Tampilkan postingan dengan label RUANG PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUANG PUISI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

PUISI Evan YS



Menjilat Luka Waktu

Langkah terseok tertatih menapak masa
Lelah mencerna suara tak beraturan

Bergumam, berdengung tanpa definisi

Aku muak, luka, dan muntah!

Darah dari luka-luka mengalir tak terbendung
Torehkan nyeri yang paling nyeri

Keculasan bertahta megah pada nurani
Kubur tembang perdamaian

Museumkan catatan usang

Demi sebuah keagungan
---sejarah---

akupun terseok menekan luka yang menerobos jantung

jilati hari tanpa makna

tanpa kata
tanpa suara

Senin, 11 November 2013

PUISI Yusrina Sri Oktaviani


Pelataran Rindu

Tak pernah ku tau betapa dalam hatiku
Hingga disana tumbuh rindu
Bermekaran.. berbunga indah
Menyebut namamu sebagai daun cinta yang ku tanami
Tak pernah ku tau betapa murni hatiku
Hingga sapa mu menanam cinta disana
Subur.. bertunas dan berpucuk
Membayangkan rupamu sebagai atap dari keteduhan jiwaku
Tak pernah pula ku tau betapa tabah hatiku
Hingga akhirnya aku menantimu
Bersama kasih yang pernah kau titipkan
Walau tetesan kalbu kian menghujaniku
Menatap hampa pelataran taman
Tempat dimana aku pernah memohonkan doa
Sebait kata yang masih kukuh ku genggam
Meski tenang hatimu tak mampu ku tebak
Bahkan resapan nafas itu..
Tak lagi kau beri makna..
Namun doa menabahkan jiwa
Ada kalanya kan tiba
Pelataran rindu akan kita tempati kembali
Dengan berseminya bunga-bunga kasih
Aku menanti..
Di setengah napasku

PUISI Dedi Supendra


:Malam

Malam,
Seperti kacang goreng
Laku keras dibeli kupu-kupu
Datangnya ditunggu membawa madu
Hilangnya meninggalkan kabar tak sedap, seperti keringat-keringat yang bercucur dari kulit-kulit berbalut bedak dan debu panas
Malam, laksana darah bagi nyamuk nakal
Segar dan sedap
Dan merah membakar sayap

PUISI Sondri BS


Seseorang

I
beberapa cahaya menetesi malam
gelisah angin di bibir jendela
seseorang, mungkin menanti mimpinya
kenangan menggeliat dalam jelaga
hidup telah jauh sendirian saja
pergi bagai kereta meninggalkan stasiun
berpasang mata hanya saling melepaskan
kemudian memendam rindu, bagai ratap biola
manusia : hanya kesedihan yang dihibur dengan tawa

II
malam akan sampai diujungnya
dan kau kan sendiri memeluk kenangan
kesedihan bagai seseorang pergi
tak ingin mengulang jejaknya

lalu senyap bertanya bagai kawan
sudah kau temukan beberapa bagian hatimu yang hilang
ah, sampai kini juga belum ada kabarnya.

2012

PUISI Fitri Yani


Bunga Tidur

asmara bersemayam
di kelopak mata

partikel-partikel waktu
memusar di lubuk dada

tujuh lingkaran
tujuh kehidupan
dibangkitkan
dari sebuah taman

lalu muncul daun-daun
tempat kumpulan embun
berselancar
seperti bocah
tujuh tahun

membuka kelopak mata
berkeriap

sekejap

sabda mengalun
di telinga yang terjaga


(06 April, 2011)

Selasa, 29 Oktober 2013

PUISI Deddy Arsya



Cinta Musim Panas

Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik
yang terus-menerus naik ke tenggorokanmu.
Aku akan membajak luas sawahmu, menjadi sapi,
atau kerbau untukmu.
Jika bosan kau boleh membuang aku di simpang jalan
entah di mana. Aku bisa pastikan tak ada yang akan
membawaku kembali ke sisimu.
Kau pernah membuang kucing yang suka berak di kasur,
di meja makan, di lemari pakaian,
tapi kembali lagi ke rumahmu, bukan?
Itu tak akan pernah terjadi—aku janji.
Kita akan bahagia disiram cahaya
matahari jam tujuh pagi,
kita akan bahagia memiliki rumah
yang bukan milik pribadi.
Kita hanya perlu numpang di bumi ini
seperti kata orang-orang, dengan lampu 15 watt
yang sering terlambat kita matikan,
sumur yang airnya berminyak,
atau induk semang yang pemberang.
Aku tidak makan terlalu banyak, percayalah,
ibumu tak akan susah memasak.
Aku mau makan apa saja dari periukmu,
bahkan jika kopi pagi kita adalah air dari hitam
kerak nasimu.
Aku akan bangun pagi dan tak akan tidur lagi
setelah sembahyang subuh.
Dan kau boleh anggap aku
mesin tak berguna yang gampang rusak.
Aku akan menghabiskan banyak uang
membeli kebahagiaan di toko pakaian,
gelanggang bergoyang, medan pacu kuda
hanya untukmu.
Aku surukkan nasib burukku dalam
keranjang belanja dan riuh pasar.
Biar saja orang kata: “Jika para pedagang kaki lima
menggelar isi perut mereka di meja parlemen,
menuntut kantor DPR pindah ke rumah bordir,
maka betapa celakanya sajakmu ini, wahai penyair,
yang berbicara jus dan kesepian!”
Aku tiada peduli, aku akan pindah ke rumah lain,
dan sepetak tanah halaman lain, sehabis tahun ini.
Kita akan menanam markisah, bukan?
dan minum jus terung pirus
seperti makan pokok tiga kali sehari.
Anak-anak kita akan menguap bersama udara,
menjadi langit hitam dan hujan yang jatuh ke perut bumi.
Aku akan menulis undangan di pesbuk:
“Aku akan beristri petani seledri
habis hari raya ini. Kami akan harum
sepanjang tahun,  kami berbunga
di musim apa pun.
Anak-anak kami dari kulit kayu,
cendawan tak beracun, dan rintik hujan.
Rumah kami cangkang kura-kura,
kepak hulu dan diam muara,
sunyi daratan dan riuh ombak.
Istriku bekerja keras, aku suka api nyala
dari dapur biasa saja,
anakku kelak cinta nasi dan lauk seadanya!”

Hah, aku tak mengejarmu, kau tak perlu lari.
Di tanganku tak ada pedang, aku tak suka perang.
Jariku terkelupas, tapi tak akan serupa monster.
Tapi aku kata: mari, sayang, mari!
Genggam tanganku erat sekali.

Aku anjing tak menyalak,
Aku sunyi dalam sajak. 

PUISI Isbedy Stiawan ZS



DI BAWAH BATU YANG BATAL TERBANG KE LANGIT


jika matahari terbangun di pagi ini
sedang kau masih terpejam
apakah burungburung di di pohon
akan tetap menunggumu sambil
berkicau tentang siang nan benderang?

kau akan abai pada pakaianmu
yang masai. harapan sangsai
ataupun senyuman sebagai lambai
: entah pagi mana lagi akan mengantarmu
pada ketinggian cahaya?

di kota yang tak pernah gelap
di bawah batu yang batal terbang ke langit
beri aku waktu untuk melepas pakaianku
untuk menerima segala cahaya


13/04/11

Minggu, 27 Oktober 2013

PUISI Nurfirman AS

Musim Sunyi

musim ini adalah bagian daritingkah diam yang usang
yang menjelma nasib pada ruang-ruang tunggu
dan potongan jarak antara gerimis yang menemui rapuh

sebuah kepingan episode dalam kamar ilusi
dari kejamnya imajinasi orang-orang lalu
yang menancapkan bekas-bekas luka
dengan air mata yang tertahan di tenggorokan
dan suara isak yang luruh dari paru-paru yang menemui sesak

kesendirian telah merenggut jiwa-jiwa para petapa
dan dalam keramaian, mereka sibuk sendiri
memilah sisi-sisi
yang terbentang antara realita sosial dan ruang imaji

tentang musim, suara-suara dari keheningan
terlihat lebih baik
dan sikap diam
adalah jalan terbaik


rumahteduh, Januari 2012

PUISI Fajry Chaniago Ms


Rumah Sakit 

putih ketika kesucian
putih pada kematian

Padang, Mei 2012



Ranjang

matahari mengeluarkan darah
dan kau berteriak hingga ke perut bumi
memecah sunyi kenikmatan

Padang, Mei 2012

PUISI Zelfeni Wimra

ubun-ubun bau pisang batu masak

tiba-tiba aku serasa mencium bau pisang batu masak
ketika mendekap ubun-ubunmu

“lihat mataku. ada barisan anak cabe rawit; abu jerami beterbangan; lendir biji cokelat; dan tangkai cangkul dari cabang surian…”

senyummu menukik ke dalam tangisku
sesuatu yang menyenangkan telah meremangkan ubun-ubunmu

tubuhku serasa mengerdil
meronta dalam buaian bayi tujuh bulan
kedipan terakhirmu begitu riang
mengajakku mencandai boneka musang

sebelum gelap, kikis lagi pisang batu masak
dengan ujung sendok teh itu
suapi aku
suapi aku

2010

PUISI Riza Jhulia Santhika


Mengerti Lelaki

Memangku lelaki, sejauh percumbuan tak kunjung
memberi  arti. Meneteki lelaki, mulutnya terkelupas
saat lepas membuahi janji;  Pergilah imajinasikan
tubuhku, kiranya  itu yang paling kau ingini.

Seperti lelaki,  apa yang dimengerti dari mimpi?
nafsu gila. Menimang jakun kemana-mana
menjajakan dari bibir menjadi cibir, merata dan
mudah saja diterka.

Menjadi lelaki, apa yang kau lakukan agar berarti?
ya, tentu  ya. Lelaki, menjadi tersebut sudah lebih
cukup bangga berdiri. Kapansaja ingkar, kapansaja
bercinta
dan kapanlagi?
“Membuahi birahi dengan serangkaian prosesi, aku menghibur
  jadi penari telanjangnya. Anggap saja lupa diri”


 Padang 2011

PUISI Irmadani Fitri




Hujan Ini

Barangkali hujan-hujan ini air mata orang-orang yang merindu
rindu-rindu yang dibawa angin lalu dan jadi gabak di hulu
mungkin rinduku, rindumu, rindu kita
ah..mataku jadi kering menatap waktu kepulangan
hingga kini tanyaku menghujan
mengapa akhir-akhir ini sering hujan?
apa terlalu bayak yang merindu?
dan bagaimana bisa makin jauh jarak makin deras rindu?

Barangkali hujan-hujan yang sering jatuh dikeningku adalah rindumu
aku jadi kalut, air di mataku jatuh satu-satu
mungkin juga jadi hujan dan jatuh dikeningmu
jika benar hujan-hujan ini adalah air mata orang yang merindu
menderaslah hujan biar deras rindu.

Sabtu, 26 Oktober 2013

PUISI Yuka Fainka Putra


Sajak Pendengar Radio
Aku memesan Something Stupid-nya Frank Sinatra dengan segelas kopi, malam memekat dan gerimis memucat, tak bisa memastikan akan reda atau malah menjadi deras. Aku dalam hening yang sangat, cinta. Pada kerelaan-kerealan panjang aku titip asa dalam baris-baris ketidakpastian, dan di ujungnya sungguh-sungguh aku tancapkan realitas.
Dari suara turun ke hati, jangan diganggu karena sungguh nikmat, melakukannya sendiri.
Padan nomor  Gloomy Sunday-nya Reszo Seress, gerimis mulai berganti padat, memuai seluruh ke angkasa, malam semakin lelap dan jangan kau ajak aku menjadi konyol, sebab dalam kesendirian aku tak sedang berhitung, aku hanya menepi pada igauan dan tradisi.
Dari suara turun kehati, mendakilah ke puncak imaji, taklukkan dalam sunyi.
Telah lewat tengah malam, suara sudah tiada yang tinggal hanya tembang-tembang lawas berteman pula dengan lembab, hari berganti dan tak ada lagi jeda iklan dalam pergantin nomor-nomor, selepas Utha Likumahuwa dengan Esokkan Masih Ada di sambung Rayuan Pulau Kelapa, yang tersisa hanya desir yang hening menggantikan suara gerimis, Aku mengecilkan suara radio dan membiarkannya menyala, hingga kembali menyalak.

Painan, September 2012

PUISI Rio Fitra SY




Masuk Museum


Memasuki ruang remang-remang:
terang dan kelam terkurung,
tak tahu jalan keluar.

Di mana lesung nenek tak meniupkan bara di tungku,
tapi menanak udara.
Aku menyuapi
mulut penuh lumut.

Di dinding, terpajang gambar seseorang.
Matanya menangkap sesuatu yang berkelebat:
sesuatu berwarna angin.

Di sini ingatan adalah bantal di kasur
saat pagi, siang,
dan malam.

Di mana segerombolan pengantin masa lalu membeku.
Konon mereka menatap kita
tanpa membuka matanya
yang pecah.

