Tampilkan postingan dengan label REPORTASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REPORTASE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 November 2017

Militansi Seorang Gustinar, 25 Tahun Mendorong Gerobak untuk Asapi Dapur

Setiap Hari Berjalan dari Payakumbuh-Bukittinggi 
OLEH Nasrul Azwar
Gustinar
Gustinar, dua pekan lalu, tak bisa beranjak dari dipannya. Ia demam. Panas-dingin badannya. Tulangnya rangkik-rangkik. Ngilu semua sendi. Ia tak bisa berjualan. Dua hari dirinya terkapar.
“Hari ini masih terasa. Badan ini belum sehat benar. Tapi saya pikir, jika tak manjojo (jualan), kami mau makan dengan apa, Dek?” katanya kepada saya di Pasa Ateh, Bukittinggi, Minggu (3/4/2016), siang.
Gustinar mengaku menguat-nguatkan dirinya agar bisa berjualan. Awalnya, ia belum bisa manjojo terlalu jauh. Saat bertemu dengannya, tampak pancaran matanya masih kuyu, bibirnya terlihat pecah-pecah. Tapi semangat berdagangnya masih menyala. Gustinar seperti mewakili militansi masyarakat kecil mencari rupiah yang halal.
“Setelah deman, saya berjualan di sekitar Payakumbuh saja. Ini baru saya ke Bukittinggi. Tapi masih sering berhenti berjalan jika saya merasa panek,”  jelasnya.

Kamis, 24 Agustus 2017

Runyamnya Danau Maninjau, Kala Urang Sibunian Manubo Ikan

Permasalahan Danau Maninjau memang kait mengait. Sengkarut dan runyam. Banyak harapan hidup digantungkan di sana. Dituntut program yang terintegrasi untuk menyelamatkan danau yang terkenal sebagai kampung Buya Hamka ini.
Danau Maninjau sejak dahulu kala sudah menjadi sawah-ladang anak nagari salingka danau. Hal itu bisa dimaklumi, karena luas Danau Maninjau sekitar 44 persen dari luas Kecamatan Tanjung Raya. Luas Kecamatan Tanjung Raya 244,03 Km2, termasuk  Danau Maninjau.

Jumat, 03 Maret 2017

Syair Berkumandang di Sela “Orang-orangan”

PETANG PUISI KUBU GADANG RIANG GEMBIRA
OLEH Nasrul Azwar (Sekjen AKSI)

jangan ucap apa-apa
kalau hanya berarti selamat malam

lalu diantarkan kita ke berbagai persoalan
tahun-tahun hanyut. seperti almanak terus dibuang
lengkap sudah kecemasan berdiam di antara belah dada
kita saling meraba peristiwa yang tak terjahit
amboi! masih perlukah sesengguk tangis
ketika warna-warna telah mengabur
dan kita tak diajarkan cara memilih
...
  
Suara penyair Iyut Fitra membahana di tengah-tengah hamparan sawah yang sudah diiriak. Tanah sawah itu masih lembab dan berair. Sebagian padi tampak menguning siap disabit tak lama lagi di sekelilingnya. Ini mungkin pertama kali di Sumatera Barat pembacaan puisi dilakukan di tengah sawah. Kiri-kanan panggung yang diselimut jerami, 50 “orang-orangan” terpancang bernilai artistik.  

Sabtu, 31 Oktober 2015

Perusahaan Pembakar Hutan, Boikot untuk Produk Sinar Mas dan Wilmar Kian Meluas

Beberapa waktu terakhir, media sosial Twitter dan Facebook bermunculan seruan boikot terhadap produk perusahaan, yang dituding bertanggung jawab atas aksi pembakaran lahan sekaligus penyebab bencana asap di Sumatera dan Kalimantan.
Seruan boikot ini datang dari forum-forum dan lembaga sosial masyarakat yang konsern terhadap lingkungan. Bahkan seruan boikot itu akan dengan mudah ditemui di Facebook atau Twitter. Caranya  cukup menggunakan tagar (#) untuk kata #Boikot, #Wilmar, #APP atau #Sinarmas.

Minggu, 25 Oktober 2015

Perusahaan Pembakar Hutan Tergolong Biadab dan Antikemanusiaan

Kebakaran di konsesi PT RHM. Foto: Walhi

Beberapa waktu lalu, lembaga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) merilis daftar perusahaan besar di balik kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Daftar itu hasil analisis kebakaran hutan dan lahan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Rabu, 12 November 2014

Keberadaan PLTA Singkarak Diduga Berdampak pada Kualitas Ekosistem Danau Singkarak

PLTA Singkarak


Bila berkunjung ke Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tidak lah lengkap rasanya kalau belum menikmati ikan bilih.
Ikan bilih paling dicari masyarakat ketika mengunjungi Danau Singkarak, karena terasa gurih bila telah dimasak. Ikan bilih juga bisa dapat dikeringkan dan diasinkan sehingga awet untuk waktu yang lama.

