Sabtu, 09 September 2017

PRRI Lahir di Padang, Awalnya Gerakan Koreksian Kemudian “Dihajar” Pusat

OLEH H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie
“Ketika orang menaikkan bendera putih ketundukkan kepada musuh, namun kami tetap berjuang dengan mengorbankan harta dan jiwa untuk menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang tercinta ini di bawah pimpinan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berkantor di bawah pohon-pohon kayu dalam rimba raya Sumatera.” (Ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein)
Kolonel Ahmad Husein, duduk paling kanan, dalam pertemuan rapat yang membahas PRRI
Pada penghujung tahun 1957 situasi Tanah Air kita semakin panas. Seakan-akan bara api yang siap nyala membakar daun-daun kering yang berserakan di persada Tanah Air. Belum setahun gerakan-gerakan daerah seperti pengambilalihan jabatan Gubernur Sumatera Tengah oleh Ketua Dewan Banteng A. Husein dari tangan gubernur sipil Ruslan Muljohardjo, Gubernur Sumatera Utara Komala Pontas oleh Simbolon, Gubernur Sumatera Selatan Winarno oleh Barlian. Kabinaet Ali II memang sudah jatuh digantikan oleh Kabinet Djuanda yang dibentuk oleh formatur tunggal Bung Karno. Keadannya semakin tidak berdaya menyelesaikan kemelut Tanah Air yang chaos di segala bidang: politik, ekonomi, sosial, keamanan, dan pemerintahan.

Hamka: Sebagian Besar Isi Buku “Tuanku Rao” Bohong dan Dusta

(Mengenang Kembali Tiga Seminar Minangkabau (II)
OLEH H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
Mantagibaru kali menurunkan tiga tulisan wartawan senior almarhum Kamardi Rais. Ia salah seorang yang berprofesi jurnalis sekaligus sosok ninik mamak yang memahami adat istiadat dan budaya Minangkabau, serta menjadi Ketua Umum LKAAM Sumbar. 
Tiga tulisan Kamardi ini memotret fenomena yang terjadi dalam tiga kali peristiwa budaya, yakni seminar tentang Minangkabau yang digelar berturut-turut (1968, 1969, dan 1970). Setelah ini, tak ada seminar Minangkabau yang sedalam dan selengkap ini digelar. Berikut  tiga tulisan itu diturunkan secara berkala per minggu, tentu setelah dilakukan penyuntingan. 
Tibalah saatnya saya menguraikan seminar kedua yang juga berlangsung di Padang 23-26 Juli 1969 persis setahun setelah seminar Hukum Waris dan Hukum Tanah bulan Juli 1968.
Seminar kedua ini juga suatu kenangan yang tak bisa saya lupakan terutama karena berlangsung dalam atmosfir kebebasan intelektual.
Topik seminar adalah “Sejarah Masuknya Islam ke Minangkabau” tapi lebih terfokus kepada Perang Padri (1803-1837). Perang Padri merupakan episode sejarah perkembangan Islam di Minangkabau dirangsang oleh sebuah buku yang dikarang oleh putra Batak Ir. Magaraja Onggang Parlindungan Tuanku Rao yang diterbitkan pada tahun 1964 oleh Penerbit Tanjung Pengharapan Jakarta.

Sabtu, 02 September 2017

Pertunjukan "Teater Manekin" dalam Festival Teater Jakarta 2015



Sarta adalah waria yang mengalami kompleks rendah diri namun berhasrat tampil cantik menawan. Tapi keinginan itu hanya berani ia wujudkan dalam angan-angan, bukan dalam kehidupan nyata.
Naskah: Ruang Rias
Karya: Purwadi Junaedi
Sutradara: Ch. Cheme Ardi
Pemain: Pandan [Sarta] | Dani Husein [Bernadette] | Sammy Milano [Bintang Iklan Sabun] | Wanty [Bintang Iklan Shampo] | Uti Herang [Perempuan Khayalan]
Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki
1 Desember 2015 | 20.00 WIB

Pertunjukan "Teater Nonton" pada Festival Teater Jakarta 2015



Surya yang biasa dipanggil Papa Anjing oleh 'anggota keluarga'-nya adalah seorang penulis naskah teater yang terkenal menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Dirinya selalu dianggap tidak biasa karena kebiasaannya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Dirinya merasa memiliki anggota keluarga yang berjumlah tujuh orang, yang selalu menjadi penolongnya ketika dia berada dalam situasi yang sulit, bahkan sering bersamanya dalam keadaan biasa sekalipun.
Naskah: Istahar

Karya & Sutradara: Diky Soemarno
Pemain: Atphal Sophie Paturusi | Miftahul Jannah | Randhy Prasetya | Arsi Ramadhan | Deden Hariri | Ronald Julianto | Ilma Rosmala | Abi Mulyono | Lydia Nathania | Mei Karima | Indah Mustika | Dhini Hidayati
Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki
2 Desember 2015 | 14.00 WIB

Pertunjukan "Teater Alamat" dalam Festival Teater Jakarta 2015

Pertunjukan Teater So'Profesional' dalam Festival Teater Jakarta 2015

Penampilam "Teater Tema" dalam Festival Teater Jakarta 2015



TEATER TEMA
Lakon: Mega-Mega(Karya: Arifin C. Noer)Sutradara: M. Djunaedi Lubis8 Desember 2015 | pukul: 14.00 | Panggung Teater Keciloleh: Azuzan JG
Naskah ini memotret fenomena masyarakat kecil yang penuh mimpi untuk beranjak dari kemiskinannya. Di sebuah taman di dekat keraton ada sekelompok manusia menjalankan kehidupannya di sana. Mereka tidur di udara terbuka, di bawah sebuah pohon beringin besar. Ma’e, seorang wanita tua yang dianggap sebagai ibu oleh orang-orang yang hidup di situ, memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri. Di tempat itu ada Retno–pelacur, Hamung–pemulung, Panut–copet, Tukijan, dan Koyal, seorang pemimpi. Suatu malam di bawah sinar bulan, Koyal bermimpi dapat lotre. Ia mengajak semua orang untuk mengembara dalam alam impiannya itu

Penampilan "Teater Gumilar" dalam Festival Teater Jakarta 2015





Naskah: Ibu Saya Sakit Saya Sakit Ibu
Karya & sutradara: R. Mono Wangsa
Pemain: Jeng Ani [Wanita Pemecah Batu] | Ea Sutadi [Perempuan 1] | Aderia [Perempuan 2] | Raisya Icha [Perempuan 3] | Maya Damayanti [Perempuan 4] | Mbak Iwoel [Perempuan 5] | Salfa [Perempuan Kecil]
Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki
7 Desember 2015 | 20.00 WIB
____________________________________________________________________

Sinopsis:
Lakon ini adalah ekspresi atas pengalaman empirik R. Mono Wangsa yang melihat tangan kanan almarhumah ibunya tercelup minyak panas saat menggoreng rempeyek yang akan dijual. Tetapi ini juga adalah pengalaman empirik seluruh pemain Gumilar dengan ibu mereka masing-masing yang di eksplorasi selama proses latihan lewat bahasa tubuh dan kata.

Pertunjukan "Sanggar Kummis" dalam Festival Teater Jakarta 2015



Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kumpulan Mahasiswa Muhammadiyah Insan Seni (KUMMIS) STIE Ahamad Dahlan (STIEAD) Jakarta menjadi juara satu dan meraih empat penghargaan sekaligus dalam perhelatan akbar Festival Teater Jakarta Selatan pada Minggu (04/10/15) di Gelanggang Olahraga (GOR) Bulungan, Jakarta Selatan.

Pertunjukan "Samudra Indonesia" dalam Festival Teater Jakarta 2015


Pascabadai besar di laut lepas, sang nakhoda pengangkut kopra hanya bisa menunggu kapal Marlini yang tenggelam dengan sarat muatan emas akan muncul kembali sebagaimana terjanjikan. Naskah: Tanda Silang Karya: Eugene O’Neill | Saduran WS Rendra Sutradara: Joind Bayuwinanda Pemain: Anggun Anggendari [Nani] | Joind Bayuwinanda [Darpo] | Bachtiar Magor [Kapten] | Tri Jengki [Dokter] Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki 6 Desember 2015 | 21.00 WIB

Penampilan Sindikat Aktor Jakarta (SAJ) dalam Festival Teater Jakarta 2014


Pertunjukan "Teater Jerit" di Festival Teater Jakarta 2015



Naskah: Arwah-Arwah Karya: W. B. Yeats | Terjemahan: Suyatna Anirun Sutradara: Choki Lumban Gaol Pemain: Ajie Fadlie Sofiyan [Orangtua] | Rinaldo Ardiles [Pemuda] | Ibnu Hadi Kamajaya, Febri Ayu Riyanti, Hafilah Febri Yanti, Aini Azzah, Intan Azmi [Para Arwah] Teater Kecil–Taman Ismail Marzuki 2 Desember 2015 | 20.00 WIB Sinopsis: Seorang tua pengembara dan putranya bersama puing-puing rumah tua menghidupkan kembali kenangan tragis tentang nenek-moyang yang melahirkan mereka.


Kamis, 24 Agustus 2017

Runyamnya Danau Maninjau, Kala Urang Sibunian Manubo Ikan

Permasalahan Danau Maninjau memang kait mengait. Sengkarut dan runyam. Banyak harapan hidup digantungkan di sana. Dituntut program yang terintegrasi untuk menyelamatkan danau yang terkenal sebagai kampung Buya Hamka ini.
Danau Maninjau sejak dahulu kala sudah menjadi sawah-ladang anak nagari salingka danau. Hal itu bisa dimaklumi, karena luas Danau Maninjau sekitar 44 persen dari luas Kecamatan Tanjung Raya. Luas Kecamatan Tanjung Raya 244,03 Km2, termasuk  Danau Maninjau.

Paham dan Ideologi Orang Minang

OLEH Sondri BS (Budayawan)
Apakah sesungguhnya ideologi orang Minang? Sampai sekarang orang Minang dapat digambarkan sebagai orang-orang yang dinamis dari cara berpikir. Orang-orang Minang mudah beradaptasi dengan perubahan dan hal-hal yang bersifat pembaharuan. Namun di sisi lain ada juga  orang Minang menunjukan sikap konservatif terhadap perubahan dan hal-hal baru yang datang. Elastisitas berpikir orang Minang menjadi ruang bagi tumbuhnya berbagai paham dan ideologi.

Pertunjukan Forum Kompang Kepulauan Riau dalam SIMFEST 2015

Sanggar seni yang berdiri sejak tahun 2000, yang dibangun oleh teman-teman seniman dari Jakarta dan batam, salah satunya Taufiqqurrahman dan kawan-kawan (Batam), Anto(Jakarta), Jul Taher(jakarta), Mba Luci(Jakarta), kawan-kawan teater KAMI (Jakarta).
Hingga sekarang mereka masih eksis walaupun bergerak di pinggiran-pinggiran pesisir. Sebagai debut awal, Forum KOMPANG membuat pagelaran teater bersama Teater KAMI (Jakarta) mengangkat sebuah naskah tua karya ROESTAM EFENDI, dengan judul BEBASARI dengan konsep kontemporer.


Penampilan Hereford Hoppers dari Inggris di SIMFEST 2015

Duo “Hereford Hoppers” didirikan oleh vokalisnya Sophie Allen yang berasal dari Kota Hereford – Inggris. Dia mengajak teman gitarisnya Jacob Puchmayr. Berdua mereka menelusuri music tradisi Inggris dari selatan ke utara. Lagu-lagu mereke berkisah kehidupan sehari-hari dan tentang cinta. Karena kebudayaan orang Inggris itu kebanyakan melaut, tak heran banyak lagu bercerita tentang samudera nan luas.

