Jumat, 17 Agustus 2018

Sjahruddin, Wartawan Pejuang yang Meninggal di Pecahan Granat


OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)


Setelah Soekarno yang didampingi Muhammad Hatta mengumandangkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, Sjahruddin, seorang wartawan senior di Kantor Berita Domei (kini LKBN Antara), menyelinapkan secarik kertas yang bernilai tinggi itu. Sjahruddin bergegas dan berhati-hati karena tentara Jepang masih berkeliaran. Tertangkap, nyawa melayang.   

Selembar kertas itu ialah salinan teks Proklamasi. Sjahruddin hendak menyelelundupkannya ke Gedung Hosokyoku (Gedung RRI sekarang) di Jalan Gambir 4-5 (sekarang Jalan Merdeka Barat ) Jakarta  agar bisa disiarkan secara luas. Saat itu, Gedung Hosokyoku dalam pengawalan tentara Jepang karena salah satu objek vital.
Berbagai strategi dan taktik dilakukan Sjahruddin agar sehelai kertas yang sangat menentukan eksistensi Indonesia itu bisa sampai ke ruang siaran Hosokyoku. Salah satu usaha yang dilakukan Sjahruddin adalah melompat tembok belakang kantor radio itu karena pintu depan jalan depan tak mungkin dilewati karena Kempetai Jepang menjaga ketat.
Akhirnya Sjahruddin berhasil masuk lalu memberikan secarik kertas itu kepada penyiar Jusuf Ronodipuro. Di balik kertas itu tertulis: “Harap berita terlampir disiarkan!” Kalimat berisi perintah itu ditulis Adam Malik yang saat itu Kepala Kantor Berita Domei.
Tepat pukul 19.00 WIB, Jumat, 17 Agustus 2017, dari salah satu ruang berita luar negeri, Jusuf Ronodipuro membacakan selembar kertas yang diselundupkan Sjahruddin itu dengan suara bergetar tanpa ragu. Berita itu seketika mendunia. Indonesia merdeka!
”Republik Indonesia telah merdeka sejak pukul 10 tadi pagi!” pekik Jusuf seperti dikutip dari Majalah Tempo.
Berita kemerdekaan Indonesia itu, menyebar luas tak bisa dibendung. Puluhan radio-radio menyiarkan ulang pembacaan teks proklamasi itu.
Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, memerintahkan berita tentang proklamasi tidak disebarluaskan. Kantor Berita Domei dan Harian Asia Raya dilarang memuat berita proklamasi.
Dua jam setelah Hosokyoku menyiarkan, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara. Tapi para penyiar itu bertekat menyiarkan berita proklamasi.
Wartawati SK Trimurti menjelaskan, pada tanggal 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita Amerika di San Fransisco telah memberitakan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.
Kendati disegel, perjuangan juga dilakukan para pemuda lewat surat kabar, poster dan pamflet. BM Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang berjuang lewat berita di surat kabar.
Wartawan pejuang Sjahruddin lahir di Curup, Sumatera Selatan pada 17 September 1919. Dia merupakan salah seorang putra Yasin gelar Datuk Indo Maradjo, guru kepala Gouvernement di zaman Belanda, yang berasal dari Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.
Sjahruddin menamatkan pendidikan pada Taman Dewasa Raya Bukittinggi, setingkat SMA sekarang.
Galibnya anak-anak Minang, merantau merupakan sebuah pilihan untuk bisa berkembang. Dalam usia 20 tahun, Sjahruddin berangkat ke Jakarta lalu memasuki dunia kewartawanan.
Sjahruddin mengawali kariernya di surat kabar Bintang Timur. Lalu kemudian pindah ke Barita Oemoem. Dari surat kabar Berita Oemoem, dia menetapkan pilihannya wartawan Kantor Berita Domei (Kantor Berita Antara) yang dipimpin oleh trio wartawan senior Adam Malik, Soemanang, dan Sipahutar.
