Tampilkan postingan dengan label RUANG CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUANG CERPEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Kenangan Hari Raya



CERPEN Indrian Koto
“Jika puasamu bolong satu hari saja tanpa alasan, maka puasa-puasa lain di bulan itu tidak akan diterima,” kata ibu ketika aku kelas tiga sekolah dasar. Ajaib, untuk pertama kalinya puasaku penuh sebulan tanpa bolong sama sekali.
Kata-kata ajaib ibu itu terus menjadi motivasi buatku untuk selalu berpuasa dan tak ingin bolong satu hari pun. Namun, seiring usia, justru aku merasa puasa terasa semakin berat dan penuh godaan.
Yang sangat berat bagiku ketika kecil tentu saja bangun untuk makan sahur. Sehabis itu di minggu-minggu awal puasa, anak-anak dan para remaja, akan menghambur keluar rumah. Rasanya asyik saja sehabis subuh jalan-jalan tak tentu arah. Mereka yang sudah mengenal asmara tentu lebih menikmati kesempatan itu. Setelahnya kami meringkuk tidur dan bangun di siang hari. Laki-laki berkumpul di pos ronda, anak gadis biasanya berkumpul di rumah teman perempuannya dengan muka penuh bedak beras.

Naru dan Layang



CERPEN Yetti A.KA
 Mereka berteman baik dari kecil meski tidak pernah belajar di sekolah yang sama. Sudah beberapa lama ini pula Naru tahu kalau Layang memiliki dada yang berat. Kadang saat main di rumah Naru, Layang mengeluh tentang dadanya itu. Setengah berfantasi karena ingat cerita Jack dan Pohon Kacang Ajaib Naru bertanya: Layang, apa kau merasa ada yang tumbuh di dadamu, semacam kacang ajaib yang terus membesar?
Layang tertawa mendengar pertanyaan Naru (ah, benarkah ia sungguh-sungguh tertawa?). Lalu ia membuka bajunya, memperlihatkan dada tipis dengan tulang-tulang yang seakan ingin keluar. Apa menurutmu dada ini tidak terlalu tipis untuk sebatang kacang yang besar, Naru? tanyanya. Naru merasa bersalah pada Layang karena tidak dapat membantunya untuk merasa lebih baik. Sesuatu yang—menurut cerita Layang—menghimpit dan hampir-hampir tidak menyisakan ruang kosong untuk bernapas, pada saat-saat tertentu.

Lampu Merah di Senyum Ibu


CERPEN Ilham Yusardi
Penundaan keberangkatan. Aku hilang mood, begitu tahu delay keberangkatan untuk pesawat yang akan kutumpangi.  Dari pukul tiga siang ini menjadi pukul lima, sore nanti. Tidak ada alasan yang jelas. Alamak! Aku sudah capek-capek, buru-buru, pukul dua tadi sudah datang di bandara besar ini.
Meskipun demikian, Aku hanya butuh sedikit kesabaran untuk hal yang lebih penting. Nanti, kalau sudah di atas udara aku bisa tidur pulas barang dua jam. Begitu tiba di rumah, mencium tangan ibu dan mengajukan hasratku kepada ibu.

Peziarah Pulang Terlalu Pagi



OLEH Maya Lestari Gf
Dan lalu, ketika kuburan itu selesai dibuat, maka berdirilah sekalian orang di tepiannya. Berkata salah satunya.
“Sudah selesai, persis seperti yang diminta,” tuturnya sambil menyeka muka penuh keringat. Wajahnya dikotori butir-butir tanah basah dimamah gerimis. Pagi mendung. Cuaca tak bersahabat. Tapi sebelas orang itu terus bahu-membahu menggali hingga ke dasar. Satu koma delapan meter dalam lubang kuburan itu. Panjangnya seukuran itu pula. Persis seperti yang diminta oleh orang yang akan berkubur di situ.

Kota Ketiga



CERPEN Deddy Arsya
Saya pergi ke plaza bersama ayah. Berpikir, plaza tentu tak bernasib seperti kedai kami, setiap hujan turun pasti akan terendam. Mari jalan-jalan ke plaza! seru ayah setelah kami selesai menutup kedai sore itu.
Sehabis pulang sekolah, saya sering disuruh ibu membantu ayah di kedai. Saya anak satu-satunya di keluarga kami. Ayah mulai tua dan gampang lelah. Kami berkedai di pasar raya, tetapi sungguh kami belum pernah mengunjungi plaza yang baru dibangun beberapa bulan yang lalu itu.
Plaza yang berdiri di bekas terminal kota.
Kami tinggal di pinggiran kota, tapi sebenarnya kami adalah orang-orang kampung juga. Kami hanya mendengar dari orang-orang di tempat kami, tentang plaza baru yang megah itu. Dan ibu begitu keranjingan ingin pergi ke sana. Hanya ayah tak pernah mau mengajak ibu. Entah kenapa ibu pun tak mau pergi sendiri.

Kota yang Runtuh



CERPEN Ragdi F. Daye


Ketika dia datang dan tersenyum di ambang pintu dengan tubuh yang menggetarkan itu, kau merasa lututmu goyah. Rasanya tak sabar lagi kau untuk menghambur dan melabuhkan kepala di dadanya.
Kepada ibumu dia berkata hendak membawamu jalan-jalan ke luar: Untuk mengenal lebih dalam.
“Pergilah,” izin ibumu. “Tapi jangan pulang terlalu malam. Ingat, kalian baru tunangan.”
Dengan tersipu-sipu kau bergegas masuk ke dalam kamar. Mencari baju paling indah yang kau punya. Kau patut-patut diri di depan kaca. Merapikan kerudung hijau muda di kepala. Di cermin, kembali kau melihat wajah persegi itu tersenyum hangat. Akhirnya doa panjangmu terjawab. Tidak tanggung-tanggung. Kau dikirimkan sesosok malaikat.

Kamis, 28 November 2013

Pohon Mangga di Muka Surau



CERPEN Sunlie Thomas Alexander
Mengapa masih saja kau cemaskan isyarat yang tumbuh pada matanya? Bukankah ia adalah takdir? Bagaimana kau harus menghindarinya?
“Apakah lebaran nanti, Abang pulang?” tanyanya menatapmu malu-malu. Kau melengos, berpaling ke arah surau kecil di belakangmu. Sejenak kau bingung. Hendak menjawab ya, kau takut memberikan harapan sementara kau belum memiliki kepastian soal itu. Bila menjawab tidak, mungkin akan mengecewakan. Bagaimana kalau kau betul-betul pulang nantinya?

Sepotong Nyanyian Senja


CERPEN Alwi Karmena
Dia sama sekali tidak ingin semuanya berakhir sedih. Tidak menyesal, apa lagi sampai membuahkan tangis. Dia ingin menguji hati nya, hati laki-laki yang seharusnya keras. Bukan seorang yang lembek dan bukan pula seorang yang sentimen. Meski telah beranjak tua . Ia rasa urat urat darahnya masih liat menahan dera perasaian. Tapi entah kenapa, hentak kenyataan, kali ini lain. Di rumah tangganya beban moral sudah demikian berat. Belakangan, bahkan dia merasa seperti telah terinjak-injak. Dan kiranya hal itu seperangkat kekeliruan, ianya sudah tak bisa memaafkan lagi. Dia akan bertindak, membuat semacam perlawanan hebat pada realita. Bagaimana pun akibatnya  nanti.

Sabtu, 16 November 2013

Langit Bandar Padang

CERPEN Deddy Arsya
Dia hendak menuruni tangga kapal ketika ingatan pada mimpinya tiba-tiba menghentikannya. Beberapa hari belakangan ini, dia terbayang lagi leher-leher yang putus tertebas parang, decap bunyi anak panah menghujam kulit tubuh, atau letusan meriam yang menyalak tiada henti. Bermula, dua malam berturut-turut di Batavia, sejak itu, dia terus bermimpi lagi tentang perang melawan pasukan Pangeran, kelepak terompah kuda, desing dan letusan balansa, besi-besi yang berdentang, juga dentuman-dentuman yang memekakkan telinga. Dia mulai lagi membayangkan nyalang mata musuh yang meregang nyawa menatapnya tak kejap-kejap, bunyi daging-daging yang terkelupas dan gosong terpanggang, tubuh-tubuh yang sungsang, juga kepala yang lepas dari badan.

Air Mata Badut



CERPEN  Alwi Karmena
“Sudah jadi kau cuci topeng sama baju Badut itu Sam?” tanya Syair sambil menelan sebutir obat sakit kepala.
“Ooo yaa ya. Sudah, sudah,” k,ata Samiarni, istri Syair yang kurus pipih itu tak bisa berdusta. Dia belum sempat mencuci topeng dan pakaian Badut, pakaian kerja yang dipesankan suaminya kemarin. Cuma, dia tak ingin Syair marah. Agak lain juga. Belakangan ini darah tingginya acap kumat. Untuk itu, sekali ini Samiarni terpaksa berdusta.

Senin, 11 November 2013

Di Bawah Temaram Lampu Badai




CERPEN Delvi Yandra

Judul Menguji Kesabaran
akrilik-ballpoint, 145 x 145 cm, 2006

Sejak pemberontakan meletus empat hari yang lalu, anak-anak dan kaum perempuan tidak ada yang berani keluar rumah sehingga kampung kami sungguh mengalami masa-masa sulit; sawah dan ladang tak menghasilkan apa-apa, akses ke kampung sebelah hanya dapat dilewati melalui sungai dengan perahu atau rakit, dan pengajian ditiadakan untuk sementara waktu.
Bala tentara musuh semakin rajin berkeliaran keluar masuk kampung seraya membawa bedil. Mereka menguasai Batu Hampar hingga ke Kurai. Kami geram melihat manusia jangkung berkulit pucat dan berambut pirang dengan hidung mencuat itu, sehingga kami bertekad menghancur-leburkan mereka.
Tetapi kami tak butuh arloji. Athar telah menjadi waktu bagi kami. Ketika malam tiba, itulah saatnya bagi kami untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan seruan dari Athar.

Wajah-wajah dalam Ingatan



CERPEN R Yulia
Mereka kembali berbisik-bisik. Di sudut. Menjauhkanku lewat tatapan setajam clurit–seakan memberi ancaman tentang harga mahal yang harus kubayar jika coba menguping atau memperpendek jarak terhadap mereka—lipatan dahi dan tarikan garis mengetat pada bibir. Aku berpaling. Tak hendak mencuri lihat, mencuri dengar atau bahkan mencuri hati.
Sekujur tubuhku melekat erat pada jeruji besi, membatasi kehendak liar yang menggelepar-gelepar dalam kepala, meronta-ronta seperti babi hutan yang tertombak. Hawa dingin yang mengalir lewat genggaman tangan, kulit wajah, dada dan pahaku, membekukan seluruh keinginanku pada temperatur nol absolut. Termasuk keinginan menemuinya!

Kisah Cinta Pekerja Malam di Kota Gigolacur



CERPEN Ramoun Apta
Lukisan Nasrul
Pada suatu malam berdebu, di suatu Minggu kota Gigolacur, trotoar tak pernah bercerita tentang apa dan bagaimana caranya dua ekor tikus bisa saling kejar-mengejar, meningkahi kerikil yang berserakan, menyusuri got-got yang bau, dan kemudian bergerumul seperti hendak saling membunuh. Begitu juga dengan tiang listrik yang kesepian menimang embun—yang sebenarnya tak patut juga disebut embun karena ia sedikit berminyak—di dekat taman itu, seperti hendak melepaskan kabel-kabel yang terentang memberat.

Selasa, 29 Oktober 2013

Semenda

CERPEN Joni Syahputra

Sumber: tegarseptyan.wordpress.com
Tamu agung itu sepertinya tersinggung. Baranjak secara tiba-tiba dari tempat duduknya. Berdiri. Tanpa mengatakan sepatah katapun, langsung pergi, tanpa pamit kepada tuan rumah.
Perempuan paruh baya, si tuan rumah, jadi salah tingkah. Belum meyadari apa yang membuat si tamu tersinggung, beranjak menuju pintu. Tetapi sang tamu agung sudah menghilang.
Gelisah, mondar mandir ke sana kemari. Sama sekali dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Bingung. Ingin segera menyusul keluar, tetapi, Johan, si tamu agung itu, sudah menghilang di balik tikungan. Ia pergi bergegas. Beruntung sebuah bus lewat. Tangannya menggigil. Teriakan kondektur bus memanggil penumpang tidak dihiraukannya lagi. Ia mencoba memicingkan mata beberapa saat. Ingin menghilangkan kegundahan di hatinya.

Pekasih Cirit Anjing

CERPEN Indrian Koto

“Minyak aku situang-tuang, dituang dalam kuali. Bukan aku berminyak seorang, beserta bulan dan matahari. Asam limau purut asam lima sanding, ketiga asam limau lungga. Menurut si Mega seperti anjing, menangis tidak akan kubawa. Berkat lailah hailallah. Huallah…
Aku melafazkan kalimat itu pelan-pelan sambil meniupkan ke minyak rambut merek Lavender biru-pekat di tangan sebelum menggosokan ke rambutku.
Sisir bermerek Tancho hitam dan rapat menggaruk kepalaku yang licin. Kusisir ke samping, ke depan, ke belakang, subhanallah, rebahnya bagus. Aku menatap kaca yang selebar telapak tangan, memperhatikan betul-betul wajahku di sana. Apakah minyak Lavender ini yang telah membuat rambutku begini patuh, atau kekuatan mantera telah menggerakkan semesta tunduk kepadaku?

Firasat

CERPEN Ilham Yusardi
(I)
“Niar, kau lihat hape?” Bahar menyonsong istrinya yang berada di dapur. Niar sedang mengaduk gula dan kopi, membuatkan minuman pagi buat suaminya itu. Sejenak Niar menoleh, menangkap wajah suaminya menyembul separuh badan di pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur rumah. Niar agaknya sedikit heran dengan kelabat lakinya.
“Hape Uda? Tidak. Tapi, biasanya sebelum tidur, kan Uda taruh di dekat lemari kaca kamar. Tentu masih di situ.” Niar kian keheranan lihat laku suaminya. Tidak biasanya, pagi-pagi ia menanyakan hape. Lagi pula hape yang dibelikan Lara itu, putri tunggal mereka yang sekarang bekerja di ibu kota, memang jarang berbunyi. Hape itu baru seminggu di tangan Bahar. Ia sangat senang sekali. Ia terisak tangis waktu menerima hape itu dari tangan Lara. Ia bersuka cita sekali bukan karena hapenya, tapi Bahar terharu lagi karena itulah pemberian pertama Lara dari hasil jerih peluhnya bekerja. Ia bangga dengan pemberian itu. Padahal, ia tiada pernah meminta di balas budi sedikit pun dari anaknya itu. Malahan ia sangat khawatir Lara yang tidak mau lagi meminta atau menerima uang darinya selepas ia tamat dari kuliah.

Minggu, 27 Oktober 2013

Pembunuhan



CERPEN Delvi Yandra                        

Di sepanjang trotoar, aku melangkah gontai dengan map yang selalu kubawa ke pintu-pintu perusahaan. Tak satu pintu pun pernah membentuk wajahku jadi lebih baik serupa lengkung senyum orang-orang kebanyakan. Penawaranku selalu ditolak sebab alasan yang tidak jelas. Tidak sesuai dengan perkiraanku padahal aku berjanji akan jadi pekerja yang baik kalau perusahaan berkenan menerimaku. Tapi kenyataannya, tak satu perusahaan pun berbaik hati padaku. Tak satu pun.

