Minggu, 03 Mei 2020

Pemimpin dalam Prespektif Sejarah


OLEH
Nurmatias (Peneliti)

Tanggal 17 April 2019 merupakan akhir dari pesta demokrasi Indonesia yang (mungkin) paling brutal dalam sejarah yang ada. Meskipun sudah masuk dalam sistem yang sangat modern tapi terasa begitu tidak nyaman dalam kehidupan sehari-hari. Sesama elemen masyarakat, kita saling mencurigai. Rasa kekeluargaan bahkan menjadi longgar akibat perbedaan pilihan. Mudah-mudahan ini berakhir dengan baik dan menghasilkan pemimpin kurun waktu 2019-2024  yang dipilih oleh rakyat dengan suara dukungan yang tertinggi. Dahulu kita punya sebuah sistem pemilihan pemimpin yang baik. Pada massa lalu banyak negara mempunyai pemimpin dengan ketokohan yang mendunia. Rusia dengan Stalin dan Lenin, Amerika Serikat dengan George Wasihinton dan Abrahan Lincoln, Gandhi dan Nehru dari India. Tidak ketinggalan, Indonesia dengan Soekarno–Hatta, serta  deretan nama tokoh  dunia lainnya  yang bermunculan.

Kecenderungan yang terjadi hari ini adalah bahwa mencari sosok pemimpin atau tokoh  merupakan hal yang sangat sulit dicari. Gandhi, Soekarno dan Hatta misalnya merupakan tokoh-tokoh yang tak terlupakan dalam khazanah kesejarahan bangsanya. Tokoh-tokoh tersebut tidak muncul begitu saja. Masing-masingnya ditempa dalam suatu proses yang panjang, sehingga lahir menjadi tokoh kharismatik dan panutan bagi generasinya dan generasi sesudahnya.  Setiap Negara punya pemimpin yang hebat dan karismatik.  Negara India kita kenal  Mahatma  Gandhi menjadi tokoh dengan perjuangan yang bercirikan Ahimsa (dilarang membunuh- yaitu gerakan  anti peperangan), hartal (pergerakan rakyat India dalam bentuk aksi  tidak berbuat apa-apa), satrya graha (gerakan rakyat India untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah kolonial) serta swadesi (gerakan rakyat India untuk memakai bahan-bahan buatan negeri sendiri). Adapun tokoh-tokoh panutan yang berasal dari Indonesia begitu banyak, akan tetapi yang seringa dikedepankan adalah Dwi Tunggal Soekarno dan Hatta. Perjuangan mereka untuk rakyatnya seakan-akan melekat dalam jiwa seluruh rakyatnya. Hampir dari setiap pemimpin kharismatik tersebut memiliki daya  tarik yang disukai oleh rakyatnya.

Dalam perspektif kebudayaan, masyarakat Jawa  mensyaratkan pemimpin harus dilihat bibit, bobot dan bebet-nya. Sedangkan dalam masyarakat Minangkabau juga dikenal dengan konsep takah (bentuk), tokoh (Kepemimpinan), tageh (Kekuatan). Dalam khazanah budaya, penulis  menganalisa ada beberapa syarat menjadi pemimpin Minangkabau yang mengerti akan nasib rakyatnya. Syarat tersebut akan kita jelaskan dalam bahasan selanjutnya.

Pertama, seorang Pemimpin harus mendengar (mandanga). Hal ini berarti bahwa seorang pimimpin harus peka terhadap komponen yang dipimpinnya. Dalam temuan arkeologis kita mengenal Medan nan Bapaneh dan Rumah Gadang sebagai tempat pembentukan karakter masyarakat Minangkabau. Banyak Cagar Budaya yang bisa memberi inspirasi dalam pembentukan jiwa seorang pemimpin. Kepemimpinan hendaklah memperlihatkan adanya suatu proses interaksi yang bersifat aktif antara seorang pemimpin dengan anggota masyarakatnya. Interaksi yang bersifat aktif tersebut akan memperlihatkan hubungan yang bersifat harmonis antara keduanya. Komunikasi yang bersifat interaktif antara seseorang dengan masyarakat bisa dijadikan referensi untuk menyimpulkan siapa orang yang patut kita jadikan pemimpin. Kebiasaan berinteraksi memperlihatkan bahwa seorang calon pemimpin dapat memberikan masukan dan bisa menerima pendapat orang lain (mandanga). Sikap penghormatan diperlukan, mengingat bahwa karena dengan adanya penghormatan terhadap pemimpin tersebut justru akan membuat eksistensinya dalam masyarakat semakin kuat.

Kedua, seorang pemimpin punya daya tarik komunikasi (mangecek). Seorang pemimpin akan mempunyai  daya tarik tersendiri bagi masyarakatnya. Walaupun daya tarik yang diperlihatkan oleh pemimpin tersebut dalam hal tertentu dapat berasal dari kemampuannya memusatkan dan menyalurkan rasa ketidakpuasan dan kepentingan yang saling berbeda ke arah pendekatan bersama, mempersatukan penduduk yang terpecah belah dalam mengejar suatu sasaran yang sama, sehingga dalam kondisi yang demikian; selain seorang pemimpin dapat mempertahankan kepercayaan masyarakat yang dipimpin, juga  membuat  pemimpintersebut dapat mempertahankan kharisma atau wibawanya di hadapan masyarakat yang dia pimpin. Hal ini berbeda dengan pandai maota yang konotasinya lebih identik dengan kepandaian berbohong.

Ketiga, seorang  pemimpin mempunyai sikap-sikap positif seperti tingkah lakunya (patuik dicontoh). Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pemimpin akan diacu, ditiru dan pedoman dalam bersikap. Karakter positif akan menjadi sangat berguna untuk menjadikan dirinya sebagai seorang tokoh kharismatik bagi genarasi yang akan datang maupun generasi pada saat itu. Pola tingkah laku tersebut merupakan pola yang murni dan alamiah bukan terbias dengan berbagai-macam bias apalagi bias-bias politik yang menguntungkan pribadi atau kelompoknya, namun harus memperlihatkan suatu sikap yang jelas-jelas memperjuangkan kehidupan masyarakatnya.

Keempat,  inspirasi dan semangat. Seorang pemimpin harus mampu membangkitkan dan menyamakan dirinya dengan segala macam lambang-lambang suci dari kebudayaan masyarakatnya. Lambang-lambang suci dari kebudayaan masyarakatnya merupakan suatu bentuk “aspirasi” yang ada dalam masyarakat. Punya energi posistif yang tinggi dan membuat masyarakat termotivasi. Bukan pemimpin yang harus direstui dua alam yang sering minta kekuatan memelalui dunia alam ghaib.

Seorang pemimpin dalam perspektif  Ki Hajar Dewantara  adalah Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Arti dari semboyan ini dapat dijabarkan sebagai berikut: Ing Madya Mangun Karsa berarti ada di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Selanjutnya Ing Ngarsa Sung Tulada, hal ini berarti berada di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik. Adapun penggalan terakhir yaitu Tut Wuri Handayani yang diartikan bahwa dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Dalam budaya pengangkatan pemimpin di Minangkabau, penghulu atau datuk dipilih berdasarkan banyak kriteria antara lain dapat menyampaikan kepada pengikut-pengikutnya sesuatu rasa kelangsungan antara dia sendiri dengan misinya dalam masyarakat. Dengan demikian, calon pemimpin disyaratkan harus mempunyai pengetahuan yang luas dan dan interaktif dengan masyarakat.

Hari ini, pertanyaan reflektif yang perlu kita ajukan sebagai bangsa Indonesia adalah apakah masih ada sosok pemimpin yang dekat dengan rakyatnya sekelas Soekarno dan Hatta serta sederetan tokoh kharismatik lainnya  yang berasal dari tokoh-tokoh lokal di Indonesia. Susah kita mendapatkan pemimpin yang diharapkan meskipun tiap daerah punya kearifan lokal dalam memilih pemimpinnya. Fenomena yang berkembang adalah bahwa pemimpin diproduksi dalam suasana yang sangat nepotism. Dengan demikian, pemimpin-pemimpin kontemporer lebih banyak terbentuk atas dasar jabatan yang berasal dari kedekatan personal dengan pemimpin yang lebih tinggi. Dalam fase ini tidak tertutup kemungkinan bahwa jabatan tersebut didapat karena adanya permainan uang.  Dengan demikian, pemimpin yang dilahirkan tidak melalui proses yang matang dan tidak melalui seleksi alam menurut kearifan lokal.

Hari ini, mencari sosok pemimpin kharismatik adalah hal yang agak sulit mengingat bahwa seorang pemimpin kharismatik terbentuk oleh kebudayaan masyarakat dimana ia berada. Jika sebuah kebudayaan berkembang positif, proses suksesi kepemimpinan dalam masyarakat pendukung kebudayaan itu akan berlangsung secara positif dan semakin selektif. Jika dibuat perbandingan, seorang pemimpin atau tokoh pada masa lalu sangat disegani oleh masyarakatnya. Hal itu dilatarbelakangi faktor kebudayaan yang membuat mereka harus bersikap sebagai pemimpin, bukan pejabat sebagaimana dapat dipahami dalam falsafah “didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang”. Dengan demikian, seorang pemimpin tidak bersikap semena-mena melainkan sebatas amanat yang diembankan kepadanya. Selain itu, pemimpin pada masa lalu begitu dihormati  karena niat mereka memang murni mengurus sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakatnya.

Kecenderungan hari ini berlaku sebaliknya dari apa yang telah dibahas di atas. Penghargaan terhadap pemimpin cenderung kurang.  Kepemimpinan akan sangat terkait dengan berbagai kaedah-kaedah yang berlaku dalam masyarakatnya. Kaedah-kaedah tersebut akan membentuk seseorang menjadi pemimpin atau tokoh yang kharismatik tersebut. Pejabat-pejabat kita saat ini berpeluang besar untuk menjadi seorang tokoh yang kharismatik. Akan tetapi kita tidak dapat berbuat banyak karena kesadaran dari para pejabat kita yang kurang memahami tentang apa yang ia harus lakukan untuk mencapai derajat sebagai tokoh kharismatik tersebut. Ketidaksesuaian antara kehendak rakyat dengan kebijakan yang diambil membuat ia telah menjadi tidak kharismatik dalam masyarakat terutama yang tidak mendukungnya. Sebaliknya, kebijakan apa pun yang diambil oleh seorang pejabat hari ini, bagi para pendukungnya, dianggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan. Jika direnungkan kembali, pejabat identik dengan pemimpin, dan kepemimpinan itu seharusnya tidak membeda-bedakan. Bukankah esensi dari kepemimpinan itu menyatukan?

Dalam khazanah budaya Minangkabau dikenal tiga institusi sosialisasi yang berperan dalam membentuk sumber daya komunitasnya yang juga berarti sebagai tempat latihan kepemimpinan yaitu rumah gadang, surau dan kedai. Paradigma ini kemudian mulai luntur seiring dengan percaturan dan pergumulan masyarakat Minangkabau dengan masyarakat luar yang identik dengan modernitas. Institusi yang ada mulai berubah mengikuti pola perkembangan zaman dengan diperkenalkannya institusi baru  yaitu memilih pemimpin dengan metode kekayaan dan jabatan sebagaimana kita rasakan saat ini. Menurut analisis penulis, tiga institusi di atas membuat komunitas masyarakat Minangkabau dikenal masyarakat luar sebagai lumbung pemimpin. Para cendikia yang lahir, ditempa dengan alam yang demokratis dan egaliter dengan mengadopsi 3 pola institusi tersebut. Pada saat ini tiga institusi yang sudah mapan ini ditinggalkan oleh komunitas budaya Minangkabau untuk menciptakan seorang pemimpin. Belum tentu institusi baru ini sesuai dengan budaya yang ada dan sudah mapan, atau strategi bangsa Belanda yang melihat gejala kemapanan institusi yang ada akan membuat hegemoni mereka akan rusak serta akan kalah oleh pola yang ada di masyarakat Minangkabau. Mudahan-mudahan kita mengevaluasi sistem pembentukan seorang pemimpin dan kita berharap sistem kearifan lokal kita masih relevan dalam mencari pemimpin karismatik. Wassalam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar