Jumat, 27 April 2018

Rivai Marlaut, Wartawan yang “Dicari” Wakil Presiden Adam Malik


OLEH Nasrul Azwar
Sejak kecil cita-cita Rivai Marlaut menjadi wartawan dan penulis. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Kedua orangtuanya menambatkan harapan agar Rivai Marluat menjadi seorang insinyur, ahli teknik. Untuk mewujudkan cita-cita itu, orang tuanya memasukkan Rivai kecil ke sekolah Ambacht bagian besi tetapi sekolah itu tak membuatnya menjadi seorang teknisi.

Kekerasan hatinya menjadi seorang wartawan dan penulis, dia buktikan dengan merantau meninggalkan kampung halamannya, Koto Baru, Solok. Pada usia 23 tahun, usia yang tageh-tagehnya, Rivai muda berkelana ke Pulau Jawa. Di Jawa, sekira tahun 1935, Rivai Marlaut bergabung dengan surat kabar Pemandangan yang dipimpin Saeroen, sebuah surat kabar umum tapi menaruh perhatian pada budaya Betawi. Pemimpin Redaksi Soeroen menempatkannya Rivai Marlaut pada “Desk Luar Negeri” hingga dia pindah.
Demikian besar cita-citanya, dalam usia remaja 16- 20-an, Rivai Marlaut sudah memamah habis surat kabar Pewarta Deli yang terbit di Medan yang dipimpin Adinegoro dan surat kabar Sinar Soematera Padang yang dipimpin oleh Burhanuddin Ananda.

Di dunia kewartawanan, Rivai Marluat menemukan gairahnya. Buktinya, setahun bekerja di Pemandangan, dia “melompat” menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Peredaran Zaman pada 1936. Dia juga aktif di Redaksi Harian Tjahaja Timur dan majalah Perundingan.

Perjalanan perantauan Rivai Marluat terus membesar dan menjelma menjadi sosok yang sangat aktif di kancah tulis-menulis ini. Dia perpindah dari kota ke kota lainnya demi “membesarkan” media yang diasuhnya: Medan, Palembang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan lainnya, merupakan kota-kota yang secara berkala diturutnya.

Pada 1948 di Bukittinggi, A Kasoema  bersama dengan Adaham Hasibuan dan Amarullah Ombak Lubis, menerbitkan surat kabar Haluan. Rivai Marlaut pun “pulang kampung” ke ranah Minang setelah sekian tahun berkelana di perantauan dalam perjalanan jurnalistiknya. Dia ikut membidani terbitnya surat kabar Haluan. Rivai Marlaut dipercaya sebagai pemimpin redaksinya hingga tahun 1950-an.

Dasar sosok yang tak mau diam, Rivai Marlaut pun pergi lagi merantau dan berhenti dari Haluan. Dia kembali ke Padang setelah Harian Haluan diterbitkan kembali pada pada 1 Mei 1969, yang sebelumnya dilarang terbit selama 10 tahun karena ditengarai mendukung PRRI. Rivai Marlaut menjadi Pemimpin Redaksi Haluan pada tahun 1970-an.

Selama merantau setelah berhenti dari Haluan pada era 1950-1n, Rivai Marlaut bekerja sebagai wartawan lepas di pelbagai media antara lain, Kantor Berita Antara, Merdeka, Harian Rakyat, Patriot, dan Suara Merdeka. Dan terakhir di Kota Medan sebagai Redaktur Pelaksana surat kabar Bukit Barisan.

Selain sebagai jurnalis, Rivai Marluat juga banyak menulis karya sastra berupa novel. Karyanya diterbitkan secara berseri di Harian Haluan, misalnya, Dokter Haslinda yang sangat lekat di hati pembaca Haluan di era itu.

Sebuah artikel yang cukup komprehensif tentang Rivai Marlaut ditulis H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie dalam buku Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua) yang diterbitkan Pusat Pengakajian Islam Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat pada Mei 2005.

Artikel yang ditulis Kamardi Rais, yang juga  seorang wartawan senior ini, sebagai in memoriam atas berpulangnya Rivai Marlaut pada 20 April 1994 di Padang dalam umur 82 tahun. Rivai Marlaut lahir Koto Baru, Solok, pada 12 Oktober 1912.

“Keluarga besar pers Sumatera Barat khususnya, dan Indonesia umumnya, berkabung. Berduka cita atas kepergiannya. Pergi untuk tidak kembali lagi. Seperti diibaratkan oleh mamang orang-orang tua kita. Bagi Pak Rivai, “Cupak sudah penuh, gantang sudah melimpah,” tulis Kamardi Rais.

Menurut Kamardi Rais, jasa terbesar dari Rivai Marlaut ialah perannya ikut mendirikan Kementerian Penerangan (Deppen RI) semasa Pemerintahan Orde Baru berkuasa kendati akhirnya ditutup setelah reformasi di saat Presiden Abdurrahman Wahid.

Rivai Marlaut menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Koto Baru, Solok, Sekolah Teknik Besi di Padang, Sekolah Menengah Pertama di Jakarta, HIS, dan Ambacht, serta berlanjut ke MULO.

