Jumat, 02 November 2018

Teatrikal yang Gugat Sistem Pendidikan “Ini Budi”


PEMENTASAN ”BANGKU KAYU DAN KAMU YANG TUMBUH DI SITU”
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis dan Presiden AKSI)
Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ (Foto Adek)
Memigrasikan teks-teks—apalagi itu teks berupa kode-kode dan tanda-tanda yang sangat referensial dengan ingatan kolektif publik yang telah mengkristal—ke atas panggung sebagai teks pertunjukan, mengemban dua opsi: komunikatif dan tidak komunikatif, baik secara pesan makna simbolisme maupun nonsimbolisme.
Teks pertunjukan ”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” dalam durasi 55 menit yang saya saksikan di Teater Arena Taman Budaya Jambi, pada Jumat, 31 Agustus 2018, secara resepsif menempatkan karya yang disutradarai Yusril Katil itu pada posisi teks yang komunikatif dengan artistik-estetika pemanggungan dan pesan makna simbolisme maupun nonsimbolisme, memenuhi capaian yang pas walau dengan beberapa catatan menyertainya.

Aspek lainnya, teks pertunjukan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” juga mampu merekonstruksi memori kolektif tentang bangku (pen)didik(an) di dalam kelas yang hampir setiap orang pernah mendudukinya.
Kendati begitu, konstruksi teatrikal dengan simbol dan penanda 9 bangku di atas panggung sebagai upaya merekonstruksi soal dampak sistem pendidikan yang cenderung seragam pengajarannya kepada anak didik, masih terlihat lubang-lubang kosong yang cenderung normatif dan verbalitif.
Lubang-lubang kosong itu, dilihat dari keseluruhan dari teks pertunjukan, bisa tertutup jika—pernah saya tulis di pertunjukan lainnya—yaitu aspek transformabilitas bisa lebih khusus digarap maksimal dengan tata kerja antropologis dan sosiologis yang intensif terhadap isu yang diangkat.
Aspek transformabilitas merupakan satu dari tiga aspek tanda teatrikal, yakni mobilitas, dinamisme, dan transformabilitas. Ketiga hal ini disebut dengan fleksibilitas denotasional. Teks pertunjukan kontemporer, ditengarai memiliki tanda, simbol, dan daya ucap laku teks panggung dengan kerangka fleksibilitas denotasionalnya.
Aspek transformabilitas—saya menilai, dua aspek lainnya: mobilitas dan dinamisme telah duduk dalam keseluruhan pementasan ”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ”—menjadi problem serius kerena kealpaan dalam setiap garapan yang berangkat dari titik eksplorasi tubuh pemain dan properti.
Aspek transformabilitas bagi saya merupakan kunci penting dari keseluruhan proses pemanggungan seni pertunjukan apapun jenisnya. Transformabilitas itu merupakan titik pijakan untuk mamahami dan mereinterpretasi terhadap isu dan problem sosial yang digarap dalam teatrikal pertunjukan. Mencapai pemahaman yang maksimal, jelas melewati proses yang intensif dengan diskusi dan kajian kritis antara sutradara, dramaturgi, komposer, tata lampu, panata artistik, dan pemain.
Peristiwa yang direkonstruksi di atas panggung jelas bukan sebuah peristiwa yang muncul serta merta. Keterkaitannya yang relevantif dengan peristiwa sosial dalam realitas, jelas tak bisa dipisahkan. 
”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” merupakan karya yang berbasis riset atau penelitian tentang sistem pendidikan di Indonesia yang wujudnya sebagai penciptaan karya. Namun, teks panggung yang dihadirkan Yusril Katil sebagai sutradara dan ide kreatif, pada transformabilitas memperlihatkan lubang kosong yang saya sebutkan di atas.
Hadirnya lubang kosong ini, terkait dengan kesulitan mengetransformasikan realitas sosial (problem pendidikan) menjadi peristiwa teks teatrikal, terjadi karena belum maksimal dan intensif pembahasan dan diskusi mendalam terhadap objek riset antarsesama elemen yang terlibat. Sisi ini perlu didalami.
