Tampilkan postingan dengan label MANTAGI NASRUL AZWAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANTAGI NASRUL AZWAR. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 November 2017

Tari-Teater "The Margin of Our Land”, Alpa pada Aspek Transformabilitas

OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)
Pertunjukan tari-teater "The Margin of Our Land” di Anjungan Seni Idrus Tintin, 
Pekanbaru, Sabtu (28/10/2017) (Foto Denny Cidaik)
Panggung ditembak cahaya warna kekuningan membentuk motif petak seluas satu kali dua meter di kiri pentas. Di ujung petak itu, seorang lelaki berdiri tanpa gerak. Sekitar dua menit. Hening.
Lalu, lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke dalam petak cahaya. Dalam sorotan cahaya yang berganti-ganti, sosok tubuh-tari muncul merepresentasikan simbol-simbol kekalutan sosial. Ada 9 tubuh yang tak nyaman dan gelisah di sana, bersamaan muncul 9 buah pancang yang biasa digunakan pembatas tanah. Pancang itu simbol tanah ulayat yang sudah di bagi-bagi. Dan kelak, pancang itu mereka jadikan senjata melawan investor atau penguasa yang merampas tanah ulayat mereka.

Minggu, 05 November 2017

Bahana Puisi di Benteng Portugis Pulau Cingkuak

CATATAN SILATURAHMI MANDE BAPUISI ANTARKOMUNITAS
OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)

Penampilan para pembaca puisi, musikalisasi, pantomim, serta seni tradisi Minang dalam “Silaturahmi Mande Bapuisi, Rekonstruksi 28 dalam Hari Puisi”. (Foto Panitia) 
Bebatuan bata sebagian masih tersusun relatif rapi, kendati tak utuh. Inilah sisa sebuah kawasan pertahanan perang dan sekaligus tempat pengintaian musuh yang digunakan bangsa kolonial Portugis. Posisinya sangat strategis. Saat ini dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata Pesisir Selatan.

Selasa, 31 Oktober 2017

Festival Seni Nan Tumpah 2017, Napas Panjang Mengelola Penonton

OLEH Nasrul Azwar (Presiden Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)
Pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah
Festival Seni Pekan Nan Tumpah 2017 telah diakhiri dengan penampilan konser nyanyian puisi  dari Sanggar Seni Dayung-Dayung Kayutanam dan pengumuman pemenang  Liga Baca Puisi Kreatif (LBPK) yang pemuncaknya diraih Deni Saputra dari ISI Padang Panjang dan Rahmat Hidayat, salah seorang penggerak Sanggar Seni Binuang Sakti di Lubuk Alung, Jumat malam, 29 September 2017.

Pasa Ateh Bukittinggi, Reinkarnasi Pasar Sarikat, dan Konflik PP 84/1999

 OLEH Nasrul Azwar
Kebakaran hebat yang meluluhlantakkan Pasa Ateh Bukittinggi, Senin 30 Oktober 2017, sekitar pukul 05.45 WIB, menyisakan duka mendalam. Seribu pedagang di sana tak bisa berdagang. Lebih kurang 1.043 kedai dan lapak pedagang kreatif lapangan tak bisa digunakan. Setengah dari itu, ludes terbakar. Kebakaran serupa sudah sering terjadi.
Kendati begitu, perlu juga diketahui tentang sejarah dan latar belakang kehadiran Pasa Ateh yang menjadi jantung ekonomi masyarakat “Koto Rang Agam” ini.
Dalam penelusuran dokumentasi perihal hubungan Agam dengan Bukittinggi dalam wilayah pemerintahan ke dua daerah itu, yang mengesankan tidak kondusif, ternyata telah berlangsung lama. Perseteruan yang paling mutakhir adalah soal diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No 84 Tahun 1999 tentang tapal batas kedua daerah itu.
Pada tahun 1968, perseteruan dua daerah ini menyangkut perkara Pasar Sarikat Bukittinggi. Ketika itu solusi sengketa ini, disepakati masing-masing DPRD-GR membentuk Panitia Khusus. Namun kedua DPRD-GR pemerintahan itu tidak berhasil mencapai kata sepakat alias kandas. Maka, penyelesaian Pasar Sarikat diserahkan kepada masing-masing pemerintahan.

Kamis, 08 September 2016

Chairil Anwar dan Obsesi Besar Dua Bupati Limapuluh Kota

OLEH Nasrul Azwar
Sekretaris Jenderal Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)
Obsesi Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota terhadap penyair Chairil Anwar, tampaknya tak pernah putus dan surut hingga kini. Semasa kepala daerahnya dijabat Alis Marajo (2 periode 2004-2009 dan 2009-2014), pemkabnya terobsesi membangun dan menjadikan rumah orang tua laki-laki Chairil Anwar di Nagari Taeh Baruah sebagai museum dan pustaka penyair hebat nan mati muda ini. Namun keinginan ini tak pernah terealisasi hingga rumah sederhana bergonjong empat itu kian lapuk. Padahal, saat itu, pemkab tinggal melaksanakan saja dan tak perlu bersusah payah karena sudah didukung seniman dan budayawan dengan inisiasi Dewan Kesenian Sumatera Barat. 

Membaca Matrilineal untuk Perlawanan Perupa

CATATAN PAMERAN SENI RUPA
OLEH Nasrul Azwar (Sekretaris Jenderal Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI) Padang

Rantau Cino karya Rafki Ismail dipamerkan dalam Matrilini
RANAH seni rupa Indonesia terguncang ketika lukisan yang menampilkan lebih kurang 400 tokoh penting dalam perjalanan sejarah Indonesia di Terminal Tiga Bandara Sukarno-Hatta,  Tengerang, Banten, diturunkan secara paksa atas desakan dan kemarahan netizen (sebutan masyarakat untuk pengguna internet) di media sosial pada Jumat, 12 Agustus 2016.
Alasan netizen marah karena dalam lukisan berjudul #Indonesia Idea (.ID/Ide) karya perupa otodidak Galam Zulkifli, hadirnya sosok Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) yang ukurannya kecil jika dibandingkan tokoh lainnya.  DN Aidit dinilai tak layak tampil bersama-sama dengan ratusan tokoh lainnya. Kemarahan itu direspons pihak Angkasa Pura II dengan menurunkan lukisan yang di pajang dinding terminal.

Sabtu, 30 Juli 2016

Sumbar Mati Gaya dalam Ajang FLS2N

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)

Sumatera Barat tak pernah masuk 10 besar dalam ajang FLS2N antarprovinsi. Delapan tahun FLS2N, Sumbar terkesan “mati gaya” di ajang ini.  

Penyelenggaraan kompetisi antarsiswa setiap jenjang pendidikan di bidang seni yang disebut Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional atau FLS2N, sudah dimulai sejak tahun 2008.

Alek nasional yang dilakukan menyeleksian sejak tingkat kabupaten dan kota, provinsi, dan bertem lalu beradu di tingkat nasional ini, sebelumnya bernama Jambore Seni Siswa Nasional yang dimulai pada 2004. Pada 2008 berganti baju menjadi FLS2N hingga kini.

Minggu, 08 Mei 2016

Membaca Pementasan Tiga Monolog Sutradara Perempuan Sumbar

OLEH Nasrul  Azwar (Sekjen AKSI)
Pementasan monolog Prodo Imitatio 
“Gelar akan terus diburu sepanjang orang butuh... Banyak kawan-kawan yang terus dengan gigih dan bertahan dalam bisnis jual beli gelar secara sembunyi-sembunyi dan kamuflase tinggi. Bagiku apalagi, kecoa si kepala baja telah membuat aku sadar dan belajar, bahwa sepanjang masih banyak orang memerlukan gelar tanpa harus bersusah payah asalkan punya uang, bisnisku tak akan mati...”

Sabtu, 23 April 2016

Membaca Kurenah “Parewa Sato Sakaki” Rusli Marzuki Saria

OLEH Nasrul Azwar (Sekjen AKSI)
Saya tulis tentang Rusli Marzuki Saria, bukan dari sisi proses kreatif sebagai penyair. Bagian ini sudah jamak ditulis. Saya coba membaca “Papa”—demikian ia akrab disapa siapa saja—dari rubrik “Parewa Sato Sakaki” yang terbit di Harian Haluan. Kolom tetap yang ia rawat setiap Minggu hadir dalam rentang sejak 2000-2005. Lebih kurang lima tahun. Jika rata-rata setahun ada 50 tulisan, maka esai itu paling tidak kini ada sekitar 250-an.

Selasa, 19 April 2016

RPJMD Sumbar 2016-2021: Nyanyian Seniman dalam Jangka Menengah

OLEH Nasrul Azwar (Sekjen AKSI)
Irwan Prayitno-Nasrul Abit
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sedang menyusun dan merumuskan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Sumatera Barat 2016-2021. Untuk menghimpun masukan, Gubernur Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Nasrul Abit telah membuka diskusi publik dengan pelbagai elemen dan tokoh masyarakat, dan dihadiri semua kepala-kepala dinas, badan, dan jajarannya.
Penyusunan RPJMD dikaitkan dengan visi dan misi kedua pasangan ini yang disampaikan saat kampanye pemilihan kepala daerah tahun lalu. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera Barat akan menyusun dokumen perencanaan lima tahunan (RPJMD) yang memuat visi-misi, tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, program prioritas, dan indikasi pendanaannya. 

Jumat, 11 September 2015

Teater Sumbar dalam Tiga Ideologi

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia
Merumuskan arah teater Sumbar
Teater lahir dari urbanisasi tak terkecuali teater di Sumatera Barat. Teater adalah gaya hidup “orang kota” dan tumbuh dengan cara orang kota pula. Teater adalah ruang-ruang yang melangsungkan perpindahan terus menerus dari ruang yang disebut kampung menuju perkotaan, yang diusung dengan tertatih-tatih oleh orang kampung.
Perpindahan teater dari ruang-ruang bergerak dalam wujud apa saja dengan semua elemen teater menyertainya. Teater yang hadir hari ini, hasil dari persenyawaan dan menyatunya dua ruang: kampung dan kota. Keduanya disertakan dalam perjalanan setiap pertunjukan teater. Dari situ ideologi teater lahir dan terpetakan.

Selasa, 09 Juni 2015

CATATAN DARI PANGGUNG PUBLIK SUMATERA #4: Ruang Publik Bocor dan Pertunjukan Jauh dari Dapur


OLEH Nasrul Azwar
Presiden Aliansi Komunitas Seni Indonesia

Pementasan Ranah Teater di PPS IV Padang Panjang
Panggung Publik Sumatera #4 dihelat 28-30 Mei 2015 di Lapangan Kantin Kota Padang Panjang sudah usai. Perhelatan seni pertunjukan tahunan itu difokuskan dalam satu situs ruang publik di tengah pusat kota Padang Panjang yang akrab disebut Lapangan Kantin. Lapangan ini punya nilai sejarah penting bagi masyarakat kota. Ia merupakan lapangan rumput terbuka yang di sekeliling ada kantor militer, terminal angkutan desa, dan sekolah.

Senin, 30 Maret 2015

Lima Tahun Kekosongan Pengurus DKSB, Menagih Tanggung Jawab Tim 9

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia

Pada 2013—saya lupa mencatat tanggalnya—tapi seingat saya, saat itu dirayakan secara sederhana ulang tahun ke-77 sastrawan Rusli Marzuki Saria di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Pemrakarsa hajatan ini adalah Muhammad Ibrahim Ilyas. Bram, begitu panggilan akrabnya, mengundang seniman dan budayawan Sumatera Barat, lewat SMS dan Facebook, untuk hadir di acara itu. Memang banyak yang hadir. Saya termasuk di dalamnya.

Sabtu, 20 Desember 2014

Eksplorasi Tak Pernah Mati

CATATAN PEMENTASAN “HANACARAKA (ADA UTUSAN)”
OLEH Nasrul Azwar

SAYA sangat terkesan setiap menonton seni pertunjukan (tari dan teater) dengan sapuan modernisasi dan memberi “label” berbasis tradisi. Seiring dengan itu, saya teringat dengan tulisan Eugenio Barba yang berjudul Anatomie de L’ Acteur (1985) yang diterjemahkan Yudiaryani ke dalam bahasa Indonesia.
Anatomi penari atau pun aktor dalam teater ketika berada di atas panggung bagi saya adalah “teks”. Tubuh-tubuh yang mentransfomasikan teks dan simbol kepada penontonnya. Jika ini tak berjalan, pertunjukan bisa disebut gagal mengomunikasikan dirinya dengan audiens.

Rabu, 15 Oktober 2014

Menggugat Kemunafikan Pakaian Manusia

CATATAN PEMENTASAN TEATER SIGN OUT

OLEH Nasrul Azwar

Pementasan Sign Out 
Sekelompok perempuan bak peragawati di atas catwalk melenggok bersama dentuman musik tekno yang melatarinya. Semua perempuan di atas panggung dengan kilatan cahaya merepresentasikan tubuhnya dengan pakaian adat Minangkabau yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Baju-baju berkelebat seperti menyindir habis-habisan kepalsuan manusia di balik busana yang ia kenakan. Maka, cerita teater selanjutnya berangkat dari sini.

Jumat, 12 September 2014

Gerakan Pemurnian Seni: Sebuah Pemikiran Awal

OLEH Nasrul Azwar
Penikmat Kesenian
Kebudayaan—termasuk kebudayaan Minangkabau—dapat dimaknai sebagai sistem nilai yang fungsinya adalah mendorong dan membimbing masyarakatnya menjawab tantangan yang mereka hadapi sepanjang masa. Sistem nilai tersebut merupakan ciri identitas sebuah kelompok masyarakat budaya. Pada masyarakat Minangkabau dicirikan dengan paham egalitarian yang hidup di dalam nagari-nagari.

Selasa, 19 Agustus 2014

RUU Kebudayaan Penting untuk Ditolak

OLEH Nasrul Azwar
Tinggal di Padang

Hasil keputusaan Panitia Kerja (Panja) Komisi X DPR RI yang dirilis pada Januari 2014 terhadap Rancangan Undang-Undang Kebudayaan (RUU Kebudayaan) tak banyak perubahan substantif.
Pasal-pasal yang dinilai kontroversial, masih bertengger. Seperti Pasal 59 sampai dengan Pasal 62 tentang Pranata Kebudayaan dan SDM Kebudayaan, pasal 74 sampai dengan pasal 82 tentang pengendalian kebudayaan, dan Pasal 91 yang menyinggung soal pembentukan komisi perlindungan kebudayaan.

Rabu, 16 Juli 2014

Menyimpang dari Tujuan, Hapus Pekan Budaya Sumbar

OLEH Nasrul Azwar
Foto www.ranahberita.com 
Pekan Budaya Sumatera Barat yang telah digelar pada 20 Juni 2014 lalu, berbeda dengan pelaksanaan pekan-pekan budaya sebelumnya. Pembukaan yang dilangsungkan di halaman Kantor Gubernur pada sore itu, menampilkan berbagai seni kreasi dan pameren patung. Malamnya, digelar berbagai seni pertunjukan di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat.

Senin, 28 April 2014

Doa dari Taeh Baruah untuk Chairil Anwar

OLEH Nasrul Azwar
Rumah bako (orang tua laki-laki Chairil Anwar)
Malam hening. Gemericik hujan gerimis melembabkan tanah nagari kecil itu, yang jaraknya lebih kurang 8 km dari pusat Kota Payakumbuh atau 150 km dari Kota Padang.
Gerimis tak juga reda, namun puluhan majelis taqlim anak nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuah, Kabupaten Limapuluhkota, dengan khusuk melantunkan doa-doa dan ayat Yasin untuk alharmum Chairil Anwar, sastrawan besar Indonesia, yang orangtuanya berasal dari nagari itu, pada Sabtu (28/5/2005).

Sabtu, 19 April 2014

Minangkabau Merayakan Globalisasi

OLEH Nasrul Azwar

Perbincangan yang berkaitan dengan masyarakat dan kebudayaan Minangkabau—katakanlah itu seni tradisi Minangkabau—kerap berarti berbicara mengenai tatanan masyarakat dengan struktur  sosial, nilai-nilai, norma tradisional yang sebagian masyarakat masih membayangkan sesuatu yang ideal dan asli. Tatanan masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat dengan sistem kekerabatan matrilineal dan bahkan dalam batas tertentu, sistem politik matriarki, sedangkan norma-norma dan nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai dan norma-norma yang terkandung dalam berbagai bentuk ekspresi kabahasaan seperti pepatah petitih, pantun, dan cerita lisan berupa kaba (Faruk dalam Minangkabau di Persimpangan Generasi: 2007).