Selasa, 28 Oktober 2014

Under The Volcano Tampil di Olimpiade Teater Beijing

Yusril Katil, sutradara teater Indonesia asal Sumatera Barat akan “meledakkan” Gedung Dayin Teater Beijing, Tiongkok dengan karyanya berjudul Under The Volcano pada 7-8 November 2014. “Ledakan” estetik dan artistik itu digelar dalam iven seni pertunjukan yang prestisius kelas dunia di Olimpiade Teater ke-6 Beijing, Republik Rakyat Tiongkok.
Pementasan teater Under the Volcano di Olimpiade Teater Beijing kerja sama antara komunitas seni HITAM-PUTIH dengan Bumi Purnati Indonesia.   
komunitas seni HITAM-PUTIH merupakan kelompok teater pertama dari Indonesia (Sumatera Barat) untuk ikut ambil bagian dalam Olimpiade Teater ke-6 di Beijing ini. Olimpiade Teater ini merupakan iven prestisius yang di dunia,” kata Yusril Katil, Senin (27/10/2014).
Under the Volcano diproduksi Bumi Purnati Indonesia dengan Direktur Artistik Restu Imansari Kusumaningrum.  

Rabu, 23 April 2014

KERADJINAN AMAI SETIA: “Perlawanan” Kaum Perempuan Pribumi

OLEH Fitriyanti
Keradjinan Amai Setia (KAS) merupakan organisasi perempuan pertama yang berdiri di  Kotogadang, Bukittinggi, Minangkabau, Sumatera Barat. Tujuan utama pendirian KAS adalah untuk kemajuan perempuan dan berupaya melestarikan serta mengembangkan berbagai keahlian kerajinan tangan. Terbentuknya organisasi perempuan KAS disebabkan kaum perempuan belum mendapat kesempatan menempuh pendidikan formal dan nonformal, karena pada masa itu pendidikan lebih diutamakan untuk kaum laki-laki.

Senin, 17 Maret 2014

Bertaruh Demi Sekadar Emas: Jejak Tambang Emas di Gunung Harun Salido Ketek



OLEH  Gusriyono
Jurnalis
Tak terbayangkan oleh saya, di puncak Gunung Harun ini, berhari-hari ada dua orang yang mencari emas secara tradisional. Mereka membangun bedeng di atas pondasi bangunan bekas penambang zaman Belanda. Siang masuk lubang dan lorong mencari emas, malam melepas lelah sembari membunuh sepi dan membiarkan hati bertalu merindu pada keluarga. Karena hanya berdua, di puncak lengang itu, cerita yang sama bisa diulang berkali-kali dalam obrolan pelepas lelah atau jelang tidur.
Pagi begitu indah di bedeng milik dua penambang emas itu. Gemerisik air sungai di depan bedeng dan bunyi binatang rimba seperti simfoni yang mendendangkan harapan untuk hidup yang lebih baik. Dengan semangat yang baru setelah melepas lelah semalam, aktifitas pun dimulai.
Syahrial, Amir, dan Pak Ayat, telah bangun dari tadi. Sementara saya bersama fotografer, Hijrah, masih terbungkus sarung dan jaket. Hawa pagi yang dingin membuat kami sedikit malas untuk bangun, apalagi penat-penat dari perjalanan sehari kemarin belum begitu pulih. Untuk sementara saya berdiri di mulut pintu bedeng. Pada kejauhan ufuk timur, matahari bersinar.

Menyusuri Tambang Emas Rakyat di Dharmasraya: Memetik Sisa Harap di Kilau Emas


OLEH Gusriyono 
Jurnalis  
Sejak lama, masyarakat di sepanjang Batanghari, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, bekerja mencari emas. Makin lama, ”pendapatan emas” mereka kehilangan kilau.
Air sungai berwarna kekuning-kuningan tersebut terpapar cahaya matahari sore yang condong ke barat. Di tengah aliran Batanghari, di Nagari Sitiung itu, tampak sebuah kapal kayu dengan mesin dumping penyedot emas dari dasar sungai berkedalaman 10 meter.

Sabtu, 02 November 2013

WAWANCARA KHALID SAIFULLAH: Pembalakan Hutan, Kerap Libatkan Oknum TNI dan Polri


Khalid Saifullah
Investigasi dilakukan Walhi Sumbar menemukan, setiap aktivitas pengambilan kayu secara ilegal di Sumatera Barat, selalu melibatkan oknum dari kepolisan dan oknum dari TNI sebagai backing, bahkan ada juga yang menjadi aktor utamanya (cukong) sebagai penyedia modal dan peralatan di samping itu ada juga oknum dari Dinas Kehutanan. “Menumpas pembalakan hutan, sama persis beratnya dengan menumpas korupsi di negeri ini. Ia  sudah mendarah daging,” kata Khalid Saifullah, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat. Berikut petikan wawancaranya dengan Nasrul Azwar.
Bagaimana komentar WALHI tentang kondisi hutan Sumatra Barat saat ini?
Jika kita lihat secara kasat mata dari kejauhan maupun dengan menggunakan helicopter kondisi kawasan hutan kita di Sumatera Barat sepertinya masih terlihat baik-baik saja karena terlihat masih tertutup oleh hijaunya perbukitan.

PENEBANGAN HUTAN SOLOK SELATAN DAN TANAH DATAR: Bahaya Laten Lebih Dahsyat

Penebangan hutan (http://awalinfo.blogspot.com)
Hutan Solok Selatan memberi hasil bagi daerah cukup besar, tapi jika tak dikelola baik, bahaya latennya lebih dahsyat. Banyak perusahaan kayu besar yang beroperasi di sini.
Sebagain besar hutan di Kabupaten Solok Selatan masih perawan. Hasil hutan telah mendatangkan miliaran rupiah bagi pembangunan daerah. Setidaknya Rp9 miliar/tahun PAD Solsel disumbangkan oleh hasil hutan.
Kadis Kehutan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan menyebutkan, sumbangan PAD dari PT Andalas Merapi Timber (AMT) mencapai Rp5 miliar, PT Bukit Raya Mudisa (BRM) Rp4 miliar, dan SKAU hutan rakyat Rp225 juta. Sejak 2005 sampai 2009, PT AMT telah menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp9,16 miliar.

Perambahan Hutan di Agam: Air Danau Maninjau Terancam Kering

Air danau Maninjau menyusut (komapost.com)
Keberadaan hutan sebagai bagian dari sebuah ekosistem memiliki arti dan peran penting dalam menyangga sistem kehidupan. Di sisi lain juga memiliki peranan sangat penting bagi keberhasilan pembangunan, baik secara nasional maupun daerah.

Kerusakan hutan akan berdampak pada lingkungan. Lingkungan yang rusak akan menimbulkan petaka bagi makhluk hidup.

Hal itu sangat disadari Bupati Agam H Indra Catri Dt Malako Nan Putiah. Makanya, sejak dilantik sebagai Bupati Agam, yang pertama menjadi perhatiannya adalah masalah pelestarian hutan dan lingkungan.

PENEBANGAN MEMBABI BUTA: Pesisir Selatan Dikepung Bencana

Dampak penebangan hutan (Dok Rivo)
Setiap hari hutan di Pesisir Selatan termasuk di TNKS dibabat. Ada puluhan titik lahan kritis yang mengepung Pesisir Selatan yang setiap saat bisa menjadi malapetaka bagi warga sekitar. Belum ada tindakan konkret dari pemerintah.
Tahun 2008 sampai 2009 lalu, barangkali rentang masa puncak habisnya ribuan hektare hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Hulu Batang Kambang, Pesisir Selatan. Diduga, hutan dibabat secara liar oleh oknum tak bertanggung jawab. Proses pembalakan liar yang telah dijadikan sebagai lahan perkebunan tersebut oleh orang yang tidak dikenal telah berlangsung lama.
Sementara warga Kambang Utara saat ini mulai resah atas perbuatan oknum yang mengancam puluhan ribu jiwa yang bermukim di Daerah Aliran Sungai Batang Kambang.

Kamis, 31 Oktober 2013

WAWANCARA DENGAN KHAIRUL FAHMI: Pedagang Akan Terus Melakukan Perlawanan

Surat yang dikeluarkan Walikota Padang No 511.2.72.I/Ps-2011 pada 19 Januari 2011 tentang Pemutusan Pelayanan Pasar di lokasi Inpres II, III, dan IV, ditolak pedagang. Apa rencana selanjutnya?
Ya, jelas surat tersebut ditolak pedagang. Karena pedagang dan kami sebagai kuasa hukum menilai surat tersebut bertentangan dengan hukum dan tidak punya alasan teknis dan yuridis  yang dapat diterima. Surat tersebut bertentangan dengan UU No 24 tahun 2007 Penanggulangan Bencana dan PP No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Tidak punya alasan teknis karena sampai saat ini gedung Inpres II dan III menurut hasil pemeriksaan yang dilakukan GAPEKSINDO berdasarkan surat No 50/GAPEKSINDO/2009 tanggal 28 Oktober 209 bangunan tersebut masih layak huni. Jika Pemko Padang tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan surat tersebut, maka pedagang akan terus melakukan perlawanan melalui saluran-saluran yang ada, baik melalui proses di luar maupun dalam pengadilan. 