Jendela di Kamar



CERPEN Amelia Asmi

Di kamar aku melihat jendela itu terbuka. Jendela kayu bercat biru. Ada wanita di balik jendela itu. Perempuan mengenakan baju biru berkerah V. Aku tak tahu bawahan yang dikenakannya. Pasalnya tertutup tembok yang menghalang.
Rambut wanita itu dikepang dua. Di dagunya terdapat tahi lalat. Ia menatap lama ke arahku. Kadang bibirnya melengkungkan senyum. Tapi lebih sering bibirnya terkatup lalu matanya yang bergerak liar.  Jauh menatap ke kamarku. Menjelajahi setiap sudut kamar. Bila ada yang aneh, maka tawanya berderai. Aku sering salah tingkah dibuatnya.
Pagi ini tak ada kegiatan. Hari menunjukkan pukul enam pagi. Harum embun merebak di kamarku. Sebelum membuka jendela kamar aku putuskan untuk membuat secangkir teh. Aku seduh teh hangat, nikmat rasanya. Jendela kamar kubuka. Tak cukup hitungan menit, jendela biru itu pun terkuak. Wanita itu masih mengenakan baju yang kemarin. Baju kaus berkerah V warna biru. Ia melihat ke cangkir yang sedang aku pegang. Sepertinya ia ingin mencicipi teh yang kubuat. Aku tersenyum, ia balas senyumku. Lama kami saling memandang. Hingga embun kering di rumput, mentari hadir. Teh dalam gelas pun telah habis. Ia masih berdiri di balik jendelanya.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Pembakar



CERPEN Dafriansyah Putra

Judul: Jendela di Prapatan, karya Amrianis
Ruangan penuh dengan berkas berserakan, buku terkembang, buram bertebaran, dokumen bertumpuk-tumpuk. Kalian senantiasa membiarkannya. Tak ada kesempatan buat membereskan. Kalian terlampau sibuk mengurusi suatu misi yang amat penting, misi dikejar waktu.
Kalian mengenakan baju hijau lumut yang membuat penampilan kalian kelihatan gagah, cantik, dan berwibawa. Kemudian kalian duduk berkumpul mengeliling, bersehadap meja kaca oval yang lebar. Tatapan kalian tertuju pada satu arah, kepada orang yang duduk di paling ujung.
Kalian memasang muka yang begitu serius. Seperti rapat tikus saja. Kalian bercericit ganti-ganti. Satu menanya, satu menyanggah. Satu bersuara yang lain menginap-inapkan.  
“Malam besok jalan!”
Pembicaraan kalian selesai seiring kepalan tangan yang kalian tinju-tinjukan ke udara. Kalian bubar. Bunyi kursi derit-berderit dibuatnya.
***

Maukah Kamu Menikah Denganku, Wahai Cinta?



CERPEN Ramoun Apta

Karya TATANG BSp. 1998
Ia tak peduli, yang ia inginkan cuma satu, seorang istri. Harta ia sudah banyak, mobil ia sudah berserak, kebun memanjang berhektar-hektar, rumah gedung bertingkat, ruko puluhan, motor mewah keluaran Amerika dan Jerman penuh mengisi parkiran koleksi kendaraan di rumahnya. Ekonominya sudah mapan. Tetapi ia kurang bahagia. Ia sehat tetapi senyum tidak berbuah di bibirnya. Saking tidak bahagianya, liurnya saja terasa masam apabila bibirnya mengecap. Ia benar-benar ingin menikah.
Teman-teman yang ia kenal sudah menikah semua. Bahkan, ada yang beristri lebih dari satu. Tiga, lima, bahkan ada yang sampai lima belas. Semua temannya berbahagia. Semua temannya senang bersenda gurau bersama anak-anak mereka sambil menjilat potongan es krim di taman kota. Padahal teman-temannya tidak ada yang kaya seperti ia. Tetapi, “Kenapa hanya aku seorang yang belum menikah?”