Hazairin: Rekam Pendapat Saya Ini dan Putar di Depan Soeharto

(Mengenang Kembali Tiga Seminar Minangkabau (I)
OLEH H Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
Pengantar 
Mantagibaru kali menurunkan tiga tulisan wartawan senior almarhum Kamardi Rais. Ia salah seorang yang berprofesi jurnalis sekaligus sosok ninik mamak yang memahami adat istiadat dan budaya Minangkabau, serta menjadi Ketua Umum LKAAM Sumbar.  
Tiga tulisan Kamardi ini memotret fenomena yang terjadi dalam tiga kali peristiwa budaya, yakni seminar tentang Minangkabau yang digelar berturut-turut (1968, 1969, dan 1970). Setelah ini, tak ada seminar Minangkabau yang sedalam dan selengkap ini digelar. Berikut  tiga tulisan itu diturunkan secara berkala per minggu, tentu setelah dilakukan penyuntingan. .
Di antara tahun 1968-1970 (hampir 40 tahun silam) telah berlangsung tiga seminar di Sumatera Barat. Seminar pertama dengan topik “Hukum Tanah dan Hukum Waris” bertempat di Aula Fakultas Hukum Unand Padang pada tanggal 21-25 Juli 1968.

Bintang seminar waktu itu adalah Prof. Dr. Hazairin, S.H. dan Prof. Dr. Hamka. Keduanya sudah almarhum.
Seminar kedua juga berlangsung di Padang, pada tanggal 23-26 Juli 1969 dengan topik “Sejarah Masuknya Islam ke Minangkabau”.
Bintang seminar waktu itu adalah Ir. Magaraja Onggang Parlindungan dan Buya Hamka.
Onggang Parlindungan seorang Letkol Purn TNI dan ahli bom tarik Pindad di Bandung dan pernah belajar di Jerman.Parlindungan mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat karena bukunya yang baru terbit berjudul Tuanku Rao.

Senin, 21 Agustus 2017

Melayu dan Minangkabau Bagaikan Dua Sisi Mata Uang

OLEH H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie
Pada judul tulisan ini, saya meletakkan kata dan di antara kata Melayu dan Minangkabau. Kata dan memang berfungsi sebagai kata penghubung dalam satu kalimat. Tapi yang saya maksudkan lebih dari itu bahwa kata dan itu menunjukkan kesetaraan dan kesamaan tipe.
Itulah yang saya katakan: Melayu dan Minangkabau bagaikan dua sisi mata uang. Sisinya yang berbeda, sedangkan logamnya atau materi kertasnya sama. artinya yang satu itu juga.
Sekarang dari sisi mana kita hendak membicarakan Melayu?

Peran Perempuan dalam Upacara Adat Minangkabau

OLEH Puti Reno Raudha Thaib (Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar)
"Parade Busana Adat Minang" di acara 17 Agustus 2017 
Upacara adat yang dilakukan oleh umumnya masyarakat Minangkabau baik di ranah maupun di rantau terkadang menyimpang dari apa yang telah dibuat sebelumnya oleh orang-orang tua terdahulu. Mungkin hal itu dapat dilihat sebagai perkembangan citarasa dan penyesuaian terhadap zaman, tetapi dapat pula dilihat sebagai sesuatu yang disengaja untuk dikeroposkan, disimpangkan, diperdangkal dan bisa juga dianggap sebagai usaha untuk melakukan pembusukan terhadap adat dan budaya Minangkabau itu sendiri.

Kepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin

OLEH H. Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie
Kata-kata tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin adalah sebuah ungkapan atau perumpamaan yang kita terima dari nenek moyang kita dahulu. Pada masa kini ungkapan tersebut sudah amat populer. 

Identitas, Sastra, Kultur

OLEH Gus tf Sakai (Sastrawan)
Gus tf Sakai
Ketika individu menjelma jadi kelompok, ada unsur, sifat, atau kepentingan sama tertentu yang mengikatnya. Dan identitas dalam bentuk kelompok (etnik, kultur, nation), selalu berada dalam sistem kompleks yang tak bisa dikenali melalui individu. Fisika boleh menemukan partikel terkecil sub-atomik misalnya, tetapi ketika sejumlah atom berada dan terikat dalam gugus atom (molekul, senyawa), “wujud” yang muncul selalu beda. Dalam kajian sosial, sistem kompleks kumpulan individu ini diidentifikasi melalui ideologi. Tetapi, tepatkah pengidentifikasian seperti itu?