Tampilkan postingan dengan label RUANG KHAIRUL JASMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUANG KHAIRUL JASMI. Tampilkan semua postingan

Tiar Ramon, Bapisah Bukannyo Bacarai

OLEH Khairul Jasmi (Wartawan) 

Bapisah bukannyo bacarai 
Usahlah adiak manangih juo
Kampuang den jauh da, sanak tiado
Denai jo sia uda tinggakan

Tiar Ramon
Orang Minangkabau hafal betul lagu itu. Penyanyinya pun sangat terkenal. Dialah Tiar Ramon, 59 tahun. Penyanyi inilah yang meninggal dunia, Sabtu, 23 Oktober 2000. 

Masjid Raya Gantiang Padang, Simbol Agung di Kota Modern

OLEH Khairul Jasmi (Wartawan)

Mimbar sambung berfungsi untuk mem-perjelas isi kutbah kepada jamaah yang berada di belakang, karena waktu itu belum ada alat pengeras suara.

Masjid Raya Gantiang, Padang, terletak sekitar satu kilometer dari Plein van Rome (sekarang lapangan Imam Bonjol) di alun-alun kota. Di ujung selatan alun-alun ini, di tahun 1970-an, didirikan pula sebuah masjid bernama Nurul Imam, di baratnya di sisi pasar yang hiruk-pikuk, menjulang puncak Masjid Taqwa Muhammadiyah. Ketiga masjid ini, memegang peranan penting untuk kota itu. Dari ketiga masjid itu, Masjid Raya Gantiang, merupakan masjid paling tua.

Di Nagari Koto Gadang Tiap Rumah Ada Sarjana


OLEH Khairul Jasmi
Seratus tujuh belas tahun silam, Agus Salim lahir. Meski telah teramat lama, di Sumatera Barat, anak-anak sekalipun tetap mengenal namanya. Betul juga kata orang bijak: harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Nama besarnya nyaris tidak tertandingi oleh siapapun, kecuali oleh sejumlah orang di zamannya yang kemudian menjadi ‘bapak bangsa’ ini. Agus Salim adalah tipe orang Minang, yang dalam istilah Rosihan Anwar gilo-gilo baso alias gendeng. Semua orang Minang yang pintar memang memiliki sikap demikian.

Anak-anak yang Menyemir Kehidupan

OLEH kHAIRUL JASMI 


MereKA
ada di pusat keramaian; di trotoar, di rumah makan, terminal, stasiun, dan hotel. Menenteng peralatan semir. Mereka kehilangan masa kanak-kanaknya: bermain gundu, mengaji di surau atau mandi di kali atau bersenda gurau.
Dengan mata kuyu dan baju dekil, mereka merayu orang agar mem­berikan sepatunya untuk disemir agar memperoleh imbalan. Apa boleh buat, mereka tinggalkan sekolah, tapi bukan semata karena kemauannya. Mereka terpanggil membantu orangtua, terpaksa karena harus makan, dan sederet alasan yang membuat mereka pun jauh dari hingar-bingarnya dunia pendidikan.

Dari SK ke Alas Kaki Menata Dagang dengan Keringat


OLEH KHAIRUL JASMI
Putus sekolah tidak berarti menjadi pengang-guran. Setidaknya prinsip itu berlaku bagi Beye. Lelaki yang punya nama asli Anwar Bujang itu memang hanya sekolah sampai kelas 2 SMA, tapi kini punya usaha kulit yang beromset Rp10 juta per bulan. Suatu jumlah yang cukup besar bagi usah kecil di Padang.

Menetap di Lubang untuk Sebuah Harga Diri


OLEH Khairul Jasmi
Seperangkat kursi tamu dan meja terbuat dari rumput terawat rapi. Di sekelilingnya ada bangunan yang menyerupai kubah masjid dan atap rumah gadang yang juga terbuat dari rumput. Taman seluas 10x10 meter itu sungguh rancak, hijau, berseni, dan berpagar. Sementara pencipta sekaligus pemiliknya, Jailan, tinggal di tepi taman. Persisnya di sebuah lubang sebesar drum minyak tanah.

Konstelasi Persuratkabaran di Minang Konfigurasi Pemikiran yang Menakjubkan

OLEH Khairul Jasmi (Wartawan Senior)
Pers Sumatera Barat adalah pers yang relatif tua. Pada 1859, atau 25 tahun seusai Perang Paderi, perang yang melibatkan orang Minang melawan Belanda, terbit surat kabar bernama Sumatera Courant di Padang. Meski surat kabar ini lahir sebelum abad XX, tapi dinamika persuratkabaran di sana baru terasa pada awal abad XX hingga menjelang kemerdekaan Indonesia.

Perantau Minang Tak Sekadar Melepas Rindu

OLEH Khairul Jasmi (Wartawan Senior)

PULANG kampung tak sekadar melepas rindu, tapi sekaligus membangun kampung halaman. Begitulah tekad perantau Minang. Dulu, ketika mereka pergi ke rantau, selalu diniatkan, kampung halaman baru akan diinjak lagi jika sudah berhasil di negeri orang. Artinya, perantau akan pulang bila sudah mampu menyumbang untuk tanah kelahiran.
Untuk ukuran provinsi, perantau Minang memang dahsyat. Jumlah penduduk Sumatera Barat sebanyak delapan juta jiwa, separuhnya di rantau. Dua juta di Jakarta. Maka tak heran di metropolitan ini terbit surat kabar khusus untuk perantau, namanya Minang Pos.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...