Padang, 2010

Jumat, 25 Oktober 2013

PUISI Sondri BS




Seseorang

I
beberapa cahaya menetesi malam
gelisah angin di bibir jendela
seseorang, mungkin menanti mimpinya
kenangan menggeliat dalam jelaga
hidup telah jauh sendirian saja
pergi bagai kereta meninggalkan stasiun
berpasang mata hanya saling melepaskan
kemudian memendam rindu, bagai ratap biola
manusia : hanya kesedihan yang dihibur dengan tawa

II
malam akan sampai diujungnya
dan kau kan sendiri memeluk kenangan
kesedihan bagai seseorang pergi
tak ingin mengulang jejaknya

lalu senyap bertanya bagai kawan
sudah kau temukan beberapa bagian hatimu yang hilang
ah, sampai kini juga belum ada kabarnya.

2012

PUISI Yeni Purnama Sari



Narasi Secangkir Kopi dan Daster

Suaminya baru saja pulang kerja. Wajahnya tampak lesu dan penat. Istrinya sedang sibuk mencuci. Bergegas ke dapur, bikin kopi. Dua sendok kopi, dua setengah sendok gula dimasukkan ke dalam cangkir.
“Suamiku suka kopi yang manis” bisiknya
Lalu ia terus tersenyum sambil mengaduk kopi. Ia mengaduk rasa pahit dan panis bersamaan. Saat mengangkat sendok, tetesan kopi jatuh di ujung dasternya. Ujung daster itu tampak sempurna kusamnya oleh tetes yang membiaskan noda hitam.
“Tak apa”, lirihnya.
Ia bertekad membiarkan noda hitam dan aroma pekat kopi menempel di daster malam pertamanya itu. Dengan begitu ia tak akan kesepian meski suaminya sedang jauh dari rumah. Aroma kopi adalah harum tubuh suaminya. Secangkir kopi telah selesai ia buat. Bergegas diantarkannya ke ruang tengah. Masih panas, jari-jari mungilnya memerah. Diletakkannya secangkir kopi itu di atas meja. Suaminya sedang asik menatap layar komputer. Masih ada kerja yang belum sudah di kantor.
Ia berdiri di hadapan suaminya. Menunggu komentar tentang kopi buatannya hari ini. Suami menyeruput kopi yang masih panas, kemudian kembali menatap layar komputer, tanpa menyisakan setetes kata untuknya.
Bibir istrinya mulai pegal menahan senyum. Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Rupanya ada tamu, beberapa orang rekan kerja.
“Mari, masuk! Mari minum kopi!” Ujar suaminya sambil menyodorkan secangkir kopi.
Senyum istrinya jatuh berserak di lantai. Bergegas ia ke kamar mengganti dasternya, dan melempar daster kusam malam pertama itu di atas tumpukan kain kotor.

18 Desember 2011

PUISI Irmadani Fitri




Hujan Panas
Langit memang makin cerah pada pagi, juga siang jelang sore
kota ini serupa kampung halaman nan dirindu
tertahan dalam diri
serupa panas hari ini yang mengandung butir-butir hujan
membasah di ujung mata
kau bernama rindu
jadi matahari di siang ini yang esok mungkin masih kembali
dengan panas yang sama
juga bulir-bulir hujan yang disimpannya.

Kubangtungkek, 7 Mei 2011

Minggu, 20 Oktober 2013

PUISI Yuka Fainka Putra




Kemana Kita Setelah Pulang dari Ingatan

Menyelusuri sunyi menghadirkan keintiman laknat pada tubuh, berguncang dan berkehendak di tepian. Meneguk masa lalu, berhadap-hadapan dengan kenyatan. Sejarah diri adalah ruang untuk tubuh berkelekar, menjadi panggung pertunjukan yang gelap. Tak bisa melawan, karena berjalan maju adalah mingikuti arus, berjalan mundur menguap, namun tak pernah lenyap. lalu kemana kita setelah pulang dari ingatan.

Hanya berdiri diam di tempat.

Terlahir menjadi ada, lalu tak melakukan apa-apa sungguh telah mendustai tubuh, bukankah kita juga pernah di pucuk imaji, riuh gempita dan meneguk madu asmara. Mengapa jua bicara gelap dan terang, jika semisal menyelusuri kelok-kelok itu bisa membuat kita bertahan. Menziarahi penyesalan tentu tak akan merubah apa-apa, situs-situs pertemuan telah mejadi tugu berlambang: kenangan, lalu kemana kita setelah pulang dari ingatan.

Tidak membalik halaman berikutnya.

Terjadi jeda yang berkepanjangan, tubuh hanya diam walau keinginan serupa kecemasan, ingatan memaksa pulang, tak tertahan. Sangsai benar jika memaksa mengunjingi sunyi, setiap ditepis ia malah menari.

Painan, Oktober 2010