Senin, 20 November 2017

Proses Kreatif? Entah, Mungkin Tak Ada ...

OLEH Gus tf Sakai (Sastrawan)
Dalam sejumlah seminar atau pertemuan sastra, dalam setiap workshop atau bengkel penulisan prosa, selalu, pertanyaan inilah yang tak henti dan tak bosan ditanyakan kepada saya: “Bagaimanakah proses kreatif Anda?” Untuk pertanyaan ini, selalu pula saya akan tertegun, sejenak, dan dengan menyesal lalu menjawab: “Entah, mungkin tak ada ....”

Lho, kenapa? Tentu sangat mengherankan. Akan tetapi bagi saya tidak. Sebaliknya, justru pertanyaan tentang proses kreatif itulah yang terasa ganjil. Bila pengertian proses adalah runtunan perubahan atau perkembangan yang berkelanjutan, bagaimanapun saya memeriksa; menjenguk ke dalam diri setiap kali mencipta, hal itu tak pernah bisa saya temukan, tak pernah bisa saya terangkan. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, ajaib, mencengangkan. Satu letupan, dan tiba-tiba ia menjelma. Ada. Bagaimana saya mesti menjelaskan itu?
Mungkin saja bisa saya jelaskan. Dengan tetap mencari, misalnya. Tetapi itu namanya penjelasan yang dicari-cari. Dan hasilnya sangat mungkin hanya akan mengada-ada, dusta, bual, atau omong kosong semacamnya. Maka mari, saya mengajak, pertanyaan tentang proses kreatif sementara kita lupakan. Sebagai “gantinya” saya akan bercerita tentang pengalaman, sesuatu yang menurut saya lebih kongkret, yang mudah-mudahan lebih berharga; dan siapa tahu merupakan faset lain dari apa yang sebenarnya kita inginkan tentang topik yang kita bicarakan.
***
Mulanya saya akan bercerita soal pengalaman tentang hal-hal yang memudahkan saya dalam mengarang. Tetapi ketika pikiran itu dikelebati oleh pertanyaan sebaliknya (kenapa bukan hambatan? Hal-hal yang menyulitkan?), entah kenapa saya tiba-tiba memutuskan untuk memilih yang berkelebat belakangan, yakni hambatan. Mungkin bukan hanya karena kemudahan sangat personal dan situasional sifatnya, tetapi karena pengalaman tentang hambatan-lah yang konon kata orang mengantarkan seseorang kepada keberhasilan (dalam hal mengarang, kata keberhasilan mungkin lebih tepat disebut pencapaian).
Hambatan-hambatan itu, setelah saya pikir, setidaknya ada tiga hal. Pertama, bila saya terlalu terpaku pada bentuk penyajian yang telah ada.
Kita tahu, secara umum, ada dua bentuk atau cara yang digunakan pengarang untuk menyajikan ceritanya. Pertama adalah bentuk penyajian yang sangat terikat kepada plot, sedangkan yang kedua adalah bentuk penyajian yang bertitik tolak pada, atau mengandalkan, karakter. Bila sebelum mengarang saya terlebih dulu berpikir dan menimbang bentuk penyajian mana yang akan saya gunakan, maka biasanya karangan saya akan macet; hambatannya terasa besar.
Dulu saya merasa aneh kenapa hambatan itu bisa terjadi, karena logikanya bentuk-bentuk penyajian yang telah kita kenal itu mestinya mempermudah. Belakangan saya paham itu wajar saja, karena sebenarnya ada logika lain yang tengah bekerja. Logika yang mungkin lebih mendasar, lebih substansif. Bila saya telah berpikir pada bentuk-bentuk penyajian yang sudah ada, berarti saya telah mengikatkan diri dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam masing-masing bentuk itu. Maka wajar potensi kemacetan jadi tinggi. Dalam pikiran saya, tentulah terjadi sesuatu yang kontradiktif. Ikatan, atau ketentuan-ketentuan yang telah lebih dulu saya tetapkan, berbenturan dengan esensi proses kreatif yang tampaknya mensyaratkan diri kita dalam keadaan bebas dan  terbuka.
Hambatan kedua, adalah bila saya terlalu percaya tokoh-tokoh cerita hadir dalam karangan saya karena saya ciptakan. Dengan demikian, segala tindakan dan segenap pikiran si tokoh hanya mungkin dan bisa tercipta bila saya menginginkan. Bila telah begini, biasanya karangan saya juga bakal macet. Kenapa bisa? Aneh, bukankah itu karangan saya?
Jawabannya, seperti hambatan pertama, juga saya temukan belakangan. Bila “nyawa” dan “hidup” si tokoh saya percayai ada sepenuhnya di tangan saya, rupanya si tokoh jadi tidak hidup; tidak berkembang. Seorang tokoh, dengan demikian juga seorang manusia, punya watak sendiri, yang sangat khas, yang membedakannya dengan manusia lain. Betapa bermacamnya manusia, dan betapa beragam kebenaran dalam dirinya. Maka kesimpulannya, betapa tak mungkin saya yang kecil ini, yang hanya sendiri ini, menentukan atau mengendalikan tokoh-tokoh yang saya hadirkan; karena mereka bukan saya. Apa yang bisa disampaikan oleh saya, yang hanya seorang ini, dibandingkan jagat luas multidimensi, penuh misteri, unik, dengan kebenaran-kebenarannya sendiri? Mungkin akan jadi lain dan bakal mudah, misalnya, kalau saya menulis autobiografi. Dalam autobiografi, kita sepenuhnya menceritakan diri sendiri.
Hambatan ketiga, adalah bila saya berpikir karangan yang saya tulis haruslah membawa pesan moral tertentu. Bila dalam memperoleh ide karangan saya mulai berpikir tentang pesan moral apa yang harus saya sampaikan dalam karangan, sudah bisa dipastikan karangan itu juga bakal tak selesai.
Jawaban dari hambatan ini, mungkin saya temukan paling belakangan, ketika saya tahu di mana sebenarnya posisi karya sastra di tengah sekian banyak wacana atau “teks” lain. Karya atau teks sastra bukan teks agama, filsafat, naskah pidato, risalah, di mana bahasa benar-benar hanya merupakan alat untuk menyampaikan rumusan, aturan, metode, dan dogma-dogma. Seperti halnya kasus hambatan pertama, ada sesuatu yang kontradiktif di sana. Bahasa rumusan, aturan, bahasa diktum dan dogma-dogma adalah bahasa abstrak yang diskursif. Sedangkan bahasa dalam sastra bersifat sebaliknya: kongkret, eksperiensial, dan karenanya membebaskan.
***
Demikianlah tiga hambatan yang saya alami dalam mengarang. Dan dalam konteks ketiadaan hambatan itu pula yang membuat cerpen Ulat dalam Sepatu, sebagai contoh, lahir. Awalnya, hambatan kategori kedua saya pikir bakal menghadang, karena memang saya sendirilah yang pada suatu kesempatan di suatu hari melihat sebuah sepatu, butut, tergeletak, pada sebuah ruangan di Kantor Gubernur. Akan tetapi setelah “memberikan” sifat lugu dan terutama pandangan hidup yang positif (sifat dasar setiap manusia) kepada si tokoh, cerita itu akhirnya mengalir sendiri; dan tiba-tiba menjelma, ada, seperti yang saya sebut di bagian awal.
Selain sepatu itu, yang saya ingat ketika saya tiba-tiba sadar bahwa saya bakal menulis sebuah cerpen, adalah sebuah frase atau ungkapan yang berbunyi duri dalam daging. Agaknya ungkapan inilah yang bermetamorfosis secara ajaib menjadi ulat dalam sepatu. Simbol-simbol ini hadir dan “menguasai” saya, tentu saja, dan tak dapat diabaikan, karena cerpen itu lahir tahun 1997, di zaman Orde Baru. Akan lain misalnya bila “semua” itu mendatangi saya di masa sekarang, pada waktu apa pun bisa diomongkan sepuas-puasnya sebebas-bebasnya secara terbuka, tanpa simbol.
Pada akhirnya, apa yang dapat saya katakan, melihat sepatu di Kantor Gubernur, berkelebatnya uangkapan duri dalam daging, hanyalah pemicu. Pemantik. Pada kenyataannya, saya yakin, “dunia” cerpen itu telah ada dalam diri saya jauh sebelum itu.
Jadi, artinya juga, melihat sepatu di Kantor Gubernur, berkelebatnya ungkapan duri dalam daging, mungkin tak berkesan apa-apa atau takkan menjadi cerpen bagi pengarang lain. Hal itu, tentu, bila “dunia” cerpen itu tak pernah bersemayam dalam diri yang bersangkutan sebelumnya.

Dan karenanya juga, saya percaya, setiap orang berbeda. Apa yang menarik bagi seseorang belum tentu menarik bagi orang lain. Apa yang menurut saya penting, bagi orang lain mungkin tak berharga, semacam sampah, dan apa yang saya tulis sangat mungkin hanya omong kosong saja .... ***