Selasa, 21 November 2017

Militansi Seorang Gustinar, 25 Tahun Mendorong Gerobak untuk Asapi Dapur

Setiap Hari Berjalan dari Payakumbuh-Bukittinggi 
OLEH Nasrul Azwar
Gustinar
Gustinar, dua pekan lalu, tak bisa beranjak dari dipannya. Ia demam. Panas-dingin badannya. Tulangnya rangkik-rangkik. Ngilu semua sendi. Ia tak bisa berjualan. Dua hari dirinya terkapar.
“Hari ini masih terasa. Badan ini belum sehat benar. Tapi saya pikir, jika tak manjojo (jualan), kami mau makan dengan apa, Dek?” katanya kepada saya di Pasa Ateh, Bukittinggi, Minggu (3/4/2016), siang.
Gustinar mengaku menguat-nguatkan dirinya agar bisa berjualan. Awalnya, ia belum bisa manjojo terlalu jauh. Saat bertemu dengannya, tampak pancaran matanya masih kuyu, bibirnya terlihat pecah-pecah. Tapi semangat berdagangnya masih menyala. Gustinar seperti mewakili militansi masyarakat kecil mencari rupiah yang halal.
“Setelah deman, saya berjualan di sekitar Payakumbuh saja. Ini baru saya ke Bukittinggi. Tapi masih sering berhenti berjalan jika saya merasa panek,”  jelasnya.
Sosok perempuan 51 tahun ini, seorang ibu dengan lima anak, berjualan berbagai jenis makanan khas Payakumbuh dengan menggunakan gerobak dorong satu roda. Gerobak ini biasa digunakan untuk membawa material bagi pekerja bangunan.
Setelah salat Subuh, ia pamit kepada anak-anak dan kedua orangtuanya yang kini terbaring sakit. Ia berangkat mendorong gerobaknya yang penuh makanan ringan itu. Gustinar tinggal di Koto Nam Ampek Payakumbuh, tak jauh dari terminal kota.
Berlahan, saat jalanan masih lengang, derit roda gerobak yang sumbunya kering itu, membelah pagi. Menapak tepi jalan raya, ia menuju Kota Bukttinggi. Pekerjaan seperti ini ia lakukan setiap hari. Hanya sakit yang bisa hentikannya.
Berjalan kaki dengan mendorong gerobak dari Payakumbuh ke Bukittinggi, yang jaraknya mencapai 30 km itu, bisakah Anda bayangkan bagaimana militansinya Gustinar berjuang untuk bisa memeroleh lima puluh ribuan rupiah setiap hari?
Sepanjang jalan itu, sesekali ia singgah di lapau-lapau pinggir jalan. Ia ambil titipan makanan, lalu menukarnya dengan yang baru. Ada yang habis, ada yang tersisa. Lalu, pemilik lapau menyerahkan  hasil penjualannya. Cara berdagang sangat kekeluargaan yang masih terpelihara.
Gustinar cerita, pekerjaan berdagang makanan ringan itu, sudah ia jalani seperempat abad lamanya.
“Sudah dua puluh lima tahun berdagang seperti ini. Mulai bajojo dengan dengan menggunakan katidiang (bakul) sampai pakai gerobak. Sejak dulu, jualan ini saja. Tak pernah ganti-ganti,” katanya, seraya menyilakan saya mencoba salah satu makanan, yang sudah tinggal setengah gerobaknya itu.    
Sepanjang 25 tahun karirnya berjualan dengan gerobak dorong ini, pengalaman yang paling mengesankan baginya, ia kisahkan ialah saat dirinya hamil anak pertamanya.
“Saya terjatuh di parit lapangan Kantin Bukittinggi. Terperosok. Saat itu usia kandungan saya sudah sembilan bulan. Tiga hari setelah jatuh itu, saya melahirkan anak yang sehat. Sekarang anak saya itu sudah berkeluarga. Punya satu anak. Mereka tinggal di Payakumbuh juga, bukan bersama saya. Masih mengontrak,” cerita Gustinar. “Terjatuh yang membawa hikmah,” gumamnya.
Di atas gerobak yang ia bawa setiap hari itu, ada bermacam-macam jenis makanan khas Kota Batiah. Sejak  dari batiah, galamai, bareh rendang, kipang, rakik maco dan kacang, hingga kerupuk kuning berbentuk roda.
Gustinar menjelaskan, makanan ringan yang ia bawa itu titipan dari pedagang-pedagang di Payakumbuh. Ia menerima harga selisihnya saja.
“Sekitar dua ribuan rupiah per bungkus saya peroleh jika terjual. Tak banyak-banyak. Sehari terjual sekitar 20 bungkus malah bisa 50 bungkus,” jelas Gustinar.
Saat berbincang dengan saya, ekspresi Gustinar terlihat sedih. Kakinya terlihat kering. Ia mengenakan sandal jepit japang. Sudah usang dan kumal.
“Sebulan sepasang sandal habis,” katanya.
Ini artinya, dalam setahun ia habiskan 12 pasang sandal, dan sepanjang 25 tahun itu perjalanannya, kaki Gustinar menghabiskan 300 pasang sandal. Selain menghabiskan ratusan pasang sandal itu, sejak ia bajojo pakai gerobak, sudah 3 buah gerobak dorong yang digunakan.
“Yang pertama sudah patah-patah sumbunya. Umurnya cukup lama. Hampir 10 tahun. Yang kedua hilang dicuri orang. Ini yang baru setahun lalu dibeli,” katanya sambil menunjuk gerobak yang ia gunakan saat ini. 
Tapi yang Gustinar sedihkan bukan perkara sandal atau gerobak dorongnya, tapi kedua orangtuanya, yang sejak setahun lalu, tinggal bersamanya. Kedua orangtuanya kini terbaring sakit. Jika ia bajojo, tak ada yang menjaganya.
“Tak ada yang mengurusi mereka saat saya pergi bajojo. Ayah sesak napas sakitnya. Ibu kena stroke. Kalau bisa, saya berharap berjualan di rumah saja. Tapi saya tak punya modal,” terang Gustinar.
Gustinar berharap betul, Pemerintah Kota Payakumbuh bisa membantunya dan memberikan pinjaman modal untuk berdagang di rumah. “Jika saya berjualan di rumah, saya bisa kontrol kedua orangtua dan anak-anak.”
Suami?
“Suami saya tiga bulan lalu mengalami kecelakaan. Mobil yang ia bawa menabrak seseorang hingga meninggal. Kini ia di sel polisi di Sungai Rumbai. Suami kerja sebagai sopir travel,” jelasnya.
Gustinar mengaku pernah membesuk suaminya di tahanan polisi. “Cuma sekali saja. Banyak pitih habis ke sana.”
Gustinar representatif dari masyarakat kelas bawah yang terus bertahan untuk menghidupi keluarganya. Dalam pandangan sosiologis, Gustinar dan mungkin jutaan lagi dalam derita yang serupa, disebut kemiskinan struktural.
Revrisond Baswier, salah seorang pengajar di UGM mengatakan, kemiskinan sruktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh  faktor-faktor buatan manusia seperti kebijakkan perekonomian yang tidak adil, penguasaan faktor-faktor produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan perekonomian internasional yang lebih menguntungkan negara tertentu.
“Kemiskinan struktural merupakan bentuk disfungsionalitas lembaga negara dalam mengejawantahkan amanat undang-undang untuk melindungi kepentingan rakyatnya sehingga menyebabkan kebijakkan yang memiskinkan rakyat,” kata Revrisond. ***

#PedagangKecil #MilitansiRakyatBadarai