Tampilkan postingan dengan label REPORTASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REPORTASE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2013

'PR' BESAR WALIKOTA TERPILIH: Pedagang Pasar Raya Versus Pemko Padang: Bak Api dalam Sekam


Pasar Raya Padang (Foto: Net)

Persoalan Pasar Raya memang tak pernah kunjung usai. Pemerintah Kota Padang dinilai semena-mena. Kini masalahnya seperti lingkaran setan. Siapa yang diuntungkan?
Matahari sudah agak rebah ke barat. Puluhan pedagang berkelompok-kelompok di Komplek Gubernuran Provinsi Sumatera Barat. Lorong dan langkan bangunan yang serupa ruang pertemuan itu, pedagang tampak mengelongsorkan kakinya seperti rehat. Wajah mereka juga terlihat lelah.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Ekonomi Kreatif Sumatra Barat: Potensi Besar, Pemahaman Kurang

Tidak diragukan lagi, Indonesia memang punya segudang ragam budaya yang mampu membuat mata dunia terpesona, termasuk Provinsi Sumatra Barat. Namun sebagian SKPD terkait dengan sektor ini di Sumatra Barat belum fokus mengembangkan secara maksimal dan terencana menuju industri kreatif.
Budaya tersebut bisa menjadi potensi ekonomi yang besar bila dikembangkan dengan baik. Modal tersebut bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif dunia. Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI mengakui, banyak hal yang harus dibenahi untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia, dan pemerintah proaktif mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Minggu, 06 Oktober 2013

Perbioskopan di Padang: “Mati” dalam Belantara Teknologi Informasi


Bioskop Raya Padang

Pihak pengelola bioskop dinilai lamban membaca perkembangan zaman. Akibatnya, satu-satu tutup dan berguguran ditelan zaman.
Keputusan Hollywood berhenti mengirimkan produksi filmnya ke Indonesia, pekan lalu, banyak mengundang reaksi. Namun sampai saat ini pemutaran film di bioskop Cinema 21 dan XXI masih normal. Kendati begitu, jangan kaitkan dengan kondisi bioskop-bioskop di Kota Padang. Distop atau pun tak distop Hollywood, untuk perkembangan film di Kota Padang tak bersentuhan betul. Hidup saja, sudah syukur.

Bioskop dan Perfilman di Padang Tempo Doeloe



OLEH Suryadi
Alumnus Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas dosen dan peneliti di Universitas Leiden, Belanda
SURYADI
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sudah sejak akhir abad ke-19 Padang menjadi kota ‘modern’, bahkan menjadi kota yang paling ‘maju’di bagian barat Indonesia. Kemajuan Padang meningkat pesat setelah sarana jembatan kereta api dibangun di Sumatra Barat pada 1892 menyusul pembangunan pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur).
Sejak 1870-an Padang sudah mempunya koran (koran pertama yang muncul di kota ini bernama “Bentara Melajoe”), yang kemudian makin banyak jumlahnya (Adam 1975), baik yang berbahasa Belanda maupun yang berbahasa Melayu. Unsur kebudayaan bandar (urban) lainnya, seperti rumah bola (societeit), hotel (seperti Hotel Sumatra dan Hotel Oranje) dan komplek pertokoan yang menjual barang-barang impor dan buatan dalam negeri cukup lengkap di Padang Bahkan ikan herring yang ditangkap oleh nelayan Belanda di Laut Utara dapat dibeli di Padang pada waktu itu.

WAWANCARA EMERALDY CHATRA: Pengusaha Bioskop Lamban Bertindak

EMERALDY CHATRA
“Pada akhir tahun 2000-an, saya meluncurkan ide agar Sumatera Barat dikembangkan jadi sentra produksi film alternatif setelah Jakarta. Siapa tahu nanti bisa jadi hollywoodnya Indonesia. Karena itu saya siapkan sebuah nama, Padariamwood (Padariam itu singkatan dari Padang-Pariaman),” kata Emeraldy Chatra.
Ini bukan sekadar luncuran ide iseng. Sejarah film Indonesia, kalau kita mau jujur, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran sineas Minang pada awal kemerdekaan. Mereka itu antara lain Usmar Ismail, Haji Djamaluddin Malik, Dr Abu Hanifah, Drs. Asrul Sani, Roestam St. Palindih, Anjar Asmara, Dr Adnan Kapau Gani, Hasmanan, Soekarno M. Noor, dan Rosihan Anwar. Anjar Asmara, Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik dapat dikatakan pionir bagi perkembangan film Indonesia modern.

Selasa, 17 September 2013

Wawancara Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo

Rasa Malu Bukan Lagi Bagian Perilaku Minang


Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo
Tarian erotis yang diperagakan anak kamanakan orang Minang beberapa waktu lalu, membuat buncah Ranah Bundo, selain ini ada pula beradar video porno anak SMA. Menurut Yulizal Yunus, fenomena ini menunjukkan salah satu sisi bahwa orang Minang yang menganut norma ABS-SBK itu perilakunya sudah mengalami kritis.
“Peristiwa itu menciderai marwah ranah dan martabat orang Minang ini karena berakar dari rasa malu tidak lagi menjadi budaya (perilaku), dimungkinkan karena didera ekonomi dan kekecewaan rumah tangga di samping sikap mental dan pribadi lemah iman,” kata Yulizal Yunus.
Yulizal Yunus menjelaskan, dalam syara’ (Islam) malu itu bagian dari iman. Iman yang kuat akan menjadi benteng mempertahankan rasa malu. Di dalam adat disebut, apalagi arang tacoriang di kaniang, “malu tidak dapek diagiahkan” seperti juga “suku tak dapek diasak”.
Artinya rasa malu bagi orang Minang bagian dari identitas. Praktik yang memalukan dicontohkan dua wanita yang terjebak profesi striptis (batanlanjang gegek) itu, tidak saja memalukan dirinya, tetapi juga semua kaum (anak kamanakan, mamak dan penghulu suku) dalam sukunya di Minangkabau.
Berikut petikan wawancara Nasrul Azwar dengan Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo, Dosen IAIN Imam Bonjol dan Ketua V LKAAM Sumatera Barat, dan Ketua Limbago Adat dan Syara’ Nagari Taluk Batang Kapas Pesisir Selatan.

Minangkabau dalam Ranah Kemaksiatan


Semua Pihak Harus Introspeksi 


Satpol PP mengamankan seorang perempuan di Fellas Café Padang beberapa waktu lalu. Nas
Akhir September 2011 lalu, mungkin terasa sangat berat bagi warga Minang, terutama yang berada di ranah ini. Ada noktah yang merusak, dan itu dinilai sangat memalukan. Rentetan peristiwa maksiat mengguncang Ranah Minang. Di satu sisi, warga Sumatera Barat juga mengenang dua tahun gempa dahsyat, 30 September 2011.
Mengapa tidak? Filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang menjadi perdoman masyarakat Minang selama ini, seperti mendapat ujian berat. Dipengujung bulan itu, paling tidak ada tiga peristiwa yang membuat kaget semua orang yang berhasil diekspos media cetak.  
Pertama berita dua penari telanjang yang digerebek petugas Satpol PP Kota Padang di Fellas Cafe di Jalan Hayam Wuruk Padang pada Senin 26 September 2011 malam. Kedua, pada Kamis tengah malam 29 September 2011 Satpol PP Kota Solok bersama POM TNI dan Provost Polresta Solok juga menangkap delapan janda dan ibu rumah tangga sama-sama bertelanjang dengan tiga lelaki pekerja tambang dari Dharmasraya di Wisma Melati, Jalan Jenderal Sudirman Kota Solok. Kecuali seorang dari Lampung, tujuh wanita itu juga pribumi Sumatera Barat.

Wawancara Puti Reno Raudha Thaib


Mari Kembali ke Keluarga Inti dan Kaum
Puti Reno Raudha Thaib
Pemerintah harus memiliki keberanian untuk membersihkan maksiat. Untuk mengembangkan ABSSBK, pemerintah harus memilih: Apakah hanya untuk keuntungan profit yang dipikirkan atau pemeliharaan adat dan budaya?
“Ada ambiguitas di sini. Peraturan telah disusun berdasarkan adat dan agama, namun pelaksanaannya tidak ada,” kata Puti Reno Raudha Thaib, Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat, sembari mengajak agar masyarakat Minang, kembali ke ketahanan keluarga inti dan kaum.
Puti Reno Raudha Thaib juga mengeritik program Asmaul Husna dan pembacaan ayat kursi yang getol dilakukan Pemko Padang. “Jangan hanya menjadi hafalan tapi diamalkan. Untuk anak-anak madrasah pertamanya adalah keluarga, dan ibu adalah guru pertama bagi anak. Jika ini kuat maka keluarnya juga akan kuat. Masih ada harapan dengan sistem kaum , apakah kita sepakat kembali ke sistem tersebut.” Berikut petikan wawancara Meidella Syahni dengan Puti Reno Raudha Thaib.

Wawancara Darman Moenir


Ini Memang Masalah Sosial, Bukan Moralitas
Darman Moenir


Tidak adil juga memberi beban terlalu berat kepada pemerintah untuk “mengurus” Ranah Minang. Sumatera Barat tidak sama dengan Ranah Minang. Namun, selagi pemerintah (Provinsi Sumbar, kota, kabupaten) ambivalen, setengah hati, memberantas makasit, maka perbuatan maksiat itu akan tetap eksis.
“Saya tidak mau masuk ke frasa moralis “peristiwa memalukan itu” tetapi ini memang masalah sosial, masalah ekonomi dan masalah seksual,” kata Darman Moenir, sastrawan kelahiran Sawah Tangah, Batusangkar, 27 Juli 1952 yang baru saja menerbitkan novelnya Andika Cahaya ini. Berikut petikan wawancaranya dengan Nasrul Azwar.
Apa komentar Anda tentang tarian telanjang dan beredarnya video porno yang diperagakan anak SMA beberapa waktu yang mencoreng kening Minangkabau itu?

Wawancara Free Hearty


Jangan Menutup Mata Terhadap Realitas
Free Hearty
Terjaringnya perempuan yang melakukan porno aksi sebagai penari striptis di depan sekelompok lelaki memang sangat mengejutkan dan menampar wajah Minangkabau. Karena selama ini, Walikota Padang Fauzi Bahar dengan gencarnya menyosialisasikan berpakaian muslim dan Asmaul Husna.
“Yang mengejutkan tentu bukan kebijakan yang diterapkan itu, tetapi bagaimana pemaknaan dan implementasi dari semua kebijakan itu. Apakah hanya sampai pada tataran seremonial saja, hanya dipermukaan saja dan tidak menyentuh yang esensi dari kebjakan tersebut. Sehingga Asmaul Husna hanya sebagai hafalan saja, dan jilbab hanya menjadi “fashion” saja. Ironis kan?
Sebaiknya mulai dipikirkan ajaran dan pendidikan yang mampu memasuki pemikiran, perasaan dalam pemahaman spiritual masyarakat dengan  baik,” kata Dr Free Hearty, yang kini mengajar di Al Azhar Jakarta dan baru saja menyelesaikan buku “Keadilan Gender, Perspektif Feminis Muslim” ini. Berikut petikan wawancara dengan Nasrul Azwar dengan mantan dosen di UBH ini.

Wawancara Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo



Menjadi Tanggung Jawab Pemimpin Masyarakat

Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo


Hampir tidak ada perempuan yang terperosok ke dalam dunia hitam tersebut yang melakukannya secara suka rela. Bermacam-macam faktor yang bisa menjadi penyebab, seperti dicerai suami, ditinggalkan pacar, atau tidak adanya keterampilan untuk berusaha sendiri.
“Kenyataan bahwa kedua penari telanjang yang tertangkap tersebut menutup mukanya menunjukkan bahwa mereka masih mempunyai rasa malu,” kata Saafroedin Bahar, Ketua Dewan Pakar di Sekretariat Nasional Masyarakat-Hukum Adat ini.
Ia sendiri mengaku kurang tahu apakah para tokoh-tokoh kepemimpinan masyarakat Sumatera Barat–bersama pemerintah daerah dan kalangan cendekiawan–pernah, bisa, atau mau, duduk bersama untuk membahas masalah perubahan sosial ini secara mendasar, untuk kemudian merumuskan langkah kebijakan bersama yang akan dianut dan dilaksanakan.  Oleh karena gejala ini bukan merupakan gejala sesaat, akan lebih baik lagi kalau kegiatan ‘duduk bersama’ tersebut  dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Berikut petikan wawancara dengan Nasrul Azwar. 

Sabtu, 24 Agustus 2013

Wawancara dengan Gusrizal Gazahar, Kabid Fatwa MUI Sumbar



Maksiat Cermin Masyarakat Rusak
“Menjamurnya mak
Gusrizal Gazahar
asiat mencerminkan masyarakat yang sudah rusak. Kerusakan itu terjadi akibat kesalahan setiap elemen pemimpin negeri ini. Akibatnya, ketika masyarakat sudah menjadi bagian dari maksiat, maka, maksiat itu akan menjadi perbutan yang dinilai biasa,” kata Gusrizal Gazahar dalam wawancara dengan Rahmat Hidayat. Berikut petikan lengkap wawancara itu.
Apa yang Anda katakan terkait maraknya perbutan maksiat akhir-akhir ini di Ranah Minang?
Perbuatan maksiat mengundang murka Allah. Secara pribadi saya prihatin dengan bermunculannya beragam maksiat yang dilaporkan media massa akhir-akhir ini. Hal tersebut tentu mencederai perasaan kita sebagai orang Minang. Apalagi, Minang dikenal kental dengan nilai-nilai religius sejak dulu.  
Pada dasarnya, daerah Minangkabau merupakan daerah yang menguntungkan untuk melaksanakan dakwah Islam. Namun, kecepatan tumbuhnya kejahatan maksiat, tidak sebanding dengan kamampuan lembaga-lembaga dakwah untuk mengiringnya.

Wawancara dengan Saafroedin Bahar, Tokoh Perantau Minang



Tak Setuju Ranah Minang Sarang Maksiat
Saafroedin Bahar
“Selama ini, secara normatif masyarakat Minangkabau merasa dan menyatakan diri berdasar pada norma-norma adat Minangkabau dan agama Islam. Dalam kenyataannya sudah banyak yang menyimpang,” kata Saafroedin Bahar, salah seorang tokoh Minang berdomisili di Jakarta.

Menurutnya, seyogyanya salah satu sistem norma saja sudah lebih dari cukup untuk menangkal gejala kemaksiatan ini. Nyatanya bahkan kombinasi keduanya tidak lagi cukup ampuh. Jelas ada masalah mendasar yang perlu dibenahi. Berikut ini wawancara Nasrul Azwar dengan Saafroedin Bahar, yang kini menjabat Ketua Dewan Penasihat Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang (Gebu Minang).
Sepanjang 6 bulan terakhir, Sumatera Barat tak lepas maraknya perbuatan maksiat, dan puluhan tertangkap dalam razia malam. Bagaimana komentar Anda?

TUNGKU TIGO SAJARANGAN TAK JALAN: Minangkabau Dipenuhi Maksiat


Satpol PP lakukan razia (Foto Haswandi)
Hotel kecil, penginapan, dan home stay rawan digunakan untuk tempat maksiat. Penginapan seperti ini marak di sekitar Danau Maninjau. Tampaknya maksiat bukan hal tabu lagi di Minangkabau.
Menurut tatanan adat di Minang, maksiat adalah perilaku yang bertentangan dengan budaya orang Minang. Di zaman dulu, bila ada yang tertangkap dalam perbuatan maksiat, keduanya digiring beramai-ramai dan diikuti dengan gendang tempurung.



Laporan terkait baca wawancara dengan Saafroedin Bahar, tokoh perantau Minang, dan
Gusrizal Gazahar, Kabid Fatwa MUI Sumbar


Minggu, 28 Juli 2013

IDENTITAS KULTURAL TERANCAM:Robohnya Rumah Gadang Kami



Rumah Gadang yanh lapuk ditelan zaman. Butuh tindakan konkret untuk penyelamatannya.  (Icol)
Saat rumah gadang itu lapuk, sebagian kayunya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Minimnya perhatian kaum dan ninik mamak terhadap rumah gadang, mempercepat hancurnya simbol adat dan budaya Minang ini.
Bukan saja surau yang telah roboh. Rumah gadang juga berangsur-angsur lenyap dari muka bumi. Rumah gadang adalah simbol pertahanan terakhir adat dan budaya Minang.

RUMAH GADANG DI AMBANG KEPUNAHAN: Terbitkan Aturan Penyelamatan Rumah Gadang


Rumah Gadang di Nagari Pariangan, Tanah Datar (gogel-sonay.blogspot.com )
Nyaris semua rumah gadang di Ranah Minang, lapuk dan kumal, dan tak lagi asli karena telah banyak bergani bentuk dan material. Dan ada juga rumah gadang menunggu roboh. Mendesak, dikeluarkan regulasi untuk penyelamatan rumah gadang yang berada di ambang kepunahan.