Minggu, 18 Februari 2018

Landjoemin Datoek Toemanggoeng, Kematian yang Tragis?

OLEH Nasrul Azwar
Landjoemin Datoek Toemanggoeng—namanya ditulis sesuai dengan ejaan saat itu—salah seorang  pegiat pers pribumi yang aktif dan bervisi modern pada awal abad-20. Dia juga sosok yang dekat dengan Belanda.
Media yang dia gawangi majalah Tjahja Hindia dan sebuah surat kabar Harian Neratja. Surat kabar Harian Neratja dinilai saat itu sudah modern karena telah mampu menampilkan foto-foto dalam terbitannya dan tata lelak yang lebih baik dari media lainnya. Selain itu, surat-surat kabar merupakan media pers milik orang Indonesia.  
Selain yang dua disebutkan di atas, dia juga mengelola beberapa surat kabar berkala pribumi antara lain Soeloeh Peladjar dan Pedoman Prijaji. Harian Neratja kemudian berubah nama menjadi Harian Hindia Baroe. Sebelum mendirikan media, Landjoemin pernah sebagai wartawan di Bintang Timoer.

Surat kabar Harian Neratja yang dipimpin Landjoemin Datoek Toemanggoeng mengakomodir pemikiran kaum muda saat itu. Para intelektual muda yang didominasi dari Sumatera mencurahkan tulisannya di surat kabar ini. Kaum muda itu antara lain Djamaluddin, Bahder Djohan, Siti Danilah, Agus Salim, Abdul Muis, Kasuma Sutan Pamuntjak, dan Muhammad Yamin.
“Muhammad Yamin menerjemahkan novel Saidjah dan Adinda karya Eduard Douwes Dekker atau Multatuli sebagai kisah bersambung di surat kabar yang dimuat di Harian Neratja,” tulis Suryadi di rubrik “Minang Saisuak” Singgalang, Minggu, 6 April 2014.
Landjoemin Datoek Toemanggoeng selalu memberi dorongan kepada anak-anak muda untuk menulis dan menuangkan gagasannya di surat kabar yang dia kelola, termasuk yang mendapat perhatian “khusus” darinya ialah Djamaluddin. 
Tulisan Djamaluddin pertama kali diterbitkan di majalah Mingguan Tjahaja Hindia dengan inisial nama “Dj”. Selanjutnya, tulisan Djamaluddin tak terbendung hadir di dua media yang diasuh sosok yang disebut juga tokoh pers pribumi ini.
Suatu kali, Landjoemin Datoek Toemanggoeng menyarankan kepada Djamaluddin agar menggunakan nama pena alias nama samaran saat menulis. Nama yang diusulkan Landjoemin ialah “Adi Negoro”.  Nama yang terkesan “barbau” Jawa ini diharapkan bisa memikat pembaca yang berasal etnik Jawa, yang menurut Landjoemin jumlahnya cukup banyak dan bisa cepat terkenal.
Saran itu diterima Djamaluddin. Maka, setiap tulisannya yang terbit di media, Djamaluddin selalu memakai Adi Negoro sehingga nama itu lebih populer ketimbang nama aslinya. Malah ada yang menulis kedua nama ini: Djamaluddin Adi Negoro. Persatuan Wartawan Indonesia mengabadikan nama “Adi Negoro”  untuk penghargaan karya jurnalistik wartawan sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Djamaluddin bagi perkembangan pers nasional.
Sementara itu, sebelum memberikan nama nom de plume kepada Djamaluddin, Landjoemin Datoek Toemanggoeng  sudah lebih dulu menggunakan “Noto Negoro” pada setiap tulisan-tulisannya.
Dikutip dari artikel yang ditulis Suryadi yang dimuat di blog  https://niadilova.wordpress.com/2014/04/07/minang-saisuak-170-lanjumin-gelar-datuak-tumangguang/,  Landjoemin Datoek Toemanggoeng berasal dari Nagari Sungai Pua, Agam. Landjoemin merupakan kemenakan Tuanku Lareh Sungai Pua bergelar Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman. Menilik dari gelar adat yang disandangnya, Landjoemin merupakan salah seorang kepala kaum di Nagari Sungai Pua.
Dari penusuran riwayat hidup Landjoemin Datoek Toemanggoeng, belum ditemukan informasi  kapan di dimana ia dilahirkan. Dalam sebuah artikel yang juga ditulis Suryadi, peneliti di Universitas Leiden Belanda, yang banyak memublikasikan  tentang perjuangan orang Minang dulu, menyebutkan, Landjoemin memperistri perempuan Minang bernama Chailan Sjamsoe. Jika ditulis secara lengkap namanya:  Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Toemanggoeng. Chailan Sjamsoe juga aktivis perempuan dan pers lahir di Bukittinggi pada 6 April 1905 dan meninggal dunia di Jakarta dalam usia 57 tahun, 23 November 1962.
“Karir Landjoemin jajaran Pemerintahan Kolonial Belanda terbilang sukses. Dia salah seorang anak Minangkabau yang mencapai pangkat Patih di tanah Jawa. Tamat Stovia mendapat pekerjaan jadi juru tulis Patih di Weltevreden/Batavia pada tahun 1908. Kemudian berturut-turut menjadi Asisten Wedana dan Wedana. Sejak 1916 diperbantukan pada kantor Inlandsche Zaken sebelum akhirnya diangkat menjadi Patih di Weltevreden. Lanjumin pernah pula menjadi anggota Gemeenteraad Batavia dan Volksraad,” tulis Suryadi yang menyelesaikan S1 di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra (kini Ilmu Budaya) Universitas Andalas Padang.
Landjoemin Datoek Toemanggoeng mengembangkan penerbitan dan persuratkabaran lebih banyak di Pulau Jawa ketimbang di Minangkabau. Minangkabau bisa dikatakan tak ada jejaknya sama sekali. 
Menurut Suryadi, Landjoemin Datoek Toemanggoeng disebut-sebut sebagai “Bapak Pers Pribumi” karena banyak berkecimpung dalam perjuangan pers nasional dan persuratkabaran.
“Landjoemin lebih banyak berkiprah di Jawa (Batavia), bukan di Minangkabau. Dia juga mengelola satu percetakan (drukkerij) yang bernama Evolutie yang mendapat subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda. Lanjumin adalah salah seorang mentor Djamaluddin (Adinegoro), adik Muhammad Yamin, putra Talawi, Sawahlunto,” tulisnya.
Dari penelusuran pustaka yang dilakukan terkait dengan kiprah Landjoemin Datoek Toemanggoeng,  sejarahwan Jepang Takashi Shiraishi dalam buku Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926  (1997), menyinggung sepak terjang Landjoemin sebagai seorang wartawan sekaligus politisi.
Tentang Landjoemin Datoek Toemanggoeng, dalam buku itu, Takashi Shiraishi menggambarkan wartawan ini sebagai berikut:
Sebagaimana kebanyakan aktivis pergerakan yang tidak masuk ke CSI/PSI atau PKI, mau tidak mau Misbach harus memutuskan sikapnya. la menegaskan pilihannya dengan tampil sebagai propagandis PK l/SI Merah pada kongres PKI dan SI Merah di Bandung dan Sukabumi pada awal Maret 1923. Datoek Toemenggoeng Landjoemin, kolega Salim di Neratja akhir 1910, yang kemudian menjadi pejabat yang ditempatkan di kantor Penasihat Urusan Bumiputra, dan dengan segera menjadi agen Algemeene Recherchedienst yang membantu pembuangan H. Batoeah dan Natar Zainuddin, pemimpin komunis Sumatra Barat, melaporkan pidato Misbach dalam kongres tersebut.

Peristiwa bersejarah “Kongres PKI/SI Merah di Bandung dan Sukabumi pada awal Maret 1923 (tanggalnya tak disebutkan) ditulis di Harian Neratja yang ia kelola. Kongres ini penting karena dihadiri tokoh-tokoh pergerakan antara lain Soekarno.
Saat itu, H. M. Misbach, seorang tokoh pemikir politik tentang komunisme dengan Islam yang baru bebas dari penjara, yang banyak menuangkan pemikirannya di surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, menyerang secara terbuka dengan kritikan keras dalam pidatonya terhadap Oemar Said Tjokroaminoto, dan KH Ahmad Dahlan. Sementara Landjoemin Datoek Toemanggoeng hadir di sana dengan menulis laporan penting di surat kabarnya.  Ini petikannya:
Di tengah tepuk tangan keras yang bergema itu Haji Mohammad Misbach menaiki podium.
Pembicara itu mulai memperkenal kan dirinya: Saya bukan Haji, tapi (sekadar) Mohammad Misbach. Sseorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Medinah.
Dengan mendasarkan pada Quran. Pembicara itu berpendapat bahwa ada beberapa hal yang bersesuaian antara ajaran Quran dan komunisme.
Misalnya, Quran menetapkan bahwa merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengakui hak asasi manusia. Dan pokok ini juga ada dalam prinsip-prinsip program komunis.
Selanjutnya, adalah perintah Tuhan bahwa (kita) harus berjuang melawan penindasan dan penghisapan. lni juga salah satu sasaran komunisme.
Sehingga benar jika dikatakan bahwa ia yang tidak dapat menerima prinsip-prinsip komunisme itu bukan muslim sejati. Dan itulah sebabnya mengapa Yang Maha Kuasa dengan keras mengutuk ibadat dan salat yang dilakukan PEB: sebab setiap yang percaya padanya terikat kewajiban membasmi penindasan. penekanan dan penghisapan dan ini yang diabaikan oleh seksi agama PEB.
Komunisme tidak loleran pada diskriminasi pangkat dan ras. Dan demikian mengutuk keberadaan kelas-kelas di masyarakat. Slogannya adalah: sama rasa, sama rata!)
Dalam tesis Tri Ahmad Faridh berjudul “Ajaran Komunisme dan Islam dalam Perspektif H.M. Miscbach (1876-1926)” yang ia ajukan untuk raih gelar Magister dalam Program Studi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel pada 2017, juga menyinggung keberadaan Landjoemin Datoek Toemanggoeng sebagai wartawan dan sekaligus saksi sejarah dalam kongres tersebut.
Kendati demikian, Landjoemin Datoek Toemanggoeng hingga kini belum diperoleh informasi yang valid terkait dengan kematiannya. Jika mengacu kepada tulisan Sriyanti dalam blognya http://sriyanti0520.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-sumatera-barat.html, , Landjoemin Datoek Toemanggoeng meninggal tahun 1947 (tanpa tanggal) karena peristiwa berdarah “Gerakan Baso” yang dipimpin Abdul Rahman Tuanku Nan Putiah dan Burhan Malin Kuniang Tuanku Nan Hitam,  keduanya bersaudara serta pengikut tulen Tan Malaka.
“Seperti juga beberapa kekuatan revolusioner fanatik di Jawa, “Gerakan Baso” umumnya juga mengarahkan sasarannya kepada orang-orang yang dianggap terlibat dengan kekuasaan kolonial Belanda contohnya Landjoemin Datoek Toemanggoeng bekas perwira tinggi dan anggota Volksraad zaman Kolonial Belanda yang juga bapak angkat Chaerul Saleh, diculik dan dibunuh,” tulis Sriyanti.
Sosok Landjoemin Datoek Toemanggoeng memang belum banyak ditulis dan diteliti. Maka, sudah penting agaknya tokoh multitalenta, ditelisik riwayat perjalanannya, dan sangat berpeluang dilakukan mahasiswa sejarah di Unand, UNP, UIN Imam Bonjol, dan peminat sejarah lainnya.
Daftar Acuan
Suryadi, Harian Singgalang, Minggu, 6 April 2014
Suryadi, Harian Singgalang, Minggu 7 Mei 2017
http://sriyanti0520.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-sumatera-barat.html
Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam: Menangkap Makna Maqashid Al Syariah, (Jakarta: Kompas, Juni 2010

Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 Terjemahan Hilmar Farid (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997)