Senin, 04 November 2019

3 Seni Menautkan 2 Bangsa


TITIAN BUDAYA ISI PADANG PANJANG-NEGERI SEMBILAN
OLEH Nasrul Azwar, Presiden AKSI dan Jurnalis

“The Margin of Our Land #3”
Salah satu bentuk kolekvitas seni yang mendahului masyarakat zaman sekarang ialah cerita rakyat (folk tale) dan lagu rakyat (folk song). Dua hal ini merupakan bentuk seni yang terkait erat masyarakat tradisional dalam batas-batas ideologis tertentu dan suku tertentu, malah. (St. Sunardi, dalam Popular Culture, 2016).
Kalimat di atas saya kutipkan karena relevan dengan tulisan apresiatif ini terhadap tiga pertunjukan karya seni dari ISI Padang Panjang yang dipentaskan di Kompleks Jabatan Kebudayaan dan Kesenian Negara (JKKN) Negeri Sembilan dalam program Titian Budaya Malaysia-Indonesia pada 23-26 Oktober 2019 lalu.
Ketiga karya seni itu ialah dance theatre berjudul “The Margin of Our Land #3”dengan koreografer Ali Sukri dan sutradara Kurniasih Zaitun diperkuat komponis Elizar Koto dan Indra Arifin, serta dramaturg Sahrul N.
Selanjutnya, seni pertunjukan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2” sutradara Yusril dan Sahrul N sebagai dramaturg, tata musik digarap Avant Garde Dewa Gugat
Dan yang ketiga ialah karya seni randai perempuan “Si Rabuang Ameh #2”, penulis naskah dan tuo randai Zulkifli, Erlinda (penata gerak), dan Admiral (komposer).
Ketiga karya seni ini mendapat dukungan penuh dari program Hibah Penelitian, Penciptaan dan Penyajian Seni (P3S) Kemristekdikti yang merupakan garapan dosen-dosen ISI Padang Panjang. 
“Si Rabuang Ameh #2”: Perempuan Berandai
Pertunjukan randai perempuan Si Rabuang Ameh di Auditorium D’Sury Malaysia-foto denny cidaik
Pertunjukan yang digelar di JKKN Negeri Sembilan, Malaysia, tentu saja mengemban konteks yang berbeda dalam perspektif resepsi penonton jika dibanding dengan penonton di Sumatera Barat (Minangkabau). Kita tahu, Negeri Sembilan dalam kultur dan garis keturunan sebagian besar masyarakatnya, tak bisa dipisahkan dengan Minangkabau. Pementasan randai perempuan “Si Rabuang Ameh #2” membuktikan badusanaknya kedua bangsa itu.
Seni randai “Si Rabuang Ameh #2”, yang pemainnya semua perempuan itu—seperti disitir dari St. Sunardi di awal tulisan ini—merupakan seni randai yang berbasis cerita rakyat (folk tale) dan lagu rakyat (folk song) yang berkembang pada masa lalu yang hingga saat ini masih melilit emosi budaya masyarakat Minangkabau, termasuk tentu saja masyarakat rantau “Minangkabau” di Negeri Sembilan. Tak ayal, respons penonton saat dipersembahkan di Auditorium D’Sury JKKN Negeri Sembilan, cukup luar biasa.
Kenangan kultural sekaligus resepsi batin publik Negeri  Sembilan terpuaskan. Ada titian atau jembatan budaya yang mempertautkan emosi dengan penampilan keseluruhan dari randai “Si Rabuang Ameh #2” sehingga—paling tidak—500 kursi yang tersedia dalam gedung beratap gonjong itu terisi penuh membuktikan apresiasi warga sangat besar.
Pertunjukan randai perempuan Si Rabuang Ameh di Auditorium D’Sury Malaysia-foto denny cidaik
Tampak hadir Tan Sri Dato Sri Utama Dr. Rais Yatim, Ketua Dewan Penasihat Jaringan Masyarakat Minangkabau Malaysia (JM3) bersama istri, Novesar Jamarun, Rektor ISI Padang Panjang, Mohd Radzi Omar, Pengarah JKKN, Negeri Sembilan, Dirwan Ahmad Darwis, Deputi Presiden Minangkabau Diaspora Network Global, Lukman (seniman film), masyarakat Minangkabau di Negeri Sembilan, mahasiswa, dan pegiat teater Malaysia.
“Kisah dalam cerita “Si Rabuang Ameh” mendapat apresiasi dan beragam respons dari penonton di Malaysia. Kita tak menyangka cerita “Si Rabuang Ameh” penonton antusias. Barangkali kisahnya komunikatif dengan penonton,” kata Zulkifli, penulis naskah “Si Rabuang Ameh”. 
Cerita “Si Rabuang Ameh” #2, merupakan kisah klasik yang berkembang di tengah masyarakat Jorong Jambak, Nagari Bungo Tanjung, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, sebagai cerita rakyat (folk tale). Kisah turun temurun ini diberi nyawa dan dipindahkan dari teks lisan menjadi lisan oleh Zulkifli.
Si Rabuang Ameh yang diklaim Zulkifli sebagai randai yang pertama kali dimainkan dengan pemain perempuan ini ditata geraknya secara apik tanpa keluar dari sumbang dua baleh (aturan dan tatanan sosial yang berlaku secara tak tertulis bagi perempuan di Minangkabau). Pemain randai ini tidak lagi mengenakan pakaian (celana) galembong yang biasa dipakai laki-laki saat bermain randai. Untuk mencapai efek bunyi pukulan galembong dan paha, digantikan alat yang disebut dengan tungkahan kayu. Tungkahan inilah yang menimbulakan bunyi serupa tapuak galembong saat pengganti legaran. 
Menurut Zulkifli yang bergelar adat Datuak Sinaro Nan Kuniang ini, permainan randai yang dimainkan perempuan, permainan galombang, perempuan mengenakan kostum laki-laki, yaitu celana galemboang, baju taluak balango, destar, sisampiang, dan lain sebagainya. Mereka juga melakukan gerakan seperti gerakan laki-laki; menepuk galemboang sambil menyepak dan mengangkangkan kaki, meloncat dan tak mustahil juga bisa berguling sebagaimana perkembangan permainan tapuak galembong yang dilakukan oleh pemain randai laki-laki dewasa ini.
“Banyak kalangan, baik budayawan, ninik mamak, dan tuo randai yang tidak merestui kaum wanita ikut sebagai pemain galombang dalam pertunjukan randai. Polemik perempuan ikut dalam gerakan galombang ini akan “menggaggu” perkembangan randai sebagai teater tradisional rakyat Minangkabau,” kata Zulkifli.
“Polemik di tengah masyarakat inilah yang “memaksa” tim kami melakukan penelitian dan penciptaan, serta pertunjukan dengan model permainan randai perempuan Si Rabuang Ameh. Model garapan ini telah diupayakan dengan saksama mempertimbangan kepatutan dan kepantasan perempuan Minangkabau dan dapat menjadi pedoman untuk menciptakan randai perempuan Minangkabau. Selain model ini merupakan salah satu strategi pengembangan randai Minangkabau untuk masa depan,” tambahnya.
Kendati demikian, satu hal yang sangat perlu diperhatikan ialah “pemaksaan” menghadirkan seni tradisi randai dalam panggung prosenium yang memisahkan pertunjukan dengan penonton dalam jarak pandang estetis cukup jauh. Sementara kita memahami, bahwa seni randai merupakan permainan rakyat yang sangat partisipatif, interaktif, dan salah satu seni komunal Minangkabau yang paling populer yang sudah lazim dimainkan di galanggang terbuka. Sebagian menyebut, seni randai merupakan seni rakyat yang paling demokratis.
“The Margin of Our Land #3”: Trilogi Batas Manusia
Tari-teater “The Margin of Our Land #3” menutup trilogi pementasannya dengan subjudul “Tapal”. Dua garapan sebelumnya, menyoal “Ulayat” dan “Reklamasi”. 
“The Margin of Our Land #3” berbicara polarisasi kepemilikan di tapal batas negara yang sangat rentan memicu konflik atau sebaliknya, malah memunculkan pertalian sosial-budaya dan emosi kedua masyarakat perbatasan terluar negara Republik Indonesia. Tanah menjadi semacam harga diri personal, komunal, dan negara. 

Pertunjukan dance theatre “The Margin of Our Land #3” di Auditorium D’Sury Malaysia-foto denny cidaik
Pertunjukan yang digarap koreografer Ali Sukri dan tata lakunya (sutradara) Kurniasih Zaitun ini, merupakan senyawa dua pertunjukan yang dikerjakan sebelum, yakni “The Margin of Our Land #1 dan #2. Properti utamanya garis polisi dan tapak batas tanah atau pancang. Gerakan silat yang terkesan aktobatik dan atraktif dengan pemain nir-identitas itu mewarnai 30 menit pertunjukan panggung.
Namun, sepanjang yang saya nikmati pementasan, “The Margin of Our Land #3Tapal” yang didominasi tubuh-tubuh aktor yang bergerak dinamis tapi masih hampa pesan yang ingin disampaikan.
