Selasa, 30 April 2019

Ancaman Megathrust Mentawai, Memaknai M 8,8


Dalam rentang Januari-Februari 2019, dua kali Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Provinsi Sumatra Barat setingkat kementerian dan badan dilaksanakan di ranah Minangkabau.  
Berdasarkan data yang dirilis Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), 7 kabupaten dan kota yang berada di pesisir pantai di Sumatera Barat memiliki potensi ancaman gempa-tsunami megathrust di Kepulauan Mentawai.

Dalam rentang tak sampai dua pekan, Januari-Februari  itu, berturut-turut ranah bundo kanduang ini Sumatera Barat dilanda lindu. Energi megathrust Mentawai sudah mulai melesakkan tenaganya. Pembuangan energi raksasa itu pernah terjadi pada tahun 2007 dengan kekuatan gempa M 6,4 dan M 7,7 pada 2010.
Pada Sabtu, 2 Februari  2019 lalu, Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika Padang Panjang mencatat terjadi gempa berkekuatan M 5,3, M 6,0,  dan M 5,2 berturut-turut mengguncang Sumatera Barat.
"Kalau belum dilepaskan maksimal M 9, maka sisa tenaga yang masih tersimpan berkurang menjadi M 8,8. Kini megathrust Mentawai masih menyimpan energi M 8,8," kata Dr Danny Hilman Natawijaya, peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).di depan kepala-kepala daerah beserta rombongan dari BNPB, BMKG, serta Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Ketua DPRD, BPBD, jajaran pejabat disertai staf dari pemda di Provinsi Sumatera Barat saat memberi paparan pada rakor di Aula Gubernuran.
Selain megathrust Mentawai, ancaman lainnya juga ada yakni gempa darat di sesar Sumatera di jalur Bukittinggi, Solok dan daerah lainnya. Begitu juga dengan ancaman backthrust.
“Saat ini pemerintah harus fokus menghadapi megathrust Mentawai karena memiliki ancaman yang lebih besar. Kita tidak bisa menutup mata bawah salah satu kelemahan adalah peringatan dini dan kesiapsiagaan mitigasi," tegasnya.
Bersumber hasil riset dan simulasi, rentang waktu gelombang tsunami mencapai daratan pinggiran Kepulauan Mentawai berkisar 10-15 menit pascagempa besar dengan episentrum megathrust Mentawai. Wilayah yang diterabas air besar itu ialah Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.
Gelombang besar itu terus menyesak dan mencapai tepi Kota Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Agam, sekira 30-40 menit ke depan. Maka dengan rentang waktu yang minim dan kondisi lingkungan Sumatera Barat saat ini, diperlukan pemahaman masyarakat bahwa menyelamatkan diri menjadi faktor utama menghadapi ancaman ini.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan ada 8 zona yang patut diwaspadai terkait masalah kegempaan.
“Mentawai adalah yang pertama harus diwaspadai. M 8,8 itu setara dengan 32 kali gempa M 7. Gempa M 6 juga mempengaruhi tetapi tidak sebesar M 7," kata Dwikorita Karnawati.
Bernardus Wisnu Widjaja, Deputi Bidang Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB gempa M 6 dan M 7  bisa menghabiskan energi segmen megatrust Mentawai sehingga gempa besar M 8,8 yang tersimpan tidak jadi keluar secara bersamaan.
“Energi di segmen megatrust Mentawai awalnya mencapai M 9,3 tetapi setelah terjadi gempa berturut-turut tenaganya menyusut menjadi M 8,8,” katanya.
Sementara itu, dalam berbagai kesempatan, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengimbau agar masyarakat tidak panik adanya megathrust Mentawai.
"Masyarakat jangan panik. Bencana datangnya dari Tuhan. Kita tidak tahu kapan terjadi. Karena yang perlu dipersiapkan menghadapi bencana adalah kesiapsiagaan. Jika masyarakat siap, risiko bencana bisa dikurangi," kata Irwan Prayitno
Ia meminta agar bupati dan wali kota berkesimbungan menyosialisasikan mitigasi kebencanaan di sekolah-sekolah seperti mengeluarkan surat edaran serta menerbitkan buku-buku tentang kebencanaan untuk para siswa. n Nasrul Azwar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar