Selasa, 27 Februari 2018

Kasoema, Wartawan Tiga Zaman yang Tak Suka Banyak Bicara


OLEH Nasrul Azwar

Dalam sebuah buku antologi artikel Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua) yang ditulis H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie (PPIM: 2005), dikisahkan konsistensi dan komitmen Kasoema terhadap perjuangan pers nasional.
Kasoema menyebut Haluan, surat kabar yang dia dirikan bersama-sama dengan teman seperjuangannya, ialah koran republik di daerah pendudukan Belanda di Bukittinggi. Tekanan dan represif terhadap Haluan, terutama saat pendudukan Belanda, sudah sering dialami jajaran redaksi, juga tentunya saat PRRI.
Suatu kali, kisah Kamardi Rais, Mr. Hins seorang petinggi Belanda mendatangi Kantor Haluan di Bukittinggi. Hins mendesak agar tulisannya dimuat harian ini. Tulisan yang akan diturunkan ity berisi seruan kepada penduduk dan pegawai negeri untuk kembali ke kota.
“Hins menamakan seruan itu “Aksi Polisional”. Hentikan segala serangan gerilya dan tentara Republik kembali ke kota,”  kata Kamardi Rais mengutip apa yang diceritakan Kasoema pada dirinya.
“Saya dan Pak Adaham Hasibuan dibentak-bentak oleh Mr. Hins yang berpangkat Asisten Residen Belanda. Kata kami berdua, tulisan itu tak bisa kami muat dengan alasan bisa-bisa kami sebagai pengasuh atau penerbitan kami jadi berbahaya dan ini akan menimbulkan polemik,” tulis Kamardi Rais mengaku bertemu pertama kali dengan A Kasoema pada tahun 1954 saat dirinya melamar jadi wartawan saat Haluan berkantor di Gedung Bagindo Aziz Chan sekarang.
“Macam apa kalian ini, hah? Tahu kode etik pers? Polemik boleh. Kalian jangan berlagak pilon, ya? Ayoh, jangan sampai tidak dimuat itu artikel,” ancam Hins dengan suara lantang dan kemudian dia pergi.
Dengan berbagai pertimbangan, Kasoema dan Adaham Hasibuan memutuskan memuat artikel itu. Setelah artikel itu dimuat, ternyata keesokan paginya Kasoema menemukan surat yang dimasukkan orang di bawah pintu. Rupanya surat itu dari Kolonel Dahlan Djambek, komandan pasukan Republik yang menakutkan bagi Belanda di Bukittinggi.
Isi tulisan Kolonel Dahlan Djambek secara jelas membalas tulisan Mr. Hins. Kolonel Dahlan Djambek mengatakan Belanda pembohong dan penipu.
“Mengapa kamu di sini? Kembalilah kamu ke negerimu di Eropa sana. Ini Tanah Air kami, milik moyang kami,” balas Dahlan Djambek dalam tulisan yang dimuat di Haluan sebagai jawaban tulisan Mr Hins itu.
A Kasoema dan Adaham Hasibuan telah memperhitungkan risikonya secara matang. Semua prosedur kerja jurnalistik sudah dipenuhi.
Siangnya, setelah tulisan jawaban Dahlan Djambek terbit, Mr. Hins datang ke kantor Haluan dengan wajah marah dan tak ramah.
“Siapa yang bikin tulisan itu?” tanya Mr. Hins sembari menunjuk sebuah tulisan di Haluan.
Mr Hins beranggapan, redaksi Haluan yang menulisnya tapi setelah diperlihatkan bukti bahwa itu artikel ditulis Kolonel Dahlan Djambek,  Mr. Hins kagat lalu pergi meninggalak Kantor Haluan.
“Kisah itu menggambarkan Kasoema seorang pejuang pers nasional yang gigih, tekun, penuh disiplin, dan teguh memegang prinsip. Inilah yang barangkali perlu diteladani oleh para pengelola pers sekarang,” kata Kamardi Rais.
Menurut Kamardi Rais, Haluan merupakan salah satu surat kabar pejuang pers dan pers perjuangan, baik dalam menegakkan kemerdekaan RI, maupun dalam membela kebenaran dan keadilan.
“Saya mengenal Pak Kasoema sebagai sosok pendiam, sedikit kalem. Beliau tak suka banyak bicara,” kata Kamardi Rais.
Surat kabar Haluan yang diterbitkan pertama kali pada 1 Mei 1948 ini termasuk salah satu surat kabar tua di Indonesia. “Tua” dalam pengertian surat kabar yang terbit sebelum tahun 1950 yang masih bertahan hingga hari ini, antara lain harian Waspada yang terbit Sejak tahun 1947, di Medan, Sumatera Utara, Kedaulatan Rakyat¸terbit 1945 di Jogjakarat, Pedoman Rakyat di Makassar pada 1949), dan Suara Merdeka pada 1950 di Semarang.
Rentang waktu pada tahun 1956 hingga 1958, harian Haluan ikut berpartisipasi secara aktif dalam pergerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) bersama Dewan Banteng sehingga pemerintah berkuasa melarang terbit harian ini selama 10 tahun, sejak 1959-1969. Mesin cetak pun disita militer. Setelah melewati proses yang panjang, Haluan terbit kembali pada 1 Mei 1969. 
“Keterlibatan Haluan dan mendukung penuh perjuangan gerakan PRRI dibayar mahal awak redaksinya. Tiga orang redakturnya hilang entah di mana. Kata orang dibunuh di Bukit Lampu. Tiga wartawan itu adalah Bung Darwis Abbas (Pemimpin Redaksi), Tengku Alang Yahya (Wakil Pemred), dan Bung Sofyan Manan (Redaktur Senior),” cerita Kamardi Rais, yang pernah dua periode sebagai Ketua PWI Sumbar ini (1982-1989) ini.
Selain kehilangan tiga orang jajaran redaksi, Kasoema, Annas Lubuk, dan Munir Rahimi, seorang wartawan muda Haluan di Ambarawa ditahan aparat penguasa selama 3,5 tahun.
Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie dikenal sebagai pemangku adat Minangkabau yang disegani karena kedalaman ilmu dan pengetahuannya san juga seorang wartawan yang yang jadi saksi sejarah peristiwa PRRI. Kamardi Rais lahir di Aie Tabik, Payakumbuh, Sumatera Barat, 12 Maret 1933, meninggal dunia di Padang pada 25 Oktober 2008 pada umur 75 tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Payakumbuh, tahun 1954 dia memulai kariernya sebagai wartawan di Harian Penarangan. Kamardi juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang.
Pada tahun 1987 dia terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Dan sejak tahun 1999 hingga akhir hayatnya, Kamardi Rais memimpin Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat.
Saat terbit kembali pada 1 Mei 1969, tercatat nama-nama jurnalis muda yang ikut mengawaki harian ini, antara Rivai Marlaut, Chairul Harun, M. Joesfik Helmy, Sjafri Segeh, Anas Lubuk, A. Pasni Sata, Rusli Marzuki Saria, Basri Segeh, R. Datuk Tuo dan sebagainya. Generasi berikutnya muncul generasi Darman Moenir, Masri Marjan, Beny Aziz, Nasrul Djalal dan generasi selanjutnya dijalankan wartawan zaman now seperti Eko Yanche Edrie, Ismet Fanany, Rusdi Bais dan Hendra Dupa dan lainnya.
Sejak 1 November 2010, Harian Haluan berada di bawah pemodal baru H. Basrizal Koto (Basko Group) dengan bendera PT Haluan Sumbar Mandiri.
Selain Kamardi Rais, akademisi dari UNP dan juga wartawan Haluan selama 17 tahun, sejak 1973-199o, Prof Dr Yalvema Miaz, MA, PhD, mengaku memiliki kesan yang tak bisa dilupakan saat bergabung dengan Haluan yang didirikan Kasoema dengan susah payah itu. Saat Yalvema Miaz bergabung dengan Haluan, pemimpin redaksinya Annas Lubuk.
Saat awal bergabung bersama dengan, banyak para mantan penulis muda koran Aman Makmur yang diberedel rezim berkuasa waktu itu, ramai-ramai pindah menulis ke Harian Haluan.
Yalvema Miaz salah seorang yang ikut menulis di Haluan bersama dengan yang lainnya seperti Wall Paragoan, Darman Moenir dan Masri Marjan (almarhum), dan Suhasril Sahir. Dia termasuk salah seorang wartawan yang kreatif dan produktif.
“Saya dan Wall Paragoan (terakhir wartawan Sinar Harapan Jakarta) boleh dikatakan sebagai "anak muda" yang dianggap paling kreatif menulis, tapi bukan sekadar puisi atau cerpen, malahan berita dan features. Berita yang saya kumpulkan hampir setiap hari dimuat pada halaman depan, tidak jarang selalu menjadi berita headline (berita utama),” kata Yalvema Miaz seperti dikutip dari http://www.kabarindonesia.com yang dilansir pada tanggal 24 Apr 2008.
Suatu hari, cerita Yalvema Miaz, Kasoema dan Annas Lubuk, Pemimpin Umum  dan Pemimpin Redaksi Harian Haluan memanggilnya. Dalam pertemuan itu, Yalvema Miaz  dimutasikan ke Bukittinggi dan dipercaya sebagai Kepala Kantor Perwakilan Haluan Wilayah Sumatera Barat bagian utara. Sebelumnya sudah ada Perwakilan (Biro) Riau dan Jambi.
“Pada 2 Januari 1974 dengan sedan Holden-nya Pak Kasoema bersama Nyonya dengan sopir Alfian Kasoema, saya pun diantarkan ke kota sejuk ini. Hari itu tak seorangpun yang saya kenal di kota ini, kecuali petugas rumah makan ACC di dekat Jam Gadang atau Simpang Raya di sebelah Masjid Raya Pasar Atas, karena di sini tempat saya minum dan makan tiap hari,” kata Yalvema Mia yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga  Kota Bukittinggi ini.
Saat menjabat Kepala Kantor Perwakilan, usianya masih tergolong muda, yakni 23 tahun, yang saat itu harus memikul tanggung jawab manejer yang membawahi beberapa orang wartawan dan mendistribusikan tidak kurang 3.000 eksemplar koran Haluan.
“Waktu itu, semua tanggung jawab saya jalankan dengan baik,” kata Guru Besar pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang ini.
Kasoema, wartawan tiga zaman yang tak suka banyak bicara ini wafat Jumat malam, 23 Maret 2001 di Padang. Dan dia dikenanag sebagai tokoh pers perjuangan. MN

Daftar Acuan
1.       H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie dalam buku Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua) yang diterbitkan Pusat Pengakajian Islam Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat pada Mei 2005.
2.      http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=21&dn=20080424081918 wawancara Muhammad Subhan dengan Yalvema Miaz