Dalam buku yang ditulis H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua). (PPIM: Mei 2005) mengatakan, setelah Indonesia menyatakan merdeka, pada Januari 1946, Adam Malik, Kepala Kantor Berita Antara  menugaskan wartawan Sjahruddin berangkat ke Singapura guna merintis jalan untuk melebarkan sayap Kantor Berita Antara di luar negeri.
“Adam Malik tidak memberi bekal Sjahruddin dengan biaya perjalanan dan biaya untuk tinggal menetap di Singapura,” tulis wartawan senior Kamardi Rais.
Tidak dibekali kantornya dengan dana, Sjahruddin tak habis akal. Bersama Sofyan Muchtar, keduanya berangkat meninggalkan Jakarta menuju Palembang. Tujuan ke Palembang untuk bergabung Dr. A.K Gani, Gubernur Sumatera Selatan saat itu. Dr. A.K Gani selaian dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, dia juga seorang pengusaha ekspor berbagai komoditas, terutama karet, ke Singapura.
Aktivitas ekspor yang dilakukan A.K Gani kebanyakan dengan cara diselundupkan, Maka, saat itu A.K. Gani dikenal sebagai seorang smuggler, penyelundup.
“Ia menyelundupkan karet ke Singapura dan dari Singapura menyelundupkan senjata untuk para pejuang, para gerilyawan menghadapi Belanda,” kisah Kamardi Rais.
Berangkat ke Singapura,  Sjahruddin membawa barang-barang perak buatan Kota Gede Jogjakarta untiuk dijual di Singapura. Dia bersama Sofyan Muchtar dari Palembang menumpang kapal yang membawa karet tujuan Singapura. Sesampai di Singapura, karet itu ditampung pedagang penadah.
Sesampai di Singapura, Sjahruddin membuka komunukasi dan berkenalan dengan warga Melayu di Singapura. Mereka sangat senang, Indonesia, negara tetangganya telah merdeka. Warga Melayu ini bersimpati dan mendukung tugas-tugas Sjahruddin untuk membuka cabang Kantor Berita Antara di Singapura. Selain bertugas sebagai wartawan, Sjahruddin juga mengemban tangung jawab meyakinkan negera-negara lainnya agar mendukung kemerdekaan Indonesia.
Hidup di perantauan memang tak semudah di kampung halaman. Hasil penjualan barang-barang perak makin menipis. Kendati penopang hidup sudah menipis, kiriman uang dari A.K. Gani terkadang menjadi “penyelamat” hidupnya.
“Tapi baginya soal keuangan bukan yang utama. Tugas prioriotasnya ialah mendirikan kantor cabang Antara di Singapura, dengan susah payah berhasil diwujudkan. Kantor cabang Antara berhasil didirikannya di kawasan elite Raffles Square,” papar Kamardi Rais yang pernah menjabat Ketua PWI Sumbar dua periode ini.
Dikisahkan Kamardi Rais dalam tulisan itu, sehari menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang pertama, 16 Agustus 1946, Sjahruddin meninggal dunia karena terkena ledakan granat di rumah salah seorang temannya di Singapura.
Pada tanggal 17 Agustus 1946, Sjahruddin dimakamkan di kampung Melayu Singapura. Seorang pejuang telah pergi buat selama-lamanya tanpa dapat menikmati hasil perjuangannya.
“Menurut keterangan, sejumlah senjata yang sudah terkumpul di tangannya siap untuk dikirimkan kepada Dr. A.K. Gani di Palembang. Mungkin karena Sjahruddin tak tahu caranya, sebuah granat telah meledak ketika sedang diamatinya,” papar Kamardi Rais.***

Sumber Acuan
1.       H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie dalam buku Mesin Ketik Tua (Paparan, Ulasan, dan Komentar Wartawan Tua) yang diterbitkan Pusat Pengakajian Islam Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat pada Mei 2005.
3.      www. news.liputan6.com
4.      www.republika.co.id
5.      www.merdeka.com