Akibat dari belum maksimalnya menggarap aspek transformabilitas ini, sembilan tubuh para pelaku (pemain) terlihat masih kesulitan melepas dan membuktikan bahwa “tubuh” mereka ialah tubuh “duplikasi” dari serentetan problem pendidikan yang kemungkinan membuka banyak variasi dan interpretasi. Sedangkan bangku yang diidentikkan sebagai alat pembunuh karakter anak didik, terkesan belum berhasil terintergasi dan sebagai inheren dengan tubuh-tubuh 9 aktor dalam ”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ”.
Galibnya sebuah pertunjukan, teks panggung menjadi media komunikasi tanda-tanda teatrikal kepada publik. Penerimaan peristiwa teatrikal yang terjadi atas penggung merupakan rekonstruksi dari berbagai elemen dramatik yang direalisasikan dalam tanda-tanda. Elemen dramatik itu ialah tubuh dan suara aktor, latar, properti, busana atau kostum, musik, dan panggung itu sendiri.
Pertunjukan ”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” tentu bukan sesuatu peristiwa teatrikalyang berakar ke langit tetapi ia berurat ke bumi, yang menjadikan manusia sebagai pusat konflik.
”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” diawali dengan konflik itu sendiri, menampilkan keriuhan masyarakat kota dalam bentuk tayangan di layar putih di dinding panggung.
Sementara, para aktor berganti-ganti berjalan melintasi layar yang juga merekontruksi tanda-tanda teks pertunjukan. Tanda yang mereka munculkan ialah keseragaman. Gerak dan cara berjalan pun sama. Mereka seperti robot. Saat bersamaan, di layar juga menayangkan kesibukan umat manusia dengan beragam aktivitasnya. Mereka tak saling kenal dan berjalan bergegas sebagai ciri khas masyarakat urban kota. Tapi mereka ini merupakan generasi pendidikan “Ini Budi”.
Dua peristiwa teatrikal di panggung itu, membuka banyak varian interpretasi bagi publik penonton. Musik yang ditata komposer Erizal Koto, dan ditata dengan “kekuatan” penuh oleh Indra Arifin dan Avandgarde Dewa Gugat, mempererat hubungan dua peristiwa ini.
”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” yang garak-geriknya ditata koreagrafer Ali Sukriyang seterusnya hingga pertunjukan ditutup dengan berjalan mundur semua aktor, tak berhenti memproduksi tanda-tanda dan kode-kode sebagai teks pertunjukan. Produksi tanda-tanda, kode-kode sosial, ujaran yang muncul, laku aktor mengduplikat seorang politisi, sindiran tajam terhadap perilaku anak didik, pola didik yang tak berubah, dan seterusnya, merupakan rangkaian teks peristiwa teatrikalyang mengerucut dalam satu kehendak menggugat sistem pendidikan Indonesia yang gagal melahirkan manusia secara utuh.
Bangku kayu yang melekat pada masing-masing aktor dieksplorasi sehingga memunculkan beragam efek visual dan kode-kode yang bereferensial dengan kondisi realitas sosial di tengah masyarakat. Bangku kayu bukan sekadar properti yang bisa dipindah-pindahkan kesana-kemari. Ia dimaknai bukan sebatas tempat duduk.
Sembilan tubuh aktor yang melekat pada bangku kayu mengasosiakan bahwa sesungguhnya manusia membangun dirinya dari ruang berukuran 40 kali 70 sentimeter dengan sandaran keras itu. Dan selalu menghapal idiom yang sudah menjadi ajaran wajib kalimat: “Ini Budi” dan seterusnya.
Bangku kayu dan manusia yang duduk (tumbuh) di situ yang bentuknya nyaris persis dan serupa itu, bak dua sisi mata uang. Keduanya (manusia dan bangku), dalam proses perjalanan hidupnya ditentukan bangku kayu nan kecil itu. Sejak pertama kali menghenyakkan pantatnya di bangku itu, sejak itu pula ia berada dalam perangkap sistem pendidikan dan dengan regulasi biroktarif yang sangat membelenggu. Bangku itu merepresentasikan kode sosialnya sebagai bangku pendidikan dengan segenap problemnya.  
"Konsep dan garapan "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" berangkat dari pandangan objektif saya terhadap dunia pendidikan dasar yang berlangsung di Indonesia selama ini. 9 aktor di panggung akan merekonstruksi tubuh dan simbol-simbol di atas pentas sehingga apa yang jadi gagasan bisa dikomunikasikan ke penonton," kata Yusril Katil pada beberapa kali diskusi.
"Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" menggambarkan tentang proses ketertekanan tubuh di bawah penataan yang sistemik dalam budaya sekolah. Tubuh aktor dan elemen dramatik lainnya yang ada di panggung,merupakan teks pertunjukan yang akan membuka seluasnya komunikasi simbolis dengan penonton.
“Ini sebenarnya adalah letupan ingatan saya akan proses belajar di sekolah dasar dan menengah. Saat kecil tubuh kita sudah dipaksa untuk patuh. Di dalam kelas kita harus melipat tangan, wajah harus menghadap ke depan dan semua itu kosong dari emosi,” tambah Yusril, yang kini berada di China untuk sebuah pertunjukan China Asian Theater Weeks 2018 berkolaborasi dengan komposert Nurkholis.
Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia telah turut mengkonstruksi tubuh anak didik agar patuh, namun juga sangat mungkin untuk berkembang dengan polanya sendiri.
“Tapi di balik itu ada bahaya mengancam. Tubuh yang terkekang oleh sistem akan cenderung memberontak. Apalagi di era seperti sekarang, dimana begitu banyak goidaaan yang datang dari luar,” sebutnya.
Tubuh yang dikonstruksi seperti itu kemudian dijejali pula dengan cita-cita yang macam-macam. Padahal saat masih kecil, manusia tak paham betul seperti apa wujud karakter yang kita cita-citakan itu.
Pertunjukan di Jambi menjadi awal bagi eksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru bagi perjalanan karya ini seterusnya.
Saat tampil di Jambi, “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” merupakan satu dari empat peristiwa budaya dalam Jambi Performing Arts: 3 Kota, 3 Bentuk yang digelar sejak tanggal 31 Agustus sampai 1 September 2018, yang ditaja Incung Art & Culture Management Jambi, sebuah organisasi nirlaba di bidang seni budaya.
“Tim kreatif dalam pertunjukan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ”terdiri dari kreator, pengamat, dan peneliti seni, yang sehari-harinya mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang melakukan kerja kreatif dalam bentuk kolaborasi di bidang teater, tari, dan musik,” kata Edward Zebua, Pimpinan Produksi.
Dijelaskannya, para kreator ini terdiri dari para dosen bidang seni yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing. Karya ini diwujudkan dari hasil kerja kolaborasi para dosen dan juga mahasiswa ISI Padang Panjang, yang didukung oleh Hibah Penelitian, Penciptaan, dan Penyajian Seni Kemenristekdikti.
Proses kreatif "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" ini terus dilakukan selama 3 tahun ke depan.
Pertunjukan seni "Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ" didukung tim yang solid, yakni Edward Zebua (pimpinan produksi), Sahrul N(dramaturg), Ali Sukri (pengatur gerak), Elizar Koto, Indra Arifin, dan Avantgarde Dewa Gugat (komposer/pemusik), Kurniasih Zaitun dan Gusrizal (produksi). Reri Rizaldi, Mahmud Junanda, Egi Oktriadi, Erwin Mardiansyah, Erik Nofriwandi, Andi Jegger, Hadi Yusra, Ahmad Ridwan Fajri, Utari Irenza, Intania Ananda Jonisa (pemain/aktor), Budi Kurniawan, Ari Wirya Saputra (penata lampu), Yudi dan Adek (dokumentasi), dan Ari Leo (desain publikasi).
Sekaitan dengan itu, apa yang dikatakan Sir Christopher John Elinger Ball, seorang linguis dan pakar pendidikan dari Universitas Oxford Inggris, relevan untuk dikutip di sini:“Sistem (pendidikan) yang ada melahirkan hasil yang ada. Jika menginginkan sistem yang lain, sistem harus diubah.”
Kendati begitu, hingga hari ini kita belum mampu mengubah sistem pendidikan “Ini Budi” itu. Jadi apa yang dikatakan Christopher John Elinger Ball masih benar, bukan.***  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar