Minggu, 18 Februari 2018

Abdul Rahim Ishak, Wartawan Peraih “Jasawan Agung Minang” di Singapura

OLEH Nasrul Azwar

Abdul Rahim Ishak ialah wartawan yang sukses meniti karier di dunia politik. Capaian jabatan tertinggi di Pemerintahan Singgapura adalah Menteri Senior Negara, Kementerian Luar Negeri, dan Komisioner Tinggi ke Selandia Baru serta pernah menjadi Duta Besar untuk Republik Indonesia. Persatuan Minangkabau Singapura memberinya Anugerah Jasawan Agung Minang.
Abdul Rahim Ishak adalah adik dari Yusof Ishak, Presiden Pertama Singapura (1965- 1970) dan Aziz Ishak, pernah menjabat Menteri Pertanian dan Koperasi di bawah Kabinet Menteri Tunku Abdul Rahman.
Ketiganya merupakan tokoh penting dalam sejarah Negeri Singapura dan Malaysia. Tiga badunsanak urang awak yang menggetarkan Negeri Jiran itu berprofesi wartawan dan politisi. Catatan sejarah keluarga Ishak di Negeri Singapura dan Malaysia memang mengangumkan. 
Penelusuran yang dilakukan, Ishak merupakan keturunan Datuk Jannaton yang berasal dari salah seorang keturunan Raja Pagaruyung di Luhak Tanah Data, Minangkabau (Sumatera Barat) yang meneruka Pulau Pinang (Penang) pada 1759, 15 tahun sebelum Francis Light tiba di pulau itu. Keluarga Ishak ini berkembang di Pulau Pinang, Negara Bagian Malaysia. Pulau seluas 293 km² termasuk terkaya dan maju di Malaysia.
Abdul Rahim Ishak, lahir pada 25 Juli 1925 di Singapura. Satu-satunya dari sembilan bersaudara anak Ishak yang lahir di luar Pulau Pinang.
Abdul Rahman Ishak melewati masa pendidikan di bangku di Sekolah Melayu Kota Raja, Raffles Institution, Sekolah Raja Edward VII (Taiping, Perak) dan Raffles College. Sekolah dengan disiplin tinggi itu, membentuk karakternya sebagai “anak muda” yang tak mau diam.
Di sekolah ini, Abdul Rahman Ishak mulai mengembangkan minat yang mendalam terhadap gerakan kemerdekaan dan sosialisme Indonesia, serta berminat pada jurnalistik. Sebelum Perang Dunia II pecah, invasi besar-besaran Jepang di Asia, Abdul Rahim bersama dengan dua kakak kandung (Yusof Ishak dan Aziz Ishak), melarikan diri ke Pulau Pinang, kampung halaman ayahnya. Di sini, Abdul Rahman Ishak menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya.
Usai menyelesaikan pendidikan,pada usia 22 tahun, pada 1947, Abdul Rahim Ishak bergabung dengan surat kabar berbahasa Utusan Melayu—awalnya berbasis di Malaysia tapi kemudian pindah ke Singapura, lalu pindah lagi ke Malaysia—sebagai reporter. Di surat kabar yang dikelola kakaknya, Yusof Ishak ini, dia memulai karier sebagai wartawan.
Selain berprofesi sebagai wartawan, Abdul Rahman Ishak,  juga bekerja sebagai guru di almamaternya, King Edward VII School. Sebelum mengajar, Abdul Rahim Ishak menuntaskan pelatihannya di Teachers Training College pada 1950. Namun, setelah lebih kurang berkarier sebagai guru, pada 1955 Abdul Rahim Ishak memutuskan bersama surat kabar Utusan Melayu secara penuh, lalu dia memilih tinggal di Kuala Lumpur. Jabatannya sebagai associate editor dipegangnya hingga tahun 1959.
Dunia kewartawanan yang tak bisa lepas dari politik, membuat harus mengambil keputusan untuk memilih. Maka, pilihan Abdul Rahim Ishak jatuh pada dunia politik. Dunia kewartawanan banyak membantu jalan karier politiknya. Hubungan dan komunikasi yang baik dengan berbagai pihak, mempengaruhi keberhasilan politinya. Kendati begitu, dunia tulis-menulis tak pula dia tinggalkan sepenuhnya.
Setelah memutuskan terjun ke dunia politik, pada tahun 1959, Abdul Rahim Isjak kembali ke Singapura. Dia bertekad secara penuh masuk gelanggang politik. Pada tahun 1963, Abdul Rahman Ishak ikut dalam pemilihan umum Singapura. Dia mewakili Partai Aksi Rakyat (PAP) sebagai calon dari Siglap. Abdul Rahman Ishak menang dan terpilih sebagai anggota parlemen hingga pemilihan umum 1984.
Capaian karier di dunia politik terus berkembang sangat pesat. Pada September 1965, Abdul Rahman Ishak diangkat sebagai Menteri Pendidikan Singapura hingga 1968.
Kemampuan diplomasi dan komunikasi yang paiwai, tiga tahun kemudian dirinya dipervaya sebagai Menteri Luar Negeri (1968-1972), dan Menteri Senior Luar Negeri (1972-1981). Saat bersamaan dengan waktu berjalan, dia juga ditunjuk sebagai Duta Besar untuk Indonesia (1974-1977). Pada tahun 1981, diangkat sebagai Komisaris Tinggi untuk Selandia Baru. Abdul Rahman Ishak pensiun dari kehidupan publik pada 1987.
Beri Kontribusi Besar pada Singapura
Sebuah artikel berjudul “Pahami Perjuangan Rahim Ishak” yang ditulis Zin Mahmud dua hari setelah Abdul Rahim Ishak meninggal, menyebutkan, untuk Singapura, Rahim Ishak adalah salah satu tokoh yang memberikan kontribusi besar terhadap pembinaan nasional republik ini.
“Dia adalah salah satu tokoh besar Singapura di tahun 60-an sampai awal 80-an yang tentu saja berarti perjuangan Partai Aksi Rakyat (Petir atau WTP). Sebagai aktivis dan politikus PAP, dia tentu saja membentuk identitas Republik Singapura hari ini,” tulis Zin Mahmud.
Menurut Zin, bagi surat kabar Utusan Melayu, kedua tokoh (Yusof dan Rahman) memainkan peran utama di awal publikasi pers ini. Yusof Ishak adalah pendiri yang juga seorang penerbit dan managing director. Rahim Ishak menjadi jurnalis Utusan Melayu setelah lulus dari Raffles College, Singapura dari tahun 1947 sampai 1959 dengan posisi tertinggi sebagai Associate Editor.
 “Saat itu (era-1960-an) adalah periode perjuangan jurnalis. Mereka berkomitmen pada idealisme politik,” katanya.
Kakak Abdul Rahim Ishak, yaitu Aziz Ishak, yang merupakan editor Utusan Melayu, tulis Zin Mahmud, saat itu bertanggung jawab untuk memindahkan surat kabar ini dari Singapura ke Kuala Lumpur.
Seperti dilansir Zin Mahmud dalam artikel yang ditulisnya pada pada 20 Januari 2001 itu, dalam ucapan duka cita atas berpulang Abdul Rahman Ishak, pada 18 Januari 2001, kepada Mawan Wajib Khan (istri Rahim), Lee Kuan Yew memuji keteguhan Abdul Rahim Ishak dalam perjuangan melawan komunis dan rasisme. “Dia dengan tegas berusaha untuk masyarakat multi-rasial,” kata Lee Kuan Yew, saat itu Perdana Menteri Singapura.
Menurut Lee Kuan Yew, saat itu Rahim tidak percaya pada tindakan afirmatif dan tidak berpikir bahwa kebijakan Bumiputera di Malaysia adalah cara terbaik untuk memajukan orang-orang Melayu.
Lee Kuan Yew mengatakan bahwa dirinya selalu berkonsultasi dengan Rahim mengenai kebijakan yang mempengaruhi orang Melayu.
Sejak pensiun, Abdul Rahman Ishak menghabiskan waktu bersama enam anak dan delapan cucu hingga berpulang pada ke rahmatullah di Singapura, 18 Januari 2001 pada umur 75 tahun. Kepergiannya menoreh duka mendalam bagi rakyat Singapura.
Salah seorang putrinya, Lily Zubaidah Rahim adalah seorang seorang profesor di University of Sydney, Australia dan penulis buku "The Singapore Dilemma: Political and Educational Marginality of the Malay Community." Pada tahun 1999, Persatuan Minangkabau Singapura memberi Anugerah Jasawan Agung Minang.
Semasa hidupnya, Abdul Rahman Ishak memegang jabatan-jabatan penting di Pemerintahan Singapura:
1.       1959: Sekretaris Politik, Kementerian Kebudayaan
2.      1963-1984: Anggota Parlemen untuk Siglap
3.      Sep 1963-Sep 1965: Sekretaris Parlemen, Kementerian Pendidika
4.      Sep 1965-Mei 1968: Menteri Negara, Kementerian Pendidikan
5.      Mei 1968-Sep 1972: Menteri Negara, Kementerian Luar Negeri
6.      Sep 1972-April 1981: Menteri Senior negara, Kementerian Luar Negeri
7.      Des 1974-Jun 1977: Duta Besar untuk Republik Indonesia
8.      Jul 1981-1987: Komisioner tinggi ke Selandia Baru
9.      Selain di pemerintahan, Abdul Rahman Ishak juga aktif di organisasi sosial masyarakat:
10.   1960-1965: Ketua, Banding Banding Banding
11.    1963-1968: Wakil Ketua, Dewan Pendidikan Orang Dewasa
12.   1966-1975: Presiden, Asosiasi Atletik Amatir Singapura

Sumber Acuan
1)       http://www.utusan.com.my/utusan/archives/20-01-2001/utusan_malaysia/others/ot6_full.htm

2)      http://eresources.nlb.gov.sg/infopedia/articles/SIP_1233_2007-06-14.html