Semasa aktif menulis karya fiksi berupa novel, Rivai Marlaut telah melahirkan empat buah novel, yaitu Kimono Hanyut, Korban Kerondong Rumba, Effendi di Lantai Dansa, dan Dokter Haslinda. Keempat novel itu dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Haluan, namun edisi buku cetakan sulit mendapatkannya.

Dikisahkan Kamardia Rais, cendekiawan, tokoh dan pemangku adat Minangkabau ini, yang meninggal dunia di Padang pada 25 Oktober 2008 lalu dalam usia umur 75 tahun, yang mengenal sosok Rivai Marlaut, punya kenangan yang sulit dilupakan karena peristiwanya berkaitan dengan orang nomor 2 di Indonesia, yakni Wakil Presiden Adam Malik.

Pada tahun 1982, Wakil Presiden Adam Malik berkunjung ke Sumatera Barat. Adam Malik juga seorang wartawan, tentu banyak sahabatnya di Padang. Galibnya pejabat negara, pengawalan terhadap dirinya cukup ketat.

Saat Adam Malik menuju pesawatnya di Bandara Tabing Padang yang akan membawanya kembali ke Jakarta, tiba-tiba secara spontan, Wakil Presiden berbalik, lalu berbisik kepada Gubernur Azwar Anas. Dalam posisi membelakang pada pesawat yang akan mengangkutnya, Bung Adam menunjuk ke arah barisan para penjabat yang mengantarnya di Bandara Tabing.

“Tolong Pak Anas! Ketua PWI Padang tadi, mana?” tanya  Adam Malik kepada Azwar Anas.

“Telunjuk  Wakil Presiden itu sudah jelas sasarannya kepada saya sendiri yang waktu itu jadi Ketua PWI Cabang Sumatera Barat. Saya keluar dari barisan para pengantar yang terdiri dari para kakanwil/kepala dinas dan ketua organisasi setelah dijemput Pak Azwar Anas dan Pak Karseno,” ujar Kamardi Rais.

Kamardi Rais pun berjalan menuju Bung Adam yang sedang menunggu dekat tangga pesawat.
Apa katanya?
“Eh, Ketua! Saya lupa. Mana itu Rivai Marlaut? Sombong kali dia. Saya dengar dia Pimpinan Redaksi Harian Haluan, ya?” kata Bung Adam Malik.

Sambil menjabat tangan Wapres itu sekali lagi, lalu saya jawab: “Sebenarnya kemarin Pak Rivai Marlaut bersama saya ikut menyambut Bung di sini. Dia ada berjabat tangan dengan Bung. Mungkin Bung sudah lupa pada dia!”

“Mana pula saya yang lupa. Waktu berjabat tangan itu dia tidak bilang apa-apa. Saya kangen sekali sama dia. Tolong beri tahu dia. Kirim surat pada saya. Nanti saya balas. Atau kalau ke Jakarta, suruh dia mampir ke rumah saya,” ujar Adam Malik, yang oleh Pak Rivai Marlaut jika menulis tentang Adam Malik selalu menambahkan embel-embel di depan nama Adam Malik dengan “Si Kancil Adam Malik”.

Setelah Adam Malik naik pesawat dan take off meninggalkan Padang, Kamardi Rais ke rumah Rivai Marlaut di Wisma Warta Padang untuk menyampaikan pesan Wakil Presiden Adam Malik.

“Setelah itu saya tidak tahu, apakah Pak Rivai sempat menulis surat kepada Adam Malik atau tidak. Atau mungkin Pak Rivai singgah ke rumah orang nomor dua di Indonesia itu? Yang jelas tidak lama setelah itu Pak Adam sakit dan kemudian wafat,” kenangnya.

Semasa hidupnya, Rivai Marlaut bukan semata hanya bergaul di lingkungan wartawan saja. Seiring semakin kuat pengukuhan dirinya pada profesi wartawan, komunikasi dengan kaum politisi, pelaku usaha, kaum intelektual, para pejabat tinggi negera lainnya, terus terjalin dengan baik.

Rivai kenal dan dekat dengan Bung Sjahrir yang dijuluki The Atomic Prime Minister atau Perdana Menteri Atom. Selain itu, Rivai Marlaut juga mengenal Moh. Natsir, Ali Sastroamidjojo, Assaat, bahkan dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh legendaris Tan Malaka.

“Tak heran jika Wakil Presiden Adam Malik berbalik saat mengingat Rivai Marlaut karena begitu luasnya pergaulannya,” kata Kamardi Rais lagi.

Semasa hidupnya, Rivai Marlaut dianugerahi Piagam Penghargaan 70 Tahun dari PWI Pusat yang diserahkan di Yogyakarta pada Hari Pers Nasional pada 9 Februari 1986.

“Wartawan tua tak pernah mati! The old journalist never die! Andaipun telah tutup usia, namun jasa dan teladannya akan hidup selamanya,” kata Kamardi Rais. MN

Daftar Acuan
1.       H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie.2005. Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua). Pusat Pengakajian Islam Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat: Padang