Tampilkan postingan dengan label ESAI TARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI TARI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

CATATAN PEMENTASAN DRAMA TARI GARAK NAGARI PEREMPUAN

Perempuan dalam Lima Dimensi Budaya
OLEH Nasrul Azwar

Drama tari Garak Nagari Perempuan karya Susas Rita Loravianti yang dipentaskan pada Jumat (31/05/2014) di Nagari Pasia Talang, Sungai Pagu, Solok Selatan. Foto-Ezu Oktavianus
Dalam catatan saya, inilah pertunjukan seni yang fenomenal di Sumatera Barat sepanjang 10 tahun terakhir, malah mungkin lebih. Pertunjukan drama tari berdurasi hampir dua jam ini melibatkan ratusan orang, disaksikan seribuan lebih penonton, dengan menggunakan lima ruang pementasan. Masyarakat menyatu dalam pertunjukan ini. Berbaur dan memberi respons.
Lima simpul dan ruang pertunjukan itu adalah surau, rumah gadang, pasar, balai adat, dan istana. Tentu saja kelima ruang publik itu, merupakan simpul yang berkaitan erat  dengan masyarakat dan kebudayaan Minangkabau.

Selasa, 27 Mei 2014

GARAK NAGARI PEREMPUAN: Koreografi dari Pembacaan Atas Perempuan dalam Kaba dan Realita Minangkabau

OLEH Susas Rita Loravianti
Kandidat Program Doktor (S3) di ISI Surakarta
Rumah gadang yang akan dijadikan lokasi pertunjukan
Latar Belakang Karya
Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai salah satu komunitas yang menerapkan sistem matrilineal, yaitu garis keturunan secara adat diatur menurut ibu. Namun jauh di balik itu, masyarakat Minangkabau sebenarnya juga menganut sistem matriarkhi (matriarkhaat), di mana perempuan memiliki posisi strategis dalam kekuasaan. Menurut Thaib, perempuan Minangkabau secara ideal harus berperan dan berfungsi sebagai; pertama, puncak dan basis dari sistem kekeluargaan yang disebut matrilineal; kedua, pemimpin masyarakatnya; ketiga, pemeran utama dalam kehidupan sosial budaya; keempat, figur yang mulia dan dimuliakan; dan kelima, tokoh, pejuang, pendidik, jurnalis, politisi, bisnis, dan berbagai bidang dan aktivitas lainnya (2010a: 4).

Senin, 24 Maret 2014

PEMENTASAN TARI "RATAK NYAO" KARYA JONI ANDRA: Subjektivitas-Identitas yang Harus Mengental

OLEH Nasrul Azwar
Warga Padang Penyuka Seni Pertunjukan

Pertunjukan tari kontemporer “Ratak Nyao (Nyanyian Agyan Berhenti di Koma)”, karya koreografer Joni Andra (Impessa Dance Company) Jumat (14/3/2014) di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat. (Foto: Ari)
Galibnya pementasan seni pertunjukan, kerap diawali dengan “gelap”. Lalu berlahan cahaya lampu juga dengan dasar warna buram, lambat menyiram panggung. Nyaris semua pertunjukan kaya begitu. Tak paham saya mengapa demikian.
Pertunjukan seni kemanusiaan yang dibawakan Impessa Dance Company, berjudul “Ratak Nyao (Nyanyian Agyan Berhenti di Koma)” karya koreografer Joni Andra, pada Jumat malam 14 Maret 2014 di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, menegaskan seperti saya tulis di atas itu.

Rabu, 23 Oktober 2013

RAGA TARI: Fisikalitas Budaya dan Tubuh Politik

Catatan Pertunjukan Tari “Senandung Impian” dan “Jalan Pulang”
OLEH Sahrul N 
Dosen Teater ISI Padang Panjang
Tari Senandung Impian. Foto Wendy
Pascasarjana ISI Padang Panjang dalam dua tahun terakhir ini telah melahirkan seniman-seniman pencipta karya seni yang secara akademis perlu dimintai pertanggungjawabannya. Selama ini, khusus untuk penciptaan seni tari terdapat kekecewaan mendalam karena tidak adanya pergumulan konsisten dengan epistemologi raga. Di kalangan mereka yang menggeluti seni pertunjukan tari terdapat nihilnya yang berpijak pada fisikalitas raga yang mampu memahami raga tari sebagai produsen budaya-politik. Seyogyanya seniman pencipta tari memandang kreasi tari sebagai sebuah bentuk teorisasi, yang menjiwai dan dijiwai oleh proses penjabaran signifikansi raga. 

Senin, 14 Oktober 2013

Koreografer Perempuan Bicara tentang Perempuan

OLEH Asril Muchtar
Pemerhati Seni Pertunjukan dan Dosen ISI Padang Panjang
“Jalan Andami” karya Evadila(Foto AM)
Minggu, (26/12/2010) ada dua karya tari yang menjadi peristiwa budaya di Padang Panjang, yakni; “Jalan Andami” karya Evadila dan “Aku dan Sekujur Manekin” karya Nike Suryani. Kedua karya ini didedikasikan sebagai tugas akhir penciptaan tari Program Pascasarjana ISI Padang Panjang dan sebagai pertunjukan penutup tahun 2010.
Evadila mementaskan koreografinya di Gedung Jurusan Teater ISI, sedangkan Nike Suryani di Auditorium ISI Padang Panjang.
Keduanya mencoba membaca persoalan yang banyak dialami oleh para perempuan dalam kasus dan suasana batin yang berbeda. Evadila mencoba menoleh ke masa silam dengan menginterpretasi episode Kataluak Koto Tanau dari kaba (cerita) Anggun Nan Tongga versi seni tutur sijobang.

Sabtu, 20 Juli 2013

TIGA LEGENDA KOREOGRAFER PEREMPUAN: Wilayah Alternatif dan Tari Minang



Oleh: Indra Utama
Dosen Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang

Cover Tari Rantak Gusmiati Suid (darevan.wordpress.com)
Tari Minangkabau wujud berdasarkan usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak (pencaksilat Minangkabau) dengan unsur-unsur tari di luar pancak berdasarkan penggunaan teknik penciptaan tari baru untuk pementasan merangkumi teknik pengembangan gerak dan penggunaan elemen-elemen komposisi tari.