paris” yang sedang proses cetak ini.
Sosiawan Leak, sastrawan antikorupsi ini, selain pemancing diskusi juga membaca puisi malam itu, menilai, secara umum, tingkat apresiasi publik terhadap sastra meningkat. Hal ini terlihat dari masifnya iven sastra, perbicangan buku sastra, hadirnya komunitas-komunitas sastra dan literasi, di pelbagai kota hingga kabupaten, dan kecamatan sekalipun.
“Bagi saya ini sesuatu yang perlu kita simak dan apresiasi dengan baik. Posisi sastra sangat penting dalam kehidupan berbagai bidang, termasuk politik dan ekonomi. Keberadaan sastrawan pun sangat berperan,” kata Sosiawan  malam itu bersama Riri membagikan buku kumpulan “Puisi Menolak Korupsi” kepada beberapa orang yang hadir.   

Sastra terus berjalan tanpa kehadiran negara di sana. ***