'PR' BESAR WALIKOTA TERPILIH: Pedagang Pasar Raya Versus Pemko Padang: Bak Api dalam Sekam


Pasar Raya Padang (Foto: Net)

Persoalan Pasar Raya memang tak pernah kunjung usai. Pemerintah Kota Padang dinilai semena-mena. Kini masalahnya seperti lingkaran setan. Siapa yang diuntungkan?
Matahari sudah agak rebah ke barat. Puluhan pedagang berkelompok-kelompok di Komplek Gubernuran Provinsi Sumatera Barat. Lorong dan langkan bangunan yang serupa ruang pertemuan itu, pedagang tampak mengelongsorkan kakinya seperti rehat. Wajah mereka juga terlihat lelah.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Ekonomi Kreatif Sumatra Barat: Potensi Besar, Pemahaman Kurang

Tidak diragukan lagi, Indonesia memang punya segudang ragam budaya yang mampu membuat mata dunia terpesona, termasuk Provinsi Sumatra Barat. Namun sebagian SKPD terkait dengan sektor ini di Sumatra Barat belum fokus mengembangkan secara maksimal dan terencana menuju industri kreatif.
Budaya tersebut bisa menjadi potensi ekonomi yang besar bila dikembangkan dengan baik. Modal tersebut bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif dunia. Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI mengakui, banyak hal yang harus dibenahi untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia, dan pemerintah proaktif mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Minggu, 06 Oktober 2013

Perbioskopan di Padang: “Mati” dalam Belantara Teknologi Informasi


Bioskop Raya Padang

Pihak pengelola bioskop dinilai lamban membaca perkembangan zaman. Akibatnya, satu-satu tutup dan berguguran ditelan zaman.
Keputusan Hollywood berhenti mengirimkan produksi filmnya ke Indonesia, pekan lalu, banyak mengundang reaksi. Namun sampai saat ini pemutaran film di bioskop Cinema 21 dan XXI masih normal. Kendati begitu, jangan kaitkan dengan kondisi bioskop-bioskop di Kota Padang. Distop atau pun tak distop Hollywood, untuk perkembangan film di Kota Padang tak bersentuhan betul. Hidup saja, sudah syukur.

Bioskop dan Perfilman di Padang Tempo Doeloe



OLEH Suryadi
Alumnus Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas dosen dan peneliti di Universitas Leiden, Belanda
SURYADI
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sudah sejak akhir abad ke-19 Padang menjadi kota ‘modern’, bahkan menjadi kota yang paling ‘maju’di bagian barat Indonesia. Kemajuan Padang meningkat pesat setelah sarana jembatan kereta api dibangun di Sumatra Barat pada 1892 menyusul pembangunan pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur).
Sejak 1870-an Padang sudah mempunya koran (koran pertama yang muncul di kota ini bernama “Bentara Melajoe”), yang kemudian makin banyak jumlahnya (Adam 1975), baik yang berbahasa Belanda maupun yang berbahasa Melayu. Unsur kebudayaan bandar (urban) lainnya, seperti rumah bola (societeit), hotel (seperti Hotel Sumatra dan Hotel Oranje) dan komplek pertokoan yang menjual barang-barang impor dan buatan dalam negeri cukup lengkap di Padang Bahkan ikan herring yang ditangkap oleh nelayan Belanda di Laut Utara dapat dibeli di Padang pada waktu itu.

WAWANCARA EMERALDY CHATRA: Pengusaha Bioskop Lamban Bertindak

EMERALDY CHATRA
“Pada akhir tahun 2000-an, saya meluncurkan ide agar Sumatera Barat dikembangkan jadi sentra produksi film alternatif setelah Jakarta. Siapa tahu nanti bisa jadi hollywoodnya Indonesia. Karena itu saya siapkan sebuah nama, Padariamwood (Padariam itu singkatan dari Padang-Pariaman),” kata Emeraldy Chatra.
Ini bukan sekadar luncuran ide iseng. Sejarah film Indonesia, kalau kita mau jujur, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran sineas Minang pada awal kemerdekaan. Mereka itu antara lain Usmar Ismail, Haji Djamaluddin Malik, Dr Abu Hanifah, Drs. Asrul Sani, Roestam St. Palindih, Anjar Asmara, Dr Adnan Kapau Gani, Hasmanan, Soekarno M. Noor, dan Rosihan Anwar. Anjar Asmara, Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik dapat dikatakan pionir bagi perkembangan film Indonesia modern.