Tampilkan postingan dengan label MITIGASI BENCANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MITIGASI BENCANA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2016

Indonesia “Supermarket” Bencana Alam

WAWANCARA DENGAN DANNY HILMAN NATAWIJAYA
Danny Hilman doktor di bidang geologi kegempaan pertama di Indonesa, bahkan sampai saat ini masih satu-satunya.
Bicara soal gempa, sosok Danny Hilman Natawijaya sudah tidak asing. Ilmuan Geologi Gempa Bumi atau earthquake geologist Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mempunyai keahlian khusus yang tidak dimiliki ilmuan lain.

Jumat, 06 November 2015

Pesisir Selatan Antara Kemurahan Alam dan Ancaman Bencana

OLEH Raudal Tanjung Banua
Sastrawan dan anggota IKPS-DIY
Polres Pesisir Selatan gelar operasi kemanusiaan dalam rangka penanggulangan bencana
Posisi Kabupaten Pesisir Selatan di tepian Samudera Indonesia serta berada di Lempeng Eurasia, berisiko besar dalam gempa bumi dan tsunami. Tapi alih-alih sebagai ancaman, bencana perlu dimaknai sebagai resiko bersama yang mesti dihadapi dengan kearifan dan keselamatan. Karena itu berbagai upaya terkait dengan mitigasi bencana mesti dilakukan secara sinergis dan menyeluruh.

Rabu, 21 Oktober 2015

Radio Darurat: Media Penting dalam Kebencanaan Tapi Tidak Ada Regulasinya

OLEH Iman Abdurrahman
Radio darurrat berbasis komunitas (foto kompasiana)
Di salah satu stand pameran Peringatan Bulan Pengurangan Resiko Bencana 2015 di Solo (16-18 Oktober) ada satu stand yang menampilkan Radio Darurat; Media Informasi Tanggap Darurat. Media ini, keberadaannya dalam situasi bencana sangat penting.

Minggu, 16 November 2014

Meningkatkan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Sumatera Barat

OLEH  Badrul Mustafa
Ahli Kegempaan Unand
Akibab gempa 2009 di Padang Pariaman 
Bencana demi bencana tidak lepas menimpa daerah Sumatera Barat.  Setelah reda dari gempa dan tsunami yang terakhir menimpa Mentawai 25 Oktober 2010, longsor menghantam beberapa wilayah di Sumatera Barat, terutama Pesisir Selatan, Pasaman Barat dan Agam. Memang agak tepat julukan yang pernah diberikan kepada wilayah ini, yakni: supermarket bencana.

Minggu, 09 Maret 2014

Beragam Makna di Balik Isu Gempa dan Tsunami



OLEH Hary Efendi Iskandar
Pemerhati Sosial-Politik
Dampak gempa di Sumbar 30 September 2009
Beberapa hari belakangan ini—Kota Padang khususnya, Sumatra Barat umumnya—pembicaraan orang-orang tidak beranjak seputar isu gempa dan tsunami yang akan terjadi dalam waktu dekat. Akibat isu liar ini, kota-kota yang berada di pesisir pantai Sumatra Barat, lengang. Warganya eksodus mencari tempat sanak saudara yang tinggal di darek.
Pada awal 2005 isu serupa juga terjadi. Seminggu setelah peristiwa gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 di Aceh dan Nias. Saya merasakan betul betapa luar biasanya pengaruh sebuah Isu. Isu yang beredar secara massif lewat SMS membuat banyak orang kehilangan akal sehatnya.

Sinergi Pertumbuhan dalam Perspektif Mitigasi Kebencanaan



OLEH Erick Ridzky
Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bansos dan Bencana

Mitagasi persiapan kebencanaan
Dalam kesempatan seminar International Conference Focus on Indonesian Economy 2011 di Jakarta beberapa waktu lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menyebut tentang SBYnomic.
SBYnomics, kata Fadel, adalah pencapaian dalam sektor ekonomi yang telah dicapai selama kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di tengah kemelut politik yang merongrong citra SBY, menurut Fadel, sebenarnya sepanjang kepemimpinan SBY tersebut telah ada perkembangan yang cukup signifikan dalam ekonomi. Indeks IHSG telah menembus angka tertingginya 4000. Cadangan devisa pertengahan tahun ini melewati US$100, efeknya tentu saja nilai tukar rupiah per dolar menembus angka Rp8.500. Sejak tahun 2005-2010 inflasi berhasil ditekan dari 17,11 persen menjadi 6,96 persen.

Kamis, 17 Oktober 2013

MITIGASI KEBENCANAAN: Pertahanan Terbaik Bernama Pengetahuan


OLEH Nasrul Azwar
Jurnalis Freelance, tinggal di Padang
Pertahanan terbaik terbaik manusia menghadapi bencana alam adalah pengetahuan. Pengetahuan yang tepat sangat berpotensi meminimalisir risiko jatuhnya korban lebih luas. Sejauh mana pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana itu dipahami masyarakat?

Sumber: http://3.bp.blogspot.com/

Nenek itu tampak bingung. Orang-orang meneriakinya agar bergegas ke luar rumah. Malam itu, kebetulan hanya ia yang berada di rumahnya. Anak dan menantunya ke luar kota. Lidah nenek terasa berat untuk berucap membalas teriakan itu. Bibirnya pun menggigil.

“Air sudah setinggi pinggang. Sebentar lagi akan sampai ke sini. Cepat Nek!” Sorak lelaki paruh baya sembari memopong nenek itu ke atas mobilnya. Nenek itu tak bersuara. Ia pasrah. Mobil bergerak lambat.

Kamis, 25 Juli 2013

Membangun “Tembok Minang”



OLEH Nasrul Azwar
Tulisan sederhana ini sesungguhnya tidak mengesankan bahwa dalam waktu dekat ini akan terjadi bencana di Sumatra Barat, tapi lebih ditekankan pada strategi, bentuk antisipasi, dan kesiapsiagaan masyarakat bersama pemeritah–tentu saja dengan koordinasi yang tegas semua stakeholder–untuk menghadapi ancaman bencana alam berupa gempa bumi yang selanjutnya menimbulkan gelombang tsunami yang dasyat.   
Selain memberikan pengetahuan yang cukup bagi masyarakat, dan juga menguatkan posisi institusi yang bertanggung jawab terhadap antisipasi bencana alam tsunami, dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang tsunami, membangun tembok di sepanjang pantai Kota Padang (jika perlu seluruh pantai Sumatra Barat), merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan.
Membangun tembok di sepanjang pantai dengan tinggi dan lebar 20 meter, bukan lagi barang baru. Di salah satu kota di Jepang, pemerintahnya sudah mewujudkannya. Masyarakat Jepang yang akrap dengan gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami, “memagar” kotanya dengan tembok raksasa. Saya pernah menonton film dokumenternya, dan masyarakat kota itu menjadi tidak merasa cemas lagi dengan adanya tsunami pascagempa bumi.
Hebatnya lagi, di atas tembok itu, dengan jalur kendaraan yang cukup luas (20 meter), munculnya tsunami menjadi tontonan wisatawan.

Bajulo-julo Membangun Dinding Laut


OLEH Nasrul Azwar
Setelah artikel saya tentang perlunya dinding laut dibangun sebagai salah satu bentuk upaya antisipasi gelombang Tsunami yang didirikan sepanjang pantai Sumatra Barat dimuat di surat kabar ini (Singgalang, 22/10/2007), dan keesokan harinya muncul tulisan Emeraldy Chatra (Padang Ekspres, 23/10/2007), dalam nada yang sama, saya mengirim pesan singkat ke telepon genggam Wali Kota Padang Fauzi Bahar.
Isinya: “Bagaimana pendapat Bapak tentang gagasan membangun dinding laut di sepanjang pantai Sumatra Barat itu, terutama Pantai Padang, yang yang turun di dua surat kabar itu?” Wali Kota menjawab: “Sebagai sebuah wacana atau gagasan, cukup bagus. Dan ini perlu diwacanakan secara luas. Jepang telah membuktikan, dan tembok itu sangat bermanfaat besar bagi masyarakatnya.” Lalu saya balas: “Bagaimana dengan Kota Padang, apakah bisa dirancang pembagunannya? Dan ini saya kira tidak menggaduh benar dengan perencanaan pembangunan kota ini ke depan.” Dijawab: Ya, semua itu akan berpulang pada anggaran. Anggaran sangat terbatas.” Sampai di situ kami “berdiskusi”.

Selasa, 23 Juli 2013

WAWANCARA Patra Rina Dewi, Direktur Eksekutif Komunitas Siaga Tsunami Padang


Masyarakat Lebih Siap Daripada Pemerintah 

Pengantar
Patra Rina Dewi
Penguatan pengetahuan warga terhadap kebencanaan menjadi sangat penting dan krusial. Posisi Sumatra Barat yang berada dalam “jalur” yang rawan bencana alam, baik itu bencana gempa bumi dan diikuti tsunami, longsor, galodo, banjir, dan letusan gunung berapi, tentu harus menjadi perhatian yang sangat serius berbagai pihak.
Untuk itu, sangat mendesak memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat tentang kebencanaan itu agar kesiagaan dan rasionalitas bisa berjalan dengan baik. Peran dan posisi pemerintah menjadi sangat penting.
Masyarakat tak bisa disalahkan jika mereka begitu mudah termakan isu-isu gempa dan tsunami. Karena pemerintah sendiri, tak punya “badan” khusus yang mampu memberikan, mengeluarkan, serta menyebarkannya informasi kepada masyarakat sekaitan dengan gempa dan tsunami. Pemerintah terkesan bertindak setelah bencana terjadi.

KESIAPSIAGAAN BENCANA: Pemerintah Kehilangan Sensitivitas


Laporan: Nasrul Azwar  
Pemerintah dinilai kehilangan sensitivitas dalam mengelola isu-isu gempa dan tsunami yang membuat warganya panik. Bahwa Sumatra Barat berada di jalur rawan bencana alam, tak bisa dibantah. Pengetahuan kebencanaan bagi masyarakat menjadi hal yang krusial.
Isu gempa besar bakal terjadi dan memunculkan tsunami, yang berseliweran bebas di “ruang publik” bernama telepon genggam bak “hantu” yang menyeramkan. Warga yang berada di jalur “merah” buncah dibuatnya. Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai barat Sumatra Barat yang panjangnya lebih kurang 540 km, yang diperkirakan dihuni 2,5 juta jiwa, panik karena sebuah isu yang beredar yang tak jelas sumbernya. Tapi, pemerintah tak pernah secara resmi meminimalisir dampak isu itu, sekaligus “melawan” isu yang sangat cepat berkembang.