Jika merujuk pada gagasan teksnya, yakni soal konflik tanah sekaligus dengan beragam perkara di dalamnya, di atas panggung masih sulit membedakan mana yang disebut “tokoh kelompok” dan “tokoh individu” yang direpsentasikan dengan yang menantang penggusuran, berpihak pada penggusuran, dan apatis sekalipun.
Tokoh-tokoh yang diidentifikasikan dalam teks, tampak belum sepenuhnya dihadirkan di atas panggung. Identifikasi tokoh saat pementasan “The Margin of Our Land #3Tapal” terlihat sebagai kelompok masif manusia yang bergerak di atas panggung dengan komposisi dan nirkomposisi yang menjauh dari makna dan pesan yang diemban. Namun, ekses ini terbantu ketika para aktor masuk ke ranah eksplorasi garis polisi yang memenuhi panggung. Kendati penggunaan properti garis polisi juga pernah digunakan dalam pementasan #1Ulayat, tapi dengan eksplorasi yang beda, pertunjukan “The Margin of Our Land #3Tapal” agak terselamatkan juga.
“Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2Randai”
“Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2Randai” merupakan salah garapan kedua dari trilogi “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ”. Pada bagian #1, “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” berbicara soal pendidikan (sekolah). Sedangkan yang kedua ini, #2, lebih memokuskan pada eksplorasi mendalam tentang seni randai.
Pertunjukan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2” di Auditorium D’Sury Malaysia-foto denny cidaik
Dalam batasan klasik, randai ialah teater tradisional rakyat Minangkabau yang amat populer dan digemari masyarakat. Setiap nagari-nagari di Sumatera Barat (Minangkabau) memiliki kelompok randai walau dalam perjalanannya kadang hidup-kadang mati suri.
“Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2 dibuka dengan penayangan gambar audio-visual yang ditonton sebarisan orang yang duduk rapi di bangku kayu. Tayangan yang distorsi itu menjelaskan tentang definisi randai oleh pakar-pakar seni tradisi Minangkabau yang mirip program televisi-televisi umumnya di Tanah Air berdurasi 2-3 menit.
Menghadirkan “distorsi” dalam tayangan itu bisa dimaknai sebagai pemutarbalikan suatu fakta, aturan, dan sebagainya. Distorsi juga berarti  penyimpangan dari norma-norma dan batasan yang telah disepakati.
Garapan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2 masuk dari tayangan distorsi ini. Selanjutnya, aktor pun yang juga nir-identitas dan identifikasi memenuhi panggung dengan masing-masing bangku yang melekat pada dirinya dengan gerak silek, legaran dan tapuak galembong dalam randai, serta akrobatik yang atraktif, dan menyertakan gerakan Hip Hop.
“Gagasan yang diwujudkan di atas panggung dalam penciptaan teater kontemporer berbasis tradisi Minangkabau, terutama pada kekuatan tubuh aktor yang berkorelasi dengan elemen artistik dan benda benda dalam mewujudkan peristiwa,” kata  Yusril, sutradara, yang diamini Sahrul N, dramaturg.
Mewujudkan karya ini menggunakan metode yang bersumber dari falsafah paco-paco di Minangkabau, silat dan randai. “Metode paco-paco dalam menciptakan teater “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” adalah usaha di dalam mengkonstruksi serpihan peristiwa dan kehidupan menjadi satu kesatuan yang utuh, eksotik, estetis dan artistik,” tambah Sahrul.
Pertunjukan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2” di Auditorium D’Sury Malaysia-foto denny cidaik
Pertunjukan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2 memang nondialog. “Dialognya” adalah tubuh, gerak, properti atau material yang melekat ke tubuh aktor (pemain), musik, suara, dan tata cahaya panggung. 
Kendati demikian, membaca “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2 di atas panggung yang sejuk di D’Sury malam itu, seperti membaca “cerpen” yang masih terbengkalai. Garapan itu cuma menawarkan simbol kosong secara semiotik, “distorsi” yang dihadirkan masih belum mencapai teror dahsyat, dan pesan yang dimasukkan dalam gerak juga masih terlihat samar.
Selain itu, paco-paco, randai, dan silek sebagai basis penciptaan juga masih terlihat normatif (tempelen), belum menjelma yang inheren dengan keseluruhan garapan “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2. Artinya, tubuh aktor belum berhasil menciptakan “tubuh budaya” dengan “DNA” Minangkabau itu.
Tentu, jika “Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ #2 bagian kedua dari trilogi ini, ia akan menjadi sangat menarik disempurnakan pada proses #3 nanti. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar