Tampilkan postingan dengan label ESAI TEATER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI TEATER. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2016

Nano Riantiarno dan Panggung Teater Indonesia

Nano Riantiarno 
Nano Riantiarno dan panggung teater Indonesia berkiprah di teater sejak 1965, mendirikan Teater Koma pada 1977, hingga kini di usia 67 tahun, Riantiarno masih setia menggeliatkan panggung teater Indonesia.
Ditemui di sela-sela persiapan pementasan “Opera Kecoa”, wajah Nano Riantiarno tampak tak sedikit pun menunjukkan gurat lelah. Sebagai sutradara dan pendiri grup Teater Koma, ia seolah tak sabar untuk menunjukkan karyanya itu ke hadapan publik.

Selasa, 18 Oktober 2016

Postdramatic; Membaca Teater Indonesia dalam Keragaman Kultural Teater Global

OLEH Akbar Yumni
Dalam perkembangannya, ‘representasional’ dalam bidang seni sudah dianggap tidak lagi memadai untuk menggambarkan perkembangan realitas masyarakat kontemporernya yang semakin kompleks, serta keragaman ruang ruang kesadaran masyarakat yang melingkupinya yang semakin spasial.

Selasa, 03 Mei 2016

Lakon Hidup Melati Suryodarmo

OLEH Linda Christanty (Sastrawan)
Salah satu seniman Indonesia yang paling mendunia ini mempelajari memori tubuh dengan menelusuri teks-teks sejarah dan menyembuhkan traumanya dengan berkarya.
MUSIM SEMI 1994 di Braunschweig, sebuah kota di Jerman. Melati Suryodarmo duduk di bangku kebun raya, memandangi kolam. Bunga-bunga teratai bermekaran. Ia sering merenung, membaca, ataupun menulis di tempat ini. Seorang perempuan berkacamata Ray-Ban dan bersepatu tumit tinggi duduk di sebelahnya, yang kemudian menyapa ramah, “Kamu dari mana? Apa yang kamu kerjakan di sini?” Mereka bercakap-cakap.
“Dia ternyata Anzu Furukawa, penari butoh dan profesor seni rupa di HBK (Hochschule für Bildende Künste Braunschweig/Braunschweig University of Art),” kenang Melati, yang disebut sebagai ‘salah satu seniman pertunjukan asal Indonesia yang paling mendunia’ oleh suratkabar New York Times.

Senin, 02 Mei 2016

Tubuh-Tari dan Tubuh-Teater Masa Kini (Tubuh dari Antropologi Budaya Lisan)

OLEH Afrizal Malna (sastrawan)
Tubuh manusia telah menjadi tari dan teater sekaligus, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik. Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri.

Rabu, 21 Oktober 2015

Tantangan Seni Pertunjukan Indonesia

Kelompok teater musikal mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk mementaskan lakon terkenal, seperti Sound of Music. Pasar Negeri Jiran pun tak bergeming. Tantangan Indonesia menjadi tuan rumah bagi seniman teater musikal lokal dan mancanegara.
Lakon Beauty and The Beast di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta. (Detikcom Fotografer/Mohammad Abduh)

Laporan ini mengupas panjang lebar tentang seni pertunjukan Indonesia dengan segenap tantangannya dimuat di cnnindonesia.com, dan redaksi mantagibaru.com menilai tulisan ini sangat penting. Dengan menuliskan sumbernya, tulisan ini kami turunkan secara utuh dalam satu judul, dan subjudulnya sebagai judul tulisan yang dimuat website tersebut. Selamat membaca.

Sabtu, 07 Maret 2015

Mengusung Cerita Topeng Betawi Tempo Doeloe Menuju Pertunjukan Dunia

(Malam Kesenian Tempo Doeloe di Galangan VOC, Penjaringan, Jakut, Minggu 2 Desember 2012)

OLEH Siti Gomo Attas
tigo_attas@yahoo.co.id 08179139960
Staf Pengajar Universitas Negeri Jakarta

Abstrak


Mengusung “Cerita Rakyat Topeng Betawi Menuju Pertunjukan Dunia”. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui bentuk pertunjukan cerita Topeng Betawi sebagai tradisi lisan Betawi yang dipertunjukan pada Malam Pementasan Jakarta Tempo Duloe di Gedung Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) Pluit Jakarta Utara, Minggu 2 Desember 2012. Para tamu asing yang turut menghadiri undangan Bapak Wali Kota Jakarta Utara malam itu, terdapat 14 negara sahabat, antara lain, negara India, Jepang, China, Amerika, Singafura, Korea Selatan Afrika Selatan, dan lain-lain.

Rabu, 03 September 2014

Teater Bahasa sebagai Pembacaan Distraksi Sejarah dalam Teater Putu Wijaya dan Teater Mandiri

40 TAHUN TEATER MANDIRI
OLEH Afrizal Malna

Mau tidak mau, kesenian menurut saya tetap membutuhkan posisi politik dalam masyarakat. Yang saya maksud dengan posisi politik ini, adalah sebuah strategi  pembacaan yang menempatkan kesenian sebagai bagian dari pembentukan kultur pembacaan dari masyarakat yang membaca. Melalui anggapan ini juga saya menggunakannya sebagai sandaran dalam pembicaraan tentang Teater Putu Wijaya ini.
Pembicaraan ini ingin saya sebut sebagai eksplorasi pembacaan antara teater Putu Wijaya dengan bagaimana sejarah dikonstruksi: Imajinasi sejarah yang berkembang dari distraksi politik terhadap fakta, dan memformat sejarah sebagai fiksi. Dalam format ini bahasa Indonesia digunakan sebagai teater dalam mengkonstruksi sejarah.

Minggu, 20 April 2014

CATATAN PANGGUNG PUBLIK SUMATERA III: Saatnya Ruang (Panggung) dan Waktu untuk Publik

OLEH Nasrul Azwar

Pembukaan PPS III (Dok Sakata)
Situs Pusat Dokumentasi dan Informasi Minangkabau (PDIKM) Padangpanjang seperti bergerak. Sejak siang hingga malam, kawasan Taman Mini Minangkabau itu, seolah diberi napas baru. Napas itu bernama seni pertunjukan.
Lokasi ini merupakan satu simpul dari tujuh titik yang dijadikan ruang publik untuk berkesenian dalam iven Panggung Publik Sumetera (PPS) III yang digelar 27-29 Maret 2014 di Kota Serambi Mekkah Padang Panjang.

Rabu, 05 Februari 2014

A Tribute to Wisran Hadi: Sebatas Kita Tanpa Kata




OLEH Esha Tegar Putra
Pementasan Teater Cabang di Minangkabau Arts Festival
 “Sejak penemuan baju kulit sebagai penghangat tubuh masyarat Homo Neanderthal. Pakaian telah jauh berubah fungsi sampai sekarang. Dari sitem pengamanan tubuh, sampai menjadi simbol, gengsi, dan ideologi….”
Pada hari terakhir A Tribute to Wisran Hadi, Rabu (16/11) sorenya di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat tampil Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang memanggungkan naskah Sebatas Kata dengan sutradara Kurniasih Zaitun. Pada malamnya, di tempat yang sama tampil Teater Noktah Padang membawa Wanita Terarkhir sutradara Syuhendri.  

A Tribute to Wisran Hadi: Gaung Ekspose “Dimakan" Konser Musik



OLEH Nasrul Azwar dan Esha Tegar Putra
Pementasan Teater Rumah Teduh di Minangkabau Arts Festival
Hari kedua pagelaran naskah-naskah Wisran Hadi atau A Tribute to Wisran Hadi, Kelompok Teater Gaung Ekspose Padang tampil mementaskan naskah Dr Anda karya Wisran Hadi dengan sutradara Anita Dikarina dan Armeynd Sufhasril di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Minggu (13/11) sore. Malamnya, pukul 20.00 di tempat yang sama, Komunitas Teater Kamus Padang memboyong Matri Lini dengan sutradara Muslim Noer.
Nyaris sama, problem utama kelompok teater yang ada di Sumatera Barat adalah kurangnya militansi  dan eksplorasi terhadap naskah serta segenap pengetahuan di dalamnya.

A TRIBUTE TO WISRAN HADI: Teater Ranah dan yang Membingungkan




OLEH Esha Tegar Putra
Pertunjukan Serunai Laut pada Minangkabau Arts Festival
Banyak kalangan yang menaruh harapan, pagelaran pertunjukan teater naskah-naskah Wisran Hadi ini yang digelar sejak 12 sampai dengan 16 November, dengan menampilkan sembilan kelompok teater dari rencana 10, sebagai momentum bergairahnya kembali seni pertunjukan teater di Sumatera Barat.
Sampai Selasa (15/11) sudah tujuh kelompok teater yang memanggungkan garapannya,  tapi panggung utama Taman Budaya Sumatera Barat belum terlihat penyajian teater yang sungguh-sungguh itu teater. Jika dirujuk empat tahun terakhir, misalnya, tak ada perbedaan signifikan dengan cara berteater hari ini. Teater  Sumatera Barat hanya bermain di situ-situ saja.

A TRIBUTE TO WISRAN HADI: Kompilasi Teater Rakyat yang Tanggung


OLEH Andika D Khagen dan Esha Tegar Putra
Pertunjukan Teater Langit dalam Minangkabau Arts Festival

Teater Sakata Padang Panjang membuka pementasan teater Parade Naskah Drama Wisran Hadi Sabtu, (12/10), berjudul Matrilini yang disutradarai Fani Dilasari dan Enrico Alamo konsultan artistik.
Iven ini ditasbihkan sebagai A Tribute to Wisran Hadi yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat selama sepekan sejak tanggal 12 hingga 16 November 2011 menghadirkan sembilan kelompok teater aktif di Sumatera Barat, yang semuanya membawa naskah karya Wisran Hadi ke atas pentas.

Selasa, 31 Desember 2013

MENAKJINGGO VERSUS DAMARWULAN:Dialog Seni Pertunjukan Jinggoan



Pengajar Fakultas Sastra Universitas Jember dan Koordinator Kajian Perempuan Desantara, Jakarta

Sebuah fenomena menarik, cerita legendaris Damarwulan-Menakjinggo yang diilhami kisah perang Paregreg yang kemudian sering dilakonkan dalam pertunjukan Jinggoan dengan cerita yang merendahkan martabat rakyat Blambangan justru sangat digemari oleh masyarakat Using Banyuwangi selama bertahun-tahun. Implikasi cerita tersebut membuat masyarakat Using memikul beban yang mendalam sampai mengidap gejala psikologis sindroma rendah diri, seolah-olah berprototipe jahat, pemberontak, dan mabuk kekuasaan seperti halnya Menakjinggo.1 Kisah Damarwulan-Menakjinggo merupakan sejarah barat-timur (mulai dari zaman Majapahit-Blambangan sampai Mataram-Blambangan) selalu diwarnai hubungan yang tidak harmonis, peperangan, dan penaklukan.

Sabtu, 16 November 2013

Suara Lokal dalam Teks-teks Drama Mutakhir Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya UGM
Menunggu Godot (asbarez.com)
Teks-teks drama mutakhir Indonesia yang ditulis dua dekade terakhir (antara tahun 80-an hingga tahun 2000) sangat kental dengan warna lokal. Hal ini berbeda dengan trend penulisan teks drama era sebelumnya yang banyak mengambil pola teater avantgarde, terutama bentuk teater absurd. Pada tahun 60-an hingga awal 80-an, misalnya, teks drama yang muncul pada umumnya dipengaruhi oleh model drama yang ditawarkan seperti Samuel Beckett, Bertolt Brecht, Antonin Artoud, Stanislavsky, Grotowski, dan sebagainya. Sejarah perkembangan drama di Indonesia telah mencatat fenomena itu pada saat Rendra bersama Bengkel Teaternya mementaskan Menunggu Godot karya Samuel Beckett di TIM Jakarta pada tahun 1969 (Soemanto, 2000:5), kemudian disusul oleh drama minikatanya yang lain macam Bip-Bop. Sejak pementasan itu, pola drama avantgarde seolah-olah telah mencuri perhatian para penulis drama di Indonesia dan menjadi mode baru pementasan drama pada masa itu.

Catatan Dasein pada Festival Monolog Kenthut-Roedjito Solo: mesin Eksistensialis dalam Perangkap Virtual



OLEH Delvi Yandra
Penggiat Teater dan Pendongeng

Dasein [berarti ‘berada di dalam’; bahasa Jerman: da zain] merupakan suatu istilah yang sangat karib dalam karya besar filsuf Martin Heidegger (1889-1976) berjudul Being and Time. Ia memakai istilah tersebut untuk menjelaskan kemampuan manusia dalam eksistensinya atau kemampuan ‘menetap’ dan memaknai hidupnya di dunia.
Istilah tersebut juga menjadi judul dari naskah drama yang sekaligus disutradarai oleh Bina Margantara pada rangkaian Festival Monolog ‘Kenthut-Roedjito’ di Solo, Kamis (5/7) malam lalu. Pentas tersebut dilakukan untuk mengenang dua tokoh teater: Bambang Widoyo SP (Kenthut) dan Roedjito (Mbah Jito).
Dalam pentas yang ke 29 tersebut, lewat Dasein, kelompok Teater Rumah Teduh tampil di Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, Solo-Surakarta. Setelah sebelumnya pada Rabu (4/7) malam semua peserta melakukan upacara keprihatinan budaya di Lapangan Danukusuman Tanggul Budaya (tanggul di pinggiran sungai), bersama Butet Kertarejasa, Didik Nini Thowok, Slamet Gundono, Tony Broer, Yusril (Katil), Anastasya dan tokoh-tokoh teater lainnya. Hadir juga kelompok teater dari pelbagai kota seperti Padang, Banjarmasin, Makassar, Palu, Bali, Surabaya, Solo, Pekalongan, Jepara, Bandung, dan Jakarta. Upacara tersebut diadakan mengingat terancamnya 49 mata air apabila di Danukusuman didirikan pabrik semen oleh pemerintah.

Minggu, 03 November 2013

SOSIOLOGI SENI TEATER DAN FILM INDONESIA: Dalam Perspektif Semiotika Sosial Budaya


OLEH Soediro Satoto
Guru Besar pada Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
 
Pendahuluan
Baik Seni Teater maupun Seni Film, keduanya m
Pementasan Teater Koma (Dok)
erupakan jenis-jenis seni pertunjukan yang bersifat kolektif, kompleks, rumit, dan (paling) akrab dengan publiknya, yaitu ‘masyarakat seni teater dan film’, ‘masyarakat seni pertunjukan’. Yang dimaksud ‘masyarakat seni pertunjukan’ di sini, antara lain: pencipta seni, para pekerja seni, karya seninya itu sendiri, manager (pengelola, atau pemimpin) kelompok (group) seni, pengayom atau maesenas seni, alam semesta (universe) dan lingkungan seni (poleksosbud hankam, iptek dan seni) yang bisa dijadikan bahan atau sumber inspirasi bagi seniman untuk melakukan proses kreatif seni, lembaga pengelolaan atau managemen seni (lembaga swasta atau pemerintah, lembaga sekolah atau kampus, baik lembaga formal maupun nonformal, sanggar, kelompok, paguyuban, dsb.), penikmat, pemerhati, kritikus atau peneliti seni, pelatih atau pengajar seni, baik guru, dosen, maupun empu seni, dan jangan lupa penonton karya seni, baik menggunakan sarana visual, auditif, audiovisual, dan sebagainya. Baik melalui media panggung pementasan atau pergelaran, media cetak, elektronik, audiovisual atau teve, maupun komputer, Khusus penonton, menurut hemat saya bukan sekadar berkedudukan sebagai faktor penunjang, melainkan merupakan komponen atau unsur bagi setiap seni pertunjukan. Tanpa penonton, penyebutan istilah ‘seni pertunjukan’ menjadi aneh, sebab lalu dipertunjukkan atau dipertontonkan kepada siapa?

Sustaining the Local by Embracing the Global: Theatre and Contemporary Javanese/Indonesian Identity

BY Barbara Hatley
University of Tasmania, Australia
blhatley@postoffice.newnham.utas.edu.au 

Ketoprak di Jawa (www.antaranews.com)
This paper arises out of 25 years of theatre-watching in Indonesia, particularly in the city of Yogyakarta. Here I studied the popular melodrama ketoprak in the late 1970s, and have continued to observe ketoprak, modern Indonesian language theatre, teater, and other varieties of performance ever since. Yogya as the acknowledged heartland of ketoprak activity in the 1970s, the site of the greatest number of troupes, was my choice for the initial study. Later explorations of the social meanings of various forms of theatre for their Javanese-Indonesian participants have likewise been based mainly in Yogyakarta. But not exclusively so - where Yogya performance practice compares significantly with developments elsewhere, or where a wider perspective has been needed to encompass a particular topic, my gaze has been broader.

Minggu, 27 Oktober 2013

PEMENTASAN KOMUNITAS SENI HITAM PUTIH: Tangga, Membangun Narasi Kultural Sendiri


OLEH Esha Tegar Putra
 
Pementasan Tangga (Foto Rivo)
Seusai pertunjukan teater berjudul Tangga yang dipentaskan Komunitas Hitam-Putih di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, Minggu (23/9/2011), sebagian permerhati teater berpandangan bahwa kekuatan masing-masing bangunan (aktor, penari, pemusik) dalam pementasan tersebut telah mengaburkan warna ‘Yusril’ selaku sutradara.
Sebagian lagi berpendapat, karena proses pencarian estetik panggung telah membuat peralihan makna dari naskah yang berawal teks naratif puisi Tangga Iyut Fitra tersebut: menghancurkan sebuah sejarah lantas membangun sejarah yang baru… (mengutip pandangan S Metron M).

Kamis, 24 Oktober 2013

Catatan dari Temu Teater Mahasiswa Nusantara I: Tangan dan Dimensi yang Rumit

OLEH Delvi Yandra
Aktivis di Teater Rumah Teduh
 
Pertunjukan dari teater UMIMakassar
Ada tradisi yang kerap dilakukan oleh kelompok Teater Tangan sejak kegiatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara I (Temu Teman I) di Benteng Somba Opu, Makassar tahun 2002 hingga yang terkini—Temu Teman IX—di Bandar Serai, Pekanbaru, Riau, 24-29 Oktober 2011.
Tradisi tersebut adalah memasang gelang tali berwarna merah kepada setiap peserta Temu Teman sebelum pementasan berlangsung.
“Merah melambangkan darah. Darah itulah yang mengikat tali persaudaraan. Memang, sejak awal, cita-cita Temu Teman adalah untuk menjalin silaturahmi,” ujar Amah, salah satu anggota Teater Tangan.

Leva Kudri Balti, Seniman Tradisi dari Bunga Pasang


Leva Kudri Balti

“Tradisi itu sesuatu yang unik… dan itu adalah saya...”
Ungkapan yang berkali-kali keluar dari mulut Leva Kudri Balti ketika saya mewawancari pria berkulit putih ini.
Leva Kudri Balti, S.Sn., M.Sn., lahir 24 Mei 1985 di Bunga Pasang, Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Liviati, S.Pdi (guru SD) dan Badrul C.H. (PNS). Levandra Balti (kakak) dan Leva Azmi Balti (adik), yang saat ini sedang menempuh perkuliahan di Jurusan Farmasi Universitas Andalas.
Menamatkan SD dan SMP di kampung halaman. Uni—sapaan sayang di lingkungan asal yang pada saat itu mulai aktif berkesenian semenjak bergabung di Paduan Suara dan solo song—mulai mengikuti kegiatan berkesenian, dalam rangka Perseni pada kelas 5 SD. Meninggalkan kostum merah putih tak membuat pria yang begitu dekat dengan ibunya ini meninggalkan kegiatan kesenian, terbukti ketika duduk di bangku SMP tahun 2011, Leva aktif di kelompok Marching Band, paduan suara dan melukis.