Sabtu, 27 Oktober 2018

“The Margin of Our Land” #2Reklamasi” Kolaboratif Setengah Hati"


POSTFEST IKJ 2018

OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)
Penampilan kolaboratif “The Margin of Our Land #2Reklamasi dalam rangkain PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana, Jumat, 3 Agustus 2018, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Foto Denny Cidaik
Relevansi teks (tertulis) dengan wujud koreoteaterik yang divisualisasikan dalam panggung pertunjukan bukan serta merta hubungan yang bersifat setangkup (simetris). Keduanya (teks dan visual-audio koreoteaterik) bisa saja saling kontraprestasi dan juga terbuka kemungkinan duplikasi teks tertulisnya. Keindahan sebuah pertunjukan seni memang terletak pada kekayaan tafsir dan interpretasinya tapi mungkin saja sebaliknya. 
Sebuah peristiwa di panggung pertunjukan, merupakan peristiwa “budaya” yang mengikat pada konteks yang bisa saja membacanya tak sama persis dengan teks tertulisnya atau sebaliknya.
Peristiwa panggung yang demikian itu terjadi pada pertunjukan seni tari-teater “The Margin of Our Land #2Reklamasi”, yang dihadirkan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta pada Jumat, 3 Agustus 2018 yang merupakan bagian dari rangkaian PostFest IKJ 2018.
Penampilan "The Margin of Our Land #2Reklamasi" karya kolaborasi para kreator ISI Padang Panjang, yakni Ali Sukri (untuk koreografi), Kurniasih Zaitun (teater), Sahrul N (dramaturgi), Elizar Koto (komposer) dan Indra Arifin (musik), Yusril Katil (skenografi), teks Esha Tegar Putra (penyair), dan penari-aktor, serta elemen pendukung lainnya, merupakan sinergi dari banyak cabang seni yang bisa dikatakan berhasil dalam aspek garapan dan pengembangan konsep kolaborasi walau masih banyak compang-camping dalam penyajian artistik-estetis panggung.
"The Margin of Our Land #2Reklamasi" dibuka dengan munculnya tubuh-tubuh yang berkelebat seiring bunyi dentuman pemasangan tiang pancang dari belakang panggung. Gerak 8 batang tubuh sebagai respons suasana yang dikonstruksi hadirnya proyek raksasa pembangunan reklamasi untuk menciptakan sebuah pulau.
Lampu menyorot ke arah penonton semakin menghidupkan 8 tubuh itu dengan komposisi gerak yang berbicara. Sorotan lampu ke arah mata penonton memang tak lazim dalam pertunjukan seni tapi malam itu merupakan keniscayaan. Dari sini, dari gerak pembuka ini saja, penonton telah memahami apa pesan humanis yang disampaikan.
Dari gerak dan garik yang dibangun, ada tiga hal penting kesan yang mau disampaikan dari atas panggung itu: korban (masyarakat), investor (pemilik modal), dan regulasi (negara). Tiga ini terkait dengan dampak sebuah pembangunan reklamasi.
Hadirnya “The Margin of Our Land #2Reklamasi”, malam itu tak dinyana warga Jakarta akan disuguhkan soal reklamasi, yang perkaranya sempat membuat buncah ibu kota ini, karya itu seakan ingin mengatakan, seniman di daerah lebih sensitif ketimbang rekannya di Jakarta, terkait mengemas isu-isu garapan yang menyangkut kehidupan publik.
Tapi itu soal lain. Yang pasti penampilan “The Margin of Our Land #2Reklamasi” ikut mewarnai kehadiran iven dan peristiwa kebudayaan PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana IKJ, yang sudah dua kali digelar.
Selain “The Margin of Our Land #2Reklamasi”, juga dipentaskan tari-musik “Ateh Api, Bawah Api” karya koreografer Martion. Keduanya dari ISI Padang Panjang.
"Saya mendapat pengalaman dari penampilan dari ISI Padang Panjang yang baru usai saya nikmati ini. Pertama konsep 'koreodramaturgi' yang dilontarkan Sahrul N. Ini menarik dan layak untuk kita bincangkan lebih dalam. Selain itu, musik elektro akustik yang terintegrasi dengan tari-teater (“The Margin of Our Land”-red). Musiknya membuat saya harus memberi tafsir baru. Untuk “Ateh Api, Bawah Api”, saya sangat menikmati aroma rempah-rempah bahan utama untuk memasak dalam tradisi Minang, seperti randang dan lainnya. Untuk itu, kehadiran ISI Padang Panjang dalam PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana IKJ cukup penting," kata Prof Sardono W Kusumo, Direktur Festival PostFest, yang juga seorang koreografer kontemporer yang berpengaruh di Indonesia, ketika memberi sambutan pada Jumat (3/8/2018) malam itu.
Karya ini merupakan yang kedua dari trilogi "The Margin of Our Land".  Yang pertama bicara tanah ulayat, kedua reklamasi, dan ketiga rencananya mengangkat tanah terluar.
Sebelumnya, tari-teater "The Margin of Our Land" #1Tanah Ulayat, sukses digelar di tiga kota (Pekanbaru, Padang Panjang, dan Padang). Setelah pementasan di TIM Jakarta, karya kedua dari trilogi ini akan dipanggungkan di ISI Padang Panjang.
Trilogi tari-teater “The Margin of Our Land” merupakan hasil dari penelitian, penciptaan, dan penyajian seni ini merupakan perwujudan program dana hibah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun 2018.
Riki Dhamparan Putra, sastrawan, penyair dan pemerhati budaya, usai pertunjukan mengaku, pertunjukan dari ISI Padang Panjang ini di luar ekspektasinya.
"Saya mengira pertunjukan seni yang akan ditampilkan didominasi tari tradisi berupa randai Minang tapi ini di luar apa yang saya bayangkan. Saya kira, pusat-pusat kesenian di Jakarta perlu mengapresiasi The Margin of Our Land ini," kata Riki, yang kini tinggal di Jakarta.
Hal yang hampir senada juga dikatakan Eva Yenita Syam, salah seorang peneliti di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
"Penampilan “The Margin of Our Land #2Reklamasi” ini tidak semata soal capaian kolaborasi antarseni, tapi lebih jauh dari itu, yaitu soal"teks" pemanggungan yang saya kira sukses digarap. Kendati perlu dibenahi dan dipertajam beberapa adegan," kata Eva yang juga pemain teater ini.
Properti dan Teks “Berperilaku” Ganda
Dua konstruksi “The Margin of Our Land” yang saya ikuti prosesnya dikesankan sebagai karya kolaborasi antarcabang seni dengan dominasi koreografi. Pilihan tari karena memungkinkan tim ini lebih leluasa membangun visualisasi di atas pentas kendati pengisian teks (dramatik) datang kemudian. Demikian juga dengan musik, yang diisi bukan bersamaan saat membangun dan mengonstruksi peristiwa-peristiwa di atas panggung.
Membangun kerangka besar teks pertunjukan dengan konsep kolaboratif antarseni, bukan tidak berisiko jika dilakukan secara parsial. Dua “The Margin of Our Land” yang saya ikuti menunjukkan hal kerja kolaboratif dengan aksentuasi parsial. Karena ini merupakan paket, dua “The Margin of Our Land”sudah dipanggungkan, saya memperkirakan,  yang ketiga tak jauh beda dengan cara kerja kreatif dengan dua terdahulu.
Risiko kerja penggarapan secara parsial ini, tentu saja bisa dicatat sebagai sisi “kosong” yang substantif dan layak dipertimbangkan untuk dibenahi. Paling tidak, kolaboratif secara parsial harus dibuang karena di atas panggung konstruksi teks pertunjukan tampak compang-camping. Terkesan tempelan, misalnya untuk musik dan juga teks tulis yang dilisankan pemain, juga seperti “pendatang baru” dalam keseluruhan pertunjukan.
“The Margin of Our Land” #1TanahUlayat dan #2Reklamasi,kendati garapannya berangkat dari teks riset (konflik tanah ulayat dan dampak reklamasi) tapi tak membuka seluasnya reinterpretasi terhadap objek penelitian dan ruang-ruang penalaran alternatif. Dengan kata lain, “The Margin of Our Land” #2Reklamasi terkesan gagal menyuguhkan petualangan kognitif bagi penonton.
Selain gagal, “The Margin of Our Land” #2Reklamasi malah memperlihatkan teks-teks panggung yang berperilaku ganda sehingga jika dilihat secara bersamaan dua pertunjukan terkesan sebagai teks “berperilaku” ganda. Kedua pertunjukan itu menguatkan hubungan intertekstual tetapi mengecilkan dan sekaligus menyempitkan makna kode-kode teaterik yang dibangun di atas panggung. Bagi saya, lebih luas penonton, tentu saja tak memberi makna simbolis jika garis polisi berwarna hitam kuning itu dihadirkan dalam dua pertunjukan itu. Garis polisi itu bukan lagi deterministik dalam teks pertunjukan karena penonton telah merekonstruksinya pada “The Margin of Our Land” #1TanahUlayat . Menghadirkan dan memanfaatkan properti sama dalam garapan pertunjukan yang berbeda dengan kode-kode visualisasi yang serupa, jelas sebuah kecelakaan garapan yang fatal.
Selain teks dan kode-kode visualisasi garis polisi itu, “The Margin of Our Land” #2Reklamasi” juga diperlemah lagi dengan tata cahaya yang terkesan apa adanya.  Cahaya tak banyak berkontribusi membangun teks-teks baru di atas panggung sehingga capaian untuk tiga komponen pokok visualisasi panggung tak hadir. Tiga elemen itu ialah picturing, acting, dan meaning.  Di atas panggung, ketiganya terintegrasi dan menyeluruh dalam mewujudkan teks pertunjukan. Pementasan “The Margin of Our Land” #2Reklamasi” tampak belum mampu merealisasikan ketiga komponen itu. Komponen yang menonjol masih pada meaning.
Pada September nanti, rencananya “The Margin of Our Land” #2Reklamasi”akan dipanggungkan lagi, dan tentu saja saya berharap akan beda dengan yang sebelumnya. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar