Selasa, 16 Juli 2013

CATATAN PEMENTASAN TEATER: Tiga Menguak Kebuntuan Teater

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)

Pementasan "Segera" Teater Payung Hitam Bandung (Foto Ganda)
Sepanjang Juni 2013, saya menikmati tiga peristiwa teater dengan lokasi pertunjukan yang berbeda: Pada 15 Juni, Teater Payung Hitam Bandung mementaskan “Segera” di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, naskah dan sutradara Rachman Sabur;  20 Juni, Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah Padang memanggungkan “Tanah Ibu” di Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu, naskah dan sutradara Syuhendri, dan pada 30 Juni, Teater Ranah Padang menggelar “Dua Senja” di Ruang Terbuka Komunitas Intro Payakumbuh, naskah dan sutradara S Metron M.

Kendati saya menyerap ada tiga letupan teater dengan garapan yang berbeda itu, namun tulisanini tak dikesankan sebagai komparatif ketiga pertunjukan tersebut. Ia lebih tertarik pada pencatatan biasa pada masing-masing peristiwa teater yang telah dilangsungkan. Selain itu, tiga pementasan teater itu, kendati mungkin ada juga yang luput dari amatan saya, telah berhasil menguak kebuntuan pertunjukan teater di Sumatera Barat.      
Tentu saja, pada aspek kuantitas, masyarakat dan pelaku seni pertunjukan Sumatera Barat pantas merayakan dan bangga karena maraknya digelar pertunjukan seni sepanjang semester pertama 2013 ini. Kini, cuma tinggal bagaimana mengelolanya menjadi sebuah agenda seni yang tertata dan tertib.
Kembali pada tiga teater yang saya nikmati itu. Secara kasat mata—ini di luar teks teater, tapi cukup signifikan—ada benang merah yang saya jumpai menyatukan ketiga teater itu, yakni basis pendukung dan pemain pada mahasiswa. Jelas cukup menarik. Bisa jadi, ternyata sejarah teater di Indonesia, diwarnai kehadiran mahasiswa. Tentu ini satu satu soal lagi yang bisa diperbincangkan lebih lanjut.   
Peristiwa teater adalah sesaat yang mahapenting itu. Ia tak akan pernah terulang dalam perspektif yang sama persis di lain waktu. Peristiwa teater dalam “Segera” yang dipentaskan di Jakarta akan “berbeda rasa” dengan yang dipentaskan di Padang, Pekanbaru, dan Jambi. Demikian juga dengan pertunjukan “Tanah Ibu” dan “Dua Senja”.
Sebuah peristiwa teater di atas panggung, tentu, seperti dikatakan Nicole Savaresse dalam Anatomie de L’Acteur (1985), yang diterjemahkan Yudiarni, mengatakan, mencipta kehidupan pentas tidak hanya berarti menjalin laku dan ketegangannya tetapi juga penyutradaraan perhatian penonton tanpa memaksakan sebuah penafsiran. Perhatian  penonton harus mampu hidup ruang dan dimensi. Dan saat itu dialektika penonton bermain.
Maka dengan demikian, terasa sulit jika kita ingin membandingkan tiga peristiwa teater itu, yang memang ruang, laku, dan dimensinya, serta dialektikanya berbeda-beda. “Segera” memaksimalkan tubuh dan benda-benda di atas pentas  menjadi “kata ucap” itu sendiri, sementara “Tanah Ibu” dan “Dua Senja” memainkan kata-kata secara linguistis digunakan dalam kehidupan sehari-harinya.
Tubuh-Benda Payung Hitam
Sebelas tubuh silih berganti di atas panggung, berdialog. Bermonolog. Tubuh-tubuh yang tak rata ukurannya, merekonstruksi tubuh-benda secara semiotif. Teater membangun pengertian dengan makna yang subjektivitas-objektivitas.
Setiap liukan tubuh adalah teks-teks yang memuat dan menjejalkan makna-makna dalam kepala penonton. Teater bersama dengan tubuh-benda direpresentasikan sebagai “bahasa” yang tak lagi mengenal arbiter. Di atas panggung, bahasa memilih posisinya dalam kungkungan yang tak lazim, kendati bukan sesuatu yang baru.

“Segera” merupakan garapan dan pengalaman ke 11 Teater Payung Hitam dalam pementasan teater bertema lingkungan.
Kota Padang merupakan kota ketiga yang disinggahi “Segera” yang sebelumnya dipertunjukkan di STSI Bandung dan Gedung Kesenian Jakarta, dari rangkaian pementasan keliling program Kelola. Setelah di Padang, “Segera” juga dapat ditontonkan di Kota Pekanbaru dan Jambi.
Galibnya pertunjukan Teater Payung Hitam, benda-benda yang sehari-hari akrab dengan kehidupan manusia, kerap memenuhi panggung. Tak ada ruang yang tersisa. Dari penelusuran informasi, pada 1996, Teater Payung Hitam mengangkat “Teater Musik Kaleng” di TIM, juga menjejalkan besi-besi, seng, drum dan sejenis benda keras lainnya, ke atas pentas.  Ruang panggung sesak seolah penonton tak mendapat ruang imajinatif, yang sesungguhnya ruang itu buat penonton kian luas dan kaya. 
“Dinding ruang penonton berusaha dipenuhi berbagai lembaran seng penyok-penyok. Panggung tak kalah sesaknya. Drum penuh coretan, dan boneka-boneka yang digantung di atas pentas. Semua sudut dipenuhi sorot lampu warna merah maksimal,” tulis Afrizal Malna, dalam bukunya Perjalanan Teater Kedua, Antologi Tubuh dan Kata, (2010) tentang pertunjukan “Teater Musik Kaleng” itu.
Pertunjukan “Segera” juga tak beranjak dari benda-benda seperti itu. Kali ini, Rachman Sabur mengusung limbah plastik, yang ia sebut, dampak negatifnya tak sebesar fungsinya. “Dibutuhkan 1000 tahun agar plastik terurai oleh tanah.
Jika terurai ataupun dibakar, dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan, berpotensi memicu penyakit kanker, hepatitis, dan lain sebagainya bagi makluh hidup,” kata Rachman Sabur.
Memasuki Teater Utama Taman Budaya Sumbar, tampak panggung dipenuhi gubuk-gubuk bak pemukiman kumuh di bantaran sungai kota-kota besar, yang terbuat dari plastik. Tepat pukul 20.00, panggung dihidupkan. Dua perempuan bergerak dan keluar dari gubuk-gubuk berbentuk kubus itu. Tubuh-tubuhnya menceritakan kepedihan. Kesumpekan hidup. Lingkungan sekitar dipenuhi barang-barang berbahan plastik.              
Tak berapa lama, seorang lelaki berjalan semponyongan. Kakinya terikat beban plastik. Setiap tarikan langkahnya, ia tersiksa. Plastik itu membuat ia tak leluasa lagi menjalani hidup.
Kemana pun lelaki itu melangkah, tumpukan benda-benda berbahan plastik bagai benda yang mengerikan. Manusia ditimbun  plastik gelas minuman mineral, bola-plastik, jeriken, kursi, keresek, galon, dan lain-lain. Lelaki itu pun terlempar kian kemari. Gubuk-gubuk roboh. Tak lama kemudian, bak usus besar manusia, plastik diameter setengah meter, membelah pentas seiring dengan bunyian alat-alat berat pabrik. Pentas kian terasa mencekam.
Seiring dengan itu, suasana panggung berubah. Fungsionalisasi properti menentukan dirinya. Setiap perubahan menceritakan dirinya sendiri. Bahasa formal adalah tanpa bahasa itu sendiri. Aktor merepresentasikan dirinya dari benda-benda sekitar. Inilah upaya keras Rachman Sabur mendedahkan bahaya plastik yang jumlahnya bisa membungkus Bumi ini lewat tubuh aktor dan benda.
“Segera” adalah aktor tanpa lakon. Lakon, seperti layaknya teater konvensional yang mengusung naskah, tak membuka kemungkinan untuk diidentifikasi dengan karakter, dramatikal, dan perangkat vokal serta artikulatif. Tubuh aktor di panggung adalah “diolog” dan “konflik” itu sendiri.
Bagi yang tak terbiasa menyaksikan pertunjukan seperti yang disuguhkan “Segera”, memang membingungkan. Tapi itu wajar dan tak salah. Karena selama ini, yang ia saksikan adalah teater cepat saji,  yang jauh dari proses. Peristiwa teater seperti yang disajikan Teater Payung Hitam, bukan saja menuntut kecerdasan akal bagi yang menonton, tapi juga kepekaan dan sensitivitas saraf-saraf motoriknya. “Segera” memuat durasi yang agak panjang menyelaminya dan menghendaki wawasan yang lumayan luas, kendati banyak pengulangan gerak dan laku di panggung.
Tanah Ibu Bernoktah
“Tanah Ibu” hingga kini telah tiga kali diangkat Teater Noktah dengan personil atau pemain yang berbeda: Pada 2010 dipentaskan di Jakarta dan Padang; 2012 di Padang, dan 2013 di Bengkulu. Semuanya disutradarai Syuhendri.
Teater Noktah yang sejak mementaskan teater pertama pada 1994 hingga kini masih konsisten mempertahankan konsep garapan pada naskah. Naskah dan teater bagi grup yang didirikan pada 1994 oleh sekelompok orang muda yang gelisah minimnya ruang dialog budaya saat itu, tampaknya sesuatu yang inheren, tak dapat dipisahkan, dan keniscayaan.  
“Tanah Ibu” dibuka dengan panggung kosong. Lalu, lapat-lapat, seolah dikejauhan, terdengar saluang dan dendang dengan irama merintih, lalu disertai dengan suara sekelompok orang (perempuan) manggaro burung saat padi menguning.
Suara manggaro ini telah membawa kita pada suasana perkampungan yang dipenuni padi siap panen. Ibu-ibu atau amai-amai biasa menghalau burung pipit saat padi siap disabit. Biasanya disertai dengan bunyi-bunyian kaleng dan  goyangan urang-urang sawah. Dalam tradisi di nagari-nagari Minangkabau, ini disebut manggaro.
Setelah manggaro, tak berapa lama, padi yang menguning itu disabit. Menyabit padi, saat kebersamaan di nagari masih kuat, dilakukan dengan pola gotong-royong. Tapi kini telah banyak diupahkan. Setelah padi disabit, disusun di tengah sawah dengan sangat rapi. Susunan batang padi itu disebut lampok. Besar-kecilnya lampok, tergantung pada subur tidaknya sawah itu. Lampok ini diperanginkan paling lama seminggu. Setelah itu, juga dengan bergotong-royong, diiriak bersama-sama. Paling sering, maiiriak ini dilakukan sejak sore hingga malam. Pada beberapa daerah tertentu, ada yang dilakukan dengan malambuik. Maknanya sama: melepaskan butiran padi dari batangnya. Kalau maiiriak dilakukan dengan memijak dan melumat batang padi itu, sedangkan malambuik,  memukulkan batang padi ke satu wadah penampung. Setelah magrib, dilakukan makan balanjuang bersama-sama. Suasana canda-ria kental terasa kebersamaannya. Kini, tentu saja, hal seperti sulit ditemukan, malah, mungkin tak ada lagi. Ada yang hilang dalam kehidupan sosial-budaya Minangkabau: kebersamaan dan rasa memiliki.
Inilah sesungguhnya poin penting yang dikatakan dalam pertunjukan “Tanah Ibu”. Modernisasi telah merenggutkan milik komunal dengan apa yang disebut harga diri nagari dan pemiliknya. Modernisasi yang diagungkan akan membawa kehidupan masyarakat ke arah yang lebih membahagiakan, ternyata menjelma jadi derita panjang. 
Sekelompok kaum perempuan dalam “Tanah Ibu” datang mengusung karung padi, menampi, lalu menumpahkannya, menyiratkan perlawanan keras terhadap kaum lelaki yang hanya bisa merantau tanpa memberi makna bagi kampungnya, tanah asalnya. Kaum lelaki hanya bisa mengubar janji.
Akhirnya, memang terbukti, kaum lelaki yang pernah berikhtiar untuk membangun tanah asalnya, saat pulang kampung, menjadi momok bagi segenap lapisan masyarakat. Momok itu bernama moderinisasi. Secara semiotif, dalam “Tanah Ibu” digambarkan di atas panggung dengan boneka-boneka yang bisa diatur sesuka hati.
Moderinisasi yang dibawa kaum lelaki, mendapat kutukan dari kaum perempuan, yang sebelumnya, telah menanti cukup lama pulang dari perantauan, ternyata buahnya pengkhianatan kultural.
Pertunjukan “Tanah Ibu” di Bengkulu ini, yang sebagian aktornya terdiri siswa, mahasiswa, aktivis budaya, dan guru ini, tentu punya “beban” berat mengusung naskah yang cukup sarat konflik kultural ini. Namun, tampaknya, di atas panggung, semua terasa mengalir dan komunikatif. Aktor tak terlihat dibenani.      
Ranah Tiga Konflik
Pada awalnya “Dua Senja” ini, saya tidak membayangkan teater ini dipentaskan di ruang terbuka. Dua teater di atas, dipanggungkan di teater tertutup. Saya berharap, “Dua Senja” dimainkan di ruang tertutup.
Pementasan di ru
Pementasan "Dua Senja" Ranah Teater Padang (Foto Ganda Cipta)
ang terbuka (out door) jelas sangat berisiko. Risikonya: bocornya teks teater ke luar panggung. Sebaliknya, yang bukan teks teater, yang berada di luar panggung  juga merembes ke dalam panggung. Enam puluh lima menit pertunjukan, suasana teks panggung mewarnai jalan cerita. Paling tidak, bunyi suara kendaraan dan gema obrolan penonton, terasa menimpali setiap adegan dan laku aktor. Ke depan, tentu saja manajemen Ranah Teater harus mempertimbangkan pertunjukan “Dua Senja” ini digelar di ruang tertutup.
“Dua Senja” mengangkat latar sejarah buram di Minangkabau dalam periodisasi 1821-1837 M, yang saat itu, orang Minangkabau menyebut “Perang Tuak”.  Dalam buku Direktori Minangkabau (2012), disebutkan perang antara orang Belanda dengan orang Minangkabau dalam periode 1821-1837 M dinamai oleh orang Minangkabau sebagai “Perang Tuak”. Latar belakangnya adalah, menurut adat Minangkabau memakai tuak, candu dan judi adalah haram. Karena kedatangan Belanda ke pantai barat Minangkabau berdagang candu, tuak, santo (tembakau), dan judi, maka ulama Minangkabau menyatakan, perang melawan Belanda dan antek-anteknya merupakan perang suci, perang di jalan Allah.
Saat itu, bala tentara dan ulama Minangkabau memakai pakaian serba putih. Belanda saat itu menyebut dengan istilah “Perang Paderi”. Belanda sudah sangat bertekat menumpas kaum paderi ini dengan jalan peperangan. Belanda memasukkan pengaruh ke orang Minangkabau yang mereka fasilitasi dalam berusaha dagang, kelak kelompok ini disebut Kaum  Adat, yang bersama Belanda memerangi Kaum Paderi.
Pada 1819, Inggris menyerahkan Minangkabau kepada Belanda. Saat itu, Sutan Bagagarsyah, Raja Pagaruyung, meminta bantuan Belanda agar menumpas kaum pemberontak (kaum paderi). Bagi Belanda, permintaan ini seperti pucuk dicinta ulam tiba. Maka, terjadilah apa yang disebut dalam sejarah kita sebagai perang saudara di Minangkabau.
Cerita di atas itu menurut buku sejarah. Tapi tidak demikian menurut S Metron M sebagai penulis naskah “Dua Senja”. Teater yang memang ditakdirkan sebagai wujud perlawanan, maka “Dua Senja” pun melakukan hal itu. Tafsir sejarah memang bermain di sini. Menafikan peran Belanda dalam kemelut perang saudara yang pernah terjadi ratusan tahun lalu di Minangkabau, seperti diangkat “Dua Senja” tentu,  tentu S Metron M punya alasan kuat. Selain itu, memasukkan unsur konflik keluarga di saat perang berkecamuk, tentu membuat naskah ini jadi fiktif belaka.
Terlepas dari semua itu, mungkin tugas berat sutradara adalah memaksimalkan pemahaman anggotanya tentang elemen dan teknis teater. Potensi besar, sentuhan teknis minim.
Catatan tiga pementasan teater ini, barangkali bagian terkecil dari luas peristiwa teater tersebut. Hanya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar